
Sorak tepuk tangan para tamu undangan memeriahkan acara pertunangan Norah dan Austin. Biao yang berdiri sebagai pendamping Austin terlihat berbangga diri. Rasanya tugasnya sudah hampir selesai untuk menjaga cucu sahabatnya. Walau Austin bukan cucu kandung keluarga Clark. Tetapi pria itu merupakan bagian penting dari keluarga Clark.
"Selamat, Austin. Kau hebat. Selamat datang di keluarga besar ini," ucap Biao dengan senyuman. Pria itu menepuk pundak Austin sebelum memandang Norah. "Selamat, Norah. Opa sangat bangga memiliki cucu sepertimu. Opa Daniel dan GrandNa pasti juga senang bisa melihatmu bertunangan dengan pria yang kau cintai."
Ucapan selamat Biao membuat Norah terlihat sedih. Wanita itu menjadi rindu dengan opa, oma dan GrandNa yang sudah tiada. "Terima kasih, Opa. Tetap jaga kesehatan."
"Opa akan tetap seperti ini. Opa juga ingin melihat cucu Opa menikah." Biao melirik Abio yang saat ini sedang asyik bermesraan dengan Livy. Sejak Livy menerima cintanya dan keluarga besar merestui hubungan mereka, Abio tidak pernah segan-segan lagi memamerkan kemesraannya bersama Livy.
"Opa, boleh aku bertanya satu hal?" Norah memandang Biao dengan serius. Hal itu membuat beberapa orang di sana terlihat ingin tahu. Salah satu di antaranya adalah Kenzo. Entah kenapa pria itu ingin tahu sekali sebenarnya apa yang ingin ditanyakan oleh Norah. Jarang-jarang memang Norah mau mengobrol seperti ini bersama Biao.
"Boleh, Opa akan jawab," sahut Biao.
__ADS_1
"Sejak aku kecil, yang aku tahu tentang keluarga Edritz hanya Opa Daniel dan GrandNa. Jika ada waktu, apa Opa mau menceritakan tentang keluarga Edritz Chen? Aku ingin tahu. Sebenarnya bagaimana nenek moyangku. Oma Emelie pernah menceritakan semua tentang keluarga kerajaan Cambridge. Tapi, tidak dengan GrandNa dan Opa Daniel. Setiap di tanya selalu sedih. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang membuat mereka sedih."
Biao mengerti sebenarnya apa yang ingin diketahui oleh Norah. Namun, dia juga tidak bisa menceritakannya sekarang. Saat ini ada banyak sekali tamu undangan yang ingin bertemu dengan Norah dan juga Austin untuk mengucapkan selamat. Biao tidak mau membuat para tamu undangan terlalu lama menunggu.
"Nanti. Jika kau tidak sibuk, temui Opa. Opa akan ceritakan semua yang ingin kau ketahui." Biao memandang Austin. "Termasuk Opa Austin."
Austin tersenyum kecil. "Semoga saja pertemuan Opa Clark dan Opa Biao tidak dimulai dengan permusuhan," ledek Austin asal saja walau sebenarnya memang seperti itu yang terjadi.
"Baik, Opa," jawab Norah dan Austin bersamaan. Kenzo yang juga ingin kembali ke kursi hanya memberi selamat sekedarnya kepada Norah dan Austin sebelum mengikuti Biao dari belakang.
"Biao, tunggu!"
__ADS_1
Biao mengentikan langkahnya. "Ada apa?"
"Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Jika nanti kau ingin menceritakan kisah keluarga Edritz Chen. Jangan pernah katakan kepada mereka kalau aku dan Daniel pernah bermusuhan. Itu cerita yang buruk. Bahkan Kwan dan Abio saja tidak tahu sampai saat ini."
Biao mengangguk. "Saya tidak seperti itu. Jika anda mengenal saya, anda tidak mungkin memperingati saya seperti ini. Saya tahu mana saja yang pantas di ceritakan dan mana yang harus di rahasiakan."
Kenzo tersenyum. "Terutama cinta segitiga mereka. Jangan pernah ceritakan. Itu hanya akan jadi rahasia kita semua."
Biao mengangguk lagi. "Saya permisi dulu."
Kenzo kini terlihat jauh lebih lega. Pria itu memandang istrinya yang sedang asyik mengobrol dengan Katterine dan juga Alana. Dia tahu kalau para wanita itu pasti sedang membahas pernikahan Abio dan juga Livy. Hal itu membuat Kenzo mengurungkan niatnya untuk menemui Shabira.
__ADS_1
"Lebih baik aku bersama Zeroun saja," gumamnya di dalam hati.