I Want Bunda

I Want Bunda
Episode 106


__ADS_3

"Kalian, kalian kenapa ada disini ?” Tanya Naya keheranan


“Bundaaa…. Aydin rindu sekali dengan Bunda.” Kata anak mochi langsung lengket ke Naya


“Bunda,,, hiks,,, hiks,,, kenapa sulit sekali dihubungi sih ? kenapa bunda tidak mengangkat telephone Aydin ? Bunda, hiiks, tidak sayang lagi ya dengan Aydin ?” kata Aydin mulai sesegukan dipelukan Naya


“Maafin Bunda ya sayang, di atas sana jaringannya sangat jelek sehingga Bunda sering melewatkan telpone Aydin. Bunda sayang kok sama Aydin, sayang bangeeet” kata Naya sambil mengeratkan pelukannya, dia merasa bersalah karena tidak bisa menepati janjinya untuk sering menghubungi Aydin


“Ck,,,ck,,,ck,,, miris sekali saya melihat anda bos. Anak anda sedang reunian dengan calon bundanya sedangkan anda tidak dianggap sedikitpun” kata Anton kepada Derya yang hanya duduk menatap dua kesayangannya itu saling berpelukan


“Apa katamu ton ? sepertinya kamu masih kurang kerjaan ya sehingga sempat-sempatnya mengucapkan omong kosong ” kata Derya menatap tajam Anton


“Hehehe,,, enggak Bos makasih. Kerjaan saya masih banyak kok bos dikantor, semakin menggunung” kata Derya menolak mentah tawaran Derya


“Tidak ada penolakan ! saya ingin kamu menyelidiki latar belakang wanita yang bernama Ajeng itu. Sepertinya ayahnya bekerja didunia bisnis terlihat dari brand pakaian yang dia gunakan bukanlah barang yang murah. Tutup semua akses kerjasama perusahaan keluarganya, saya ingin mereka bangkrut segera !” perintah Derya dengan sedikit menjauh dari Naya dan Aydin yang sedang melepas rindu


“Kenapa bos ? kenapa tiba-tiba ?” Tanya Anton dia yakin pasti ada peristiwa penting dibelakangnya sehingga bosnya ingin membalas dendam


“Dia mencelakai Nayaku !” kata Derya masih menatap tajam kearah Ajeng


“Baik bos, laksanakan !” kata Anton cepat


“Bisa-bisanya dia ingin mencelakai pawangnya Bos. Aku tidak ingin selalu kena semprot karena bos tidak memiliki pawang. Naya adalah satu-satunya kandidat pawang Bos yang paling tepat” gumam Anton dalam batinnya


Antonpun segera menghubungi seseorang melalui teleponenya, dia menghubungi seorang detektif yang sudah sering bekerjasama dengan mereka. Sementara itu Derya kembali kedekat dua orang yang sangat dipedulikannya yaitu Aydin dan Naya


“Aydin hanya rindu Bunda ? ayah tidak nih ???” Tanya Derya yang kembali duduk disamping mereka


“Eem, tidak Aydin tidak rindu Ayah” jawab Aydin yang sedang memakan cokelat dan duduk dipangkuan Naya


“Benarkah ? Ayah sedih jika Aydin tidak rindu Ayah, padahal Ayah merindukan Aydin” kata Derya dengan ekspresi dibuat sedih


“Ayah jangan sedih… Aydin juga rindu Ayah kok.” Kata Aydin sambil mengusap pipi Derya berharap kesedihan sang ayah segera pergi


“Jika Aydin rindu ayah, kenapa Aydin tidak memeluk Ayah ?” Tanya Derya menatap Aydin


“Aydin mau peluk dua-duanya….” Kata Aydin yang berdiri dari pangkuan Naya lalu merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Derya dan Naya


“Aydin rinduuu sekali dengan Ayah dan Bunda” kata anak mochi memeluk erat tanpa memperdulikan kedua orang yang dipeluknya kesulitan bernafas


“Uhuk,,uhuuuk…sayang sudahan ya memeluknya, ini kekencangan sayang” kata Naya sudah tidak kuat, karena pelukan ini juga membuat Derya secara tidak langsung malah memeluk Naya


“Hehehe, maaf Bunda” kata Aydin yang langsung melepas pelukannya

__ADS_1


“Bos jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya !” peringatan Naya dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Aydin


“Hehehe, maaf Nay refleks tadi itu “ kata Derya mencoba mengelak


“Hm…” respon Naya dengan cemberut


“Haha, lihat wajah Bunda sangat lucu boy…” kata Derya pada Aydin


“Hahaha, kenapa wajah Bunda seperti ini” kata Aydin yang malah mengikuti ekspresi Naya tadi


“Ayah sama anak memang sama saja ya, suka sekali menertawakan kejelekan orang lain” kata Naya dengan nada sinis pura-pura marah


“Ops, maaf Bunda” kata aydin langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya


“Maaf Bunda…” rengek keduanya secara bersamaan


“Tidak, sekarang Bunda masih marah” kata Naya sambil melihat kedua tangannya didepan dada, Naya ingin melihat bagaimana cara ayah dan anak ini membujuknya


“Cup, Aydin sayang Bunda. Maafin Aydin ya karena membuat Bunda kesal” kata anak mochi yang membujuk Naya dengan ciuman dan wajah menggemaskannya


“Nay, aku juga minta maaf ya” kata Derya lalu ingin mendekatkan bibirnya ke pipi Naya


“Bos apaan sih ? main sosor aja udah kayak bebek tau” kata Naya menahan Derya untuk lebih dekat


“Hehehe…” kata Derya tersenyum canggung


“Eeh cicak, ngapain nempel dipohon gitu ?” Tanya Naya heran melihat Anton yang memeluk batang pohon


“Ini tu saking soswetnya kalian, aku gak sanggup nahan baper sendirian, gemashhh,,, aku butuh pelukan” kata Anton penuh dengan drama


“Diiih, kerasukan arwah cicak ni orang” kata Naya mengejek Anton


“Seterah anda, ayo lanjutkan dramanya. Ini baru episode dua” kata Anton


“Episode dua apaan sih ton, gak jelas” kata Naya kesal


“Oh ya bos. Setelah ini saya mau langsung naik bus menuju kampung halaman saya ya” kata Naya ingin pamit


“Tidak” kata Aydin dan Derya bersamaan


“Kenapa tidak boleh ? kan saya sudah ijin untuk pulang kampung selama 3 hari” Tanya Naya bingung


“Kami akan ikut bersama kamu ! naik mobil ku saja “ kata Derya yang kemudian memandang Anton untuk segera membawa mobil mereka keluar dari parker

__ADS_1


“Jadi kusir lagi ?” Tanya Anton


“Ya” kata Derya singkat


“Huuuuh, ya sudahlah…” kata Anton pasrah


“Bailah semuanya, KUMPUL !!!” teriak Derya agar yang sedang beristirahat cukup jauh dapat mendengarnya


“Alhamdulillah, observasi kita berjalan dengan lancar. Kita semua dibei kesehatan dan keselamatan sampai akhir. 10 menit lagi kalian akan naik bus untuk kembali ke kota, saya masih ada urusan dan akan bertahan disini bersama sekretaris saya nanti. Untuk Naya dia akan sekalian pulang ke kampung halamannya sehingga dia juga tidak ikut pulang bersama kalian” jelas Derya sambil menunjuk Naya dengan dagunya


“Aldo, kamu bawa saja mobil saya. Ketika kalian sampai akan ada orang yang mengambilnya nanti !” kata Derya


“Sampai jumpa…” kata Derya mengakhiri pengungumannya


Merekapun menaiki kendaraan masing-masing, Anton sudah siap sedia di mobil kerajaan. Merkapun berangkat menuju rumah Naya. Selama perjalanan karena kelelahan Derya dan Naya malah tertidur, sedangkan anak mochi tidak ingin menganggu ayah bundanya sibuk memainkan tabletnya dan tersisalah kusir yang kesepian hanya ditemani suara mbak google yang menunjukkan arah. Setelah 2 jam perjalanan akhirnya mereka tiba didepan gang kampung Naya.


“Nay, bangun Nay… aku gak tau yang mana rumah kamu “kata Anton terpaksa membangunkan Naya


“Hooaaam, sudah nyampe Ton ?” Tanya Naya yang bangun dari tidurnya


“Udah sampai kampung kamu, tapi rumah kamu yang mana ?” Tanya anton mengulang perkataanya tadi


“Lurus aja, nanti disebalah kiri kalau ada rumah yang halamannya luas pakai pager bambu nah itu rumahku” kata Naya menjelaskan


“Bos, bangun…” kata Naya membangunkan bosnya dan membiarkan anak mochi yang malah terlelap dengan kepala dipangkuan Naya dan kakinya di pangkuan Derya


“Hm” respon Derya sambil membuka matanya


“Ini ya Nay ? yang ada tenda orang kawinan ?” Tanya Anton karena itu adalah rumah dengan pagar bambu


“Iya disini, siapa yang kawinan ya ?” Tanya Naya bingung


“Apa kamu memberitahu orang tua kamu kalau maksud aku datang kesini ingin melamar kamu Nay ?” Tanya Derya dengan datarnya membocorkan rencananya


“Aduh si Boss…” gumam Anton sambil menepuk jidatnya


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode ya 😉~~~


__ADS_2