I Want Bunda

I Want Bunda
Episode 188


__ADS_3

“Bukhhh !!!”


“Akhhhh, Shhht…. sakit banget !” desis Naya yang terpeleset dikamar mandi setelah buang air kecil


“Darah ?” kata Naya kaget


“MAAAAS !” Teriak Naya sebisanya


“Akh, aku harus sampai membuka pintu” gumam Naya sambil berusaha menahan sakitnya dia merangkak menggapai pintu


“Maaassss…. tuuukkhh, tuuukh,” ucap naya lagi sambil menggedor pintu kamar mandi


“Sayang maafkan Bunda, kamu baik-baik saja kan disana ?” Tanya Naya sambil mengelus perutnya


“MAAAS… tuuuk,, tuuuk,,, tuuuk,,,” Naya berusaha sekuat tenaga untuk memukul pintu


“Sayang ?” terdengar dari luar suara Derya


“Maaaas !” ucap Naya lagi sambil menggedor pintu kamar mandi


“Sayang kamu dikamar mandi” ucap Derya yang terdengar dekat


“Iya mas, tolongin Naya. Tuuuk,,, tuuuk” respon Naya sebisanya dengan suara yang mulai melemah


“Sayang ? kamu,,, kamu pendarahan” ucap Derya gagap karena mendapati istrinya dengan kondisi begitu


“Sayang tetap sadar, kita segera kerumah sakit” ucap Derya langsung menggendong Naya kebawah dan langsung menaikai mobil


“Sayang aku mohon bertahan” ucap Derya sambil menggengam tangan Naya dan satu tangan lainnya menyetir dengan secepat mungkin


“Sayang, kamu kuat ! Tetap sadar sayang” ucap Derya sampai tidak terasa air mata jatuh membasahi pipinya


“Sayang, jangan tinggalkan aku” ucap Derya semakin takut


“Mas, maaf” ucap Naya lemah


“Sayang simpan tenanga kamu, jangan berbicara. Ini bukan waktunya untuk minta maaf” ucap Derya semakin khawatir


“Tteeeeeeet,,, teeeet,,, cepat minggir ini keadaan darurat !” teriak Derya membunyikan klakson sambil membuka kaca mobil agar terdengar orang didepannya


“Sayang, sebentar lagi kita sampai” ucap Derya mengenggam tangan Naya semakin erat


“Mas, Naya kuat kok. ada dua nyawa yang harus kita selamatkan” ucap Naya lemah namun masih bisa tersenyum sambil terus berdo’a untuk keselamatan kedua janin diperutnya


“Tidak, ada tiga nyawa dan semuanya harus selamat serta kembali sehat” ucap Derya semakin melaju

__ADS_1


“Sayang, kita sampai. Kita sudah sampai” ucap Derya bergegas keluar dari mobil dan menggendong Naya


“Suuus, TOLOOONG ISTRI SAYA !!!!” teriak Derya sambil menggendong Naya


“Pak Derya, bapak tenang dulu. Letakkan Ibu Naya diranjang, kami akan segera bertindak” ucap suster dengan sigap menolong pasiennya


“Pak Derya apa penyebab pendarahan terjadi ? hari kelahiran sekitar 10 hari lagi, seharusnya tidak akan terjadi pendarahan hebat seperi ini” Tanya salah satu suster yang memang sudah disiapkan untuk mengurusi kelahiran nanti


“Saya tidak tau, sepertinya terjadi sesuatu saat dia dikamar mandi. Sus tolong selamatkan istri dan kedua anak saya” ucap Derya masih menggengam tangan Naya sambil ranjang didorong menuju ICU


“Sayang kita sudah dirumah sakit, kamu harus berjuang sayang. Jangan tinggalkan mas” ucap Derya sambil mencium kedua punggung tangan Naya


Naya hanya bisa mengangguk dengan lemah, dia berasa sangat bersalah karena membuat sang suami begitu khawatir


“Siapkan ruangan kita akan segera melakukan operasi” ucap sang dokter yang baru datang menghampiri


“Dokter Hadi, tolong istri saya” ucap Derya melihat sang dokter yang biasa menangani kehamilan Naya


“Sepertinya Ibu Naya mengalami benturan yang cukup kencang sehingga terjadi pendarahan seperti ini” ucap Dokter Hadi menganalisis kondisi pasien


“Sepertinya Naya terpeleset waktu dikamar mandi dok. Dok tolong selematkan istri dan anak saya” pinta Derya dengan air mata yang terus mengalir tanpa disadarinya


“Bapak Derya tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamat ibu dan juga bayinya” ucap Dokter Hadi


“Iya mas” jawab Naya lemah sambil mengusap lembut wajah sang suami


Laki-laki yang begitu tegar, selalu menunjukkan sisi dinginnya kepada bawahannya kecuali Anton, kini menangis lemah dihadapannya. Naya sungguh merasa bersalah dengan keputusannya untuk tidak menunggu Derya saat itu. Namun apalah Daya nasi sudah menjadi bubur, saat ini yang bisa Naya lakukan hanyalah berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan kedua bayi yang diamanahi kepada keluarganya.


“Bapak silahkan tunggu diluar” ucap sang suster menghalangi Derya untuk ikut masuk ke ruang operasi


“Tidak ! saya tidak ingin meninggalkan istri saya” ucap Derya kekeh


“Mohon maaf Pak tidak bisa, Dokter harus fokus saat melakukan operasi” ucap Suster


“Saya sudah membuat janji dengan dokter Hadi bahwa saya bisa ikut operasi ketika istri saya melahirkan !” ucap Derya tetap menerobos


“Kondisinya pasien berbeda Pak, istri Bapak harus mendapat penangan yang berbeda daripada operasi sesar pada umumnya” ucap sang suster


“Tidak ! saya harus tetap masuk !” ucap Derya berhasil masuk dan mendapati dokter hadi sedang membasuh tangan untuk bersiap opreasi


“Sus, ijikan saja. Dengan syarat dia harus tetap tenang dan jangan mengacau didalam” ucap dokter hadi


“Baik dok, silahkan Pak Derya memakai baju ini dan masker” ucap sang suster memberikan baju operasi pada Derya


“Terimakasih” ucap Derya dengan sigap memakai baju tersebut dan masuk

__ADS_1


“Sayang” ucap Derya menghampiri istrinya yang sudah setengah sadar


“Kamu baik-baik saja sayang, kedua anak kita akan selamat. Kamu wanita yang kuat” bisik Derya pada Naya yang perutnya mulai dibedah


“Cuup,,, sayang kamu kuat” ucap Derya sambil mengecup dahi Naya dengan penuh kasih sayang


Derya terus berdo’a dalam hatinya, sambil membacakan surah Al-Inshiqaq untuk menenagkan Naya. Sentuhan fisik seperti kecupan dan juga elusan serta genggam juga Derya lakukan agar sang istri semakin kuat, Derya berusaha untuk tidak terlihat panik didepan Naya seperti latihan yang sudah mereka lakukan.


Peran suami adalah menguatkan disaat sang istri sedang berjuang untuk melahirkan dan tugas sang istri adalah melahirkan dengan sekuat tenanganya, menyelesaikan amanah mengandung untuk membuat sang jabang bayi dapat melihat dunia.


Sementara diluar ruang operasi ibu Naya dan juga Metin dan Alara yang baru saja mendarat karena mendengar perut Naya kram tadi pagi menunggu dengan harap-harap cemas. Keluarga dapat kabar tersebut dari bi Lastri yang melihat majikannya panik membawa Naya menuju mobil, syukurlah segala perlengakapan bayi dan untuk melahirkan sudah dimuat dalam mobil.


“Kenapa begini ? tadi sebelum saya pergi Naya masih baik-baik saja” ucap Nisa ibu Naya khawatir


“Naya wanita yang kuat Nisa, dia akan berjuang dengan sekuat tenanga” ucap Alara menenagkan


“Terimakasih bu Ala, iya saya juga yakin akan hal itu” ucap Nisa merasa lebih tenang mendengar ucapan Alara


“Kita sebaiknya memanjatkan do’a untuk kelancaran Naya melahirkan Nisa, jangan berpikir hal yang tidak-tidak. Semuanya kita serahkan pada Allah” ucap Alara lagi


“Silahakan diminum” ucap Metin yang sebenarnya juga panic namun dia berusaha menahannya


“Terimakasih Pak Metin” ucap Nisa menerima pemberian metin


“Ya” sahut Metin singkat


“InsyaAllah Naya akan dimudahkan sa, aku juga sangat ingin bertemu cicit baruku dan menantu cucuku melihat mereka dalam keadaan sehat” ucap Alara


“Aamiin bu” ucap Nisa mengaminkan


Sudah hampir setengah jam mereka lalui dengan harap-harap cemas, berdo’a dan positif thingking dengan takdir Allah hanya itulah yang dapat mereka lakukan saat ini


.


.


.


See you next episode ya 😉~~~


Menjelang episode² terakhir nih guys, rasanya author gak mau pisah sama reader setianya IWB nih... huhuhu 😭😭😭


Kira² bakalan ada 3 episode atau lebih 😁 lagi sebelum cerita ini tamat, tungguin ya guys 🤗🤗🤗


Sambil nunggu jangan lupa like, komen, and vote ❤️

__ADS_1


__ADS_2