
*Flashback
5 menit sebelum Derya menyadari Aydin tidak ada disampingnya
Aydin terus mengintip ketika disujud terakhir, anak mochi itu penasaran apa yang dibaca oleh Ayahnya sejak rakaat pertama. Ketika salam terakhir dia juga mengikuti Derya untuk menoleh kekanan dan kekiri, namun matanya terhenti pada satu titik.
“Om itu sedang apa ya ?” pikir Aydin sambil terus mengamati seorang laki-laki paruh baya
“Apa yang dimasukkan om itu ya ?” gumam Aydin sambil terus mengamati
“Apa itu uang ?” tanya Aydn pada dirinya sendiri
“Kenapa uang itu dibuat kedalam kotak kaca ?” tanyanya lagi
“Em, Aydin juga ingin memasukkan uang kedalam kotak itu. Tapi,,, Aydin tidak ada uang” katanya sambil menengok ke arah Derya yang sedang berdo’a
“Ayah,,,” kata Aydin pelan
“Ayah, aydin ingin meminta uang untuk dimasukkan kedalam kotak” kata Aydin lagi, namun Derya tetap tidak menyahutinya
“Nah, itu dompet Ayah. Aydin pinjam ya yah…” kata Aydin saat melihat dompet Derya yang hampir jatuh di saku celananya. Karena Derya berdo’a sambil menundukkan kepala Aydin kira itu tandanya boleh, jadi dirinya mengambil dompet tersebut.
Aydinpun segera mengambil dompet tersebut dan berjalan mendekat kekotak kaca yang berisi uang tersebut, lalu dia membuka dompet sang Ayah…
“Yah, tidak ada uangnya…” kata Aydin kecewa
“Hm, apa Aydin masukkan ini saja ya ? tadi Ayah membayar baju memakai kartu ini” kata Aydin lagi
“Aydin masukkan saja deh…” ucap anak mochi sambil memasukkan kartu tersebut
“Nak, jangan dimasukkan ! “ larang seorang pria paruh baya yang sepertinya petugas masjid disini namun sudah terlambat
“Kenapa tidak boleh om ?” tanya Aydin bingung
“Itu hanya untuk uang tunai saja Nak, tidak untuk kartu mainan kamu” kata petugas masjid tersebut yang tidak tahu itu kartu apa
“Benarkah ? maaf om…” kata Aydin sedih karena dirinya salah
*Flashback off
Deryapun segera melihat sekeliling mencari keberadaan Aydin, dia sangat cemas karena anaknya tidak ada disamping dirinya, sejak kapan Aydin pergi ? kemana dia pergi ? apa dia diculik ? pertanyaan itulah yang terus terbang dipikirannya, sampai Derya melihat sosok anak kecil yang membelakanginya…
“Aydin, apa yang kamu lakukan ?” tanya Derya segera menghampiri anak tersebut yang dia yakin adalah Aydin
“Ayah, maaf…” kata Aydin menunduk takut
__ADS_1
“Ada apa ya pak ?” tanya Derya kepada bapak paruh baya yang sepertinya pengurus masjid itu
“Ini Pak, anak ini memasukkan kartu kedalam kotak ini…” kata Pak petugas masjid
“Kartu apa yang Aydin masukkan ?” tanya Derya
“Ini dompet Ayah kenapa ada ditangan Aydin ?” tanyanya lagi
“Hiks,,, hikss,,,” aydin mulai sesegukan
“Aydin jawab Ayah !” kata Derya tegas
“Hiks,,, hiks,,, Bundaaa…” Aydin menangis semakin kencang
“Mohon maaf Pak, itu kartu yang warna hitam itu yang dimasukkan anak Bapak kesini” ucap Petugas masjid sambil menunjuk kartu hitam diantara tumpukan uang receh disana
“Aydin kenapa kamu masukkan kartu itu ?” tanya Derya lagi, dia marah bukan karena kartunya yang dimasukkan, tapi karena Aydin yang tidak patuh dan pergi menjauh dari dirinya
“Hiks,, hiks,,, Ma,, hiks,, maaf,,, hiks,,, Ayah…” kata Aydin sambil menangis
“Aydin ??? kenapa sayang ?” Naya yang mendengar tangisan anak kecil langsung mencarinya dan ternyata itu Aydin, ia pun langsung menghampiri Aydin dan memeluknya
“Mohon maaf ada apa ya ini Pak?” tanya Naya kepada petugas Masjid
“Oh, itu kartu yang sangat berharga Pak. Apa bisa dibukakan kotaknya untuk diambil kartunya?” tanya Naya sambil menenangkan Aydin
“Biasa Bu, mohon tunggu sebentar ya saya ambilkan kuncinya…” kata petugas tersebut
“Iya Pak, terimakasih” sahut Naya
“Iya Bu, saya permisi dulu…” kata Petugas masjid, Naya merespon dengan anggukan dan senyum ramah
“Hikss,,hiks,,,” Aydin masih menangis karena merasa bersalah
“Sudah ya sayang, jangan menangis. Kartunya dapat diambil kok” kata Naya menenangkan Aydin
“Benar Bunda ? hiks,,,” tanya Aydin yang mulai tenang
“Iya sayang, tuh lihat petugas masjidnya sudah kesini membawa kuncinya. Jadi kartunya dapat diambil” kata Naya
“Nah ini kuncinya, Om Ambilkan dulu ya Nak kartunya,,, sudah jangan menangis lagi” kata Petugas masjid yang kasihan melihat Aydin menangis
“Iya om,,,” jawab Aydin
“Ini dia kartunya Nak…” ucap petugas masjid tersebut menyerahkan kartu yang sudah diambilnya
__ADS_1
“Terimakasih Om” Kata Aydin
“Terimakasih banyak ya pak, maaf sekali jadi merepotkan” kata Naya
“Iya sama-sama” jawab Petugas Masjid tersebut
“Ayah, ini kartu dan dompet Ayah. Maaf…” kata Aydin yang merasa bersalah
“Hm,,,” respon Derya sambil mengusap kepala Aydin, entah kenapa dia juga ingin menenangkan hati Aydin
“Aydin sayang kenapa memasukkan kartu kedalam kotak ?” tanya Naya yang ingin tahu
“Tadi ada om yang memasukkan uang kedalam kotak Bunda. Aydin pikir untuk untuk tempat bayarnya karena kita masuk masjid, jadi Aydin juga ingin melakukannya” kata Aydin yang baru pertama kalo masuk masjid
“Bukan sayang. Kotak ini itu bukan untuk tempat bayar, ini itu untuk diwaqafkan untuk perbaikan masjid atau disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Jadi kita ke masjid tidak ada bayarnya sayang, kan ini rumah Allah siapa saja bisa beribadah dengan tenang disini secara gratis” jawab Naya
“Oh, Aydin juga ingin menyumbang Bunda… tapi tidak ada uang” kata Aydin yang sudah paham
“Nah ini, Ayidn pakai uang Bunda saja…” kata Naya smabil mengeluarkan uang 20 ribu
“Tidak mau yang ini, Aydin mau yang warna itu uangnya Bunda..” kata Aydin sambil menunjuk uang harga 50 ribu yang ada dikotak
“Kita menyumbang itu semampu kita sayang. Uangnya tidak perlu harus sama dengan uang yang ada dikotak” jelas Naya
“Oh, kalau begitu Aydin masukkan uang yang ini saja. Terimakasih Bunda” kata Aydin kemudian mencium Naya
“Iya sayang, sama-sama” sahut Naya lembut
“Nah sekrang ayo kita pergi ke panti asuhan untuk bertemu teman-teman Aydin” ajak Naya
“Ayo Bunda,,, Ayah Ayo…” ajak Aydin kembali bersemangat
Merekapun meninggalkan masjid untuk menuju panti asuhan, perjalanan hanya memakan waktu 5 menit. Kini merekapun sudah sampai dipanti asuhan,,,
.
.
.
.
.
See you next episode 😉~~~
__ADS_1