I Want Bunda

I Want Bunda
Episode 189


__ADS_3

Sementara itu disebuah sekolah, seorang anak nampak gelisah dengan duduknya. Dia tidak bisa fokus menyimak pembelajaran guru.


“Aydin, ada apa ?” tegur sang guru ketika melihat Aydin yang sebentar menunduk diringi helaan nafasnya lalu mendongkak kembali


“Em, anu bu guru. Apa boleh Aydin ijin keluar sebentar menemui bi Ira ?” Tanya Aydin memberanikan diri


“Iya silahkan” ucap sang guru meberi ijin


“Terimakasih bu guru” ucap Aydin bergegas berjalan menuju pintu keluar


“Kenapa din ?” Tanya siti yang dilewati Aydin saat berjalan menuju keluar


“Tidak apa, hanya ada yang ingin aku tanyakan ti” ucap Aydin kemudian berlalu


“Ada apa bos kecil ?” Tanya Bi Ira segera mengahampiri Aydin


“Bi ira, Apa Aydin boleh menelphone Bunda ?” Tanya anak mochi


“Hm, bisa kok. memangnya kenapa Bos ?” Tanya Bi Ira


“Tidak apa, aydin hanya merindukan Bunda” ucap Aydin dengan ekspresi sedih


“Ini bos kecil” ucap bi Ira menyerahkan handphonenya


“Tuuut,, tuuut,,,tuuut,,,” nada hubung terus berbunyi namun tidak ada yang mengangkat telephone


“Tidak di angkat bi, apa boleh menelphone ke rumah saja ?” Tanya Aydin lagi


“Boleh bos, silahkan dipakai saja” ucap bi Ira


“Tuuut,,,” telephone langsung diangkat


“Assalamu’alaikum, bi Lastri apa Bunda ada dirumah ?” Tanya Aydin


“Em, anu bos kecil. Bundanya lagi tidak dirumah” jawab bi Lastri kebingungan


“Bunda kemana bi ?” Tanya Aydin


“Anu bos, apa bisa serahkan ponselnya ke bi Ira. Nanti bibi ceritakan kepada bi Ira” ucap Bi Lastri merasa tidak bisa menceritakan kondisi Naya kepada anak kecil


“Bi Lastri sampaikan saja ke Aydin, nanti Aydin beritahu Bi Ira” jawab Aydin semakin gelisah


“Hm, begini bos kecil Bundanya Aydin lagi ada dirumah sakit karena adik bayi mau keluar” ucap bi Lastri ragu


“Rumah sakit mana bi ? tolong berikan alamatnya ya. Aydin akan segera ijin “ ucap Adyin langsung mematikan sambungan telephone


“Kenapa bos, siapa yang dirumah sakit ?” Tanya bi Ira bingung dengan wajah Aydin yang mulai menahan air mata


“Hiksss, Bi Ira bantu Aydin ijin sekolah. Aydin mau menemui Bunda” rengek Aydin mulai menangis


“I,,iya bos kecil. Tapi tolong jelaskan sama Bi Ira Bundanya kenapa ? Nyonya Naya masuk rumah sakit ?” Tanya bi Ira memastikan

__ADS_1


“Hiks, iya bi. Adik bayi tidak menepati janjinya, adik,, adik,,, ingin keluar tanpa ada Aydin, Hiksss…” jawab Aydin semakin sesegukan


“Cuup,,,cuuup,,, sudah ya bos kecil jangan menangis” peluk bi Ira menenagkan


“Kenapa dengan Aydin ?” Tanya Jeng Ayu yang kebetulan dirinya dan para geng baru kembali dari kantin sekolah


“Kenapa menangis begini Jeng ?”Tanya Jeng Nia yang juga penasaran


“Em, begini bu. Nyonya Naya sedang dirumah sakit” jawab bi Ira


“Hah ?” kaget Jeng Ayu


“Apa ?” ucap Jeng Nia


“Beneran ?” Tanya Jeng Lidya


“Yang bener Jeng ?” Tanya Jeng Putri


“I…iya Bu. Apa boleh saya minta tolong untuk menenagkan Aydin. Saya ingin meminta ijin dulu kepada wali kelas” ucap bi Ira tergagap


“Iya Jeng, kamu urus dulu ijinnya Aydin” ucap Jeng Ayu


“Iya tenang ada kita disini” ucap Jeng Putri langsung mendekati Aydin dan berjongkok


“Aydin, jangan menangis ya” hibur Jeng Putri


“Kalau begitu saya permisi dulu” ucap Bi Ira segera bergegas


Semua mengangguk dan mendekati Aydin untuk menghiburnya.


“Iya, Tante percaya sama Bundanya Aydin pasti bisa melahirkan adik bayi dengan selamat. Aydin juga harus yakin dengan itu” hibur Jeng Putri


“Hm…” angguk Aydin masih dengan ekspresi sedihnya


“Berdo’a ya sayang buat kekuatan Bunda kamu” ucap Jeng Nia sambil mengelus kepala anak mochi


Semuanya menenangkan anak mochi, walau dihari mereka juga khawatir dan penasaran mengapa Naya dibawa kerumah sakit sebelum hari melahirkan, apa yang terjadi pada wanita muda itu ?


“BOOOOS !” teriak seseorang dari lorong sekolah, kemudian orang tersebut segera berlari menghampiri Aydin


“Huuuh,,,huuuuh,,, Bos kecil are you okey ?” Tanya Anton dengan ngos-ngosan


“Hm…” angguk Aydin masih murung


“Masih bisa jika bos kecil ingin menyemangati Kanjeng Ratu. Ayo kita berangkat sekarang !” ucap Anton tidak memperdulikan keberadaan geng bu-ibu disana dan langsung menarik Aydin


“Eeeeh, itu Aydin mau dibawa kemana ?” Tanya Jeng Nia berhasil menarik kerah baju Anton


“Ya Mau dibawa kerumah sakitlah Jeng. Jangan menghambat perjuangan kesatria ini Jeng !” ucap Anton berusaha melepaskan cengkraman jeng Nia


“Kesatria kodok !” gumam Jeng Putri meledek Anton

__ADS_1


“Tapi ijinnya masih diproses Ton, jangan asal bawa aja !” ucap Jeng Nia tak mau kalah


“Apakah kalian semua tidak merasa kasihan dengan seorang anak yang sangat mengkhawatirkan ibunya yang melahirkan ? apa kalian tidak tersentuh dengan kasih sayang seorang anak kepada ibunya ? apa kalian Hmmmmfff,,,hmmmmfff…” ucap Anton dengan wajah serius namun terhenti oleh bekapan Jeng Lidya


“Udah sana pergi. Hubungi kami jika Naya sudah siuman !” ucap Jeng Lidya menengahi, toh ijin Aydin juga sudah di urus. Anton juga orang kepercayaannya Naya jadi tidak perlu membuat drama untuk hal ini


“Saya permisi” ucap Anton sambil memberi salam ala kerajaan


“Syuuuh,, sana sana,,,” usir Jeng Lidya, Anton hanya memutar matanya mendapati respon seperti itu dari bu-ibu ini


“Jeng, itu ijinya belum selesai” ucap Jeng Nia


“Itu Jeng Ira sudah datang, artinya urusan ijin sudah beres” ucap Jeng Lidya sambil menunjuk dengan dagu kedatangan bi Ira


“Bos kecilnya kemana Bu ?” tanya bi Ira kebingungan mencari keberadaan Aydin


“Sudah dibawa kesatria kodok bi” ucap Jeng Lidya


“Siapa itu bu?” Tanya Bi Ira semakin bingun dan mulai panik


“Dibawa Anton” jawab mereka serentak


“Oooh, syukurlah jika itu Anton. Dia tadi sudah menghubingi saya bahwa ingin menjemput Aydin dan juga adik-adik Nyonya Naya” ucap bi Ira kemudian dapat duduk dengan sedikit tenang


“Semoga saja Naya tidak apa-apa !” harap mereka berempat dalam hati masing-masing, bagaimanapun yang namanya melahirkan adalah saat dimana seorang perempuan berada diantara hidup dan mati, sebuah tugas berat yang harus ditanggung oleh perempuan, dan itulah yang membuat perempuan itu special.


---


Kembali kesuasana di rumah sakit, Naya hanya bisa memasrahkan semuanya kepada dokter dan kehendak Allah, Naya sebisa mungkin menjaga kesadarannya agar sang suami tidak semakin khawatir.


“Oeeeekkkk,,,ooeeeekkk,,,” suara tangisan bayi terdengar didalam ruangan dengan perjuangan hampir satu jam setelah mengehentikan pendarahan terlebih dahulu


“Pasien banyak kehilangan darah, perbanyak trafusinya !” perintah sang dokter


“Sayang, kamu kuat. Satu lagi ya….” Ucap Derya masih diselimuti rasa khawatir


Di satu sisi dia merasa senang, karena putera keduanya kini sudah terlahir kedunia. Senyum menghiasi wajah Derya saat melihat bayi yang menangis itu diperiksa dan dibersihkan oleh perawat.


“Sayang, lihat satu kecebong mas sudah lahir kedunia” ucap Derya memberitahu Naya


“Iya Mas” ucap Naya lemah namun tak bisa dipungkiri kebahagiaan itu menyelimuti hatinya saat mendengar suara tangis bayi tersebut


“Masih ada satu bayi lagi, semuanya tetap siaga diposisi” ucap Sang dokter akan memulai mengeluarkan bayi yang kedua


.


.


.


See you next episode ya 😉~~~

__ADS_1


Thanks semua yang sudah setia dengan IWB ❤️


Perjuangan belum berakhir guys, ayo semangatin Naya buat buat lahirin satu bayi lagi. Kira² kembar pengantin atau kembar cowo nih adiknya anak mochi ?


__ADS_2