
"Oeeek,,, oeek,,, oeeekk….” Tangisan dari sebuah bayi putih tanpa dosa itu terdengar sampai keluar ruangan
“Hah ? ciapa yang menangis didalam aunty ?” tanya Kivanc segera menoleh kearah ruangan
“Adik bayi” ucap Dinda
“Hah ? kenapa adik bayi menangis ? kan macih didalam pelut Unda” tanya Kivanc lagi
“Cucu kesayangan nini, didalam itu Bunda sedang melahirkan. Adik bayi yang diperut Bunda akan keluar dan terlahir kedunia ini. Sekarag Kivanc punya dua adik, hm…” ucap Nisa sambil mengelus rambut Kivanc
“Hah ? adik bayi cudah keluar dali pelut Unda ?” tanya Kivanc
“Ya, adik bayi sudah keluar. Bertambah lagi satu keluarga baru dikeluarga kita” ucap Nisa tersenyum syukur
“Waaah,,, Ipan ingin lihaat !!!” ucap Kivanc segera menuju pintu operasi ingin masuk
“Eeeh, Kivanc tidak bisa masuk kesana nak” ucap Nisa ingin menahan Kivanc namun anak itu sangat licin seperti belum
“Unda, apa Unda didalam ? Ipan ingin lihat adik bayi lahil ! Tok,tok,tok,,,” ucap Kivanc sambil mengetuk pintu
“Ah ada doktel ! Doktel Ipan ingin macuk !” ucap Kivanc sambil melambai-lambaikan tangannya
Tiba-tiba pintu terbuka dan Kivanc sedikit kaget, sehingga dirinya mengalami kagum sesaat
“Adek, selamat ya sekarang sudah menjadi kakak. Adek tidak bisa masuk kedalam karena suster masih mengurus adik bayi dan bundanya” ucap sang dokter
“Yaah, lalu kapan Ipan bica lihat adik bayi doktel ?” tanya Kivanc
“Hm,,, nanti kalian bisa melihatnya diruangan sana. Saya permisi dulu ya” ucap sang dokter menunjuk salah satu ruangan yang tak jauh dari ruang bersalin
“Kita halus kemana aunty ? Ipan cangat ingin melihat adik bayi” ucap Kivanc cemberut
“Kita tunggu sebentar lagi, mungkin nanti Kak Naya akan dipindahkan keruang inap. Jadi setidaknya kita bisa melihat Bunda Kivanc dulu” ucap Sarah
“Hm, baiklah ! De Ila ayo duduk” ucap Kivanc menarik tangan Kila namun tidak tergerak sedikitpun
“De Ila, ayo !” ucap Kivanc lagi sambil melihat wajah melamun Kila
“De Ila kenapa cih ? De !” ucap Kivanc sambil mengguncang bahu Kila
“Abang ? apa sekarang Kila jadi kakak ? sama seperti Kak Aydin dan abang Ipan ?” tanya Kila masih dengan ekspresi melamunnya
“Hm,, iya ya. Belalti cekalang de Ila tidak dipanggil adik lagi. Tapi kak Kila oleh adek bayu” ucap Kivanc sambil berpikir
“Bayu ? nama adik kita bayu bang ?” tanya Kila
“Tidak ! Makcud Ipan adik bayu de Ilaaaa” ucap Kivanc penuh penekanan
“Haa,,, adik baru” ucap Kila baru paham
__ADS_1
“Benal ! cekalang ayo kita duduk cambil tunggu Unda dan Adik bayu” ucap Kivanc
“Hm” ucap Kila mengangguk sambil mengikuti langkah Kivanc. Kila benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan menjadi seorang kaka lebih cepat, bahkan dia belum menyiapkan apa-apa untuk adik barunya itu sehingga dia melamun dengan semua pikiran yang ada dibenaknya.
Beberapa menit kemudian nampak sebuah ranjang didorong keluar dari ruangan operasi, Nisa, Dinda, Sarah, serta double K segera bangkit dari duduk mereka menyambut wanita hebat yang telah berjuang hari ini
“Ibu…” ucap Derya segera menyalimi sang mertua
“Bagaiaman ? keduanya selamat bukan ?” tanya Nisa penuh harap
“Alhamdulillah semuanya selamat, tapi…” ucap Derya tidak bisa melanjutkan kata-kata
“Pak Derya silahkan kemeja administrasi terlebih dahulu untuk mengurus ruang inap” ucap salah satu suster memanggil Derya
“Bu, tolong jaga Naya sebentar ya” ucap Derya segera pamit
“Nak,,, Naya….” Ucap Nisa segera menyusul ranjang Naya yang terus didorong menuju ruang inapnya
“Naya, anakku…” ucap Nisa lagi sambil memegang tangan Naya
“Maaf bu, pasien masih belum sadarkan diri. Mungkin beberapa saat lagi akan siuman” ucap salah satu perawat yang membantu mendorong
“Deg ! apa yang terjadi didalam ruang oprasi ?” batin Nisa terasa dihantam batu karang besar
“Kenapa ?” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Nisa
“Pasien mengalami pendarahan sebelum melahirkan, lalu proses operasi juga lebih lama dari perkiraan sehingga pasien mengalami kelelahan” ucap sang perawat yang membantu operasi tadi
“Kami hanya memprediksi pasien akan sadar dalam beberapa jam. Tergantung dengan keadaan fisik dan mental pasien” ucap sang perawat lagi
“Kita sudah sampai, permisi kami ingin memindahkan pasien keranjang” ucap perwat tersebut lalu mereka bersama-sama mengangkat Naya menggunakan seprei tesebut keranjang lainnya
Sementara dibelakang mereka sejak tadi ada yang berubah menjadi jerapah karena lehernya yang terus melihat kesana-kemari mencari keberadaan yang dinanti-nanti
“Custel ! dimana adik bayu ?” tanya Kivanc pada perawat laki-laki
“Adik bayu ada diruang lainnya, dia harus berada diruangan khusus beberapa hari ini” ucap perawat tersebut
“Bukan adik bayu custel ! tapi adik yang ada dipelut Unda, adik Ila dan Ipan” ucap Kivanc menjelaskan
“Aaah, adik baru maksudnya. Ya dia ada diruangan khusus kalian bisa menjenguknya dari luar nanti” ucap perawat tersebut akhirnya paham bahasa Kivanc
“Kenapa adik bayu tidak dibawa kemali ? adik bayu halus picah sama Unda ? oh ya Unda kenapa tidul telus cih dali tadi ?” ucap Kivanc yang penuh pertanyaan
“Em, anu,,, gini dek,,,” ucap perawat tersebut bingung untuk menjelaskan
“Hiks,,, hiks,,, huu,,,huuu,,,,” terdengar isak tangis disamping Kivanc
“De Ila kenapa menangis ?” tanya Kivanc segera menoleh
__ADS_1
“Adik,,, hiks,,, apa adik baru sakit karena keluar lebih cepat ?” tanya Kila yang sejak tadi diam sambil berfikir akhirnya menyimpulkan
“Emm,,, ya itu tidak sepenuhnya benar. Adik kalian ada diruangan khusus karena lahir lebih cepat, namun semuanya normal dia tidak sakit. Jika kondisinya semakin stabil nanti bisa dibawa segera kemari” ucap perawat tersebut merasa tertolong oleh Kila
“Hiks,,, lalu Bunda juga sakit ya om ?” tanya Kila
“Om ? apa wajahku terlihat tua ? perasaan tiap hari perawatan loh” batin perawat tersebut sambil memegang wajahnya
“Benar ya ? Bunda juga sakit ?” tanya Kila semakin tertunduk
“Tidak sayang, Bunda hanya kelelahan saat melahirkan adik, nanti Bunda juga akan terbangun” ucap Nisa menenagkan cucunya
“Kila ingin disamping Bunda” ucap Kila menghapus air matanya
“Boleh sayang, ayo duduk disini” ucap Nisa membawa Kila duduk disamping Naya
“Ajak ngobrol Bundanya ya biar segera bangun” ucap Nisa
“Baik nini” ucap Kila
“Oh ya, bagaimana dengan Nak Anton Sarah, apa lebih baik ?” tanya Nisa pada Sarah
“Om Anton pakai kalung aneh Bu, Sarah sampai sakit perut menertawakannya. Haha….” Ucap Sarah
“Kenapa masih memanggil om kalau dengan Ibu ? biasanya kalian saling memanggil sayang dan honey” ucap Nisa menggoda
“Bu,,, Sarah malu ih… jangan mengejek sarah seperti itu” ucap Sarah menutup wajahnya
“Hehe,,, mana ada ibu mengejek kalian. Itukan tandanya kalian mesra dan saling menyayangi bukan ?” ucap Nisa lagi
“Hm, benar.” Ucap Sarah menurunkan tangannya yang menutup wajah
“Ibu belum sempat menjenguk Anton dan Aydin. Kamu boleh temani ibu kesana ?” tanya Nisa
“Siap bu, mau kemana kita ?” tanya Sarah dengan bernada dora
“Menjenguk suamimu dan cucu pertamaku” ucap Nisa
“Maksud Sarah mau yang mana duluan nyonyaaah” ucap Sarah dengan gaya lucunya
“Hehe, mari kita keruangan Anton dulu” ucap Nisa
“Berangkaat !” ucap Sarah bersemangat
.
.
.
__ADS_1
See you next episode ya 😉
Happy new years guys✨✨✨