I Want Bunda

I Want Bunda
Episode 113


__ADS_3

Setelah itu merekapun sarapan bersama, merasakan suasana kehangatan keluarga Naya membuat Derya rindu akan sosok maminya yang selalu hangat dan penuh kasih membesarkannya. Namun semua itu hanyalah kenangan, tapi kini dia akan menghidupkan kembali kenangan itu dan akan membuat moment tersebut kembali dengan keluarga barunya nanti.


“Kak, mau berkeliling kampung sebentar tidak ?” Tanya Sarah pada Derya yang masih duduk dimeja makan, sedangkan yang lain sedang merapikan kembali bekas sarapan tadi


“Boleh, Apa Bubu juga ikut ?” Tanya Derya


“Bubu siapa kak ? kok aku geli ya dengarnya, hahaha” kata Sarah sedikit tertawa


“Itu panggilan saya ke Naya” kata Derya dingin


“Gantilah kak jangan begitu, kak Naya itu gak suka panggilan yang aneh-aneh gitu” ucap Sarah memberitahu


“Benarkah ? tapi kenapa dia hanya diam saja tidak protes ?” Tanya Derya tidak yakin


“Ya, kak Naya gak mau nyakitin hati Kakak ipar mungkin. Kak Naya itu orangnya gak enakan kak” ucap sarah


“Oooh, panggilan itu atas ide Anton sih. Katanya wanita itu suka yang imut-imut gitu kalau dipanggil, makanya saya manggil dia begitu” Jelas Derya tapi padahal sebenarnya dia juga suka


“Pantesan panggilannya aneh gitu, ternyata dari Om Anton” kata Sarah sambil menatap Anton yang sudah duduk sambil menonton tv


“Jadi menurut kamu apa panggilan yang cocok untuk Naya ?” Tanya Derya meminta saran


“Panggilan yang normal saja kak. Adek misalnya…” ucap Sarah


“Hm, Bagaimana kalau Bunda ? kan Naya Bundanya Aydin dan saya Ayahnya Aydin. Bunda dan Ayah adalah pasangan yang serasi bukan ?” kata Derya menyampaikan idenya


“Naaah itu lebih baik Kak” kata Sarah sambil mengambil air dimeja makan


“Untuk siapa ?” Tanya Derya bingung sebab sarah mengambil dua gelas air


“Untuk om Anton. Kata Ibu, Sarah harus ajak Kakak ipar sama om Anton buat keliling kampung sebentar, jadi Sarah kesana dulu ya kak” ucap Sarah


“Hm…” kata Derya sambil mengangguk


Sarah adalah orang yang mudah bergaul dan berkepribadian cerita namun sayangnya lemot, sehingga harus diberitahu secara detail baru mengerti. Berbeda dengan adik Naya yang pertama yaitu Dinda, dia lebih pendiam dan penyendiri. Walau begitu Naya tidak pernah membedakan kedua adiknya, dia akan mendekatkan diri pada keduanya saat pulang kampung begini.


“Ooo…m” ucap sarah ingin memanggil Anton, namun tangan kiri Anton malah mengisyaratkan Sarah untuk berhenti.


“Harus diem begini ya ?” gumam Sarah dalam hatinya


Sarahpun berdiri seperti posisinya saat ini, tidak berubah sedikitpun. 5 menit berlalu dan akhirnya Anton menyelesaikan telphonenya


“Astagfirullah, ngapain kamu berdiri gitu ? mana gak ada suaranya lagi” kata Anton kaget karena tiba-tiba ada sarah didekatnya

__ADS_1


“Tadi om Anton tangannya begini saat Sarah mau bicara, jadi Sarah diam disini menunggu om selesai dengan handphone om” jelas Sarah


“Ya, gak berdiri hanya diam begitu juga kali Sar. Ya duduk kek, orang ini rumah kamu” kata Anton


“Ini bukan rumah Sarah, rumah ini sudah di gadaikan ke bank saya Bapak” ucap Sarah


“Ya, yakan kamu tinggal disini Sarah jadi ini masih rumah kamu” jelas Anton


“Oooh, tapi kata ibu ini bukan rumah kami lagi sekarang. Kan Sarah, Kakak dan ibu akan pindah” jelas Sarah


“Iyaaaaa, iya, kamu bener. Sini minumnya…” kata Anton meminta air untuk meredakan api yang mulai memanaskan otaknya


“Nih om” kata Sarah sambil menyerahkan kedua gelas air ditangannya


“Lah kenapa keduanya, satu aja kali” kata Anton menganbil air yang ada ditangan Sarah


“Kan airnya ada di kedua tangan Sarah” kata Sarah polos


“Iya, iya kamu bener…. Glek,glek,glek,,,” Anton minum dalam sekali tegukan


“Huuuuh, ada apa ?” Tanya Anton setelah membuang nafas


“Kata ibu, Om Anton sama Kakak ipar harus Sarah ajak berkeliling dulu sebelum pulang ke kota. Apa om Mau ?” Tanya Sarah


“Tapi jangan panggil Om lagi ya !” kata Anton


“Nah ini masih manggil om” kata Anton kesal


“Kan kata Sarah diusahain, bukan berarti sarah gak manggil Om Anton, om” jelas Sarah


“Iya deh, iya…. Ayo dah berangkat” kata Anton bangkit dari duduknya, lama-lama berbincang dengan sarah akan membuat tensi darahnya naik


Merekapun berangkat, mengelilingi kampung dengan jalan kaki. Tidak ketinggalan anak mochi pun juga ikut dan pastinya harus ada Naya bersama anak mochi. Mereka pun mengelilingi persawahan yang hijau arena para petani mencari rezeki mereka.


“Bunda, Bunda,,, itu kerbau ya Bunda ?” Tanya Aydin yang melihat petani yang membajak kerbau


“Iya sayang itu namanya kerbau, Nah dia sedang membantu petani untuk membajak sawah” jelas Naya


“Waaaah, Bapak petaninya kok menunggangi dua kerbau sekaligus begitu Bunda, kereeeenn…” kata Aydin kagum


“Iya sayang, biar lebih cepat membajak sawahnya makanya petani menggunakan dua kerbau” kata Naya bahagia melihat Aydin begitu senang dengan alam, berarti akan ada patner untuk traveling nanti pikirinya


“Bunda, apa Bunda bisa naik itu ?” tanya Aydin

__ADS_1


“Tidak, Bunda tidak boleh naik itu ! nanti jika terjatuh bagaimana ?” kata Derya langsung melarang


“Saya penah kok naik itu mas, dulu waktu masih SMA saya pernah diupah untuk membajak sawah menggunakan kerbau” cerita Naya


“Ya, tapi sekarang tidak boleh !” kata Derya masih kekeh


“Iya” sahut Naya, dia bersyukur Derya tidak memanggilnya bubu dihadapan adiknya dan dihadapan orang lain. Naya sebenarnya merasa malu dengan panggilan itu tapi sungkan untuk menolaknya


“Bunda, Aydin ingin menunggangi Kerbaunya boleh ?” Tanya Aydin


“Hm,,, Bunda tanyakan sama Bapaknya dulu ya. Kalau sekedar mau naik kerbaunya saja Bunda rasa tidak berbahaya” kata Naya sambil melanbaikan tangan pada pak Petani


Pak petanipun menghampiri mereka dengan kerbaunya, keduanya mendekat kepada rombongan Naya dengan sedikit kencang.


“Pelan-pelan Pak. Nanti tanah beceknya kecipratan kesini. Hehehe” kata Anton yang langsung memasang badan dihadapan mereka semua, kerbaupun memelankan lajunya.


“Ya, terusss,,, terusss….” Kata Anton seperti tukang parkir, padahal yang di arahkan hanya seekor kerbau


“Oke, stoop !!!” kata Anton lagi menahan kerbau yang sudah dapat dijangkau mereka


“Sarah baru tau kalau kerbau juga harus diarahin pakai tukang parkir ?” gumam Sarah yang bingung dengan sikap Anton


“Kamu akan terus dibuat bingung nanti, jika berhadapan dengan dia Dik. Anton memang begitu orangnya” ucap Naya berbisik pada Sarah


“Oooh, ternyata Om Anton itu aneh ya kak” kata Sarah mengambil kesimpulan


“Siapa yang aneh ?” Tanya Anton yang langsung memalingkan wajahnya menatap Sarah


“Om” kata Sarah sambil menunjuk Anton


“Apa yang aneh dari diriku ?” Tanya Anton sambil menatap dirinya sendiri


“Tidak ada yang memperlakukan kerbau seperti itu om, hanya om yang melakukannya. Jadi om itu aneh, itu lebih baik daripada orang mengira om gila ?” kata Sarah menjelaskan maksudnya


“Ya, ya… Seteraaah kamu ! aku sabar kok.” kata Anton kembali mengalah pada anak remaja ini


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you next episode ya 😉~~~


__ADS_2