Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 246


__ADS_3

Faith dan Zion sudah ada di kamar pengantin mereka. Malam ini akan menjadi malam pertama bagi mereka berdua. Meskipun sebelumnya mereka terlihat sangat dekat, tetapi tetap saja saat malam mereka berdua masih terlihat canggung. Bagaimanapun juga ini adalah pengalaman baru bagi mereka. Entah apa yang harus mereka lakukan. Baik Faith maupun Zion sama-sama tidak tahu dengan apa yang harus mereka lakukan.


Faith dan Zion sama-sama sudah selesai mandi. Berbeda dengan pasangan pengantin baru pada umumnya. Mereka berdua memilih untuk pulang ke rumah. Kini mereka ada di dalam kamar pribadi yang memang selama ini ditempati oleh Zion. Semua barang-barang Zion masih tersusun rapi di kamar tersebut. Meskipun Zion jarang menempatinya, tetapi tidak ada satu orangpun yang berani menggeser barang-barang pribadi Zion tersebut.


"Kak, sekarang kita harus apa?"


Pertanyaan Faith membuat Zion membeku. Pria itu merasa malu karena sebagai seorang pria justru dia tidak bisa memulainya. Karena terlalu grogi sampai-sampai Zion pucat.


"Kak, ada apa? Kenapa bibir Kak Zion pucat? Kak Zion sakit?" Faith menyentuh dahi Zion hingga membuat Zion semakin kesulitan bernapas. Pria itu memandang wajah istrinya yang kini sangat dekat dengan posisinya berada.


"Aku baik-baik saja." Zion memegang tangan Faith dan menyingkirkannya dari dahi. "Aku hanya kelelahan saja."


"Kelelahan?" Faith diam sejenak. "Kalau begitu kita tidur saja sekarang. Aku juga sangat lelah." Faith yang memang sangat polos segera mencari posisinya. Wanita itu berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dia mengernyitkan dahi melihat Zion yang justru masih duduk saja di depannya.


"Faith, apa kita benar-benar akan tidur?" Zion memandang Faith lagi. Pria itu tiba-tiba saja berbaring tepat di samping Faith.


"Lalu, mau apa lagi? Bukankah tadi Kak Zion bilang kalau Kak Zion lelah?" Faith sendiri juga bingung.


Zion memberanikan diri untuk menyentuh pipi Faith. Melihat Faith tidak memberi penolakan, pria itu justru berusaha untuk mencium bibir Faith.


"Ha cuh!" Tiba-tiba saja Faith bersin hingga membuat Zion mematung di tempatnya. Belum juga bibir mereka berhasil bersentuhan. "Maafkan aku kak."


Zion hanya diam saja. Kini ia pandang lagi wajah istrinya. Tidak ada bosan-bosannya. Zion merasa semakin tergila-gila dengan istrinya. "Aku mencintaimu Faith."


Faith tersenyum manis. "Aku juga mencintai Kak Zion." Faith memajukan bibirnya lalu mencium suaminya. Kini wanita itu terpaksa bergerak duluan karena Zion sudah terlalu lama mengulur waktu.


Zion memegang pinggang Faith. Dia menarik tubuh wanita itu agar lebih merapat lagi dengan tubuhnya. Ciuman itu tidak hanya bertahan di bibir saja. Zion mulai berani mencium leher Faith dan mencumbunya dengan mesra. Faith sendiri terlihat senang bisa mendapatkan sentuhan lembut dari suaminya.


"Kak ...." Tiba-tiba saja Faith berucap hingga membuat Zion menahan aksinya. Denga napas tersengal, pria itu memandang wajah istrinya.


"Ada apa?"


Faith mengigit bibir bawahnya. Dia mulai terlihat grogi. "Aku ... Aku ...." Faith menahan kalimatnya sambil memejamkan mata. "Aku takut."


Zion tersentuh. Sebenarnya dia juga tidak tega. Tetapi pria itu harus menyentuh istrinya. Dia harus jadi lelaki pertamanya Faith. Namun, Zion tidak mau memaksa. Jika sang istri belum bersedia dan belum siap, maka Zion sanggup untuk menundanya. Karena bagi Zion, pernikahan ini saja sudah lebih dari cukup.


"Aku tidak akan memaksamu," ucap Zion dengan nada yang lembut. Pria itu mengecup pucuk kepala Faith untuk beberapa detik sebelum menjauh. Dia duduk dan hendak turun dari tempat tidur. Hasratnya sudah bangkit. Zion merasa tersiksa. Tetapi dia tidak mungkin mengatakannya kepada Faith.


Melihat perlakuan Zion yang begitu sopan membuat Faith tidak tega. Ketika Zion ingin turun, tiba saja Faith menarik tangan Zion. Kini Faith juga duduk berhadapan dengan Zion.


"Kak ...." Faith membuka satu persatu piyama yang kini dikenakan oleh Zion. Mau tidak mau Faith harus menggoda suaminya lagi. Malam pertama ini tidak boleh sampai gagal.


"Faith, apa yang sebenarnya kau inginkan?" gumam Zion di dalam hati.


Tiba-tiba saja dengan beraninya Faith duduk di atas pangkuan Zion. Wanita itu melepas piyama suaminya lalu melemparkannya ke lantai. Faith lalu membuka satu persatu pakaian yang ia kenakan sendiri.


"Jangan memaksakan diri jika kau belum siap." Zion memegang tangan Faith untuk mencegah wanita itu membuka kancing piyamanya lebih ke bawah lagi.


"Aku bersedia. Kita sudah menikah. Kak Zion suamiku. Apa lagi yang harus aku tutupi? Semuanya sudah menjadi milik Kak Zion. Maafkan aku karena tadi sempat merusak mood Kak Zion."

__ADS_1


Zion tersenyum. "Kali ini kau tidak bisa mundur lagi. Kau yakin?"


Faith mengangguk. Wanita itu mendekatkan wajahnya untuk mencium Zion.


...***...


Faith membuka matanya secara perlahan saat tangan Zion yang dingin mengusap pipinya dengan lembut. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, tetapi Faith belum juga bangun. Sedangkan Zion sudah selesai mandi. Karena tidak tega membangunkan istrinya, Zion akhirnya memilih untuk memandang wajah Faith sambil sesekali mengusap pipinya yang menggemaskan.


"Kak Zion?" Faith sempat kaget karena ketika dia bangun ada Zion di hadapannya. Namun seperkian detik kemudian, wanita itu kembali sadar. Kalau dia dan Zion sudah menikah. Bahkan tadi malam mereka baru saja melewati malam pertama yang begitu memabukkan.


"Apa kau masih sakit? Apa pagi ini kau tidak bisa turun ke bawah?"


Pertanyaan Zion membuat pipi Faith merona malu. Secara perlahan wanita itu menarik selimut lalu menutupi separuh wajahnya. Hanya bagian mata saja yang terlihat. "Kak Zion sudah mandi?"


"Ya. Aku sudah mandi. Kau belum menjawab pertanyaanku, sayang ...."


Faith menutup wajahnya sebelum mengintip lagi. "Tentu saja aku masih bisa turun ke bawah. Sekarang juga aku akan mandi lalu kita sarapan. Tapi bisa kah kak Zion menyingkir? Aku tidak bisa bergerak jika Kak Zion memelukku seperti ini."


Zion memandang tangannya yang ternyata sejak tadi memeluk tubuh Faith. Pria itu segera menyingkir dan memberikan ruang kepada Faith untuk duduk. "Aku akan menunggumu di depan kamar," ucap Zion pada akhirnya.


Faith mengangguk setuju. "Baiklah." Zion mengecup pucuk kepala Faith sebelum pergi. Pria itu menutup rapat pintu kamarnya. Dia tahu kalau di balik selimut itu Faith belum menggunakan busana. Zion juga tahu kalau Faith merasa segan untuk mengusir dirinya pergi. Mereka masih pengantin baru. Jelas saja Faith masih malu-malu. Maka dari itu Zion berinisiatif untuk membiarkan Faith sendirian di dalam kamar agar wanita itu lebih nyaman untuk melakukan aktivitasnya.


Setelah pintu tertutup rapat, Faith menghela napas lega. Wanita itu segera turun dari tempat tidur. Dengan menggunakan selimut wanita itu menutupi tubuh polosnya. Dia langsung berlari menuju ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Faith melemparkan selimut yang ia bawa ke tempat pakaian kotor. Faith memandang lagi tubuh polosnya yang kini terpantul jelas di depan cermin. Matanya menyipit ketika melihat jejak kepemilikan Zion di lehernya dan bagian dadanya. Tentu saja ia akan merasa malu jika tanda itu sampai terlihat oleh orang lain. Terutama Dominic dan ayah kandungnya, Zean.


Wanita itu membasahi seluruh tubuhnya di bawah pancuran shower. Ia sama sekali tidak tertarik untuk berendam di dalam bak mandi. Aroma sampo dan sabun yang digunakan oleh Zion masih memenuhi kamar mandi tersebut.


Faith mengambil sampo dan sabun miliknya yang sudah disiapkan oleh Zion. Pria itu memang suami yang pengertian.


Sambil mandi Faith kembali mengingat percintaannya dengan Zion tadi malam. Ada senyum puas di bibirnya. Meskipun rasa sakit di bagian pangkal pahanya belum hilang, tetapi setidaknya Faith sudah berhasil membuat suaminya bahagia di malam pertama mereka.


"Sekarang aku sudah resmi menjadi istri Kak Zion. Aku sangat senang. Aku harap segera hadir bayi mungil di dalam rahimku ini agar kebahagiaan kami menjadi lengkap." Faith mengusap perutnya yang masih rata sambil tersenyum hangat.


Di depan kamar, Zion duduk di salah satu sofa yang tidak jauh dari tangga. Pria itu terus saja memandang ke arah pintu. Sebenarnya ia sempat merasa bosan karena menunggu Faith yang tidak kunjung selesai. Tetapi ia berusaha untuk memakluminya.


Harumi yang baru saja keluar dari kamar tidurnya menahan langka kakinya ketika melihat Zion duduk di sofa. Sebelum-sebelumnya mereka memang pernah bertemu. Namun mereka tidak terlalu akrab. Harumi mengenal Zion sebagai pamannya. Tetapi entah kenapa setiap kali ia melihat wajah Zion ia merasa takut. Harumi berusaha untuk kembali ke dalam kamarnya. Tetapi tiba-tiba saja Zion memandang ke arah Harumi dan memanggil anak kecil itu.


"Harumi!"


Harumi menahan langkah kakinya lalu berputar lagi. Sambil menggenggam gaunnya yang berwarna pink anak kecil itu menunduk ketakutan. "Paman memanggilku?" tanya Harumi dengan suara kecilnya.


"Ya," jawab Zion. Pria itu segera beranjak dari sofa lalu berjalan menghampiri Harumi. "Apa kau takut melihat paman?"


Harumi menggeleng namun belum berani untuk memandang wajah Zion secara langsung. Hingga akhirnya Zion berjongkok di depan Harumi sambil tersenyum. Sebisa mungkin pria itu tidak memperlihatkan wajah sangarnya. Ia tidak mau Harumi takut melihatnya seperti ini.


"Apa kau mau mainan?"


Harumi menggeleng lagi. "Mama dan papa sudah membelikanku banyak mainan. Bahkan ada beberapa yang belum aku mainkan," jawab Harumi dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Sepertinya mama dan papamu sangat menyayangimu, sampai-sampai mereka mau membelikanmu mainan yang begitu banyak.


Zion kembali berpikir. Dia ingin menemukan cara agar Harumi bisa akrab dengannya. Namun karena tidak pernah berinteraksi langsung dengan anak kecil, akhirnya Zion kehabisan ide untuk bisa membujuk Harumi.


"Apa kau sudah sarapan, Harumi?"


Harumi mengangguk. "Aku ingin masuk ke dalam."


Zion mengepal kuat tangannya lalu memperlihatkannya di depan Harumi. "Tos dulu," ucap Zion hingga akhirnya membuat Harumi tersenyum. Dengan penuh semangat anak kecil itu juga mengepal kuat tangannya lalu melagakannya dengan kepalan tangan Zion.


"Apa Paman Zion suka membunuh?" tanya Harumi memberanikan diri.


Zion menaikkan satu alisnya. Namun lagi-lagi ia berusaha untuk memasang wajah seramah mungkin. "Siapa yang bilang kalau Paman suka membunuh?"


"Kemarin aku mendengar Paman bicara pada laki-laki menyeramkan. Paman memintanya untuk membunuh."


Zion kembali ingat kalau memang kemarin sebelum pesta pernikahannya, pasukan Gold Dragon sempat menemui dirinya dan berkata kalau ada penyusup di markas. Karena tidak mau rencana pernikahannya mengalami masalah, akhirnya Zion meminta pasukan Gold Dragon itu untuk membunuh penyusup tersebut.


Zion tertawa geli. Hal itu membuat Harumi terlihat kebingungan. "Oh iya, Paman ingat. Memang benar Kemarin Paman bilang kepada paman yang berbadan gemuk itu untuk membunuh. Tapi apakah Harumi tahu siapa yang akan kami bunuh. Maksud paman yang kami bunuh itu bukan manusia tetapi nyamuk. Karena paman yang berbadan gemuk itu berulang kali digigit nyamuk hingga badannya bentol-bentol."


Harumi yang polos dan tidak tahu apa-apa justru ikut tertawa mendengar cerita dari Zion. Rasa takut di dalam hatinya berangsur hilang. "Di mana ada nyamuk? Selama ini Harumi belum pernah bertemu dengan nyamuk."


"Itu karena kau sering berada di dalam kamarmu yang nyaman. Di luar sana sangat banyak sekali nyamuk. Terutama di arena kebun. Paman yang kemarin itu memetik apel di kebun lalu ia digigit nyamuk sampai wajahnya bentol-bentol. Apa Harumi mau digigit nyamuk juga?"


Sambil tertawa anak kecil itu geleng-geleng kepala. "Tidak mau."


"Kalau begitu Harumi jangan pernah pergi tanpa pengawasan dari mama Norah ya. Sangat berbahaya. Karena kapan saja nyamuk bisa menggigit dan menghisap darah Harumi."


"Harumi nggak' akan pergi kalau Mama Norah dan papa Austin tidak ada di samping Harumi." Tiba-tiba saja Harumi memeluk Zion. Anak kecil itu kembali ketakutan. "Harumi takut penculik. Harumi takut senjata api. Mereka menembak hingga membuat Harumi ketakutan."


"Di sini ada paman. Tidak akan ada yang berani menyakitimu. Percayalah kepada paman. Paman akan melindungimu!"


Zion diam sejenak sebelum mengusap punggung Harumi. "Apa nanti ketika aku memiliki anak, anakku juga akan ketakutan seperti Harumi?" gumam Zion di dalam hati.


Faith keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Wanita itu menahan langkah kakinya ketika melihat Zion memeluk Harumi. Itu merupakan pemandangan bagus bagi Faith. Ia tidak menyangka kalau suaminya itu ternyata sangat penyayang. Bahkan sampai detik ini saja Faith belum bisa akrab dengan Harumi.


"Kak Zion," sapa Faith .


Zion segera melepas pelukannya dengan Harumi lalu memandang ke arah Faith. "Apa kau sudah siap?" Zion memperhatikan penampilan istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pakaian yang dikenakan oleh Faith kali ini memang sedikit berbeda. Pakaian itu lebih tertutup. Bahkan dari leher saja sudah tidak kelihatan kulitnya. Padahal jelas-jelas suasana di luar sangat panas. Biasanya justru Faith lebih memilih gaun yang sedikit pendek.


"Ya, aku sudah siap." Faith memandang ke arah Harumi. "Harumi sudah sarapan?"


Harumi mengangguk cepat. Dia memandang ke arah Zion lagi. "Harumi mau masuk ke kamar dulu."


"Oke, Harumi," jawab Zion. Pria itu membukakan pintu kamar Harumi. Setelah Harumi masuk ke dalam Zion berjalan menghampiri Faith yang masih berdiri di sana.


"Pagi ini Kau sangat cantik sekali. Apa kau melakukannya untukku?"


Dengan wajah malu-malu Faith mengangguk. Wanita itu berjalan menghampiri Zion lalu merangkul lengannya dengan mesra. "Ayo kita sarapan. Perutku sudah sangat lapar sekali." Zion hanya diam saja. Mereka berdua berjalan cepat menuju ke tangga.

__ADS_1


__ADS_2