I Want Bunda

I Want Bunda
S2_ Tangisan


__ADS_3

Para orang dewasa itupun pergi untuk makan malam bersama, berkumpul sambil merayakan acara dadakan yang ternyata juga diubah secara mendadak. Sementara itu geng minion terlelap dikamar pasien, setelah lelah bermain merekapun tertidur pulas tanpa direncanakan


“Hoaam,,, kenapa aku juga mengantuk ya ?” gumam Laila yang terjaga sendiri


“Sudah jam 8, sepertinya mereka sebentar lagi kembali. Aku tidur sebentar tidak apa kan ?” batin Laila kemudian mengambil selimut dan berbaring didekat bi Ira


Beberapa menit kemudian seseorang terjaga dan mengguncang tubuh orang disampingnya


“Kivanc, bangun…” ucap Aldo sambil menarik-narik bahu Kivanc


“Hah gempa ?” ucap Kivanc segera bangun dan duduk namun matanya masih terpejam


“Tidak ada gempa Van, tapi mau ada tsunami” ucap Aldo


“Hah dimana cuaminya ?” tanya Kivanc membuka mata denga terpaksa


“Bukan suami Kivanc, tsunami” jelas Aldo


“Ya itu makcud Ipan, dimana do ?” ucap Kivanc kini sudah bangun sepenuhnya


“Disini, Aldo mau pipis Van” ucap Aldo sambil menunjuk dirinya


“Oooh, pipis ukan cuami do” ucap Kivanc ingin berbaring lagi


“Eeiiittt, jangan tidur lagi Van. Aku minta tolong bantu bawa infus itu ketoilet ya” ucap Aldo


“Kenapa halus dibawa ? kena idak dilepas dulu nanti dipacang lagi do” ucap Kivanc


“Tidak, aku tidak ingin dipasang lagi itu menyakitkan” ucap Aldo yang mengingta jarum itu masuk kedalam tangannya


“Hah ? memangnya bagaimana cala memasang puspus ini ?” tunjuk Kivanc pada tangan Aldo


“Mereka memasukkan jarum ketangan Aldo, lalu memasang selang ini kemudian air itu masuk kedalam sini” ucap Aldo menceritakan dengan penuh ekspresi


“Huh, jalumnya nakal. Cini Ipan pukul kalena cudah menyakiti Aldo” ucap Kivanc ingin memukul lengan Aldo


“Jangan Ipan ! aduuh,,, duuuh,,, Aldo sudah tidak tahan, ayo Van tolong bawain infusnya” ucap Aldo kebelet pipis


“Baiklah, uuuhhh ! tidak campai Do” ucap Kivanc sudah berusaha dan berdiri diranjang namun tidak bisa menggapai infusnya


“Aldo tidak ingin ngompol dicini” ucap Aldo sedih


“Ipan panggil ka Ay dulu ya” ucap Kivanc segera turun dari ranjang, belajar dari pengalaman dirinya lebih baik meminta bantuan daripada terluka lagi


“Ka Ay, ka Ay bangun…” ucap Kivanc sambil menepuk pelan pipi mochi Aydin


“Heem, lima menit lagu Bunda” gumam Aydin


“Kak Ay, ayo angun ! tolongin Aldo” ucap Kivanc menepuk dengan kedua tangannya


“Auuu,,, siapa sih ?” tanya Aydin kesakitan dan bangun


“Ini Ipan, Kak Ay ayo…” ucap Kivanc segera menarik lengan Aydin


“Kemana ?” tanya Aydin malas namun berhasil terseret oleh Kivanc


“Bantuin Aldo kak” ucap Kivanc mereka sudah tiba disamping ranjang Aldo


“Apa ?” tanya Aydin akhirnya membuka mata


“Aldo ingin pipis, tapi puspusnya masih cangkut dicana. Ipan idak bica ambilnya” jelas Kivanc


“Baiklah, minggir !” ucap Aydin naik kerangjang dan berhasil menjangkau kantong infus lalu melepasnya


“Nih kamu harus pegang tinggi-tinggi, jika tidak darah Aldo yang akan dihisapnya” ucap Aydin meneyrahkan pada Kivanc


“Hah, abang caja yang pegang” ucap Kivanc takut menerimanya

__ADS_1


“Hahaha, ternyata kau penakut” goda Aydin kemudian membantu kedua anak tk itu ketoilet


“Tidak, Ipan tidak penakut !” sanggah Kivanc dengan cepat


“Kalau begitu kamu duluan dan hidupkan lampu kamar mandinya” ucap Aydin menantang Kivanc


“Oke !” ucap Kivanc dengan pasti melangkah lebih dulu


“Hiks,,,hiks,,,,huuhuuuu,,,, hiks,,,,” terdengar samar suara tangis


“Kak Ay mendengarnya ?” tanya Kivanc berbalik badan


“Apanya ?” tanya Aydin bingung


“Cuara olang menangis kak Ay” jawab Kivanc


“Itu hanya alasan kau saja yang takut, iyakan ?” ucap Aydin tidak percaya


“Mana suaranya ?” tanya Aydin lagi saat dia dan Aldo ada didepan toilet


“Tidak teldengal lagi, tadi benelan ada loh kak Ay” ucap Kivanc meyakinkan


“Sudahlah, pasti kau ingin minta bantuan kakak kan ?” ucap Aydin segera menghidupkan lampu kamar mandi, Kivanc hanya terdiam karena suara itu tiba-tiba tidak ada lagi


Setelah membantu Aldo menunaikan tuntutan alam, merekapun kembali keranjang dan menggantungkan kembali kantong infus Aldo.


“Kalian semua menginap disini ?” tanya Aldo


“Entahlah, tapi barang-barang kami tidak ada disini. Mungkin nanti akan pulang dulu” ucap Aydin


“Hm, baiklah. Besokkan masih harus sekolah, Kivanc tolong beri tahu bu Guru ya kalau Aldo ijin dulu karena sakit” ucap Aldo


“Ya, pasti Ipan campaikan. Cekali lagi maap ya do, kalena Ipan idak cabalan membuat Aldo cakit cepelti ini” ucap Kivanc masih merasa bersalah


“Tidak apa, Aldo kan anak kuat, luka ini tanda Aldo anak kuat tau” ucap Aldo merasa bangga


“Entahlah, meleka cemua tidul. Apa pelu kita bangunkan ?” tanya Kivan menatap sekeliling


“Tidak perlu, mungkin Bunda dan Ayah ada dibilik depan” ucap Aydin segera melarang Kivanc yang sudah bersiap-siap untuk teriak


“Hm, bial Ipan pelikca kedepan” ucap Kivanc memberanikan diri


“Kau yang penakut itu apa berani sendirian memeriksa kedepan, ayo biar kutemani !” ucap Aydin berlagak tidak ingin menemani padahal khawatir


“Tidak kok, Ipan belani !” ucap Kivanc


“Sudah jangan protes, cepat kita periksa agar Aldo bisa beristirahat dengan lega karena tidak ada kamu lagi yang memakan ruangnya” ucap Aydin


“Kata ciapa Ipan makan tempat, ipan makan nasi kok” ucap Kivanc


“Pltak ! kau ini mana paham maksudku, sudah ayo kedepan !” ucap Aydin sangat gemas sampai-sampai menjitak dahi Kivanc


“Cakit ka Ay !” protes Kivanc sambil mengelus dahinya


“Lemah ! aku hanya menggerakkan sedikit jariku saja” ucap Aydin sebenarnya dalam hati merasa bersalah


“Cini Ipan contohkan cama kak Ay ! bial tau cakitnya gimana” ucap Kivanc bersiap untuk menjitak juga


“Sudahlah, ayo !” ucap Aydin segera kabur dan berjalan lebih dulu


“Kak Ay tunggu !” ucap Kivanc segera menyusul


“Hehe, sepertinya sangat menenyangkan jika punya saudara. Semoga mommy segera buatkan adik untukku” gumam Aldo kemudian membaringkan tubuhnya kembali


“Kak Ay, jangan jauh-jauh” ucap Kivanc yang berhasil menarik ujung baju Aydin


“Kamu juga tidak akan tersesat jika kakak jauh-jauh” ucap Aydin

__ADS_1


“Kak, cenapa cepi ?” tanya Kivanc mulai menajamkan pendengarannya


“Mungkin mereka juga tertidur” ucap Aydin berpositif thingking


“Bunda,,, Ayaah,,,” panggil Aydin saat mereka hampir dekat dengan bilik depan


“Hah, idak ada kak Ay” ucap Kivanc yang melihat ruangan tersebut kosong


“Kakak juga melihatnya Van, kau tidak perlu memberitahu” ucap Aydin


“Kan Ipan hanya ingin membelitahu” ucap Kivanc agak kesal


“Ya, lalu kemana mereka ?” tanya Aydin kemduain duduk disofa yang ada diruangan itu


“Entahlah ?” ucap Kivanc ikut menempel pada Aydin


“Kau terlalu dekat !” ucap Aydin mendorong Kivanc


“Ipan,,, ipan kedinginan” ucap Kivanc segera menempel kembali


“Hm…” ucap Aydin mengalah


“Kira-kira Bunda dan Ayah kemana ya ?” tanya Aydin sambil berpikir


“Hiks,,, hiks,,,” terdengar kembali suara isakan itu


“Kau mendengarnya ?” tanya Aydin pada Kivanc


“Hm, cejak tadi Ipan cudah mendengalnya” ucap Kivan tidak menutupi lagi ketakutannya


“Hiks,,, mami jahat ! Hiks,,,, benci mamiii,,, huhuuuuu…” suara itu terdengar jelas


“Dia bica belbicala kak” ucap Kivanc


“Ya aku juga mendengarnya” ucap Aydin


“Huuuu,,,hiks,,,hiks,,,” tangisan itu masih terdengar


“Hey apa yang kau lakukan disini hah ! sudah tau sakit masih saja berada diluar ! MASUK !” terdengar bentakan yang nyaring secara tiba-tiba


“Huwa, apa itu cuala petil kak ay ?” ucap Kivanc kaget dan Aydin sampai mengangkat bahunya karena kaget


“Bukan, itu suara nenek lampir” ucap Aydin


“MASUUUK ! Kau itu hanya akan menambah biaya rumah sakit saja jika berada disini, cih dasar anak nakal !” bentaakn itu terdengar lagi


“Hiiiksss,,, sakit Mii,,, jangan tarik aku…” rintih seorang anak


“Jalan kau seperti siput ! ayo cepat ! sudah disediakan kamar sebagus ini, diurusi segalanya tapi kau malah menyia-nyiakannya, lebih baik kugunakan uang perawatanmu untuk beli tas, haiiih…” keluh suara yang menggelegar tadi mulai samar


“Kak Ay, apa meleka cudah pelgi ? kemana nenek lampil membawa anak itu ?” tanya Kivanc penasaran


“Jangan mengurusi urusan orang lain, ayo kita kembali !” ucap Aydin segera bangkit dari duduknya


“Tunggu kak Ay !” ucap Kivanc menahan Aydin yang ingin pergi


“Apalagi ?” tanya Aydin berusaha sabar, menatap Kivanc yang memohon dengan bibir itiknya yang terlihat sedih


.


.


.


See you next episode ya 😉~~~


Jangan lupa like dan komen ✨✨

__ADS_1


Thanks All ❤️❤️❤️


__ADS_2