
“Aydin ?” kata Naya sambil menyentuh pundak anak tersebut
“Kamu,,, ke…ke,,,” Naya tidak dapat melanjutkan kata-katanya
“Bunda !!!” jawab Aydin senang dan menghampiri Naya lalu memeluknya
“Kamu kenapa sayang ? ada apa dengan jidat kamu ?” kata Naya akhirnya bisa lanjutkan kata-katanya
“Tidak apa-apa Bunda, ini tanda Aydin laki-laki hebat bukan ?” kata Aydin masih dengan nada ceria
“Tidak apa-apa bagaimana, jika kamu terluka itu sakit bukan ? kamu tidak boleh terus mendapat luka sayang… Kamu kesini dengan siapa ? dengan om Anton bukan ?” tanya Naya beruntun
“Em,,, “ kata Aydin sambil menggeleng
“Hah, kamu sendirian kesini ? bagaimana bisa ???” kata Naya terkejut
“Bisa donk kan Aydin pintar Bunda” jawab Aydin
“Halo Kakak baik…” kata Naura yang sejak tadi terabaikan
“Hai cantik, kamu Naurakan ? yang waktu itu kita bertemu ditaman ini ?” tanya Naya memastikan
“Iya kak, aku Naurra” kata Naura senang karena kakak baik mengingatnya
“Wah,,, Naura sudah bisa menyebutkan huruf R ternyata, hebat…” puji Naya
“Iya donk, kan Aydin gurunya Bunda” kata Aydin membanggakan diri
“Maksudnya ?” kata Naya sedikit bingung
“Aydin yang mengajari Naura supaya bisa menyebut huruf R Bunda” jelas Aydin
“Apa benar ?” tanya Naya kepada Naura
“iya Kak, Aydin mengajarri Naurra sebagai imbalan karrena Naurra membelikan rroti untuknya” jawab Naura jujur
“Hm,,, Kenapa Aydin mengajari naura dengan imbalan ? “ Tanya Naya beralih ke Aydin
“Hmm,, karena Aydin lapar Bunda. Aydin tidak ingin berhutang budi jadi Aydin mengajari Naura untuk membalasnya. Kata Ayah Aydin begitu, jika ada yang membantu Aydin, Aydin harus membalasnya agar tidak berhutang budi” kata Aydin mengatakan alasannya
“Pintar ternyata anak Bunda,,, hehe” kata Naya sambil mengusap kepala Aydin
“Ini jidatnya siapa yang kasih plester sayang ?” tanya Naya beralih pada luka Aydin
“Astagfirullah, ini kenapa leher kamu merah seperti ini ? apa ada yang ingin melukai Aydin ?” tanya Naya kaget karena baru menyadari memar tersebut karena tertutup kerah
“Hm,,, tidak ada kok Bunda. Tadi ada om brewok mau ambil hp Aydin, terus ketarik leher Aydin karena tidak sengaja” jawab Aydin
“APA ??? Handphone Aydin diambil orang ? pantas saja Bunda hubungi sudah tidak aktif lagi. Apa masih ada lagi yang terluka sayang ? ayo kita kerumah sakit ya…” kata Naya sangat khawatir
__ADS_1
“Tidak ada Bunda, Aydin baik-baik saja” jawab Aydin tersenyum senang karena Naya sangat mengkhawatirkan dirinya
“Ayah kamu tidak tahukan kalau kamu ingin menemui Bunda disini ?” tanya Naya curiga
“Maaf bunda” kata Aydin tertunduk
“Humfff,,, sayang ijin orang tua itu penting. Ayah Aydin pasti sangat mengkwatirkan Aydin sekarang. Ayo kita hubungi Ayah Aydin ulu ya…” bujuk Naya
“Jangan Bunda, nanti Ayah akan memarahi Aydin dan melarang Aydin untuk bertemu Bunda” kata anak Mochi
“Terus sampai kapan Aydin tidak ingin memberitahu Ayah ? itu akan membuatnya semakin khawatir sayang. Lihat memar ini dan luka didahi Aydin ? apa itu sudah diobati dengan benar, jika lukanya tidak diobati dengan benar Ayah Aydin dia akan semakin kwatir…” kata Naya mencoba menjelaskan agar anak Mochi mengerti maksud dirinya
“Aydin akan menghubungi om Anton saja Bunda…” kata Aydin masih tertunduk
“Humf,,,, baiklah ceritakan semuanya dengan om Anton agar dia bisa memberitahu Ayah Aydin…” kata Naya sambil memberikan ponselnya
“Hem,,,” kata Aydin sambil mengambil handphone Naya
“Naura, apa luka Aydin sudah dibersihkan sayang sebelum diberi plester tadi ?” tanya Naya kepada Naura yang sejak tadi hanya memperhatikan
“Belum kak, Naurra tidak punya. Naurra hanya memiliki plesterr” jawab Naura
“Terimakasih ya Naura sudah mengobati Aydin…” kata Naya sambil mengusap pucuk kepala Naura
“Iya…” jawab Naura tersenyum
“Kak, Naurra pulang dulu ya. Takut dicarri Ibu” kata Naura berpamitan
“Tidak usah kak, rumah Naurra dekat sini kok” jawab Naura
“Iya, baiklah. Hati-hati ya…” kata Naya akhirnya
“Dadah kakak baik, dah Aydin…” ucap Naura sambil pergi menjauh dari tempat duduk mereka
“Dadah Naullllaaaa…” ucap Aydin
“Naurrraaa…” teriak Naura yang sudah agak jauh dari mereka
“Iya,,, Naullaa..” kata Aydin masih mengejek Naura
“Huhh…” respon Naura kemudian memalingkan wajahnya karena kesal
“Aydin, kenapa begitu sayang ?” tegur Naya halus
“Aydin senang karena Naura mau menjadi teman Aydin bunda” kata Aydin sambil tersenyum
“Cieee yang punya teman baru…” goda Naya
“Bunda, ihhh… “kata Aydin malu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
__ADS_1
“Hahaha, sekarang Aydin jadi Mochi rasa strawberry ih…” kata Naya lucu melihat wajah Aydin yang memerah
“Oh, ya… bagaimana apa sudah Aydin beritahu om Anton bahwa Aydin sedang bersama Bunda” kata Naya menyudahi candaanya
“Hm,,, sudah Bunda” kata Aydin mengangguk sambil menurunkan tangannya yang menutupi wajahnya sejak tadi
“Baiklah, selanjutnya ayo kita bersihkan luka Aydin sayang…” ajak Naya
“Tapi Aydin takut Bunda, Aydin tidak ingin kerumah sakit” jawab Aydin
“Siapa bilang kita akan kerumah sakit, hm ? Kita akan keparkiran dulu untuk membersihkan luka Aydin, karena dijok motor Bunda ada kotak P3K sayang…. Ayo!!!” kata Naya menjelaskan
“Ayo Bunda…” Ajak Aydin senang karena tidak kerumah sakit
“Nah kita sudah sampai Aydin duduk disini ya, Bunda kesana dulu. Itu motor Bunda terlihatkan dari sini sayang ?” tunjuk Naya kemotor kesayangannya yang tidak jauh dari tempat duduk Aydin
“Oke Bunda…” jawab Aydin sambil memberikan jempolnya
Nayapun bergegas ke motornya dan mengambil P3K, kemudian langsung menuju Aydin yang sejak tadi menatap Naya
“Bunda lepas ya plesternya, kita bersihkan dulu lukanya…” kata Naya sambil membuka kotak P3K
“Sakit ?” tanya Naya karena anak mochi ini sangat jarang sekali terluka
“Tidak Bunda, Aydin kan kuat” jawab Aydin tidak bisa menutupi kebahagiannya karena diperhatikan oleh Naya
“Hm, kenapa Aydin senyum-senyum begitu ?” tanya Naya bingung
“Aydin senang bisa bertemu Bunda” jawab Aydin kemudian memeluk Naya karena Naya sudah selesai membersihkan lukanya dan memplesternya kembali
“Bunda juga senang bertemu Aydin” kata Naya sambil mengusap lembut pucuk kepala Aydin
Selang beberapa menit, Aydin masih saja dengan posisi memeluk Naya. Naya yang mulai pegal karena harus memiringkan pinggangnya mencoba melepaskan Aydin
“Sayang, sudah ya. Yuk kita pulang” kata Naya namun tidak ada respon oleh Aydin
“Sayang ? Aydin” kata Naya sambil berusaha melepaskan pelukan, dia ingin melihat wajah anak Mochi itu apakah ada masalah
“Aydin kamu kenapa ?” tanya Naya kaget, karena melihat Aydin yang menutup matanya tanpa merespon
Hayo tebak, kenapa dengan anak Mochi ??? Kalau ada yang benar nebak besok Author bakalan double up ✌️
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next episode 😉~~~