
“Aunty ayo cepat !” ucap Kivanc memanggil Dinda yang masih tertinggal dibelakang
“Lain kali jangan diulangi lagi ya!” ucap Dinda
“Ciap aunty” jawab Kivanc tidak sepenuhnya mendengar ancaman Dinda
“Biar Dinda saja yang pegang infus Aydin bu” ucap Dinda mengambil alih infus Aydin
“Terimakasih nak” ucap Nisa
“Dimana kamal Unda Ni ? Ipan cudah cangat ingin beltemu Unda dan belcelita banyak” ucap Kivanc malah antusias daripada Aydin
“Harusnya Kak Aydin yang lebih antusias, kenapa cucu nini yang satu ini selalu antusias sih” jawab Nisa gemash dengan kelakukan Kivanc
“Hehehe, Ipan kan anak yang cehat dan kuat. Makanya celalu belcemangat !” ucap Kivanc sambil menunjukkan dua lengannya yang tak berotot itu
“Hehehe,,, iya cucu-cucu Nini semaunya anak yang sehat dan kuat” ucap Nisa sambil mengusap lembut kepala Kivanc
“Kamal Unda ada balon walna walninya Nini, nah cepeltinya itu kamal Undanya” ucap Kivanc sambil menunjuk sebuah kamar
“Semua pintu memiliki hiasan yang sama lo, bagaiamna Kivanc yakin itu kamar Bunda ?” Tanya Nisa agak ragu
“Ipan ingat ada nama Unda dicana” ucap Kivanc menunjuk papan nama
“Iya bu, itu nama kak Naya” ucap Dinda yang lebih dulu membaca papan nama tersebut
“Ternyata cucu Nini memang pintar” ucap Nisa memuji Kivanc
“Hm, Ipan memang pintal” ucap Kivanc berbangga diri
“Tok,,tok,,,tok,,, assalamu’alaikum” ucap Dinda mengetuk pintu kemudian membuka pintu dengan perlaha
“Wa’alaikumsalam, siapa ?” Tanya orang dari dalam
“Ini ibu sama Dinda dan anak-anak” jawab Nisa
“Ibu…” ucap Naya berusaha tersenyum
“Alhamdulillah wa syukurillah. Anak Bunda sudah siuman, bagaimana Nak dimana yang sakit ? apa sudah diperiksa dokter ?” tanya Nisa segera memeluk anak kesayangannya itu, yang dipeluk hanya bisa tersneyum haru karena sebesar apapun seorang anak dia tetaplah anak dari seorang ibu
“Alhamduillah Naya sudah membaik bu, tadi dokter sudah memeriksa dan memberi vitamin untuk Naya” jawab Derya mewakili Naya
“Syukurlah… oh ya bagaimana dengan adik baru sikembar ?” Tanya Nisa sambil mengelus lembut kepala Naya
“Ada diruangan bayi bu, masih harus dirawat ditabung karena umurnya yang belum cukup” ucap Derya
__ADS_1
“Apa kita bisa menjenguknya ?” Tanya Nisa
“Bisa, tapi kita hanya diizinkan melihat dari luar saja” ucap Derya
“Baiklah, mungkin Aydin juga ingin punya waktu dengan Bundanya” ucap Nisa yang melihat Aydin hanya berdiri melihat Naya dari kejauhan
“Ka Ay kenapa malu-malu dengan Unda ? kenapa idak memeluk Unda cepelti Nini ?” Tanya Kivanc
“Abang ayo kita melihat adik !” ajak Kila yang mengerti bahwa Aydin sedang menahan air matanya
“Baiklah, Unda kami lihat adik bayu lagi ya. Unda istilahat caja dicini, nanti kami akan celita bagaiamana adik bayi didalam cana. Ipan cudah kacih tau kok tadi kalau adik bayu halus pintal jangan nakal-nakal dicana, halus belmain dengan baik belcama taman-teman dicana” ucap Kivanc sambil menunggu Kila turun dari ranjang Naya
“Hati-hati sayang” ucap Naya
“Em, dadah Unda…” ucap Kivanc sambil menagngguk lalu mereka pergi keluar
“Aydin sayang…” ucap Naya sambil membuka lebar tangannya, saat ini Naya sedang duduk sambil bersandar pada ranjang
“Bunda…” ucap Aydin segera berlari dan memeluk Naya
“Hiks,,,hiksss,,, Bunda sakit gara-gara menjaga Aydin yang sakitkan ? maafkan Aydin yang merepotkan Bunda” ucap Aydin menangis dalam pelukan Naya
“Kak Aydin tidak merepotkan Bunda kok, kakak bukan penyebab Bunda sakit sayang. Ini memang sudah takdirnya karena adik bayi sudah mau melihat dunia” ucap Naya sambil mengusap punggung Aydin
“hiks,,,hiks,,, Apa sekarang Bunda masih sakit ?” Tanya Aydin sambil mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Bundanya
“Huuuuh,,, huuh, cepat sembuh perut Bunda” ucap Aydin sambil meniup perut Naya
“Hehe, sudah agak baikan kok sayang. Karena ada Aydin disini, Bunda rindu Aydin” ucap Naya kembali memeluk anaknya
“Aydin juga sangat rindu Bunda, tadi malam Aydin tidak bisa tidur karena tidak ada Bunda” ucap Aydin membalas pelukan Naya
“Kalau begitu sekarang Aydin tidur saja, tidur dalam pelukan Bunda ya” ucap Naya merasa terharu
“Tidak boleh, Bunda masih sakit dan Kakak berat” ucap Aydin segera duduk
“Tidak apa kok sayang, Bunda juga ingin tidur sambil memeluk Aydin” ucap Naya kembali merentangkan tangannya
“Hanya sebentar saja ya, nanti Bunda kelelahan” ucap Aydin kembali kedalam pelukan Naya
“Hm….” Gumam Naya sambil memejamkan matanya
“Oh ya, apa Bunda sudah melihat adik bayi ?” Tanya Aydin
“Belum, apa Kakak juga belum melihatnya ?” Tanya balik Naya
__ADS_1
“Iya, Aydin belum melihat adik bayi Bun. Apa Bunda juga tidak dibolehkan keluar ruangan oleh dokter ?” Tanya Aydin
“Mungkin nanti malam Bunda sudah boleh menjenguk adik bayi kak” ucap Naya
“Hm, baiklah. Kalau begitu nanti malam saja Aydin bersama Bunda melihat adik bayinya” ucap Aydin memutuskan
“Kenapa menunggu Bunda, kakakkan harus kembali keruangan kakak” ucap Naya
“Tidak mau Bunda, Aydin ingin disini saja” ucap Aydin
“Baiklah, nanti tanyakan dengan Ayah ya. Apakah bisa mengurus kamar Aydin biar bisa sekamar dengan Bunda” ucap Naya
“Hm, baik Bunda” ucap Aydin mulai melemah
“Terimakasih sudah menjenguk Bunda sayang” ucap Naya dengan lembut sambil mengelus rambut Aydin, membuat keduanya terhanyut dan tertidur sejenak
Kini Anak mochi kembali lengket pada induknya, mereka akhirnya bersama setelah beberapa saat terpisah ruangan. Sedangkan anak itik dan kembarannya sedang bercengkrama bersama adik baru mereka yang belum mendapat julukan baru.
“Ciapa nama adik bayu yah ?” Tanya Kivanc yang digendong Nininya untuk melihat adik baru
“Adli Hilal Murat, semoga kelak adik menjadi seorang yang bijaksana dan dikasihi banyak orang. Kila sekarang sudah menjadi seorang kakak dan Kivanc menjadi kakak dengan dua orang adik. Jadi sebagai saudara harus saling mengasihi ya, rukun dan tolong menolong.” Ucap Derya menyebutkan nama anak ke empatnya
“Ciap ayah. Hai adik li, ingat pecan Ayah ya jangan melebut mainan Ipan dan jangan celing menangis. Dek li halus jadi adik yang hebat cepelti abang” ucap Kivanc
“Abang, adik Adli masih kecil. Tidak mungkin dia berebut mainan dengan abang” ucap Kila membela adik barunya
“Kan nanti jika cudah becal pasti mainan Ipan dimainkan Dik li. Kan adik Li cama cepelti Ipand an Kak Ay” ucap Kivanc membela diri
“Mainaan abang tidak akan bisa bertahan sampai adik Adli besar nanti, karena abang itu sering menghancurkan maianan. Pasti adik akan beli yang baru” ucap Kila
“Abang tidak menghanculkannya de Ila, lobot-lobotannya caja yang tidak kuat. Ipankan hanya ingin mengganti baju lobotnya, tapi kenapa malah tangannya yang lepas, itu altinya mainannya yang tidak kuat cepelti Ipan” ucap Kivanc
“Mainan kila tidak ada yang rusak tuh bang, berarti abang yang tidak bisa menjaga mainan abang padahal kita membelinya selalu berbarengan” ucap Kila
“Bukan begitu de Ila. Itu altinya mainan Ipan yang kualitasnya buluk” ucap Kivanc masih mendebatkan hal tersebut
“Jangan berdebat mainan dulu ! Nanti adik bayi didalam terganggu” ucap Derya menengahi
“Baik Ayah” ucap keduanya langsung terdiam
.
.
.
__ADS_1
See you next episode ya 😉
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣