Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 169


__ADS_3

Lukas merasa tidak sanggup lagi untuk berdiri. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk duduk saja. Sebelum duduk, pria itu memandang ke depan melihat Austin yang sudah hilang dari pandangannya. Namun belum ada tanda-tanda mobil yang dikemudikan Austin muncul. Kali ini pria itu menyerah. Dia memang tidak sanggup lagi. Energinya tidak sama seperti dulu. Setidaknya 30 tahun yang lalu. Ketika usianya masih 50an.


Ketika ingin duduk, tiba-tiba saja ada tangan yang menggandengnya. Lukas mengeryitkan dahi karena kaget. Namun, seketika wajahnya berseri melihat wanita yang sangat ia cintai berdiri di sana.


"Aku sudah bilang. Di usiamu yang sekarang. Perbanyak istirahat bukan perbanyak bertarung. Kau ini sudah memiliki cucu. Jadi, sadarlah!"


Lukas mengukir senyum sebelum menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Lana, kenapa kau bisa ada di Las Vegas? Di sini berbahaya."


"Karena aku tahu, suamiku tidak bisa jauh-jauh dariku. Dia butuh obat ketika sakitnya kambuh." Lana mengeluarkan sebotol air mineral dan beberapa bulir pil lalu memberikannya kepada Lukas. Tanpa banyak protes Lukas meminum pil tersebut lalu meneguk airnya.


"Terima kasih sayang. Maukah kau memelukku lagi? Aku sangat kedinginan."


Lana tersenyum. Suaminya semakin tua semakin manja. Namun hanya Lana yang tahu bagaimana Lukas berubah menjadi pria manja. Pria itu selalu memperlihatkan sisinya yang galak dan dingin di depan semua orang. Padahal sebenarnya sekarang hatinya sudah selembut wanita. Perasaannya sangat peka. Bahkan mudah tersinggung.

__ADS_1


"Ayo kita pergi dari sini," ajak Lana.


Lukas memperhatikan kendaraan yang di bawa istrinya. Namun, pria itu tidak menemukan apapun di sana. Entah bagaimana caranya Lana bisa tiba di sana. Sampai-sampai Lukas sendiri tidak menyadari kehadirannya.


"Naik apa?"


"Jalan kaki," jawab Lana sebelum tertawa geli sambil menutup mulutnya dengan tangan. Lukas terdiam sejenak sebelum menyelipkan rambut putih itu di balik telinga.


"Aku mencintaimu."


Dari kejauhan, Austin muncul. Pria itu melajukan mobilnya dengan cepat karena sangat mengkhawatirkan keadaan Lukas. Pria itu juga tertegun melihat seorang wanita yang kini berdiri di hadapan Lukas. Posisinya membelakangi hingga Austin tidak tahu sebenarnya siapa wanita itu.


Lukas memandang ke depan sebelum memandang ke arah Lana lagi. "Ayo kita pergi," ajak Lukas. Dia menggenggam tangan istrinya dengan mesra. "Kita harus menonton pertarungan cucu dan calon mantu cucu kita," sambung Lukas lagi.

__ADS_1


Lana mengangguk. "Sepertinya akan sangat enak jika ditemani dengan minuman hangat. Sayang kita tidak memilikinya."


Lukas tertawa mendengarnya. Pria itu sekarang terlihat jauh lebih bersemangat dari sebelumnya. Ketika Austin memberhentikan mobilnya, pria itu segera membawa Lana masuk ke dalam. Terlalu lama berada di sana juga sangat beresiko. Bisa-bisa musuh muncul dan itu akan membahayakan keselamatan Lana.


Austin memandang ke belakang sejenak sebelum lanjut melakukan mobilnya. "Oma, bagaimana bisa Oma ada di sini? Apa Oma datang sendirian?"


Lana menggenggam tangan Lukas lalu tersenyum. "Oma sangat mengkhawatirkan Opa. Terakhir kali dia bertarung, dia masuk rumah sakit. Tetapi tidak ada yang mengetahui informasi ini selain Oma. Opa di rawat secara intensif. Saat itu dokter sangat mewanti-wanti agar Opamu ini tidak banyak beraktivitas lagi. Namun, pada nyatanya tidak sesuai dengan harapan. Justru ketika ada masalah. Opamu yang sangat bersemangat. Oma tidak bisa tidur dengan tenang di rumah. Livy juga sudah banyak yang temani di rumah sakit. Jadi, Oma putuskan untuk berangkat ke Las Vegas secara diam-diam. Tiga jam setelah kalian berangkat." Lana tersenyum memandang ke depan. "Bahkan Oma selalu mengawasi kalian secara diam-diam. Tetapi tidak ada yang menyadarinya. Bahkan Opa kalian juga sudah tidak sepeka dulu."


"Kenapa kau tidak muncul dihadapanku? Kenapa baru sekarang? Lana, keputusanmu sangat beresiko!" protes Lukas.


"Sayang, jangan ribut di depan calon menantu cucu kita. Malu." Lana mendekatkan bibirnya di telinga Lukas. "Kita ini sudah tua. Tidak sepantasnya memperpanjang masalah kecil."


"Tapi tetap saja keputusanmu ini bisa membahayakan nyawamu sendiri."

__ADS_1


Lana semakin bahagia melihat kekhawatiran di wajah Lukas. Wanita tua itu memeluk suaminya sebelum bersandar dan memejamkan mata. Sedangkan Austin hanya tersenyum bahagia melihat kemesraan suami istri tersebut. Sejenak dia lupa kalau sekarang masalah belum berakhir. Mereka harus segera tiba di tempat Zion untuk membantu pria itu dari bahaya.


__ADS_2