
Ditengah perjalanan Naya mencoba menenangkan Aydin dan membuat Aydin berbicara. Karena sejak tadi Aydin hanya diam, itu semakin membuat Naya khawatir tentang apa yang dipikirkan bocah mochinya
“Sayang, ini Bunda… Bunda Naya, apa Aydin ingin mengatakan sesuatu pada Bunda ?” Tanya Naya penuh kelembutan
“Hiks,,,hiks,,,hiks,,,” isakan tangis mulai terdengar padahal sedari tadi Aydin hanya diam dan memeluk erat Naya
“Sayang, kenapa menangis ? cerita sama Bunda yuk !” ajak Naya sambil berusaha menatap wajah anak mochi
“Hiks,,, hiks,,,” hanya isakan tangis yang terdengar
“Sayang, anak pintarnya Bunda… kenapa ? ayo sini cerita sama Bunda, jangan takut… Ada Bunda yang akan melindungi Aydin” kata Naya selembut mungkin
“Hiks,,,hiks,,, Bunda…” ucap Aydin disela tangisnya
“Iya sayang, ayo cerita sama Bunda. Sudah tidak ada lagi kok yang akan berteriak di dekat Aydin” kata Naya
“Bunda, Aydin takut…hiks,,,hiks,,,” ucapnya
“Aydin takut kenapa sayang ? ada Bunda, jangan takut ya ! Bunda akan melindungi Aydin dari apapun itu, hm….” Naya berusaha menahan air matanya, dia benar-benar tidak tega melihat Aydin ketakutan seperti ini
“Bunda,,, hiks,,, Aydin takut jika Bunda pergi. Aydin, hiks,,, tidak ingin Bunda lain selain Bunda Naya, Aydin,,, hiks,,, takut dengan mereka yang berteriak dan menghina Bunda…Bunda jangan pergi” kata Aydin sesegukan
“Sayang, lihat Bunda. Tatap Bunda,,, Bunda tidak akan pergi dari sisi Aydin, siapapun yang menghalangi, Bunda akan selalu ada untuk Aydin. Aydin percayakan sama Bunda ?” Tanya Naya meyakinkan Aydin
“Hm, Aydin percaya Bunda” ucap Aydin kembali memeluk Naya
“Terimakasih karena Aydin sudah percaya Bunda. Bunda akan menjaga kepercayaan Aydin” ucap Naya sambil mengusap lembut kepala anak mochi yang telah kembali ke pelukan dirinya.
Senyum bahagia terukir diwajah anak mochi karena Bundanya sudah berjanji untuk selalu ada disisinya.
“Humffff,,, maafkan aku Bun. Aku tidak bisa mengontrol emosiku didepan Aydin” kata Derya menyesal karena dirinya berteriak-teriak kala itu
“Iya mas, Naya mengerti apa yang Mas rasakan sehingga tidak bisa mengontrol emosi Mas. Kita tenangkan diri kita dulu ya, agar pikiran kita menjadi jernih untuk menentukan apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini” ucap Naya menenangkan
“Hm, ya… aku rasa satu-satunya cara adalah dengan mempercepat pernikahan kita Bun. Tidak ada cara lain !” ucap Derya menatap Naya
“Hm, jika itu yang Mas rasa benar. Naya tidak keberatan” jawab Naya tulus
“Terimakasih Nay” ucap Derya tersenyum lembut, dia merasakan ketenangan kala melihat wajah Naya
“Sekarang kita mau kemana mas ?” Tanya Naya
“Kita akan tinggal di apartement dekat dengan keluarga kamu tinggal Bun” ucap Derya
“Benarkah ? jadi Naya bisa membawa Aydin menginap di apartemen Naya dong karena dekat” ucap Naya senang karena anak mochi akan seharian bersama dirinya
“Ya, kamu jagalah Aydin. Sementara saya akan mengurus semuanya” ucap Derya tersenyum hangat
“Mengurus apa mas ?” Tanya Naya bingung
__ADS_1
“Mengurus pernikahan kita” ucap Derya
Naya hanya tersenyum hangat menanggapi perkataan Derya, tak berapa lama merekapun tiba di apartemen.
“Silahkan turun” ucap Derya saat membukakan pintu untuk Naya dan Aydin
“Terimakasih Mas” kata Naya
“Hm, Ayo kita masuk” kata Derya mengulurkan tangannya untuk digandeng
“Hm ? Bukankah mas mau pergi lagi setelah mengantar kami ke apartemen ?” Tanya Naya kebingungan
“Ya, tapi aku harus ijin dulu dengan ibu mertua dan memastikan kalian aman sampai masuk ke dalam apartemen” ucap Derya
“Oh, begitu… ya sudah yuk !” kata Naya langsung berjalan mendahului Derya
“Bunda, tangan aku kok di anggurin” kata Derya menyusul Naya
“Kan belum muhrim mas, main gandeng aja nanti dikira truk gandeng” sahut Naya
“Hm, ya sudah. Lihatlah besok ketika sah. Aku tidak akan melepaskan gandengan tangan kamu” kata Derya saat mereka sedang berada didalam lift
“Hm, terserah mas saja. Mas tolong gendong Aydin ya, aku penat nih karena dari tadi sudah memangku Aydin sepanjang perjalanan” ucap Naya yang mulai terbuka dengan Derya
“Utu,,,utu,,utu,,, ternyata Bunda kesayangan kita sudah penat ya menggendong Aydin. Iya yah kan Aydin sudah besar dan sebentar lagi akan punya adik. Harus bisa donk jalan sendiri tanpa di gendong” kata Derya yang tau Aydin hanya ingin bermanja dengan Naya
“Eh, Bunda kira Aydin sedang tidur sayang. Maaf ya bukan maksud Bunda tidak ingin menggendong Aydin tapi Bunda hanya sedikit penat saja sayang” kata Naya yang salah mengira jika selama ini Aydin tertidur
“Tuh kan ternyata benar. Nih bocah pinter cuma pura-pura tidur biar bisa dipelukan Bundanya terus, kan aku juga pengen” batin Derya sambil menatap Aydin yang akhirnya turun dari gendongan Naya
Ting… pintu lift terbuka dan Derya mengantarkan mereka sampai kedepan pintu.
“Bunda, jika ada orang yang tidak dikenal.
Siapapun itu orang go jek sekalipun, jangan pernah kamu bukakan pintu untuk mereka ya ! aku takut itu orang kakek yang berhasil melacak keberadaaan kita. Aku sudah menugaskan beberapa bodyguard dibawah, tapi tetap saja kamu harus antisispasi untuk menjaga keselamatan kalian semua” ucap Derya sambil memegang kedua tangan Naya, rasanya dirinya tidak ingin meninggalkan Naya selangkah pun
“Iya mas, Naya pasti akan menjaga diri dan juga kami semua, Mas tenang saja” jawab Naya sambil tersenyum menenangkan
“My Boys, yang pintar ya sama Bunda, nini, dan aunty. Oke !” kata Derya mengusap kepala Aydin
“Baik Ayah, laksanakan” kata Aydin sambil memberi hormat
Derya hanya tersenyum merespon tingkah lucu anaknya itu, kemudian dia kembali fokus ke Naya
“Dimana ibu mertua Bun ?” Tanya Derya
“Ayo masuk dulu Mas, aku juga tidak tau” ucap Naya membuka pintu lebih lebar
“Baiklah, aku masuk sebentar ya” kata Derya
__ADS_1
“Hay, aunty Salah…” sapa Aydin
“Sarah Aydin, aunty Sarah. Bukan salah” ucap Sarah yang tidak suka namanya dipelesetkan
“Kan Aydin tidak bisa mengucap huruf r, jadi Aydin tidak bisa memanggil Aunty Sarah, tapi Aunty Salah” ucap Aydin dengan penuh penekanan
“Benarkah ? Aydin tidak bisa menyebut huruf r ?” kata Sarah sambil berpikir
“Hehehe, iya Aunty Salah” jawab Aydin cepat
“Tunggu, tunggu. Tadi kamu bilang r kan ? nah itu bisa “ kata Sarah yang baru menyadarinya.
“Aydin jangan berbohong ya dengan Aunty. Aunty aduin sama Aunty Dinda loh biar di diemin Aunty Dinda” kata Sarah mengancam
“Hmm, Aydin disuruh om Anton Aunty. Katanya memanggil Aunty Salah harus seperti itu, biar Aunty tambah pintar” kata Aydin menjelaskan
“Aish, ternyata om om itu yang menjadi sumber ini semua. Baiklah, Aunty akan memberikan pelajaran untuk om om labil itu !” kata Sarah dengan penuh kekesalan
“Sarah tunggu !” kata Naya ingin menahan namun Sarah sudah pergi lebih dulu
“Hm, Nah ada Dinda. Dek din Ibu kemana ya ?” Tanya Naya pada Dinda yang ada di ruang tv
“Ibu sedang ke supermarket depan kak. Membeli ayam” jelas Dinda
“Oh, baiklah. Terimakasih, kamu lanjutkan saja menontonnya” ucap Naya
“Mas, Ibunya gak ada lagi keluar kata Dinda” ucap Naya pada Derya yang menjaga Aydin bermain dengan Gley
“Hm, kalau begitu aku pergi dulu ya. Titip salam untuk ibu” ucap Derya
“Iya mas” jawab Naya tersenyum
“Aydin ayah pergi sebentar ya ! jadi anak yang pintar” kata Derya menghampiri Aydin
“Iya Ayah” jawab Aydin sedikit acuh karena dia sedang melihat Gley minum susu
“Assalamu’alaikum” ucap Derya pamit dan membuka pintu apartemen
“Wa’aalaikumsalam Mas” jawab Naya yang mengantar Derya sampai pintu depan
Deryapun pergi bersama asisten serba gunanya untuk menyiapkan segala keperluan pernikahannya. Dia akan membuat system penjagaan yang ketat agar tidak ada pengacau yang mengacaukan pernikahannya nanti.
.
.
.
See you next episode ya 😉~~~
__ADS_1