
Hari berganti, detik waktu terus berlari memenuhi janji dan tiba saatnya kini Naya harus pergi. Saat ini Naya dan Derya sedang berada didepan rumah, bersiap berpamitan dengan anak mochi yang sesegukan karena menahan tangis dari tadi pagi. Pukul 09.00, mereka harus tiba dititik berkumpul untuk berangkaat bersama kegunung X.
“Bunda,hiks,,, Bunda jangan lama ya perginya, hiks,hiks.” Ucap Aydin yang sesegukan digendongan Bi Lastri
“Iya sayang, lihat jari Aydin dan ingat apa kata Bunda. Bunda sebentar saja kok perginya…” kata Naya merasa kasihan dengan anak mochi karena ditinggalkan
“Hiks,hiks,,, iya Bunda. Bunda, hiks,,, harus telephone Aydin nanti sering-sering ya !” pinta anak mochi disela isaknya
“Iya sayang Bunda usaha in ya, kalau ada sinyal” kata Naya sambil mengusap punggung Aydin
“Hiks,,,hiks,,,” Aydin masih terisak melepas kepergian Naya
“Bos, bisa kita ngomong kesana sebentar ?” Tanya Naya berbisik pada Derya yang sedang sibuk memuat tas camping kemobil
“Ya, ada apa ?” Tanya Derya bingung
“Sini bos !” kata Naya sambil melambaikan tangan untuk Derya mengikutinya
“Kenapa Nay ?” Tanya Derya yang kini mereka sudah berada cukup jauh dari Aydin
“Bos yakin ninggalin Aydin ?” Tanya Naya
“Iya” jawab Derya singkat
“Aydin butuh tinggal dengan seseorang yang lebih dekat dengan dirinya bos, Anda adalah Ayahnya orang pertama yang paling dekat dengan dirinya dan saya juga dekat dengan dirinya. Jika kita tinggal dia bersamaan seperti ini bagaimana dengan Aydin, pasti kesepian !” kata Naya mengeluarkan keluhannya
“Ada banyak orang disisinya saat kita pergi” kata Derya
“Tapi beda bos, jika tidak tinggal dengan orang yang kita dekat pasti akan merasa tidak nyaman” kata Naya
“Terus mau apa ?” Tanya Derya
“Ya Bos jangan ikut pergilah, tinggal dirumah saja jaga in Aydin” kata Naya
“Yang dia tangisi itu kamu Nay, bukan saya !” kata Derya sedikit kesal karena Naya menyuruhnya tinggal
“Iya saya tau, tapi jika bos tidak ikut Aydin mungkin tidak sesedih ini” jawab Naya
“Kata siapa ? dia itu sedih karena ditinggal kamu. Bukan karena saya ikut !” tegas Derya lagi
“Iyadeh terserah bos, tapi bagaimana dengan keamanan Aydin ketika anda pergi ?” Tanya Naya lagi
__ADS_1
“Saya sudah menyewa 10 bodyguard untuk itu” jawab Derya
“Itu terlalu berlebihan bos, itu akan membuat ruang gerak Aydin menjadi tidak nyaman” kata Naya memberi pendapatnya
“Mau kamu apa sih Nay ? ini tidak boleh, itu tidak boleh ! kamu siapa begitu perhatian dengan anak saya !” kata Derya tersulut emosi karena apa yang dilakukannya ditentang Naya
“Saya Bundanya, saya menyayangi Aydin seperti seorang ibu menyayanginya. Kenapa tidak boleh ? itu hak asasi manusia untuk mencintai dan menyayangi siapapun bos !” kata Naya berargument
“Ya, tapi kenapa kamu selalu menentang keinginan saya ?” Tanya Derya masih dengan nada tinggi
“Saya tidak menentang, saya hanya memberitahukan pendapat saya mengenai keinginan bos. Kenapa sih Bos, kemaren aja baik udah mulai gak ngebentak. Sekarang kenapa balik lagi sih ?” Tanya Naya yang malah menanyakan sikap Derya
“Saya juga punya titik akhir untuk menahan kesabaran saya Nay ! apa yang saya lakukan itu adalah yang terbaik untuk Aydin dan kamu ! Aydin disini banyak yang jaga dan kamu disana tidak ada seorangpun yang menjaga “ jelas Derya
“Saya dijaga untuk apa bos ? lebih penting Aydin daripada saya” Tanya Naya bingung
“Kamu itu harus saya jaga biar tidak dekat dengan laki-laki lain, kamu itu harus saya jaga dari marabahaya dan hati kamu itu harus saya jaga agar tidak pergi. Karena kamu akan menjadi Bunda sesungguhnya dari anak saya otomatis saya yang harus menjaga kamu setiap saat Nay !” kata Derya mengungkapkan isi hatinya
“Bunda sesungguhnya ? memangnya saat ini saya masih belum menjadi Bunda yang tulus menyayangi anak Bapak ? saya tulus pak menyayangi Aydin seperti anak saya sendiri” kata Naya yang salah mennagkap maksud Derya
“Ck, Saya suka kamu Nay !” kata Derya kesal karena Naya tidak mengerti maksud ucapannya tadi
“Saya tau, makanya bos masih betahkan menjadikan saya pegawai anda. Saya juga mulai menyukai bos jika bos tidak marah-marah seperti ini” kata Naya salah mengartikan kata suka, lagi.
Naya malah bengong dan tidak merespon apapun, sepertinya pikirannya blank saat ini.
“Nay,,, Naya.” Kata Derya melambaikan tangan kedepan wajah Naya namun tetap tidak ad arespon
“Hm, ya sudahlah. Sudah setengah 9 nanti terlambat jika kita tidak segera berangkat” ucap Derya lalu pergi meninggalkan Naya, dirinya sebenarnya juga grogi karena mengungkapkan perasaanya tiba-tiba seperti itu
“Astagfirullah,,,” kata Derya yang kaget karena melihat Anton yang menempel didinding rumah dekat mereka bicara tadi
“Kamu nguping Ton ?” Tanya Derya dengan penuh selidik
“Tidak bos, saya tidak menguping” kata Anton mengelak
“Apa yang kamu dengar ?” Tanya Derya tidak bisa dibohongi
“Hehehe, maaf bos saya tidak sengaja. Maksud saya hanya ingin memanggil kalian berdua untuk bergegas berangkat” kata Anton menjelaskan
“Saya tanya apa yang kamu dengar !!!” kata Derya tegas
__ADS_1
“Anu bos, saya tidak mendengar apapun. Saya hanya melihat bahwa sedang terjadi perang rumah-rumahan antara Anda dan Naya” jelas Anton
“Rumah-rumahan ?” Tanya Derya bingung dengan kata itu
“Iya bos rumah-rumahan bukan rumah tangga, karena diantara kalian berdua masih belum ada tangga sebagai pengikat untuk bersama-sama mencapai tujuan yang sama” kata Anton bergaya Mario Teguh
“Oh, sana kamu panggil Naya untuk segera ke mobil” respon Derya kemudian berlalu begitu saja.
Setelah ketahuan sedang berdebat oleh Anton dankarena ungkapan perasaan yang tiba-tiba itu membuat Naya dan Derya menjadi canggung satu sama lain. Kini barang-barang mereka sudah dimasukkan semua kedalam mobil, tiba saatnya Naya harus pamit kepada anak mochi. Perpisahan sangat alot sampai jam 9 mereka baru bisa berangkat. Suasana dimobil menjadi hening karena keduanya hanya bungkam.
“Saya setel lagu ya Bos, sepi amat ni mobil kayak kuburan, hehehe” kata Naya mencoba ceria seperti biasanya
“Hm, iya” sahut Derya
...Aku tak mudah mencintai tak mudah bilang cinta...
...Tapi mengapa kini denganmu aku jatuh cinta...
...Tuhan tolong bantu aku beri aku dia...
...Jika belum jodoh aku bisa apa…...
...(Devano_Menyimpan Rasa)...
Begitu penggalan lirik lagu yang diputar dimobil tanpa sengaja. Lirik itu sedang mencerminkan isi hati keduanya, membuat wajah Naya memerah menahan malu karena itu menggambarkan perasaanya yang tidak dapat tersamapaikan lewat kata. Derya juga merasa gugup dengan keringat dingin ditelapak tangannya karena ketahuan suka mendengar lagu tersebut untuk meyakinkan hatinya jika sebenarnya dia menyukai Naya.
Perasaan memang harus segeranya diungkapkan, sebelum rasa itu mulai memudar karena saling tidak peduli. Teruntuk Derya si Ayah bear semangat dan jangan menyerah untuk terus mencoba membuat hati Naya terbuka, membuat Naya move on dari rasa sakit karena hubungan. Karena anda tau bos rasanya ditinggalkan, walau beda sebab dengan Naya. Namun tetap saja rasanya sama, ditinggalkan itu menyakitkan !
.
.
.
.
.
See you next episode ya 😉~~~
Akhirnya Ayah Bear ungkapin juga perasaanya 🎉🎉🎉
__ADS_1
Terus berjuang yah 💪 ketuk hati Naya untuk terbuka menerima kamu. Faktor pendorong itu penting, Derya terbuka hatinya karena ada Aydin yang selalu dilihatnya begitu dekat dengan Naya. Tugas Ayah bear selanjutnya adalah temukan faktor tersebut agar pdktmu semulus jalan tol 🛣️
❤️❤️❤️