
"Dubai memang tempat yang sangat indah. Banyak sekali tempat bagus yang bisa dikunjungi saat malam hari. Sayang sekali jika sekarang kita pergi pada saat sore hari seperti ini. Menunggu sedikit lagi malam akan tiba dan semua lampu yang di Dubai akan hidup dengan terang." Zion tidak tahu harus bicara apa lagi. Hampir setengah jam mereka ada di dalam mobil mengelilingi kota Dubai tapi tidak juga saling bicara. Zion yang kini tidak tahu harus ke mana hanya bisa melajukan mobilnya tanpa tujuan. Baginya yang terpenting Faith ada di sampingnya. Zion tidak terlalu peduli dengan tempat indah yang ada di Dubai. "Sebenarnya kita bisa naik balon udara jika datang lebih siang lagi. Apa kau memiliki ide ke mana kita harus pergi sekarang?"
Faith menggeleng kepalanya sambil tersenyum. "Semasa hidupku tidak pernah merasakan bahkan bermimpi menjadi orang kaya. Aku tidak berani bermimpi untuk berliburan ke luar negeri. Terutama ke tempat mahal seperti ini. Bahkan mencari informasi tentang tempat ini saja aku tidak mau. Bagaimana mungkin aku mengetahui tempat indah yang ada di Dubai. Tuan Zion-"
"Jangan panggil aku Tuan lagi!" potong Zion cepat. Zion memandang wajah Faith sejenak sebelum memandang ke depan lagi. "Kau boleh memanggilku dengan sebutan apapun selain kata Tuan."
Faith mengukir senyuman manis karena terlalu bahagia mendengarnya. Namun wanita itu mengalihkan wajahnya agar tidak terlihat sedang bahagia di depan Zion . Ia masih mempertahankan gengsinya agar tidak terkesan seperti wanita gampangan. "Bagaimana kalau aku panggil Kak Zion saja?" tanya Faith ragu-ragu.
Zion mengangguk pelan. "Baiklah. Itu kedengarannya jauh lebih bagus daripada kata Tuan."
"Jam berapa kita akan kembali ke rumah sakit?" Faith melirik jam di pergelangan tangannya. Wanita itu terus saja memikirkan ayah kandungnya.
__ADS_1
"Kita belum menemukan tujuan kita. Bagaimana mungkin kau berpikir untuk pulang ke rumah sakit?" Zion segera memutar otaknya agar ia bisa menemukan tempat yang tepat untuk berduaan dengan Faith. Yang pastinya tempat itu akan membuat Faith merasa senang.
"Apa kau pernah ke Dubai Miracle Garden?" Zion segera meralat pertanyaannya. "Maksudku kita akan ke sana. Setelah itu kita akan kembali ke rumah sakit."
Faith menggangguk setuju. "Baiklah," jawabnya.
Zion memberhentikan mobilnya. Pria itu merasa ada yang aneh melihat tempat yang ingin dia kunjungi terlihat sunyi. Tidak ada satu orangpun di sana. Biasanya tempat itu selalu ramai didatangi wisatawan.
"Faith, tunggu di sini sebentar," ucap Zion. Faith hanya menjawab dengan anggukan saja. Masih melihat bagian depannya saja wanita itu sudah dibuat tidak sabar untuk melihat isi di dalamnya.
"Ada apa?" tanya Faith penasaran.
__ADS_1
"Tempatnya di tutup," jawab Zion tidak bersemangat.
Faith diam sejenak. Wanita itu juga tidak tahu harus kemana sekarang. Dia tidak tahu tentang Dubai.
Zion memiringkan tubuhnya lalu memandang Faith. "Apa kau bosan ada di dekatku?"
Faith terlihat bingung. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Kau seperti tidak nyaman ada di dekatku."
"Bukankah kita akan menikah?" Faith diam sejenak lalu menunduk. "Nyaman atau tidaknya, apa bisa dijadikan pertimbangan?"
__ADS_1
"Sebenarnya kau ini mau menikah denganku karena mencintaiku atau karena paksaan ayahmu!"
"Aku ...." Tiba-tiba saja Zion menarik dagu Faith lalu mencium bibir wanita itu. Faith mematung karena kaget. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Secara perlahan matanya terpejam ketika bibir Zion mengecup bibirnya dengan lembut.