
Tiga hari berlalu dengan cepat, weekend berganti dengan hari kerja. Naya dan rombonganpun kembali ke habitat masing-masing untuk meneruskan kegiatan mereka dihari kerja…
Begitupula dengan Anton, Derya, Aydin dan Naya. Mereka kembali kerumah besar milik sang bos untuk membongkar barang yang mereka beli selama liburan calon keluarga kemaren, Naya dengan bahagia membagikan beberapa oleh-oleh yang dibawanya kepada para penghuni rumah dan mereka menyambutnya dengan senang hati…
“Waaah, makasih banyak neng Naya repot-repot bawain oleh-oleh buat kami…” ucap Bi Lastri yang mendapatkan hadiah daster dari Naya
“Iya Bi, sama-sama… Naya juga senang bisa berbagi dengan orang rumah disini…” ucap Naya, maksud orang rumah disini ada bi Ira, Bi Lastri, Pak Udin dan kakek sholeh.
“Bibi jadi kepengen punya majikan kaya neng Naya deh jadinya, baik banget si Neng mah…” ucap bi Ira
“Hehehe,,, gak sanggup saya Bi. Ini aja saya masih kerja jadi bawahan juga, mana sanggup saya punya asisten rumah tangga… hehehe….” ucap Naya tersenyum membalas candaan bi Ira
“Ya kan siapa tau nanti Neng Naya jadi nyonya dirumah ini, kami dengan sangat bergembira hati menyambut Neng menjadi nyonya rumah ini Neng…” goda bi Ira
“Hahaha,,, gak mungkin lah bi. Kan saya sama bos Derya cuma rekan kerja saja…” kata Naya dengan tawa terpaksa
“Kan siapa sangka ya Bi Lastri, kalau jodohkan kita gak bisa ngelak nanti…” kata Bi Ira meminta persetujuan Bi Lastri
“Iya tuh Neng, kan siapa tau Neng Naya berjodoh sama tuan… saya juga setuju banget jika kalian benar-benar menikah nanti” kata Bi Lastri menyetujui argument bi Ira
“Hehehe,,, ya kalau jodoh gak kemana bi…” ucap Naya menanggapi pembicaraan keduanya
Setelah membagikan hadiah, hari Naya kembali kepengaturan awal. Dirinya disibukkan dengan mengerjakan laporan dan juga Aydin namun ada satu tambahan yang menjadi kesibukan baru naya saat ini, yakni menyiapkan sarapan dan memilihkan dasi untuk sang bos…
“Kenapa sih dengan bos akhir-akhir ini…” batin Naya saat menyiapkan sarapan dipagi hari
“Nay, pilihkan dasi saya ya. Hari ini hari kamis, saya mau yang terlihat cerah…” request Derya
“Bos ini mau nambah-nambahin pekerjaan aku ya ? kan sudah tau hari ini mau pakai yang agak cerah tapi kenapa tetap minta pilihkan ? ini nih akibat punya dasi kebanyakan…” gumam Naya saat dirinya memilihkan dasi di ruang wlak in closet dikamar Derya.
“Ini bos…” kata Naya menyerahkan dasi tersebut
Derya dan Aydin sedang sarapan saat ini, Derya dengan tanpa bersalah merespon dengan dagunya menyuruh meletakkan di kursi dasi yang Naya pilihkan tadi…
“Hm, saya lanjut bikin kopi ya bos…” kata Naya melanjutkan aktivitasnya dipagi hari. Tanpa diminta Naya sudah tau jika Derya pasti akan meminta kopi dipagi hari…
“Ini bos kopinya…” kata Naya meletakkan kopi tersebut disamping Naya
“Kamu duduklah, ikut sarapan juga…” kata Derya
“Saya sudah sarapan Bos…” ucap Naya namun tetap duduk di kursi
“Hm…” respon Derya
“Bos, kan besok jum’at… besok saya harus ijin lagi untuk camping digunung buat observasi lanjutan dan sekalian saya ijin untuk ke kampung halaman saya selama beberapa hari ya bos…” kata Naya
“Berapa hari kamu pulang kampung ?” Tanya Derya dingin
__ADS_1
“Mungkin 3 hari bos…” jawab Naya
“Apa tidak bisa sehari saja ? kasian Aydin kamu tinggal terlalu lama, totalnya menjadi 6 hari kamu meninggalkannya” kata Derya
“Hmmm,,, saya sudah lama tidak pulang kampung bos. 3 hari untuk berkumpul bersama keluarga dikampung masih terasa sebentar bos…” kata Naya
“Coba kamu Tanya Aydin…” kata Derya berharap Aydin tidak mengijinkan Naya untuk pergi terlalu lama
“Sayang, Bunda boleh tidak nanti pergi sebentar untuk pulang kampong menemui ibu Bunda ?” Tanya Naya pada Aydin yang sedang sibuk makan roti cokelat
“Pulang kampung itu apa Bunda ?” Tanya anak mochi
“Pulang kampung itu berarti Bunda pulang menemui keluarga Bunda yang ada ditempat kelahiran Bunda sayang… kan Aydin tau kalau Bunda disini hanya mengkos dan tidak punya rumah, nah jadi Bunda pulang kampung untuk pulang kerumah Bunda…” jelas Naya
“Oooh, kenapa Aydin tidak pernah pulang kampung ? kan kata ayah Aydin tidak lahir disini ?” Tanya Aydin pada Derya yang duduk dihadapannya
“Hm,,, nanti jika Aydin sudah lebih besar Ayah akan bawa Aydin pulang kampung ke Turki…” kata Derya
“Jadi bagaiman sayang ? apa Bunda dibolehkan pergi ?” Tanya Naya
“Tapi,,, apa lama Bunda pergi ? bisa tidak Aydin ikut dengan Bunda ?” Tanya anak mochi penuh harap
“Bunda harus pergi observasi dulu sayang di gunung dan itu tempat yang berbahaya untuk anak kecil jadi Aydin tidak bisa ikut” jelas Naya
“Yaaaaah,,, Aydin ingin ikut Bunda….” Rengeknya
“Huwaaaaaa, Aydin ingin ikuuuuutttt… hiks,,,,” anak mochi mulai menangis dengan pipi gembungnya
“Aydin ingin ikut Bunda… hiks,,,hiks,,,” Aydin menangis dengan kencang
“Bos gimana nih ?” Tanya Naya minta pendapat pada bosnya
“Saya tidak mengijinkan jika Aydin ikut ke gunung !” tegas Derya
“Hikss,,,hiks,,, Bunda jangan pergi…” kata Aydin lagi sambil memeluk pinggang Naya
“Sayang,,, coba lihat… ayo tatap Bunda…” kata Naya mencoba menenagkan Aydin
“Hiks,, hiks,,,” kata Aydin yang kini sudah menatap Bundanya yang membungkukkan badannya mensejajarkan tinggi dengan Aydin yang duduk dikursi
“Bunda pergi untuk kembali sayang, Bunda pergi untuk mengerjakan tugas sekolah Bunda… nanti jika Bunda sudah lulus sekolah Bunda bisa sepenuhnya menjaga Aydin dan bermain dengan Aydin… Aydin mau lama-lama kan kalau bermain dengan Bunda ? Nah jadi Bunda harus menyelesaikan tugas Bunda dulu supaya Aydin bisa bermain lamaaaaaaa sekali dengan Bunda…” jelas Naya sambil menatap anak mochi
“Apa benar ? nanti Bunda akan menemani Aydin main sampai malam ? Bunda juga akan tidur bersama Aydin sampai pagi ?” Tanya Anak mochi yang mulai terbujuk dengan rayuan Naya
“Iya sayang, Bunda akan usahain biar bisa bermain dengan Aydin dan tidur bareng Aydin nanti…” kata Naya meyakinkan Aydin
“Hmmm,,, tapi apa 6 hari itu lama Bunda ?” Tanya Aydin
__ADS_1
“Enam hari itu segini sayang…” kata Naya sambil mengacungkan carinya sebanyak 6 jari
“Nah jadi nanti, ketika Aydin tidur Aydin akan menghilangkan satu jari Aydin seperti ini dan lihat jari Aydin yang terbuka semakin sedikit kan ?” sambung Naya menjelaskan
“Hm,,, iya Bunda…” jawab Aydin sambil melakukan hal yang sama seperti Naya
“Nah, jadi bunda pergi hanya sebentar kan ? tidak memakai semua jari Aydin untuk menghitung hari Bunda pergi…” kata Naya meyakinkan
“Iya Bunda…” kata Aydin
“Jadi, Bunda di ijinkan untuk pergi kan sayang ?” Tanya Naya memastikan
“Hm,,, baiklah Bunda…. Tapi Bunda jangan lama-lama perginya, bunda harus menghubungi Aydin setiap hari…” kata Aydin masih berat melepas Naya
“Iya sayang, nanti Bunda usahakan ya…” kata Naya sambil memeluk Aydin dengan kasih.
“Saya akan ikut untuk mengawasi jalannya observasi ke gunung nanti…” kata Derya yang tiba-tiba berbicara
“Lah ? terus Aydin sama siapa Bos ?” Tanya Naya yang bingung dengan keputusan Derya
“Ada Anton dan bi Lastri dirumah, saya bisa memprcayakan Aydin kemereka untuk saya tinggal selama 3 hari nanti….” Jelas Derya
“Hm, apa Aydin setuju ?” Tanya Naya
“Saya bisa mengurusnya…” kata Derya
“Ya terserah bos saja, kan bos sponsornya… Ya sudah saya mau ambil tas Adyin dulu ke atas…” kata Naya dan kemudian pergi ke atas menuju kamar Aydin
“Aydin sayang Bundakan ?” Tanya Derya saat melihat Naya sudah masuk kekamar Aydin
“Iya,,, Aydin sayang sekali dengan Bunda…” jawab anak mochi
“Biar Bunda Aydin ada yang jagain waktu camping nanti, Ayah boleh tidak juga ikut pergi bersama Bunda… kan disana berbahaya, harus ada Ayah yang menjaga Bunda…” bujuk Derya pada anaknya
“Iya Ayah harus menjaga Bunda disana… Ayah pergilah !” kata Aydin dengan mudahnya melepaskan Derya
.
.
.
.
.
See you next episode ya 😉~~~
__ADS_1