I Want Bunda

I Want Bunda
Episode 183


__ADS_3

Setelah acara honeymoon yang terganggu, Naya beberapa hari ini sibuk mengatur acara 7 bulanan dan syukuran yang akan dilaksanakan dirumahnya. Naya menghubungi catering dan juga dekorasi acara, mengatur tema acara yang dipakai bersama dengan wo yang ada. Semua moment terasa menyenangkan karena berkat acara ini keluarga besar dirinya dan Derya dapat berkumpul.


Ibu Nisa dan kedua adiknya sudah menginap sejak dua hari yang lalu dirumah besar, dan juga ada nenek Alara dan kakek Metin yang baru datang kemaren ikut menginap dirumah besar, membuat suasana rumah semakin ramai dan hangat.


“Cicit grandma mau ice cream ?” Tanya Nenek Ala


“Mau, mau nek…” jawab Aydin dengan semangat


“Kalau begitu mau tidak ikut grandma dan grandpa jalan-jalan keluar, nanti grandma belikan ice cream” bujuk Alara, dia sangat menyukai anak kecil dan ini juga salah satu caranya agara Metin semakin dekat dengan cicitnya


“Em, Aydin minta ijin dengan Bunda dulu ya gradma” ucap Aydin


“Ayo Grandma temani Aydin meminta ijin” ucap Alara sambil menggandeng tangan Aydin


Merekapun mencari keberadaan Naya diantara kesibukan para wo membuat dekorasi acara yang dilaksanakan besok.


“Nah itu Bunda kamu sayang” tunjuk Alara setelah 5 menit mereka mencari


“Bunda…” anak mochi langsung berlari menghampiri Bundanya


“Hai sayang, kenapa lari-lari ?” Tanya Naya sambil memegang bahu Aydin


“Aydin cari-cari Bunda, kenapa Bunda sulit sekali ditemukan. Apa Bunda jalan terus ? kata Ayah, Bunda jangan terlalu capek” ucap Aydin mengkhawatirkan Bundanya


“Hehehe, maaf sayang Bunda hanya menyambut teman-teman Bunda tadi didepan” ucap Naya sambil matanya melirik sebentar ke arah jeng ibu-ibu yang memaksa datang kesini untuk membantu


“Halo tante, Assalamu’alaikum…” sapa Aydin sopan


“Hai anak ganteng” sahut Jeng Ayu


“Wa’alaikumsalam” jawab Jeng Nia


“Assalamu’alaikum nek” ucap Naya yang baru menyadari kehadiran nenek Alara dan langsung menyaliminya


“Wa’alaikumsalam, Naya apa kami boleh membawa Aydin jalan-jalan ? kami sangat rindu dengan Aydin” ucap Alara yang mereka memang baru tiba kemaren


“Boleh nek, Naya mengizinkan. Tapi apa Aydin mau sayang ?” Tanya Naya kepada Aydin


“Hm” angguk Aydin


“Baiklah, hati-hati dijalan ya sayang. patuhi apa kata nenek, jangan membuat nenek kesusahan” pesan Naya sambil mengelus pelan kepala anak mochi

__ADS_1


“Baik Bunda, Aydin pergi dulu ya. Dadah adik kecil…” ucap Aydin melambaikan tangan kepada perut Naya


“Assalamu’alaikum Bunda” ucapnya sambil menyalimi Naya


“Wa’alaikum salam sayang” jawab Naya tersenyum hangat


Nayapun menatap keduanya pergi.


“Jeng nanti kalau yang diperut sudah lahiran jangan lupa sama Aydin yang lucu itu” ucap Jeng Lidya memulai pembicaraan


“Iya Bu, saya tidak akan membeda-bedakan anak saya” ucap Naya dengan senyum


“Tapi kamu untung loh Jeng, anak pertama menyambut banget sama adik yang mau lahir. Sebagian malah ada anak yang gak mau punya adik, kayak si Adi kemaren. Ribet banget jeng membujuknya” cerita Jeng Putri


“Alhamdulillah bu, Aydin mengerti dan sudah sangat menginginkan adik” jawab Naya


“Hm, tapi Naya merasa bingung bagaimana nanti supaya Aydin mendapat perhatian yang sama seperti biasanya, kan Naya sambil ngurus anak bayi nih Bu, gak mungkin bisa fokus ke Aydin seperti biasanya” tanya Naya meminta saran


“Itu sih harus teamwork yang mendukung Jeng. Terutama suami kamu, ketika kamu sedang menyusui atau mengurus sikecil pastikan Aydin ada yang menemani atau kalau suami kamu gak ada kamu harus melibatkan Aydin dalam kesibukan kamu mengurus sikecil Jeng supaya dia tidak merasa terlupakan” ucap Jeng Putri


“Iya Jeng, misalnya pas kamu mau memandikan bayi. Kamu bisa meminta tolong aydin untuk menjadi asisten kamu Jeng, seperti membantu mengambilkan sabun” tambah Jeng Lidya


“Ooooh, Naya mengerti bu. Terimakasih atas masukannya” ucap Naya merasa terbantu dengan saran yang ada


“Hm, Naya rasa nanti akan butuh Bu jika si kecil sudah mulai aktif” ucap Naya yang memang sudah ada pembicaraan tentang ini


“Iya Nay, menurut aku dibulan awal-awal ini kamu masih bisa mengurus dua bayi sekaligus apalagi ada Ibu kamu yang pastinya siap membantu. Tapi nanti pas mereka sudah mulai aktif, bakalan kewalahan kamu Nay” ucap Jeng Nia


“Hehehe, iya Bu. Naya rasa juga tidak sanggup jika mengejar dua bayi yang sudah bisa berjalan” ucap Naya ikut tertawa


“Haha, perlu jurus seribu bayangan Jeng biar bisa jaga satu-satu…” ucap Jeng Lidya yang mengetahui jurus tersebut dari kartun kesukaan anaknya


“Kalau ada didunia nyata jurus-jurus begituan jeng, mudah banget jadinya” respon Jeng Putri


“Oh ya jeng, gimana kamu udah siap lahiran belum ?” Tanya Jeng ayu


“Bismillah Bu, InsyaAllah siap” ucap Naya


“Rencananya mau sesar apa normal jeng ?” Tanya Jeng Nia


“Kalau Naya rencananya ingin normal saja Bu, tapi katanya kalau anak kembar agak susah untuk lahiran normal” ucap Naya memberi tahu

__ADS_1


“Iya sih Nay, rata-rata kalu kembar itu di sesar lahirannya. Tapi ya kalau sesar itu ribet entarnya, gak boleh ini gak boleh itu” ucap Jeng Ayu membagi pengalamannya


“Hm, benarkah Bu ? apa sesar itu banyak pantangannya ?” Tanya Naya ingin lebih tau


“Ya kamu gak bisa banyak gerak dulu Nay habis operasi jadinya kan gak bisa fokus sama babynya” jawab Jeng Ayu


“Hm,,, begitu ya Bu” respon Naya sambil mengangguk pelan


“Tapi kalau lahiran normal, Beeeh ! sakitnya gak ketolong Jeng” ucap Jeng Lidya


“Iya jeng, kayak tulang kita retak seribu tau gak” tambah Jeng Putri yang juga pernah lahiran normal


“Ya itukan memang perjuangannya seorang wanita yang melahirkan Jeng, kalau aku sudah pernah merasakan keduanya. Waktu lahiran pertama normal terus yang kedua normal karena posisi bayi yang gak memungkinkan buat normal” ucap Jeng Nia


“Gimana Jeng, mana yang lebih sakit ?” Tanya Jeng Lidya


“Keduanya sih punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing Jeng. Kalau menurut aku lahiran normal itu memang berasa banget sakitnya pas ngeden itu, tapi setelahnya gak lama kita sudah bisa beraktivitas seperti biasa yang pastinya ada tambahan ngurus debay ya. Tapi kalau yang sesar gak berasa sakitnya, tapi setelahnya ya gitu kita gak bisa fokus sama debaynya karena kita juga harus ngerawat bekas sesarnya” ucap Jeng Nia menjelaskan pengalamannya


“Ujung-ujungnya kita juga harus lihat keadaan si debaynya dan saran dari dokter jeng bagusnya gimana” sambung Jeng Nia


“Bagaimanapun cara melahirkannya, kita semua tetaplah menjadi seorang ibu dari anak yang kita lahirkan itu jeng. Gak ada perbedaanya” ucap jeng Ayu


“Iya Jeng, setelah melahirkan masih ada tanggung jawab besar yang harus kita emban. Yaitu membesarkan mereka” ucap jeng Putri


“Betul, betul, betul,,, jangan tau bikin aja Jeng. kalau berani bikin berarti sudah tau juga sama tanggung jawab kedepannya nanti” ucap jeng Lidya


“Iya bu, terimakasih atas nasehat dan sharingnya. Naya merasa semakin terbuka wawasan untuk kedepannya” ucap Naya tulus


“Sans saja Jeng, kita itu ibaratkan perkumpulan serba bisa. Bisa jadi ibu-ibu pengajian, ibu-ibu kedoteran, ibu-ibu gossip itu juga pasti bisa Jeng” ucap Jeng Nia


“Humfftttt…” suara tawa seseorang yang tertahan masuk ditelinga mereka


.


.


.


See you next episode guys 😉


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 👣

__ADS_1


Nah kan ada yang nguping pembicaraan, diketawain lagi. Siapakah dia ? 🤭


__ADS_2