I Want Bunda

I Want Bunda
S2_ Terbangun


__ADS_3

"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ayah” ucap Derya tersenyum lembut melihat anak-anaknya


“Hm Ipan juga khawatil dengan Unda, kenapa Unda tidulnya lama cekali ?” Tanya Kivanc lagi


“Mungkin Bunda sedang ingin istirahat sebentar, Bunda mungkin lelah mengurus Abang, Kakak Kila, Kak Aydin dan Ayah. Makanya kita jangan menyusahkan Bunda lagi ya” ucap Derya sambil mengusap lembut kepala Kivanc


“Ipan tidak buat cucah Unda dan tidak ada calah dengan Unda. Ipan celalu minta maap jika calah !” ucap Kivanc tidak terima


“Tapi Abang selalu buat Ayah marah dan tidak minta maaf” ucap Derya


“Ya kalena Ipan benelan malah dengan Ayah, celalu pelgi bekelja cetiap hali tidak ada waktu belmain dengan Ayah. Ipan jadi lindu belmain dengan Unda” ucap Kivanc cemberut kemudian pandangannya beralih pada Naya


“Ayah dan Abang terlalu berisik, Bunda pasti terganggu tidurnya” ucap Kila menengahi


“Tapi Ipan bilbicala benal de Ila. Kita cangat ingin belmain belcama Ayah dan Unda bukan ? kak Aydin juga, tapi Ayah celalu tidak ada caat kita belcama, kecuali caat calapan pagi hali. Cekalang kita malah tidak bica belkumpul belcama, Kak Aydin ada diluangan cebelah, Unda celalu tidul dan adik ayi ada diluangan lain juga. Kapan kita belkumpul lagi Yah ?” tanya Kivanc protes


“Do’akan Bunda segera bangun ya sayang, Ayah juga menginginkan moment itu lagi” ucap Derya berusaha menahan air matanya


“Kapan Unda bangun yah ?” Tanya Kivanc namun Derya hanya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan itu


“Ayah kenapa Bunda menangis ?” Tanya Kila yang sejak tadi memperhatikan Bundanya


“Bunda menangis ?” Tanya Derya berbalik untuk melihat Naya


“Sayang, kamu mendengarnya ? kami semua disini menunggu kamu bangun” bisik Derya ditelinga Naya dengan lembut


“Sayang, anak-anak ada disini” sambung Derya, kemudian melihat anak-anaknya dan meminta mereka mendekat


“Ipan ingin cium Unda” ucap Kivanc meminta didekatkan dengan Naya


“Baiklah, sini boy” ucap Derya mengangkat Kivanc lalu mendekatkannya


“Cup, cepat bangun Unda” ucap Kivanc setelah mencium kening Bundanya


“Kila juga ingin” ucap Kila tiba-tiba


“De Ila kenapa mengikuti abang ?” Tanya Kivanc protes sambil diturunkan oleh Derya


“Kila hanya ingin” ucap Kila sambil mengangkat tangannya agar digendong Derya

__ADS_1


“Cup, Bunda ayo kita melihat adik bayi” ucap Kila setelah mencium Bundanya, air mata Naya semakin menetes dan bulu matanya mulai bergerak


“Sayang, kamu pasti bisa melawannya” bisik Derya setelah menurunkan Naya


“Cup, cepat bangun sayang. Kami disini semua menunggu kamu” ucap Derya kembali mengecup kening Naya


“Mas…” bisikan lemah terdengar kala Derya masih mencium Naya


“Sayang ? kamu sudah bangun. Syukurlaaaah…” ucap Derya sangat bersyukur dan tak dapat membendung air matanya


“Sayang, anak kita… anak kita sudah lahir…” ucap Derya sambil mengusap air matanya yang terus mengalir


“Unda,, Yeeey ! Unda cudah bangun !!! yeey,,empphh….” teriak Kivanc bahagia namun sesuatu menghalanginya


“Abang terlalu berisik. Bunda baru saja bangun !” ucap pelaku pembekapan tersebut


“De Ila… abang idak bica belnafas tau !” ucap Kivanc segera melepas tangan Kila yang menutupi mulutnya


Naya yang melihat pertengkaran lucu itu tersenyum, anak mereka memang berbakat menjadi pelawak mengikuti om nya. Derya selalu memandang Naya tanpa memperhatikan pertengkaran anak kembarnya itu, dia menatap wajah Naya sedikit pucat, bola mata Naya yang sendu dan senyuman manis yang selalu hangat.


“Mas kenapa ?” Tanya Naya saat sadar jika suaminya hanya diam sambil menatap dirinya


“Mas bersyukur, mas sangat bersyukur. Terimakasih sudah bangun sayang” ucap Derya sambil mencium kedua punggung tangan Naya


“Mas panggilkan dokter dulu ya sayang” ucap Derya melepas tangan Naya dengan enggan kemudian keluar memanggil dokter


“Oh ya de Ila. Abang akan beli kabal pada ka Ay. De Ila tunggu dicini temani Unda ya” bisik Kivanc tiba-tiba


“Hm, baiklah” jawab Kila setuju


“Unda Ipan mau keluangan Ka Ay dulu ya. Unda dicini berlcama de Ila idak takutkan ?” Tanya Kivanc


“Hati-hati sayang…” jawab Naya seadanya karena tenaganya masih belum pulih


“Dadah…” ucap Kivanc berjalan dengan gayanya keluar ruangan


“Baiklah, beldasalkan peta. Ipan halus pelgi kealah cana !” ucap Kivanc mengeluarkan secarik kertas yang sudah dibuatkan oleh dirinya sendiri


“Ipan memang celdas, sekarang cudah ketemu luangan kak Ay” ucap Kivanc yang berjalan dengan lancer menuju tempat tujuannya

__ADS_1


“Tok,,tok,,tok,, kak Ay Ipan ada kabal gembila loh” ucap Kivanc mengetuk pintu kemudian masuk


“Nini, Ipan ada kabal gembila loh” ucap Kivanc saat melihat Nininya ada disana menemani Aydin


“Apakah itu cucu nini tercinta ?” Tanya Nisa yang belum tau kabar


“Unda… cudaaaah… Banguuun !!!” ucap Kivanc sengaja memperlambat kata-katanya


“Alhamdulillah, apa ini benar ? Bunda kalian sudah sadar ?” Tanya Nisa tidak percaya


“Hm, benal. Ipan tidak belbohong” ucap Kivanc mengangguk pasti


“Dengan siapa Bunda disana ?” Tanya Nisa tidak sabar ingin menemui anaknya


“Dengan de Ila, Ayah cedang pelgi cali doktel tadi nini. Jadi Ipan kecini mau jemput Kak Ay” ucap Kivanc


“Permisi, sebentar lagi jadwal pasien untuk control ya !” ucap seorang suster masuk kedalam ruangan


“Yaah, tapi kak Ay ingin pelgi cebental custel” ucap Kivanc protes


“Tidak bisa ya dek, pasien harus mendapat ijin dari dokter jaga dulu jika ingin meninggalkan ruangan” ucap sang suster


“Hm, custel tidak celu !” ucap Kivacn merajuk, melipat tanganya didepan dada lalu berbalik membelakangi suster tersebut


“Saya permisi untuk menyiapkan beberapa alat pemeriksaan dulu ya bu. Mari…” ucap sang suster tersebut kemudian meninggalkan ruangan, dia ingin membujuk anak kecil yang merajuk itu alias Kivacn, namun tugas utamanya sudah menunggu. Mungkin dilain kesempatan.


“Aydin ingin menemui Bunda juga” ucap Aydin


“Kakak tunggu sebentar ya, nanti akan kita tanya dengan dokter jaga Aydin, apakah boleh Aydin menemui Bunda” ucap Nisa


“Baik Nini” jawab Aydin sambil tidak sabar, matanya terus tertuju pada jarum jam yang berdetak. Sementara Kivanc masih menatap dinding yang tak mungkin bergerak dan Nisa serta aunty mereka Dinda menghubungi keluarga yang lain, memberi kabar bahagia tersebut bahwa Naya sudah siuman.


“Ahaaa… Ipan ada ide…” batin Kivanc tersenyum licik penuh rencana


.


.


.

__ADS_1


See you next episode ya 😉


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣


__ADS_2