
"Waaaaah,,, lual biaca !!!” ucap Kivanc dengan kagum sambil membuka mata dan mulutnya dengan lebar
“Apanya yang luar biasa ?” tanya Derya bingung dengan kekaguman Kivanc
"itu yah ! ada catu, dua, iga,..... celatuuuuus ! Waah ada banyak cekali adik bayunya" Ucap Kivanc sambil berhitung
"Haaih, Astaga bocah ini !" Batin Derya
"Boy, semua itu bukan adik kalian !" Ucap Derya
"Lalu mana adik bayi kami Yah ?" tanya Kila yang ada digendongan lengan sebelah
"Lihat itu yang memakai selimut biru berbintang, itu baru adik kalian" ucap Derya menunjuk dengan dagunya
"Oooh, kenapa adik bayu hanya catu ? Ipan ingin banyak ayah" ucap Kivanc merajuk
"Aishh, nih anak gak tau apa perjuangan melahirkannya. Haah, sampai sekarang saja Naya masih belum sadar" Batin Derya merenung sambil menghembuskan nafas kasarnya
"Ayah, Ipan ingin macuk kedalam" ucap Kivanc namun tidak mendapat sahutan dari Derya
"Abang lihat, adik barunya bergerak !" ucap Kila yang sejak tadi memperhatikan
"Mana, mana de Ila ? abang ingin lihat" ucap Kivanc bersemangat sambil menempelkan wajahnya di dinding kaca
"Itu, lihat dia sedang menggeliat" ucap Kila sambil menunjuk
"Waah, iya lihat tangannya de Ila. cangat kecil cekali, Ipan ingin pegang" ucap Kivanc lagi dengan gemash
"Ayah ayo macuk kedalam !" rengek Kivanc
"Nyuuuut !" Sesuatu ditarik dengan sadis
"Auu... shht... kenapa jangan tarik rambut Ayah !" ucap Derya kesakitan
"Lihat lambut Ayah beluban !" ucap Kivanc menunjukkan hasilnya
"Kau ya ! Aish sudahlah, nanti jika ingin mencabut bilang permisi dulu !" ucap Derya
"Abisnya Ayah tidak mendengal pelmintaan Ipan cih, makanya Ipan cabut ubannya !" ucap Kivanc membela diri
"Baiklah, kamu mau apa hm ?" tanya Derya menurunkan keduanya
"Ipan ingin macuk kedalam" pinta Kivanc
"Tidak bisa boy, hanya bisa perawat yang masuk kesana" ucap Derya menjelaskan
__ADS_1
"Hm, Ipan akan cali baju pelawat. Ipan nanti beli Yah !" ucap Kivanc
"Tetap tidak bisa walau memakai baju perawat, kamu juga harus punya id untuk bisa akses pintu. Sudahlah, selanjutnya ayo kita jenguk om Anton" ucap Derya menggandeng tangan keduanya mengajak pergi
"Tidaaaak !" ucap Kivanc dengan dramatis meninggalkan ruangan bayi
"Sudah jangan merengek lagi ! nanti jika adik bayi sudah sehat pasti kalian bisa menjenguk dan memegangnya" ucap Derya menenangkan
"Adik bayi cakit ?" tanya Kivanc
"Om Anton sakit dan dirawat disini. Ayo kita masuk !" ucap Derya tidak menjawab pertanyaan Kivanc
"Benalkah ?" tanya Kivanc sambil menoleh ke Ayahnya
"Tuh lihatlah !" ucap Derya ketika membuka pintu
"Om Toooon !" ucap Kivanc segera berlari
"Eeeeh, Stoop ! stop !" ucap Anton panik karena anak itik akan segera menerjang
"Huwaa ! Om Ton kenapa ?" Kivanc tiba-tiba merem mendadak
"Apa yang om kenakan ?" tanya Kila juga menyusul
"Iguna ? ciapa itu" tanya Kivanc mulai menaikkan tangannya ingin menjangkau penyangga leher itu
"Em, itu.... eh Pak bos apa kabar ?" ucap Anton mengalihkan perhatian, padahal Derya sudah sejak tadi ada disana
"Baik" jawab Derya
"Pak bos kayak kulkas aje nih, kan baru aja nambah buntut bos. Hehe..." Ucap Anton cengengesan kemudian menahan lehernya karena agak bergerak
"Itu leher mau nambah perban gak ? sini aku bantu !" ucap Derya kesal karena ledekan Anton
"eh enggak² bos. Ampuun !" ucap Anton sambil mengatup kedua tangannya memohon maaf
"Hm..." gumam Derya begitu saja, sedangkan sikembar sudah diajak pergi oleh Sarah kekantin rumah sakit untuk membeli cemilan
"Ibu mana ?" tanya Derya
"Ibu mertua kembali ke kamar Kanjeng Ratu, apa tadi kalian tidak bertemu ?" tanya Anton
"Tidak, mungkin saat kami masih didepan ruang bayi ibu kekamar Naha" ucap Derya
"Bagaimana bos, kali ini siapa yang lebih semangat bikin ?" tanya Anton
__ADS_1
"Bikin apa maksudnya ?" tanya Derya mengangkat satu alisnya
"Bikin anak, jadi cebong itu mirip siapa itu tandanya dia yang paling semangat waktu bikin. hehehe..." goda Anton lagi
"Ooh, dia mirip Naya. walau jenis kelamin yang berbeda namun dia persis seperti Naya versi laki-lakinya" ucap Derya lemah
"Oooh, berarti cebong anda kalah kali ini dan telur kanjeng ratu yang berkuasa" ucap Anton menyimpulkan
"Ya" ucap Derya singkat namun senyum tipis terukir diwajahny mendengar kesimpulan Anton
"Sudah sedihnya ? jangan terlalu larut Bos, masih ada Aydin dan Double K yang harus Bos perhatikan juga" ucap Anton dapat membaca kesedihn diwajah bosnya
"Kau tidak mengerti kesedihan ini Ton !" ucap Derya
"Ya, saya memang tidak mengerti Bos tapi saya juga punya kesedihan yang justru kebalikan bos" ucap Anton
"Apa yang lebih sedih daripada gagal menjadi seorang suami dan Ayah ?" tanya Derya
"Ketika berhasil menjadi suami namun belum dipercayakan menjadi Ayah. Bos harusnya bersyukur, setidaknya kedua status itu masih melekat pada Bos. Sedangkan saya menuju status selanjutnya sangatlah sulit" ucap Anton mengadu gundahnya
"Hm, ya... berusahalah !" ucap Derya
"itu juga berlaku untuk anda Bos, berusahalah untuk selalu tegar dan bahagia walau itu adalah topeng ! sebab masih ada keyakinan yang harus bos pertahankan!" ucap Anton bijak
"Sepertinya kerah leher itu membuatmu lebih bijak" ucap Derya
"Kerah inipun hasil dari kebijakan saya bos !" ucap Anton bangga
"Kebetulan sekali kau mengungkitnya, kau nekat melakukan tabrakan itu aku belum memperhituungkannya !" ucap Derya
"Alamaak... pingsan ! ayo Ton kamu sekarang pingsan !" batin Anton segera berakting pingsan
.
.
.
See you next episode ya 😉
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣
Maaf beberapa hari ini gak up karena laptop author rusak 😭😭😭
Jadilah author ngetik di Hp, makasih ya yang sudah setia menunggu 💞
__ADS_1