
"itu namanya kabur dek ! Haaiih, pantas saja aku dicurigai menculik anak. Lihat pakian kalian, jam tangan mewah itu. Astaga kenapa aku baru menyadarinya” ucap sang suter tersebut sambil menepuk jidatnya
“Hehe, maap kak custel. Ini cemua ide Kak Ay” ucap Kivanc menunjuk Aydin
“Kau ini” ucap Aydin kesal sambil melebarkan matanya
Sementara mereka yang sedang dicari berdebat didepan meja administrasi, kehebohan yang dibuat oleh kedua kaka beradik dilantai bawah masih terus berlanjut
“Bu, apa ketemu ?” Tanya Dinda dengan khawatir
“Belum nak, tapi ibu sudah membuat pengunguman tadi” ucap Nisa juga ikut panik sambil mencari-cari keberadaan cucunya
“Hm,,, kira-kira kemana mereka ? apa kekantin ya bu ? tadi Kivanc bilang kalau aydin ingin makan” batin Dinda sambil berpikir
“Bu Dinda akan mencari di kantin” ucap Dinda kemudian bergegas menuju kantin dilantai tersebut setelah mendapat anggukan dari ibunya
“Maafkan aunty karena tidak menghiraukan kalian tadi, aunty benar-benar menyesal sekarang. Semoga kalian baik-baik saja” batin Dinda sambil berjalan dengan tergesa-gesa
“Ada dimana mereka ?” gumam Dinda sambil memanjangkan lehernya mencari keberadaan keponakan tersayangnya itu
“Aydin ?” ucap Dinda menepuk pundak seseorang
“Mom..” anak tersebut takut dan bersembunyi dibalik wanita dewasa yang dipanggilnya mom itu
“Maaf, saya pikir keponakan saya” ucap Dinda segera meminta maaf dan kemudian segera berlalu
“Haaiiih,,, dimana mereka ?” gumam Dinda lagi sambil mencari
“Apa itu mereka ?” batin Dinda saat melihat dua orang anak kecil yang dibawa oleh seorang pria berpakaian hitam
“Tunggu !” ucap Dinda menyusul
“Aydin, Kivanc ?” ucap Dinda sambil menahan kedua punggung anak kecil itu
“Ah maaf, maaf. Saya salah orang” ucap Dinda kembali meminta maaf karena salah mengenali orang lain
“Tidak apa, mari mbak” ucap pria tersebut ingin bergegas pergi
“Maaf, apa anda kakak mereka ?” Tanya Dinda kembali menahan karena merasa ada yang mencurigakan
“Ya” jawab pria tersebut dengan senyum anehnya
“Oh, hm,,, Kalian tidak terlihat mirip” Ucap Dinda memberanikan diri
“Kami keluarga tiri” jawab pria tersebut lagi, sedangkan kedua anak yang digandeng terdiam seribu bahasa
“Permisi, apa kalian keluarga pasien yang bernama Aydin ?” seorang dokter laki-laki tiba-tiba datang dan menghalangi pandangan mereka
“Benar, ada apa ?” Tanya Dinda kemudian bergeser kesamping untuk melihat pria yang mencurigakan tadi namun sudah tidak ada
__ADS_1
“Saya dokter rawat Aydin dan tadi sudah diberitahu oleh staff bahwa mereka ada di lantai atas” ucap sang dokter tersebut mengulurkan tangannya untuk bersalaman
“Baik” ucap Dinda menyambut salaman tersebut
“Terimakasih dokter Wil ?” ucap Dinda bingung karena nametag disana terlihat seperti nama orang luar negeri padahal yang dilihat didepannya nampak seperti keturunan jawa asli, manis.
“Kembali kasih. Saya permisi” ucap dokter tersebut dengan ramah kemudian pergi
“Iii, iya,,,” ucap Dinda semakin bingung. Namun dia kembali focus mencari keponakannya dan menanyakan staff administrasi disana mengenai lokasi keponakannya
Sedikit lega kala mengetahui bahwa mereka baik-baik saja dan mereka ada dilantai atas ruangan ibu dan bayi. Dindapun segera bergegas menemui ibunya untuk menghampiri keponakannya itu.
“Bu, mereka ada dilantai atas. Mungkin sedang mencari Kak Naya” ucap Dinda saat menemui ibunya
“Benarkah ? syukurlah mereka baik-baik saja. Ini dokter Budi yang merawat Aydin biasanya, mereka baru saja tiba untuk pemeriksaan Aydin” ucap Nisa
“Dokter Budi ? tadi….” Ucap Dinda sambil berpikir
“Ah, ya ayo kita jemput Aydin !” ucap Dinda tidak jadi meneruskan ucapannya
“Benar katamu nak, Aydin dan Kivanc pasti ingin bertemu Naya dan cucu Ibu yang baru lahir, Ibu juga sangat ingin menjenguk mereka sebenarnya” jawab Nisa bergegas mengambil tasnya didalam kamar
“Saya akan pergi bersama kalian, kondisi pasien sudah lebih baik sebelumnya. Mungkin bisa segera keluar ruangan dan menemui ibu mereka, karena anak-anak biasanya tidak sabaran sehingga mereka berpikir pergi tanpa ijin seperti in” ucap sang Dokter memahami situasinya
“Terimakasih dok, ayo Nak kita lewat mana ?” Tanya Nisa dengan ramah
“Kita naik lift ini bu” ucap Dinda memimpin
“Mereka berada dimana Nak ?” Tanya Nisa
“Entahlah, Dinda hanya tau jika mereka ada dilantai atas” ucap Dinda masih kebingungan dengan dua orang yang dia temui sebelumnya
“Ibu tadi sudah membuat laporan kestaff administrasikan ? mari kita kesana dulu, karena pusat informasi ada disana” saran Dokter Budi
“Benar juga, ayo Nak” ucap Nisa memanggil Dinda yang nampak melamun
Merekapun berjalan menuju meja administrasi dipimpin oleh Dokter Budi, Nampak disana ada dua orang anak kecil yang sedang menghadap dinding.
“Apa itu mereka ?” Tanya Budi yang melihatnya
“Sepertinya benar” ucap Nisa kurang yakin sehingga dirinya berjalan lebih cepat agar dapat memastikan
“Aydin, Kivanc ? itu kalian ?” Tanya Nisa saat jarak mereka semakin medekat
“Nini…” ucap Kivanc segera berlari kedalam pelukan Nininya
“Ah, syukurlaah kalian baik-baik saja. Kenapa kalian pergi tidak memberitahu kami hm ? Nini dan aunty sangat khawatir” ucap Nisa sambil memeluk Kivanc yang memang biasa bersifat manja seperti itu
“Aydin sayang, kenapa pergi tidak ijin dengan Nini ?” Tanya Nisa mendekati Aydin
__ADS_1
“Nini pasti akan melarang Aydin pergi karena perintah dokter. Aydin ingin menemui Bunda dan adik Aydin” ucap Aydin
“Ini demi kebaikan Aydin sayang, kata dokter jika kondisi Aydin sudah membaik. Aydin bisa kok pergi keluar ruangan” ucap Nisa membujuk Aydin
“Benarkah ?” Tanya Aydin menatap seseorang yang berpakaian dokter disana
“Ya, benar. Mari dokter periksa sebentar ya” ucap Budi mendekat dan duduk dikursi dekat sana
“Permisi ya, kaka buka kancingnya dulu” ucap Budi dengan lemah lembut membujuk Aydin
“Hm…” ucap Aydin mengangguk patuh
“Demam adek juga sudah turun, kondisi perut juga sudah membaik. Jadi sekarang Aydin sudah bisa keluar ruangan kok, namun perhatikan jajanannya ya dek” ucap Budi mengelus lembut pucuk kepala Aydin
“Hm, terimakasih dokter” ucap Aydin tersenyum senang
“Yeeey, kak Ay cudah cembuh ! cekalang Ipan bica main bola belcama kak Ay” ucap Kivanc semangat
“Masih belum bisa main bola ya Dek, tunggu kakaknya benar-benar sehat baru bermain bola” ucap Budi menjelaskan
“Yaaah…” seketika ekspresi anak itu kembali mode on, mulut Kivanc kembali memaju dan matanya memelas dengan menggemaskan
“Hehehe, tapi masih bisa main yang lain kok. Ada permainan seru loh” ucap Budi menghibur Kivanc
“Benalkah ? permainan apa kak doktel ? ipan mau belmain….” ucap Kivanc kembali bersemangat
“Nanti akan dokter kasih tau, asalkan adik tidak pergi tanpa ijin ya ! harus patuh sama orang yang lebih dewasa” ucap Budi menasehati
“Hm, baik doktel” ucap Kivanc patuh
“Ayo kita menemui Bunda” ucap Aydin yang sudah turun dari kursi
“Ah iya, benal. Let goo ! kita beltemu Unda dan adik bayuuu” ucap Kivanc berjalan lebih dulu
“Hehe, keponakanmu sangat menggemaskan” ucap Budi pada Dinda
“Ah, iya benar. Mereka sangat nakal” ucap Dinda agak sedikit kaget karena diajak bicara
“Tidak nakal kok, mereka memang bertingkah sesuai usia mereka” ucap Budi menatap Dinda
“Ya, mungkin begitu. Saya duluan dok. Terimakasih” ucap Dinda
“Ya, kembali kasih” jawab Budi dengan senyum ramahnya, kemudian hanya punggung Dinda yang dilihatnya sampai sosok itu terhalang oleh dinding.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode ya 😉
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣✨👣