
Abio tahu kalau sahabatnya memiliki masalah hingga menemuinya dalam keadaan kacau seperti ini. Namun Abio tidak mau langsung bertanya. Pria itu membiarkan sahabatnya merasa jauh lebih tenang terlebih dahulu. Dia mengambil dua gelas kosong dan minuman yang ada di rak. Sebelum mendekati Foster lagi. Abio menuang anggur merah ke dalam gelas kristal. Hanya minuman itu yang berani dia berikan kepada Foster.
"Minumlah." Abio meletakkan gelas berisi anggur merah itu di atas meja. "Tapi jangan berlebihan. Kau bisa sakit. Bukankah kau memiliki riwayat penyakit ...." Abio menahan kalimatnya. "Yang pasti tidak boleh minum alkohol terlalu banyak!"
Tanpa pikir-pikir, Foster meneguk minuman itu dengan rakus. Hanya satu tegukan saja isi di dalam gelas sudah langsung habis. Abio menghela napas melihatnya. Namun dia tidak tertarik untuk mengisinya lagi. Justru Abio menjauhkan botol-botol berisi minuman beralkohol itu dari Foster. Dia tidak mau sampai Foster merebutnya dan meneguknya hingga habis.
"Apa kau sudah ke rumah sakit?" tanya Abio penuh basa-basi. Berharap pertanyaannya bisa mencairkan suasana. Abio yakin kalau Foster bertemu dengan Daisy, maka pria itu akan bersemangat lagi.
"Aku baru saja bertemu dengan Daisy," jawab Foster tanpa memandang. Dia memperhatikan gelas yang masih ada di genggamannya.
"Lalu? Apa kau memeluknya dan kepergok Zion Zein?" ledek Abio sambil tertawa. Pria itu mengambil wine dan menuangkannya ke dalam gelas miliknya sendiri. "Zion memukulmu karena marah adiknya sudah kau sentuh?" Abio asal saja menebak karena dia melihat wajah sahabatnya bekas di pukul seseorang. Hanya itu tebakan yang menurutnya tepat.
"Hubunganku dan Daisy sudah berakhir," jawab Foster. Dia menyingkirkan gelas kosong itu. "Kami sudah tidak memiliki ikatan apa-apa lagi."
__ADS_1
"Itu hal yang wajar. Apa kalian bertengkar?" Abio meneguk lagi minumannya. "Wanita memang seperti itu. Dia tidak benar-benar marah pada kita. Dia hanya butuh waktu saja. Pertengkaran ketika pacaran sering terjadi. Bahkan sudah menikah saja pasti ada pertengkaran. Apa lagi wanita. Dia suka sekali bilang putus. kita sebagai pria jangan langsung terbawa suasana. Kita harus bisa memahami maksud pasangan kita. Dia tidak akan marah jika tidak ada sebabnya."
"Aku yang memutuskan hubungan kami," sahut Foster.
"What?" Abio kaget bukan main. "Apa masalahnya? Apa semua karena Zion? Kau seharusnya berjuang untuk meluluhkan hati Zion. Dia memang seprotektif itu terhadap adik-adiknya. Tapi sebenarnya dia pria yang baik. Jangan menyerah. Zion juga tidak akan sampai membunuhmu hanya karena kau mencintai adiknya. Dia hanya bersikap galak demi menjaga adik-adiknya."
"Bukan karena Zion. Kedua orang tuaku tidak setuju. Akhir-akhir ini keluarga Zeroun Zein banyak dibicarakan. Identitas mereka sebagai keluarga mafia sudah menyebar di mana-mana. Pembunuh bayaran. Entah apa lagi gosip yang beredar. Kedua orang tuaku tidak setuju aku dan Daisy menjalin hubungan." Wajah Foster semakin kecewa mengingat penolakan orang tuanya terhadap Daisy.
Abio mengangguk. Kini dia paham masalah sahabatnya apa. "Mereka takut kau mati?"
"Lalu, bagaimana dengan dunia gelap yang baru saja kau bangun? Apa mereka tahu?" tanya Abio balik.
Foster memandang Abio dengan alis saling bertaut. "Dari mana kau mengetahuinya?" tanyanya bingung.
__ADS_1
Abio menepuk pundak Foster. "Kita sahabat. Sebelum memutuskan untuk bersahabat denganmu, aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Tidak ada yang bisa kau tutupi dariku. Oke, kembali lagi sama Daisy. Kau beruntung masih hidup sampai detik ini setelah kau mematahkan hati Daisy. Jika aku jadi Zion, aku sudah membunuhmu. Minimal menembak kedua kakimu agar tidak bisa berjalan lagi. Foster, kita diciptakan sebagai pria yang kuat karena di tuntut untuk berjuang. Jika kau tidak bisa memperjuangkan kekasihmu di depan keluargamu, maka jangan pernah memutuskan untuk jatuh cinta. Apa kau pikir cinta itu hanya soal ciuman, pelukan atau ****? Tidak, Foster. Kau memutuskan untuk mencintai seorang wanita, maka kau sudah memutuskan untuk membagi semua yang kau punya untuknya. Termasuk keluargamu." Abio merasa kagum pada dirinya sendiri. Entah dari mana dia menemukan kalimat sebagus itu untuk menasehati sahabatnya. Padahal dia sendiri seorang playboy yang kerjanya menyakiti hati para wanita.
"Tapi aku akan kehilangan wanita yang sudah melahirkanku jika aku tetap menjalin hubungan dengan Daisy," sahut Foster frustasi. Tidak ada niat untuk menyakiti sejak awal. Bahkan sejak awal dia sudah memutuskan untuk menjadikan Daisy istrinya. Tetapi kali ini memang masalahnya sangat berat karena dia tidak diberi pilihan.
"Foster, aku tidak terlalu suka menyalahkanmu. Karena selama ini keputusan yang kau ambil selalu benar. Jika memang masalahnya ada pada kedua orang tuamu, seharusnya kau tidak perlu menyakiti Daisy. Katakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Daisy. Dia akan mengerti. Harus lebih terbuka. Setelah dia mengerti, maka kalian berdua bisa sama-sama memikirkan solusi yang baik untuk masalah ini. Kecuali kau tidak serius sama Daisy, ya tinggalkan saja. Biasanya aku juga seperti itu.
Namun, satu hal yang harus kau ingat. Daisy cucu seorang Zeroun Zein. Adik kesayangan Zion Zein dan putri dari Eleonora Edritz Chen. Dia bukan wanita biasa. Sekali kau menyakitinya, maka kau tidak akan pernah memiliki kesempatan kedua. Jika kau masih mencintai Daisy dan tidak sanggup berpisah dengannya, sebaiknya temui dia dan jelaskan semuanya. Masalah kedua orang tuamu akan kita pikirkan sama-sama. Sebelum semuanya terlambat! Sarankan temui Zion Zein terlebih dahulu. Jelaskan semuanya. Setelah itu pikirkan cara mendapatkan maaf Daisy."
Foster beranjak dari kursi yang ia duduki. "Kau benar, Abio. Aku akan temui Zion dan juga Daisy. Aku akan menjelaskan semuanya sekarang!" ucap Foster dengan penuh semangat. "Aku akan minta maaf kepada Zion. Aku tahu tidak mudah mendapatkan maaf darinya. Tapi aku akan berusaha semampuku."
"Semoga kau beruntung, bro!" sahut Abio sambil menepuk pundak Foster. "Zion pria yang tidak bisa di tebak. Jika kau sampai masuk rumah sakit, kabari aku secepatnya. Jangan sampai kedua orang tuamu tahu karena itu hanya akan memperburuk keadaan."
"Baiklah!" Foster mengambil kunci mobilnya dan segera pergi. Entah siapa dulu yang ingin ia temui. Tapi yang pasti Foster tidak mau sampai kehilangan Daisy. Pria itu sudah cinta mati sama Daisy.
__ADS_1
Abio menggeleng kepalanya sambil memandang ke arah pintu. Foster telah pergi dan sekarang dia sendirian di apartemen itu. "Sepertinya aku ini pria yang pandai bicara. Padahal pada kenyataannya, aku saja kesulitan mendapatkan hati wanita pujaanku. Livy ... apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa kau juga memikirkanku seperti apa yang aku lakukan sekarang?"