
"Humfftttt…” suara tawa seseorang yang tertahan masuk ditelinga mereka
Mereka semuapun menoleh ke sumber suara yang terdengar mengejek itu.
“Berondong ?” ucap geng bu ibu kaget karena tidak ada terdengar langkah kaki mendekat
“Kalau ibu-ibu mah memang gak bisa lepas dari ilmu pergosipan, apalagi geng bu ibu komplek ini” gumam Anton yang tiba-tiba sudah ada disana
“Apa katanya Jeng ?” Tanya Jeng Nia yang tidak jelas mendengar ucapan Anton, namun ternyata mereka semua juga tidak ada yang mendengar dengan jelas ucapan Anton
“Hehehe, selamat sore ibu-ibu semua. Saya diutus baginda raja untuk memanggil kanjeng ratu” ucap Anton langsung mengalihkan pembicaraan
“Ooh begitu, silahkan dibawa Nayanya Jeng” ucap Jeng Nia
“Kami juga sekalian mau pamit ya Jeng, gak ada yang bisa kami bantu disini wong semuanya sudah ada yang ngatur. Yang ada jadi pengangguran kami disini, hehehe” Ucap Jeng Lidya
“Iya, cateringnya juga gak datang hari ini. Gak ada yang bisa di icip deh” ucap Jeng Nia
“Itu kue didepan kamu makan semua jeng, bukan icip lagi namanya. hahaha” senggol Jeng Purti, yang disenggol hanya tersenyum
“Maaf ya bu, seadanya saja camilannya” ucap Naya
“Jangan dimasukkan ke hati Jeng, mereka cuma bercanda. Kami yang terimakasih banyak sudah disambut disini” ucap Jeng Ayu meluruskan
“Iya bu” ucap Naya ikut tersenyum dengan candaan mereka
“Kami pamit ya Jeng, Assalamu’alaikum… oh ya dresscode kita besok apa jeng ?” Tanya Jeng Lidya ingin pamit namun ternyata masih ada yang dibicarakan
“Gimana kalau pinky Jeng ?” jawab Jeng Putri
“Aduh aku gak ada jeng warna itu, gimana kalau hitam aja ?” ucap Jeng Nia
“Kalau hitam entar dikira mau melayat Jeng, warna cokelat aja gimana ?” ucap Jeng Ayu
“Iya kalau hitam entar dikira berkabung Jeng, aku sih setuju kalau warna cokelat” ucap Jeng Nia
“Entar dikira group qosidohan gimana Jeng, kalaunya bajunya samaan ?” ucap Jeng Putri
“Ya sekalian aja kita unjuk bakat Jeng” ucap Jeng Lidya
“Waaah, keren tuh Jeng. entar aku ikut ngerawis ya” ucap Anton menyahut
“Berondong kita juga bisa qosidahan ?” tanya Jeng Ayu
__ADS_1
“Hehehe, bisa sedit-sedikit” ucap Anton yang ikut berbaur dengan obrolan mereka
“Mantap tuh, entar kita bawain lagu yang itu… mingkem… mingkem…” ucap Jeng Nia
“Oh yang itu. Hmmmm... Hmmmm…” ucap Anton sambil bersenandung
“Bener banget, itu yang aku maksud Jeng” ucap Jeng Nia
Percakapan terus berlangsung, naya hanya menjadi penagamat disini. Dia bingung harus masuk darimana.
“Ting…” pesan dari Derya masuk di handphone Naya, suaminya itu menyuruh dirinya untuk segera menghampiri karena mumpung tidak ada Aydin
“Bu, Naya ijin ke Mas Derya dulu ya. Ini sudah dihubungin soalnya” ucap Naya ditengah-tengah perdiskusian geng bu-ibu
“Terus Jeng kerudungnya warna apa ?” Tanya Jeng Nia mengatur kembali drescode mereka
“Gimana kalau hitam Jeng. jadi temanya hitan cokus” ucap Anton
“Wah ide bagus tuh Jeng Antonia” ucap Jeng Lidya
“Antonia ? siapa Jeng ?” Tanya Anton yang belum menangkap maksudnya
“Kamu lah Jeng, anggota berondong kami satu-satunya” jawab Jeng Lidya lagi
“Haaaahhh,,, ya sudah lebih baik aku menghampiri Mas dulu. Sepertinya penting” ucap Naya yang tidak dihiraukan disana, diapun akhirnya memilih pergi untuk menghampiri suaminya
Sementara itu sosok laki-laki gagah sedang duduk menatap mentari sore yang mulai kembali keperaduannya.
“Mas ada apa ?” Tanya Naya yang sudah ada dibelakang Derya
“Panggil sayang saja jika kita berduaan sayang” ucap Derya langsung menggapai tangan Naya
“Iya sayang, kenapa ?” Tanya Naya
“Duduk sini sayang” ucap Derya langsung menarik Naya untuk duduk dipangkuannya
“Berat gak mas ?” Tanya Naya merasa tidak enak dengan suaminya
“Empuk sayang” ucap Derya yang memeluk Naya
“Ish, bilang aja Naya gendut Mas” ucap Naya cemberut
“Hehehe, kamu mau gendut, mau kurusan aku tetap syaang sama kamu dan itu akan terus bertambah…” ucap Derya merayu
__ADS_1
“Gombal” gumamm Naya masih merajuk
“Utuuuu,,,, utuuuu,,,jangan meraju atu sayang ku, cintaku, ibu dari anak-anakku… nanti bumipun ikut mendung jika senyum cerah mentari rumah ini hilang” kata Derya sambil memegang kedua pipi Naya
“Cup…” kecup Derya singkat
“Hufft,,,, hahaha… Sejak kapan mas jadi puitis kaya gitu, gak cocok kalau mas jadi pujangga cinta” ucap Naya yang menertawakan perkataan Derya tadi
“Demi kamu tersenyum apapun Mas lakukan sayang” ucap Derya yang tersenyum hangat menatap Naya
Naya yang melihat senyum tulus Derya menjadi berhenti tertawa dan menatap dalam mata Derya, dia menelisik tatapan sang suami yang begitu tulus dan lembut, penuh dengan kasih sayang. Keduanya hanyut dalam tatapan itu, begitu jelas tergambar cinta dan kasih sayang melalui tatapan itu, Deryapun mendekat untuk melihat lebih jelas wajah sang istri. Semakin mendekat, namun…
“Tulaliiit,,, tulaliiliiiit,,,” Dering terlphone mengacaukan semuanya
“Astagfirullah…” Naya kaget
“Maaf sayang, Cup…” Derya tidak ingin melewatkan kesempatan ini, dia mematikan handphone dan melanjutkan apa yang ingin dia lakukan
“Tulaliiiiit,,, tulaliliiit…” dering kembali terdengar
“Aish,,, sebentar ya sayang” ucap Derya akhirnya mengangkat telephone
“Hallo, kenapa Ton ?” Tanya Derya yang sudah mengancam dalam hati, awas saja jika itu bukan hal yang penting
“Bos, apa nanti ada selingan hiburan di acara besok ?” Tanya Anton
“Tanyakan sama wo acara Ton, jangan sama sata. Menganggu saja !” ucap Derya kesal
“Ehehe, lebih baik saya ganggu secara virtual daripada secara langsung kan bos ?” ucap Anton yang ternyata ada dibalik pintu didekat mereka
“Kamu mengintip ?” Tanya Derya sambil mencari-cari keberadaan Anton
“Ehehe, gak berani bos” ucap Anton langsung kabur dari posisi
“Tut…” telephone dimatikan
“Kita kekamar yuk sayang, disini banyak cicaknya” ucap Derya kembali mengahampiri Naya dan membawanya kedalam
.
.
.
__ADS_1
See you next episode ya 😉~~~
Jangan lupa tinggalkan jejak guys 👣