
"Bagaimana, apa ketemu ?” tanya Bram masih memeriksa cctv dan para babysitterpun datang menyusul
“Tidak ketemu Pak, tapi saya menemukan ini” ucap Santi sambi menyerahkan sebuah kancing
“Ini milik siap ?” tanya Bram bingung
“Ini punya Neng Nia, saya yang menjahitkankancing bajunya yang hampir lepas kemaren” ucap Santi yang mengetahui betul kancing tersebut
“Kau menjahitnya ?” tanya Bram
“Iya Pak, saya yang menjahitnya dikancing itu ada hurun N yang kami gambar bersama” jawab Santi
“Dimana kau menemukannya ?” tanya Bram sambil memeriksa kancing tersebut dan benar saja ada huruf N disana
“Tepat didepan pagar sekolah, dimana biasanya orang tua menjemput anaknya dengan mobil” ucap Santi memberi tahu
“Baiklah, cctv gerbang depan. Ini, apa ini mereka ?” tunjuk Bram saat mengamati
“Iya Pak, mobil siapa yang mereka naiki ?” tanya Santi
“Disitu juga ada Tuan Aldo dan double K” ucap Laila juga ikut memperhatikan
“Kemana mereka ? tolong tangkap plat mobilnya Pak” ucap Bram meminta petugas pengawas cctv sekolah
“Itu bukan mobil Tuan besar dan Nyonya” ucap Laila melihat mobil tersebut
“Dapat Pak ?” tanya Santi harap cemas
“Ya, aku akan menghubungi Derya dan bertanya. Siapa tau itu adalah orang suurhan Derya menjemput” ucap Bram segera menghubungi Derya
“tuuut,,, tuuut,,,,tuut,,,” nada hubung terdengar beberapa saat kemudian telponpun segera diangkat
“Halo bro, apa kau meminta orang menjemput anak-anak ?” tanya Bram langsung ke inti permasalahan
“Aku sedang dijalan untuk menjemput anak-anak, apa kau sudah sampai lebih dulu disana ?” jawab Derya
“Ya, aku datang kesini lebih dulu untuk menyerahkan dokumen yang tertinggal kemaren. Tapi anak-anak sudah tidak ada disekolah” ucap Bram
“Hah, apa maksudmu ? apa mereka sudah pulang ?” tanya Derya bingung
“Entahlah, aku akan mengirim gambar mobil yang menjemput mereka. Apa kau mengenalnya ?” tanya Bram segera mengirim foto mobil tersebut
“Tunggu sebentar” ucap Derya segera membuka pesan dan meneliti gambar mobil tersebut
“Aku tidak tau ini mobil siapa ? anak-anak masuk mobil ini ?” tanya Derya agak panik
“Jika bukan orang utusanmu artinya mereka menaiki mobil orang tidak dikenal !” ucap Bram menyimpulkan
“Mereka diculik ?” tanya Derya semakin panik
“Kami akan segera mencarinya dan bermodal foto ini, bantu kami mencari Der disana juga ada ankmu” ucap Bram
__ADS_1
“Jelas aku akan mencari, ada dua anakku disana !” jawab Derya
“Kabari jika kau menemukan mereka” ucap Bram segera bergegas menuju mobil
“Ya, nanti akan kukabari. Aku akan menelpone istriku agar kami mencari bersama” ucap Derya
“Oke Bro, semoga anak-anak tidak kenapa-kenapa” ucap Bram terdengar cemas
“Semoga” jawab Derya kemudian telphonepun dimatikan, Derya segera balik arah dan menuju rumah mereka.
“Ayo kita mencari” ucap Bram pada mereka
“Laila kau dengan sopir kami, Santi sama saya. Semoga mereka belum jauh, dipersimpangan kalian ambil arah kiri” ucap Bram membagi tugas
“Em, iya Pak” jawab Laila ragu, padahal sopir mereka juga sedang menunggu
“Segera kasih kabar jika menemukan petunjuk” ucap Bram segera membuka pintu mobilnya
“Em, ini gimana masuknya ya ?” gumam Santi kebingungan masuk mobil dua pintu yang mewah itu
“Kenapa ?” tanya Bram menurunkan kaca mobil
“Ini gimana bukanya ya Pak, hehe” ucap Santi kikuk
“Ah, maaf. Silahkan…” ucap Derya membukakan pintu dari dalam
“Terimakasih Pak” ucap Santi malu karena terlihat kampungan
“Ah, iya Pak” ucap Santi masih kebingungan menarik seatbelt
“Biar saya bantu San” ucap Bram melihat Santi tidak bisa menarik sealtbel
“Oh, ternyata memang macet. Tunggu ya biar saya lihat” ucap Bram setengah bangkit dari kursinya
Santi membeku seketika karena sangat dekat dengan majikannya, aroma parfue maskulin Bram masuk keindra penciumannya semakin membuat wajahnya memewah
“Akhirnya bisa” ucap Bram menarik tali seatbelt tersebut dan memasangkannya
“Te, terimakasih Pak” ucap Snati menunduk
“I,, iya sama-sama” ucap Bram yang baru sadar jika posisi mereka tadi terlalu dekat
Mobilpun melaju dengan pelan dengan mata mereka yang tak lelah mencari-cari keberadaan mobil tersbeut.
“Mereka tidak diapa-apakan oleh penculik itu kan ?” tanya Santi tiba-tiba
“Nia anak yang yang cerdas mereka pasti baik-baik saja” ucap Bram
“Kenapa begini ? Nia baru saja berbahagia karena akhirnya memiliki teman. Tapi kenapa mereka harus mendapatkan kejadian seperti ini” ucap Santi khawatir
“Mungkin ini akan jadi kenangan mereka nanti” ucap Bram menjawab
__ADS_1
“Kenapa harus Nia, dia sudah melalui banyak kesulitan kenapa ini juga harus terjadi padanya ? ini salahku yang lalai” gumam Santi mengutuki diri
“Hei, ini tidak sepenuhnya salahmu ? karena aku datang terlambat makanya kamu yang diminta tanda tangan sebagai walinya” ucap Bram yang sengaja datang selain untuk mengantar dokumen pada Derya dirinya juga harus bertemu wali kelas untuk tanda tangan
“Huuuff… Jika bisa biarkan saya saja yang diposisi Nia, diculik, tidak memiliki teman, istimewa seperti Nia, saya dengan suka rela melakukannya. Anak sekecil Nia sudah merasakan begitu banyak ujian hidup membuat saya merasa tidak berguna sebagai orang dewasa” ucap Santi
“Santi, semuanya sudah terjadi tidak bisa kita putar balik sekehendak kita.” Ucap Bram menatap lekat Santi
“Ya, sekarang hanya bisa menemani Nia dan mendukung agar bisa berbahagia selamanya” ucap Santi tersenyum hangat menatap kedepan
“Ya, kita akan terus menemani dan mendukung Nia agar dia tumbuh menjadi anak yang bahagia. Terimakasih San kamu sudah merawtat anak saya dengan baik” ucap Bram
“Santi hanya sebatang kara waktu Bapak temukan, Bapak adalah penyelamat Santi dikala Santi putus ada dan memilih mengakhiri semuanya” ucap Santi mengenag masa itu
“Kau terlalu muda untuk menyerah San, pasti ada jalan jika aku mau berjuang” ucap Bram mengingat wajah gadis lugu yang ditemuinya kala itu
“Bapak benar, Santi menjadi seperti sekarang ini juga karena Bapak dan Ibu. Terimakasih Pak” ucap Santi
Dulu saat dia nekad merantau keibu kota karena sudah tidak ada tempat sandaran dikampung, sehingga membuatnya mau tidak mau harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun ternyata merantau dan mencari pekerjaan tidak semudah yang dipikirkannya, ketika menyerah dan memilih untuk kabur dengan jalan kematian Bram datang dan menenangkannya, usia yang terpaut hampir 10 tahun membuat Santi menganggap bahwa Bram adalah pamannya dan Istri Bram seperti bibinya, sekaligus menghormati mereka seperti majikannya yang sudah menyelamatkan hidupnya.
“Hei, sebaiknya kita fokus mencari Nia. Jika mengenang masa lalu itu akan membuatmu sedih bukan ?” ucap Bram menyadarkan Santi dari lamunannya
“Ah, iya. Baik Pak” ucap Santi sedikit kaget
“Menurutmu apa aku ayah yang baik San ?” tanya Bram mengisi kekosongan saat mereka mencari
“Hm, menurut Santi Pak Bram ayah yang hebat, berusaha memberikan yang terbaik untuk Nia, membagi waktu walau ketetran asalkan bisa bersama Nia, Nia sangat menghargai itu Pak. Bapak adalah Ayah terbaik didunia, kata Nia” ucap Santi sedikit tersenyum mengingat perkataan Nia
“Ternyata Nia banyak bercerita padamu ya San” ucap Bram menyadari kedekatan anaknya dengan babysitter itu
“Benar Pak, Nia sangat senang bercerita pada saya. Sebelum tidur dia juga suka saya membacakan cerita walau dia tidak mendengarnya namun dia bisa membaca gerak bibir dan ekspresi saya” ucap Santi
“Beruntung Nia memiliki mu San” ucap Bram menatap dalam Santi menyadari jika Santi begitu sayang dengan anaknya
“Santi juga beruntung bisa bertemu Nia Pak” ucap Santi menoleh kearah Bram dan koneksi mata mereka tiba-tiba bertemu
Getaran itu tiba-tiba berasa, karena melalui polisi tidur tanpa dengan kondisi mobil yang tetap melaju.
“Dukh, dukhh,, dukh,,,” bunyi mobil yang melaju diatas polisi tidur yang berjejer manis
“Awas San, kepalamu !” ucap Bram segera pasang tangan agar Santi tidak terhantuk, karena dirinya yang menghentikan mobil tiba-tiba.
.
.
.
See you next episode guys 😉
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 👣👣👣
__ADS_1
Thanks ✨✨✨