
Beberapa menit berlalu emosi semakin menjadi karena macet masih padat merayap seperti cicak yang lagi ngatri makan nyamuk.
“Hoaaam” Anton menguap karena bosan dan juga dirinya memang kurang tidur karena tadi malam begadang
“Kenapa ton ? ngatuk ?” Tanya Naya
“Iya nih Nay, ada permen kopi ga ?” ucap Anton
“Gak ada, nih adanya permen ini. Mau ?” Tanya Naya menawarkan permen penyegar nafas karena itu salah satu cara agar mual dirinya berkurang
“Boleh deh. Makasih Nay” kata Anton ingin mengambil permen ditangan Naya
“Nih !” permen direbut Derya dan diberikan sembarang pada Anton sehingga permen tersebut jatuh
“Yah bos, kan jatuh jadinya” ucap Anton terpaksa membungkuk untuk mengambil permen yang jatuh
“Udah mending dikasih Ton ! kamu jangan megang-megang istri saya ya !” ucap Derya yang benar-benar posesif
“Iya bos, mana berani saya” ucap Anton sambil acuh, karena sudah biasa mendapati sikap posesif bosnya ini
“Syukur belum 5 menit permennya jatuh” gumam Anton sambil kembali menatap lurus jalanan yang padat
Setelah sejam lebih menunggu akhirnya mobil dapat berjalan dengan lancar menuju rumah sakit.
Merekapun tiba di rumah sakit. Asisten serbaguna dengan sigap membawakan buah tangan keluarga kerajaan karena 50% bonus sudah masuk rekening.
“Bos ni parsel kapan nyampenya, kok tiba-tiba ada dimobil ?” Tanya Anton yang sedikit kesusahan dengan kedua tangannya dipenuhi parsel dan rantang makanan
“Hm, sebelum kamu datang saya sudah memesannya” ucap Derya yang berjalan didepan Anton dengan satu tangannya menggendong Aydin dan tangan lainnya memeluk pinggang istrinya
“Oooh” sahut Anton yang menganggap pemandangan keluarga bahagia didepannya ini adalah cerminan masa depannya bersama sang istri nanti
“Ting !” pintu lift terbuka, merekapun masuk kedalamnya untuk sampai keruangan kakek Metin dirawat
“Tok, tok, tok,,,, Assalamu’alaikum…” ucap Naya sambil mengetuk pintu
“Wa’alaikumsalam. Pasti cucu dan cicit kesayangan uyut kan ?” ucap Alara sambil membukakan pintu, dirinya sudah menanti kedatangan mereka
“Assalamu’alaikum nenek buyut” ucap Aydin sambil mencium punggung tangan Alara, dikuti pula oleh Naya serta Derya
“Itu yang dibelakang siapa ?” Tanya nenek Alara bingung karena wajah orang tersebut tertutup dengan parsel buah
“Anton nek. Ini Anton” ucap Anton sambil berusaha menyembulkan kepalanya agar terlihat
“Astagfirullah, Nak Anton ayo masuk dulu. Itu bawaanya pasti berat” ucap Alara langsung segera menyuruh mereka masuk ke dalam
“Terimakasih Nek” ucap Anton yang masuk lebih dulu
“Assalamu’alaikum kakek buyut” ucap Aydin saat masuk langsung mendekat pada kakeknya dan menyalimi Metin
“Wa’alaikumsalam cicit kakek” ucap Metin sambil menatap lembut Aydin
“Kakek kenapa ada tv kecil disamping ranjang kakek ? bukankah itu untuk melihat adik bayi, apa diperut kakek juga ada adiknya ? ” tanya Aydin yang ingat dia pernah melihat tv kecil tersebut saat Naya di usg
“Humftt…” Anton mencoba menahan tawanya
“Anu, itu, em…” Metin malah bingung mau menjawab apa
“Bukan sayang, tv ini itu untuk mengetahui kondisi detak jantung kakek. Setiap tv memiliki fungsinya masing-masing” ucap Naya berjalan mendekati Adyin
__ADS_1
“Oh begitu ya Bunda” ucap Aydin sambil manggut-manggut
“Kakek bagaimana perkembangannya ? apakah masih terasa lemas ?” Tanya Naya khawatir
“Hm, sedikit” Sahut Metin singkat
“Mas sini, Ayo ngobrol dengan kakek” ajak Naya pada Derya
Deryapun terpaksa berjalan mendekati Metin dan berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka
“Assalamu’alaikum. Apa anda sudah lebih baik ?” Tanya Derya dengan tatapan mata kearah lain bukan pada lawan bicara yang diajak mengobrol
“Ya, seperti yang kamu lihat” ucap Metin yang juga enggan menatap Derya
“Hm, bagaiamana Nayaku memang baikkan ? kekhawatiran anda itu berlebihan !” ucap Derya mencoba memberanikan diri membicarakan hal ini
“Ya, aku hanya berhati-hati” ucap Metin
“Tapi anda terlalu berlebihan, sampai salah mempercayai orang !” ucap Derya menatap kakeknya
“Ya, itu salahku….” Ucap Metin
“Maaf…”
“Maaf…” ucap keduanya bersamaan
“Hm…”
Hm…” dan mereka pun memberi respon yang sama dengan aggukkan kecil dikepala mereka
“Oh iya Naya ada bawakan opor untuk kakek, kakek makan ya…” ucap Naya ingin memberi waktu privasi untuk mereka berdua mengobrol
“baik Bunda” ucap anak mochi yang langsung berlari menuju neneknya yang sedang mengeluarkan isi rantang
Nayapun mendekat kea rah Alara juga dan membantunya mengeluarkan isi rantang, namun fokus Naya malah teralihakn pada Aydin yang hanya berdiri diam menatap parsel buah
“Aydin kenapa hm ?” Tanya Naya mendekati Aydin
“Bunda, Aydin mau satu pisangnya boleh ?” Tanya anak mochi yang dari tadi ternyata ingin makan pisang
“Boleh dong sayang. Bentar ya Bunda minta ijin dulu sama uyut” ucap Naya
Setelah meminta ijin akhirnya Aydin dapat memekan salah satu buah keuskaanya itu. Naya juga sesekali melirik kakek dan cucu yang sedang mengobrol kaku. Sedangkan Anton sibuk dengan telphonenya dipojok ruangan.
***
Setelah mereka mengobrol sebentar dan kakek cucu sudah saling memaafkan merekapun akhirnya pamit untuk melakukan kegaiatan selanjutnya. Kini mereka sudah berada didalam mobil setelah keluar dari rumah sakit.
“Ton, Sarah mau kita jemput dimana ?” Tanya Naya
“Em, katanya sih mau nyusul kesini Nay pakai go car” ucap Anton sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Sarah
“Nah itu tu, yang baru turun dari mobil itu kan ?” tunjuk Anton
“Iya kayaknya Sarah” ucap Naya yang juga ikut mengamati orang yang ditunjuk Anton
“Tiiiiit !!!” Anton malah membunyikan klakson agar Sarah tau keberadaan mereka yang menunggu
“Astagfirullah !” ucap Sarah yang langsung menatap tajam mobil yang membunyikan klasksonnya
__ADS_1
“Tiit, tiit !!!” klakson berbunyi kembali
“Woy, buka ! kalau mau pamer mobil sana di jurang jangan dirumah sakit ! disini banyak orang jantungan tau !” ucap Sarah kesal dan dengan beraninya menggedor jendela mobil yang membunyikan klakson tersebut
“Kenapa Rah ? jadi orang jangan bar-bar banget napa !” ucap Anton sambil menurunkan kaca jendela
“Eh om,,, kirain orang iseng om. Tapi memang sebelas dua belas sih orang iseng sama om” ucap Sarah
“Hummfff, terserah kamu. Ayo masuk !” ucap Anton dengan isyarat kepala meinta Sarah untuk duduk dikursi depan
“Dinda kemana Dek ?” Tanya Naya memastikan
“Oh, kak Dinda lagi mengerjkan tugas kelompok kak” ucap Sarah sambil memasang safety belt
“Oh, ya sudah. Ayo berangkat !” ucap naya
“Yeeaay ! pergi naik gajah !!! Let’s Go !” teriak Aydin penuh semangat, sampai-sampai dirinya berdiri dan menyembulkan kepala diantara kursi pengemudi dan kuris penumpang didepan
“Aduh, kok anak laki teriaknya pada kenceng banget ya” ucap Sarah kaget sambil mengusap telinganya
“Hehe, maaf aunty” ucap Aydin dengan senyum manisnya
“Namanya juga laki Rah, kalau setengah laki baru teriaknya gemulai gak nyaring !” ucap Anton mulai menginjak gas meninggalkan rumah sakit
Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya mereka tiba di kebun gajah. Gajah disini memang khusus dilatih agar terbiasa membawa manusia untuk menungganginya.
Sarah takjub melihat betapa bersarnya tubuh gajah sama dengan Aydin. Mereka berdua menatap gajah dengan mata berbinar dan mulut terbuka lebar.
“Bunda kenapa telinga gajahnya bergerak-gerak seperti itu ?” Tanya Aydin sambil menunjuk telinga gajah
“Hm,,, mungkin karena gajahnya kepanasan sayang” jawab Naya yang juga menatap gajah-gajah yang ada didepan matanya ini
“Om, om. Itu gajahnya panu an ya ? kok kulitnya belang gitu ?” Tanya Sarah sambil menunjuk gajah yang warna kulitnya sedikit keputihan
“Iya Rah, itu gajahnya panu an, kudisaan, kuarapan juga !” ucap Anton
“Oh gajahnya punya penyakit kulit ya Om ? kenapa gak dikasih obat salep biar cepat sembuh ?” Tanya Sarah
“Obat salepnya mahal Rah !” jawab Anton asal
“Masa sih Om ? Sarah beli di warung depan rumah waktu dikampung murah kok. Cuma 10 ribuan” ucap Sarah
“Hm, terserah kamu rah. Jadi gak nih naik gajah ?” Tanya Anton
“Jadi dong om, tapi Sarah mau gajahnya yang gak punya penyakit kulit” ucap Sarah
“Hm… Ayo !” ajak Anton sambil menggandeng tangan Sarah
“Tunggu om !” ucap Sarah saat mereka ingin anik gajah, keluarga kerajaan sudah lebih dulu naik gajah
“kenapa lagi ? mau beliin salep gajah ?” Tanya Anton
“Bukan, tapi itu… lihat itu sepertinya kak Dinda” tunjuk Sarah pada restoran yang kebetulan masih satu atap dengan kandang gajah.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode guys 😉~~~