
"Tuan Zean mengidap penyakit kanker paru-paru. Jika dilihat lagi, sepertinya penyakit ini sudah lama berkembang di dalam tubuh Tuan Zean. Hanya saja Tuan Zean sangat pintar untuk menyembunyikan penyakitnya hingga orang-orang yang ada di sekitarnya tidak mengetahuinya. Sekarang kanker yang diderita oleh Tuan Zean sudah semakin parah. Kita harus segera mengambil tindakan untuk mencegah pertumbuhan kanker ini. Untuk menyembuhkannya secara total itu sangat mustahil karena akarnya sudah berkembang dengan begitu luas. Tetapi kita masih bisa melakukan sebuah upaya untuk menghentikan proses pertumbuhannya. Kita juga bisa membantu Tuan Zean untuk mengurangi rasa sakitnya," ucap dokter yang kini duduk di depan Dominic.
Mendengar perkataan dokter itu membuat Dominic ingin menangis. Rasanya Ia sangat menyesal karena sudah cukup lama mengabaikan Ayah kandungnya. Kini ketika mereka bertemu lagi justru Dominic harus mendengar kabar yang tidak begitu mengenakan. Dominic tidak mau kehilangan ayah kandungnya. Hanya pria itu satu-satunya orang tua yang kini ia miliki.
"Lakukan segala cara untuk menyembuhkan Papa saya Dok. Saya akan membayar berapapun biayanya."
"Kami selalu mengupayakan yang terbaik." Dokter itu menyodorkan obat yang tadi diberikan oleh Dominic. Dominic menemukan obat-obat itu berada di dalam laci kamar Zean lalu dia membawa obat itu dan menunjukkannya kepada dokter. Jika saja Dominic tidak menyerahkan obat itu mungkin sampai detik ini dokter juga tidak tahu penyakit yang diderita oleh Zean. Karena dokter yang selama ini menangani penyakit Zean berusaha keras untuk menutupi kebenarannya.
"Saya kembalikan obat ini kepada Anda Tuan. Saya akan meresepkan obat yang baru."
Dominic mengangguk lalu mengambil obat itu lagi. "Saya permisi dulu dok." Dia beranjak dari kursi sebelum pergi meninggalkan ruangan dokter itu dengan wajah sedih.
Setibanya di depan ruangan dokter, dokter yang selama ini menangani penyakit Zean terlihat ketakutan. Dokter itu segera berjalan menghampiri Dominic. Dia tidak mau dihukum oleh Dominic karena sudah merahasiakan penyakit Zean selama ini.
"Tuan, maafkan saya karena sudah menyembunyikan penyakit Ayah anda. Saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Sudah berulang kali saya membujuk Tuan Zean untuk mengobati penyakitnya agar tidak semakin parah. Tapi beliau mengabaikan nasehat saya. Bahkan beliau mengancam saya agar tidak memberitahukan perihal penyakit ini kepada siapapun. Posisi saya benar-benar tidak menguntungkan saat itu. Hingga akhirnya saya putuskan untuk menyimpan rapat-rapat rahasia ini."
"Kau tidak perlu minta maaf padaku. Aku tahu bagaimana sifat Papa. Aku tidak akan menyalahkanmu. Justru aku sudah menyiapkan sebuah tugas untukmu."
"Tugas apa Tuan?" Dokter itu terlihat sedikit bersemangat karena Dominic tidak menghukumnya.
"Aku tahu Papa tidak akan mau untuk mengobati penyakitnya. Dia pasti akan berpura-pura sehat di depan kami. Hanya dokter satu-satunya orang yang mungkin akan dia percaya. Dokter di dalam berkata kepada saya kalau obat-obatan yang Anda berikan selama ini hanya sekedar mengurangi rasa sakit tidak untuk mengobati. Saya memiliki kenalan orang hebat yang pintar meracik obat-obatan dari bahan alami. Efek sampingnya tidak akan ada jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang. Setelah aku berhasil mendapatkan obat-obatan itu aku ingin anda yang memberikannya kepada papa. Katakan saja kalau ini obat pereda rasa sakit. Kita akan mengobati papa secara diam-diam. Aku tahu Papa tidak akan mau dioperasi apalagi kemoterapi. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk mengobati penyakit papa."
Dokter itu mengangguk setuju. Dia juga tidak rela jika orang yang selama ini mempekerjakannya tidak ada lagi di dunia ini. "Baiklah Tuan. Saya akan menuruti apa yang anda katakan."
"Kalau begitu tunggu perintahku selanjutnya. Aku harus menemui Papa di ruangannya. Dia akan curiga jika aku menghilang terlalu lama."
"Baik Tuan."
Dominic segera melangkah menuju ke kamar tempat Zean dirawat. Sambil berjalan, laki-laki itu memikirkan nasib orang tuanya. "Aku yakin Papa pasti sembuh," gumam Dominic di dalam hati.
Di dalam ruangan ternyata Faith sedang menyuapi Zean yang sedang makan siang. Wanita itu merasa bahagia karena akhirnya ia diberi kesempatan untuk mengurus orang tuanya ketika sedang sakit.
"Bagaimana Pa? Apa makanan ini enak?" tanya Faith sambil tersenyum." Zean hanya menjawab dengan anggukan. Pria itu tidak mau banyak bicara karena nafasnya masih terasa sesak.
"Papa harus cepat sembuh. Nanti kita akan pulang ke rumah Kak Dominic. Di sana Faith akan memasakkan Papa makanan yang enak. Faith yakin papa akan suka dengan masakan yang Faith buat nanti."
"Papa tidak bisa tinggal satu rumah dengan kalian," tolak Zean hingga membuat Faith merasa sedih.
__ADS_1
"Kenapa Pa. Apa salahnya tinggal bersama kami. Dengan begitu kami bisa merawat papa setiap kali Papa jatuh sakit."
"Justru itu. Justru karena Papa sudah sakit-sakitan Papa tidak mau menetap di satu tempat saja. Rencananya papa ingin mengelilingi dunia sebelum meninggalkan dunia ini."
"Kalau begitu aku dan Kak Dominic ikut. Kami akan menemani Papa untuk keliling dunia. Kita bertiga akan bersama-sama menjelajahi dunia. Mengunjungi tempat-tempat indah sambil berfoto-foto agar memiliki kenangan."
Zean membisu. Dia tidak menyangka kalau putrinya pandai bicara. Kini pria itu kehabisan kata-kata untuk menolak tawaran Faith.
Bersamaan dengan itu pintu terbuka lebar. Dominic masuk ke dalam. Pria itu berusaha menampilkan wajah ceria agar Faith dan Zean tidak curiga.
"Kakak, kenapa Kakak lama sekali. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh dokter itu kepada kakak?"
Zean tetap memasang wajah tenang. Pria itu merasa yakin kalau dokter yang ia perintahkan untuk merahasiakan ini pasti masih tetap merahasiakan penyakitnya. "Pasti Dokter bilang kalau Papa kecapean. Akhir-akhir ini memang Papa kurang tidur karena memikirkan kakakmu. Papa sangat merindukan kakakmu sampai-sampai Papa jatuh sakit. Sekarang kita sudah bertemu. Papa janji tidak akan jatuh sakit lagi," ujar Zean dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.
Dominic tidak tega untuk memandang wajah Ayah kandungnya secara langsung. Pria itu mengalihkan pandangannya sebelum duduk di kursi yang ada di sana. "Apa Papa sudah selesai makan?" tanya Dominic sambil melihat ke arah piring yang kini ada di tangan Faith.
"Hari ini Papa makan sangat banyak. Aku yakin sebentar lagi papa akan sehat Kak," jawab Faith dengan penuh antusias. "Apa Kak Dominic sudah makan?"
"Belum. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah makan?"
"Aku juga belum makan."
Dominic sebenarnya tidak selera untuk makan karena dia memikirkan penyakit Ayah kandungnya namun pria itu juga mengkhawatirkan kesehatan Faith hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Faith keluar mencari makanan agar mereka bisa makan siang bersama-sama.
"Pa, Dominic dan Faith pergi dulu. Kami akan segera kembali. Papa istirahat ya," ucap Dominic dengan nada yang lembut.
Zean mengangguk sambil tersenyum. Pria itu segera mencaci cari posisi nyamannya untuk istirahat. Sedangkan Dominic segera membawa Faith untuk meninggalkan ruangan itu. Dia juga sudah tidak sabar untuk menyampaikan penyakit Zean kepada Faith.
Setelah Faith dan Dominic pergi, Zean segera duduk di atas tempat tidur. Pria itu mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Belum sempat panggilan teleponnya tersambung tiba-tiba pintu kembali terbuka. Zean yang kaget segera menyembunyikan ponselnya di bawah bantal sebelum menjatuhkan tubuhnya dan berbaring. Zean bahkan cepat-cepat memejamkan matanya. Dia berpikir kalau orang yang kembali masuk ke ruangannya adalah putra dan putrinya.
"Zean. Bagaimana kabarmu?"
Zean mengernyitkan dahi ketika suara wanita yang menyapanya sangat tidak asing di telinganya. Secara perlahan pria itu membuka kedua matanya untuk melihat siapa yang sudah datang. Pria itu segera melebarkan kedua matanya karena kaget ketika melihat Leona dan Jordan berdiri di sana. Ada Zion juga yang saat itu berdiri di belakang Jordan.
"Leona, Kenapa kau bisa sampai di sini?" tanya Zean. Pria itu segera memaksakan dirinya untuk duduk. Jordan segera berlari menghampiri Zean. Pria itu ingin mencegah Zean untuk duduk. Dia tidak mau penyakit Zean semakin parah.
"Jangan banyak bergerak. Tetaplah berbaring jika kau masih sakit," ucap Jordan.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Aku bisa sampai di rumah sakit ini karena kelakuan dua anakku. Mereka terlalu khawatir padahal aku hanya kelelahan saja," dusta Zean berharap sahabatnya itu percaya dengan apa yang ia katakan.
Leona terlihat sedih melihat keadaan Zean saat ini. Pria itu semakin kurus. "Berhentilah membohongi kami karena kami sudah tahu yang sebenarnya terjadi. Penyakit kanker bukan penyakit yang bisa diremehkan. Kau harus segera diobati agar penyakitnya tidak semakin parah," ucap Leona. Wanita itu juga berjalan mendekati Zean dan berdiri di samping suaminya.
"Kanker. Siapa yang sakit kanker?" tanya Zean yang lagi-lagi berusaha untuk menyembunyikan penyakit yang ia derita.
"Aku sudah bilang Kalau kami sudah mengetahui semuanya. Jadi berhentilah untuk menutupi penyakit yang kau derita. Aku akan segera mencari dokter terbaik untuk menyembunyikan penyakitmu. Aku yakin jika soal biaya kau tidak akan kesulitan. Hanya keinginanmu untuk sembuh saja yang tidak ada." Leona mengambil ponselnya hendak menghubungi seseorang. Zean tidak tahu harus melakukan apa. Meskipun sudah tua seperti ini tetapi pria itu masih saja takut dengan Leona. Bahkan lebih menurut dengan apa yang dikatakan oleh Leona.
"Apa kau sendiri di ruangan ini?" tanya Jordan sambil memandang ruangan tersebut. Zion melangkah menuju ke sofa. Pria itu duduk di sana sambil menunggu kedua orang tuanya berbincang-bincang.
"Aku ditemani oleh dua anakku. Sekarang mereka sedang keluar untuk makan siang. Mereka akan segera kembali. Apa kalian akan lama di Dubai. Kalau aku boleh tahu dari mana kalian tahu kalau aku masuk rumah sakit."
"Kau tidak perlu tahu kami tahu dari mana. Anggap saja takdir kembali mempertemukan kita meskipun dalam keadaan seperti ini. Aku tidak akan pulang dan pergi meninggalkanmu sebelum bertemu dengan dua anakmu. Aku akan katakan kepada mereka penyakit yang kau derita. Aku tidak peduli kau mau berpikiran apa tentangku. Yang penting kau kembali sehat," ujar Leona dengan tegas. Kali ini Zean benar-benar kehabisan kata-kata. Dia tidak akan berhasil jika mengajak Leona untuk bernegosiasi.
"Jangan Leona. Jangan lakukan itu. Aku melakukan semua ini karena tidak mau anak-anakku sedih," ujar Zean panik.
"Mereka akan semakin sedih jika mereka terlambat untuk mengobatimu. Mereka akan merasa bersalah ketika mengetahui penyakitmu saat kau sudah tiada. Lebih baik mereka tahu dari sekarang daripada tahu nanti dari orang lain."
"Leona. Aku merasa bosan dengan kehidupanku. Sejak istriku pergi aku tidak lagi memiliki semangat hidup. Bahkan aku tidak mau membuka hati untuk wanita manapun lagi. Bahkan kesalahan semalamku telah membuahkan seorang anak perempuan. Satu minggu setelah istriku meninggal aku mabuk-mabukan. Aku melakukan kesalahan bersama dengan seorang wanita yang saat itu menolongku. Dia hamil namun aku tidak menikahinya. Sebenarnya aku tidak tahu kalau dia hamil. Setelah setahun kami tidak bertemu lagi akhirnya kami bertemu ketika ia menggendong seorang bayi. Detik itu dia mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak mau aku merawat anak itu. Musuhku melihat kami berbincang-bincang dan mereka berpikir kalau wanita itu adalah istriku. Aku tidak tahu kalau mereka mengincar nyawa mereka berdua. Wanita itu tewas namun ia berhasil menitipkan putriku kepada orang lain."
"Lalu apa kau berhasil menemukan anak itu?" tanya Leona ingin tahu.
"Tidak. Aku tidak berhasil menemukannya. Bahkan segala upaya sudah aku usahakan untuk menemukannya tetapi tetap saja gagal. Sekarang takdir berkata lain. Tiba-tiba saja anak perempuan itu datang dan memperkenalkan diri sebagai putriku. Aku merasa beruntung karena masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya."
"Itu berarti takdir tidak mengizinkanmu untuk patah semangat. Zean, kau harus sembuh. Separah apapun penyakitmu pasti ada obatnya. Kita tidak perlu pasrah dengan kematian. Karena di usia kita yang sekarang sudah pasti kematian bisa menghampiri kapan saja. Berbagai penyakit mudah sekali menyerang tubuh kita. Tapi setidaknya sebelum pergi kita sudah bisa membuat anak-anak kita bahagia. Apa kau sudah berhasil untuk membahagiakan anak-anakmu. Apa mereka sudah menemukan pasangan hidup mereka dan menikah. Jika belum jangan pernah membayangkan soal kematian. Karena hanya orang bodoh yang berpikiran seperti itu."
Mendengar perkataan Leona membuat hati Zean sedikit terbuka. Pria itu mulai menyesal karena sudah sempat putus asa. "Ya, kau benar Leona. Seharusnya aku memikirkan kebahagiaan anak-anakku. Selama ini aku tidak pernah membahagiakan mereka. Setidaknya di sisa usiaku yang sekarang aku bisa melihat mereka bahagia dengan pasangan mereka masing-masing." Zean memandang ke arah Leona lagi. "Apa kau mau membantuku Leona?"
"Tentu saja aku selalu bersedia untuk membantumu. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Kau ini adalah sahabatku. Juga seorang ibu.Pasti kau lebih mengerti apa yang dipikirkan oleh anak zaman sekarang. Tolong bantu aku untuk mencarikan jodoh untuk kedua anakku. Aku ingin mereka menikah dalam waktu dekat ini."
Leona mengernyitkan dahi. Bukan dia tidak setuju tetapi mencari jodoh Zion saja dia belum berhasil. Namun rasanya sangat tidak mungkin untuk menolak permintaan Zean. Apalagi ketika pria itu dalam kondisi seperti sekarang.
"Baiklah. Akan aku pikirkan lagi nanti. Tapi sebelumnya aku ingin bertemu dengan anak-anakmu dulu."
Zean tersenyum bahagia mendengar jawaban Leona. "Baiklah kau tunggu dulu di sini. Mereka hanya pergi untuk makan siang mereka nanti akan segera kembali aku akan memperkenalkan mereka kepadamu."
__ADS_1
Leona memandang ke arah Zion sejenak sebelum memandang ke arah Zean lagi. "Baiklah. Aku akan tunggu di sini," jawab Leona dengan senyuman.