
Norah memasukkan sarapan paginya ke dalam mulut. Sejak masuk ke dalam kamar dan bertemu dengan Austin lagi, dia tidak ada mengeluarkan satu katapun. Bahkan memandang wajah Austin saja seperti tidak tertarik.
Austin sendiri menjadi tidak berselera untuk memasukkan sarapannya ke dalam mulut. Norah memang bersama dengannya saat ini. Tetapi hati dan pikiran wanita itu ada di Cambridge. Austin hanya memenangkan raganya. Tapi tidak dengan ketenangannya. Nyatanya wanita itu tidak tenang ketika ada di dekatnya.
Ini salah satu hal yang sangat di benci oleh Austin. Dia lebih baik Norah ikut dengan Zion pulang ke Cambridge daripada harus di sini tetapi pikirannya di Cambridge. Toh nanti kalau dia sudah sembuh, dia juga akan pergi menemui Norah dan memperjuangkan wanita itu.
"Aku akan meminta orang untuk mengantarkanmu pulang ke Cambridge," ujar Austin tiba-tiba.
Norah masih menunduk tanpa mau memandang wajah Austin. Tiba-tiba saja wanita itu seperti sedang terisak. Tangannya menghapus air mata secara diam-diam.
Austin mundur dan bersandar di sandaran kursi. Pria itu kehabisan cara menghadapi Norah. Ini juga cinta pertamanya. Pertama kali dia menjalin kasih dengan seorang wanita. Pertama kalinya dia menghapuskan jarak dengan seorang wanita. Austin benar-benar tidak tahu cara menghadapi Norah. Ide yang biasanya muncul dan bisa digunakan untuk membujuk Norah sekarang entah bersembunyi dimana. Biasanya dia yang selalu di kejar-kejar. Tetapi kali ini, Austin yang harus mengerti Norah.
"Itu pasti sakit. Norah, jangan menangis sambil makan. Katakan dimana kesalahanku. Aku mohon jangan menangis. Aku merasa gagal sebagai seorang pria jika wanita yang ada di dekatku menangis seperti ini." Austin memajukan tubuhnya lagi. Dia memegang tangan Norah dan mengusapnya dengan lembut. "Jangan nangis lagi ya. Katakan padaku. Sebenarnya apa yang kau inginkan," bujuk Austin dengan nada yang sangat lembut. Bahkan Austin sendiri tidak menyangka kalau dia bisa selembut ini.
"Tadi aku memimpikan GrandNa. Dia sudah tidak ada Austin." Norah memandang wajah Austin. "Bahkan aku tidak hadir di pemakamannya. Cucu seperti apa aku ini?"
Mendengar kata GrandNa, bukan hanya membuat rasa penyesalan di dalam hati Norah saja. Tapi di hati Austin juga. Pria itu menyesal sudah melakukan penyerangan hingga membuat Nenek tua yang biasa di sapa GrandNa itu tewas.
"Ini semua salahku, Norah. Aku yang sudah membawa pasukan The Bloods masuk ke dalam rumah itu. Hingga akhirnya mereka menembak GrandNa mu. Maafkan aku."
"Tapi kau melakukannya juga karena kau tidak tahu kalau kau menyerang keluargaku. Austin, kau tidak salah." Walau sebenarnya banyak sedikitnya Austin itu salah. Tetapi di mata Norah dia tetap pria baik. Norah tidak mau menyalahkan Austin. Sudah cukup rasa sakit yang kini di derita Austin. Dia tidak mau membuat Austin semakin menderita karena rasa bersalahnya.
"Kau tidak perlu membujukku Norah. Kau juga tidak perlu menghiburku. Karena satu-satunya hal yang bisa membuatku tetap tenang adalah kau." Austin menarik tangan Norah hingga wanita itu beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu meletakkan Norah di atas pangkuannya. "Jangan menangis. Kau terlihat sangat jelek."
__ADS_1
"Aku memang jelek," sahut Norah.
"Hei, siapa yang bilang? Kau cantik. Sangat cantik. Kau satu-satunya wanita cantik yang pernah ada di hatiku. Setelah ibuku."
Norah menatap wajah Austin dalam-dalam. Austin juga pernah kehilangan dua orang yang sungguh berarti di dalam hidupnya. Sekarang Norah tidak mau berlarut dalam kesedihan. Semua itu hanya membuat Austin semakin merasa bersalah.
"Austin, aku mencintaimu."
Austin mengusap pipi Norah. "Aku juga sangat mencintaimu, Norah. Sangat mencintaimu." Pria itu memberikan kecupan singkat di pucuk kepala Norah. "Jangan sedih lagi ya. Aku tidak mau kau bersedih seperti tadi."
Norah mengangguk sembari menghapus air matanya. "Maafkan aku."
"Kau tidak salah, Norah. Menangis salah satu cara tubuh kita mengungkapkan perasaan yang kita rasakan. Tetapi, aku hanya ingin kau menangis karena bahagia. Bukan menangis karena sedih. Sekarang, lakukan sesuatu untukku." Austin mempererat pelukannya di pinggang Norah.
"Apa yang harus aku lakukan?'
"Seperti ini?" Norah memandang wajah Austin dengan senyum indah di bibirnya. Walaupun sudah tersenyum, tetap saja salah di mata Austin. Pria itu tahu kalau Norah masih terpaksa mengukir senyumannya. Dia mau Norah benar-benar bahagia.
"Tidak seperti itu." Austin menarik kedua sudut bibir Norah dan menahannya untuk beberapa detik. "Sekarang katakan kau bahagia bersama denganku."
Norah mengeryitkan dahi. "Bagaimana caranya? Kau menarik pipiku, Austin," ujar Norah dengan suara tidak jelas.
Austin akhirnya tertawa melihat ekspresi wajah Norah yang lucu. Pria itu bahkan masih belum mau melepaskan pipi Norah yang tadi dia tarik.
__ADS_1
Tiba-tiba Norah juga ikutan menarik sudut bibir Austin. Dia meminta Austin mengatakan sesuatu. Dengan dahi mengeryit, pria itu berusaha mengatakan sesuatu.
"Norah, kau cantik sekali."
Karena terdengar tidak jelas, Norah tertawa mendengarnya. Wanita itu melepas pipi Austin. Begitu juga dengan Austin. Mereka sama-sama tertawa saling meledek wajah masing-masing.
"Kau terlihat sangat jelek, Austin."
"Apa selama ini kau memandangku sebagai pria yang tampan?" tanya Austin balik.
Norah terdiam sebelum mengangguk. "Kau sangat tampan. Dimataku, kau pria yang tampan Austin."
"Sayangnya memang semua wanita yang bertemu denganku selalu berkata kalau aku sangat tampan, Norah."
Austin yang lagi-lagi narsis membuat Norah kesal. Wanita itu mencubit perut Austin dengan begitu kuat. "Oh ya? Mungkin mereka buta. Atau mereka sedang mabuk."
"Aduh, sakit Norah!" lirih Austin sambil berusaha melepas cubitan Norah.
"Sakit? Apa ini sangat sakti?"
"Ya, kau mencubit yang terkena tusukan belatih."
Norah Lang melepaskannya dengan wajah panik. Dia membuka baju Austin untuk memeriksanya. Hal itu membuat Austin lagi-lagi tertawa melihatnya.
__ADS_1
"Austin, kau mengerjaiku!" protes Norah.
Austin hanya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi marah Norah. Di balik pintu, Paman Tano juga ikut tersenyum mendengar tawa Austin dan Norah dari dalam kamar. Pria itu merasa jauh lebih lega sekarang. Tanpa mau mengganggu, Paman Tano meletakkan baju ganti Austin dan Norah di depan pintu kamar. Setelah itu dia pergi untuk menyelesaikan tugas yang sudah diberikan oleh Austin.