Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 202


__ADS_3

Livy terlihat sibuk merapikan barang bawaannya untuk bulan madu bersama sang suami. Jika Norah memutuskan untuk berangkat ke Jepang besok pagi sedangkan Livy dan Abio akan berangkat siang ini juga. Mereka sudah tidak sabar untuk menikmati waktu berduaan di sana. Selama bulan madu Livy dan Abio telah memutuskan untuk tidak menggunakan ponsel.


Mereka akan mematikan ponsel mereka dan memasukkannya ke dalam koper. Tidak akan menggunakan ponsel tersebut jika tidak dalam keadaan mendesak. Walaupun begitu Livy tetap menugaskan pasukan The Filast untuk menjaga dan mengawasinya selama bulan madu. Namun wanita itu meminta pasukan The Filast untuk tidak pernah terlihat agar Livy tetap merasa nyaman ketika sedang berduaan bersama dengan suaminya.


Abio yang sejak tadi juga ada di hadapan Livy hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat wajah cantik istrinya.


Berbeda dengan Norah. Livy dan Abio justru sudah sukses melewati malam pertama mereka. Hal itu yang membuat Abio semakin tergila-gila dengan istrinya. Jika saja hari ini mereka tidak tinggal di rumah mertua mungkin pria itu sudah menyerang istrinya berulang kali. Ia tidak sanggup menahan hasratnya. Sekali melihat Livy hasratnya selalu bangkit.


"Sayang, apa rambutmu sudah kering. Aku akan membantumu untuk mengeringkan rambut jika kau harus mandi lagi." Dari perkataan Abio saja sudah bisa diketahui kalau ada maksud terselubung di sana.


Perkataan Abio membuat Livy melirik tajam. Wanita itu masih belum bisa berdamai dengan dirinya karena sakit yang tadi malam ia rasakan ketika melewati malam pertama. Tetapi paginya Abio sudah meminta hal yang sama lagi. Namun demi kebahagiaan sang suami Livy menahan rasa sakit itu dan mulai bisa menikmatinya. Tetapi jika detik ini suaminya ingin lagi wanita itu pasti akan menolak. Ditambah lagi mereka tidak memiliki banyak waktu untuk bersiap-siap. Mereka harus segera berangkat ke bandara karena jadwal keberangkatan sudah ditentukan. Meskipun naik pesawat pribadi tetap saja mereka harus tepat waktu tidak bisa sesuka hatinya.


Melihat sang istri tidak memberikan jawaban apapun membuat Abio beranjak dari sofa yang sejak tadi ia duduki. Ketika ingin mengucapkan satu kata tiba-tiba Livy membanting barang yang ada di genggaman tangannya.


"Berhenti di sana dan jangan melangkah lagi."


Ucapan Livy berhasil membuat Abio mematung di tempatnya berdiri. Pria itu tidak berani melangkah lagi setelah mendapat peringatan. Namun pintarnya Abio, dia segera memasang wajah memelas seolah sangat kesakitan. Pria itu berharap kali ini bujuk rayunya berhasil agar ia bisa menikmati istrinya lagi.


"Sepertinya aku harus mandi air dingin agar tidak tersiksa lagi. Tapi jika sering-sering mandi air dingin aku bisa jatuh sakit," lirih Abio dilengkapi dengan ekspresi wajah yang meyakinkan. "Aku sangat mencintai istriku. Aku tidak tega mengganggunya dan membuatnya bersiap lagi."


"Kita akan segera berangkat. Apa kau tidak bisa membiarkanku tenang sebentar saja. Kita baru saja selesai dan rambutku baru saja kering. Nanti ketika kita sudah ada di Jerman kau bisa melakukannya sesuka hatimu," ujar Livy tanpa memandang.


"Bener ya. Kau sendiri yang bicara. Tidak ada unsur paksaan di sini," ucap Abio cepat. Dia tidak mau sampai istrinya menarik lagi kata-katanya.


"Setelah menikah sifat aslimu kelihatan," ucap Livy tanpa memandang wajah Abio.


Abio mendengus kesal lalu berjalan mendekati Livy. Pria itu duduk di tempat tidur lalu memeluk istrinya dari belakang. Sebelum berbicara ia mengecup di pundak Livy dengan mesra lalu menyandarkan dagunya di pundak kanan Livy.


"Aku berani seperti ini hanya padamu saja istriku. Aku sangat mencintaimu. Inilah yang membuatku menjadi gila. Jika aku tidak mencintaimu mungkin hasratku tidak akan bangkit setiap kali aku melihat wajahmu. Tapi meskipun aku sangat menginginkanmu Aku tidak akan sampai memaksamu. Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak mau. Karena aku tidak mau sampai menyakitimu." Abio menarik gaun Livy lalu mengusap punggung wanita itu. Ternyata apa yang diucapkannya barusan tidak sama dengan apa yang ia perbuat. Abio terus saja menurunkan gaun Livy bahkan kini jarinya yang nakal mulai menurunkan resleting gaun wanita itu.


"Abio, jangan sekarang," lirih Livy dengan mata terpejam. Ternyata Jika tangan Abio sudah berhasil menyentuh tubuhnya wanita itu tidak bisa menolak lagi. Ia juga terlena dan mulai menikmati sentuhan suaminya. Abio benar-benar paham dimana area sensitif istrinya. Dengan mudahnya pria itu berhasil mengajak istrinya untuk bergulat di atas tempat tidur lagi. Mengabaikan waktu yang tersisa.


...***...


Katterine memasukkan makanan ke kotak bekal. Ternyata wanita itu berinisiatif untuk memasak makanan kesukaan Livy sebagai bekal Livy dan Abio di pesawat nanti. Meskipun ia tahu kalau koki yang ada di pesawat sangat profesional dan masakannya sangat enak tetapi Katterine tetap ingin anaknya memakan masakannya sendiri. Dia membuat makanan itu dengan penuh cinta. Katterine berharap Livy dan Abio menyukainya.

__ADS_1


Oliver yang juga sedang menemani Katterine hanya diam saja sambil memandang wajah cantik istrinya. Sesekali pria itu mencicipi masakan istrinya yang rasanya tiada duanya. Namun sayangnya dia baru saja selesai makan. Oliver hanya memakan sekedarnya saja. Paling juga habis beberapa potong saka.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang salah? Biasakan tersenyum manis," protes Katterine.


"Seperti ini?" Oliver segera tersenyum agar istrinya bahagia.


Sejak dulu Oliver terkenal sebagai pria yang tidak banyak bicara. Hanya ditemani seperti itu saja sebenarnya Katterine sudah merasa senang. Sesekali wanita itu melempar senyum ke arah suaminya sebelum mengedipkan mata untuk menggodanya. Katterine yang centil sangat cocok untuk mendampingi Oliver yang dingin. Kehidupan mereka memang saling melengkapi. Hal sederhana itulah yang membuat mereka selalu bahagia.


"Kenapa mereka lama sekali aku sudah bilang kalau pesawat akan segera berangkat," ucap Katterine. Wanita itu meletakkan bekal yang sudah ia siapkan di atas meja makan lalu memandang ke arah tangga. Tidak ada tanda-tanda kalau pengantin baru itu akan segera turun bahkan barang-barangnya saja belum dimasukkan ke dalam mobil. "Jika seperti ini terus mereka bisa terlambat." Katterine melangkah maju hendak menjemput Livi di kamarnya namun dengan cepat Oliver menggenggam tangan Katterine dan menarik wanita itu. Dengan mudahnya Oliver meletakkan Katterine di atas pangkuannya lalu memeluknya dengan erat.


"Mereka bisa berangkat kapanpun mereka ingin. Tidak harus ada jadwal tertentu. Kau ini seperti tidak paham saja bagaimana kelakuan pengantin baru. Mereka tidak bisa bergerak cepat karena harus berulang kali mandi," ucap Oliver.


"Tidak bisa seperti itu. Aku tidak mau anakku disiksa oleh Abio. Bagaimanapun juga hal seperti itu sangat melelahkan bagi seorang wanita. Aku sih tidak tahu apa yang dirasakan seorang pria setelahnya," sindir Katterine.


"Pria juga merasa kelelahan hanya saja demi menghargai istrinya dia mau melakukannya berulang kali," sahut Oliver dengan santai. Jelas saja hal itu membuat Katterine geram. Wanita itu segera mencubit perut suaminya dengan begitu kuat sampai-sampai Oliver merasa kesakitan.


"Sayang sakit. Jangan cubit lagi tolong," ucap Oliver sambil meringis. Dia sudah terbiasa terkena tusukan belati apalagi peluru. Rasanya biasa saja. Namun ketika mendapat cubitan dari istrinya pria itu tidak bisa menahannya. Apalagi jika Katterine mencubitnya sambil melempar tatapan yang begitu tajam. Oliver yang biasa dikenal sangat sangar itu pun hilang seketika.


"Aku pikir pria tidak pernah merasa kelelahan. Jika terus dilayani mereka bisa melakukannya berulang kali. Kalau sudah seperti itu mereka akan tidur. Nanti ketika bangun bereaksi lagi. Tidak pernah memikirkan nasib si wanita. Bahkan terkadang wanita tidak tidur dan memandang suami dengan geram."


"Jika aku tidak bahagia menikah denganmu, Livy tidak akan ada di dunia ini," ketus Katterine masih dengan memasang wajah yang begitu galak.


"Lalu kenapa kau mengatakan kalimat menyakitkan seperti itu."


"Aku hanya membayangkan Abio dan Livy saja. Bukankah mereka masih baru pengantin baru. Aku yakin kalau Abio pasti telah menyiksa putriku."


"Mereka sedang bersenang-senang. Pria yang mencintai istrinya tidak akan mungkin menyiksa istrinya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan Livy. Sekarang dia sudah menikah. Serahkan saja semuanya kepada Abio. Aku yakin pria itu bisa menjaga Putri kita dengan baik."


"Ternyata setelah menjadi Ibu banyak sekali kekhawatiran dalam diriku. Bahkan ketika Putri kita sudah menikah aku juga masih belum merasa tenang. Baru juga sehari menikah aku sudah memikirkan bagaimana nanti ketika Livy hamil dan melahirkan. Apa dia bisa merasakan semua itu. Dan apa bisa Abio bisa bersabar ketika istrinya sedang hamil nanti. Aku takut. Zaman sekarang banyak sekali rumah tangga yang gagal. Terutama para pengantin baru yang baru saja hamil anak pertama."


"Jika kau mengkhawatirkan Livy itu adalah hal yang wajar. Aku juga tidak bisa melarangmu. Bahkan aku sendiri juga selalu mengkhawatirkan Livy. Tetapi kita tidak boleh terlalu berlebihan. Jika kita mengkhawatirkannya hingga separah ini Itu tandanya kita tidak percaya dengan Abio. Dia pasti akan kecewa ketika tahu mertuanya seperti kita. Sekarang kita doakan saja yang terbaik untuk anak kita."


Katterine mengangguk setuju. "Ya kau benar."


Katterine dan Oliver memandang ke arah tangga ketika mendengar suara sepatu. Terlihat jelas di sana Katterine dan Abio sudah turun ke bawah. Seperti apa yang baru saja dikatakan oleh Oliver kini sepasang pengantin baru itu terlihat bahagia. Mereka turun sambil bergandengan tangan. Di belakang mereka ada pelayan yang membawa barang-barang mereka.

__ADS_1


Dengan cepat Katterine beranjak dari pangkuan Oliver. Wanita itu tidak mau sampai anak-anaknya melihat kelakuan mereka yang sudah tua. Mereka tidak mau Livy dan Abio berpikir yang aneh-aneh ketika melihat mereka duduk sambil bermesraan seperti itu.


Oliver merapikan penampilannya sebelum berjalan menuju ke tangga. Begitu juga dengan Katterine Tidak lupa Katterine membawa bekal yang sudah ia siapkan di atas meja.


"Sayang. Apa kau sudah mau berangkat?" tanya Katterine sambil tersenyum.


"Iya Ma." Livy melirik kotak bekal yang kini ada di tangan Katterine. "Apa itu Ma? Apa itu untuk Livy?"


Katterine menggangguk lalu memberikan kotak bekal itu kepada Livy. "Mama memasak makanan kesukaanmu. Kau bisa memakannya di pesawat nanti. Kau akan pergi bulan madu bersama dengan Abio. Pasti nanti kau akan merindukan masakan mama."


Livy menjadi terharu mendengar ungkapan hati ibu kandungnya. Wanita itu segera memeluk Katterine. "Aku sangat menyayangi Mama. Aku pasti akan sangat merindukan masakan mama nanti. Mama jaga kesehatan ya. Aku tidak akan memegang ponsel selama bulan madu. Jadi aku tidak bisa memberi Mama kabar. Jika Mama ingin tahu keberadaan kami mama bisa langsung menghubungi The Filast. Kami berdua sudah memutuskan ini sejak tadi malam. Kami harap mama menghargai keputusan kami."


"Iya sayang. Mama tidak akan keberatan dengan keputusan yang kau ambil. Hanya satu pesan Mama tetap jaga kesehatan di manapun berada." Katterine diam sejenak. "Jangan terlalu dipaksakan jika kau tidak sanggup." Wanita itu menepuk pundak putrinya sambil tertawa penuh arti.


Livy mengernyitkan dahi karena bingung dengan perkataan ibu kandungnya. "Maksud Mama apa. Apa yang sudah dipaksakan?"


"Itu ...Itu maksud Mama." Katterine terlihat kebingungan mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Livy.


"Maksud Mama kalian ini kan akan berlibur di sana. Jika sudah capek atau lelah istirahatlah. Tidak perlu kembali ke hotel yang sebelumnya. Jika kalian lelah di suatu lokasi wisata dan ada hotel di dekat situ Istirahatlah di hotel itu agar kalian tidak kelelahan kembali ke hotel pertama. Brazil sangat luas. Hanya dua minggu saja tidak akan cukup untuk menjelajahinya."


"Ya, itu maksud mama." Katterine tersenyum memandang Oliver. Kini wanita itu merasa lega karena suaminya sudah membantunya untuk mencari alasan agar Livy tidak berpikir yang aneh-aneh.


"Mama sama papa tenang saja. Abio pasti akan menjaga Livy. Abio tidak akan membiarkan Livy kelelahan." Pria itu merangkul dengan Livy dengan mesra. "Bukankah begitu sayang?" tanya Abio sambil memandang wajah Livy. Livy hanya menjawab dengan senyuman terpaksa. Belum tiba di Brazil juga wanita itu sudah bisa membayangkan bagaimana lelahnya ia selama di sana nanti. Bisa-bisa mereka tidak jalan-jalan hanya menghabiskan waktu seharian suntuk di dalam kamar hotel.


"Kalau begitu pergilah. Bukankah tadi kau bilang kalian hampir terlambat. Mama dan Papa tidak bisa mengantar ke bandara. Siang ini Mama ada urusan penting. Papa juga harus menemani mama."


"Baiklah Ma. Livy pergi dulu."


Lagi-lagi wanita itu memeluk Katterine dan juga Oliver. Abio juga melakukan hal yang sama. Setelah selesai berpamitan sepasang pengantin baru itu berjalan menuju ke mobil yang sudah disiapkan di depan sana.


Katterine dan Oliver hanya mengantar sampai depan pintu saja. Bahkan ketika mobil yang ditumpangi oleh Livy dan Abio melaju Katterine masih sempat melambaikan tangannya dengan mata berkaca-kaca.


"Ayo kita masuk ke dalam. Bukankah kita harus pergi?" tanya Oliver sambil mengusap lengan Katterine agar wanita itu tidak sedih lagi.


"Pastikan pasukan The Filast menjaga mereka dengan ketat." Katterine memandang Oliver.

__ADS_1


"Kau tenang saja. Aku tidak akan membiarkan putriku dalam bahaya," ucap Oliver dengan penuh keyakinan.


__ADS_2