
Seorang wanita muda duduk disebuah kursi ditaman belakang, dia adalah Naya. Dengan sebuah handphone ditangan Nayapun siap menjalankan langkah berikutnya.
“Tuuut,,,tuuut,,,tuuut,,,” Nada hubung mulai terdengar
“Bang toyiiip,,bang toyiiip,,, mengapa tak pulang-pulang…” ternyata nada hubung berubah menjadi lagu dangdut. Naya sedikit kaget namun kemudian dia baru menyadari jika itu hanya RBT
“Iya, Haloo” jawab seseorang disebrang sana
“Assalamu’alaikum Bu Ayu, ini Naya” ucap Naya
“Oooh Jeng Naya, iya wa’alaikumsalam. Ada apa jeng ?” Tanya Jeng Ayu
“Gini Bu, Naya hari ini tidak bisa berhadir ke sekolah menemani Aydin” ucap Naya
“Lah, Kenapa Jeng ? Jeng Naya mau bulan madu” Tanya suara seseorang yang sepertinya sedang berusaha merebut handphone
“Jeng Lidya jangan direbut atuh. Iya nih saya loudspeaker” ucap Jeng Ayu terdengar
“Kenapa Jeng ?” tanya Jeng putri yang mengulang pertanyaan
“Begini Bu, Naya gak enak badan gara-gara mual terus” ucap Naya
“Ini kan sudah tree semester akhir Jeng, kenapa masih mual ? pasti ada yang cari gara-garakan !” ucap Jeng Lidya yang sudah berhasil mendengar isi percakapan
“Hm,,, Mungkin karena minggu lalu Naya mau makan lele goreng, tapi Mas Derya tidak mau membelikan Bu. Jadi sekarang tiap kali Mas Derya dekat sama Naya, Naya jadi mual. Bu-ibu ada saran tidak supaya Naya tidak mual-mual lagi ?” Tanya Naya setelah bercerita
“Hadeeh, itu si suami kamu memang harus kena azabnya Nay. Masa istri ngidam gak diturutin” komentar jeng Lidya
“Iya ya, kan itu anak diperut kamu bikinya berdua. Masa iya yang naggung beban ngidamnya cuma kamu sendiri. Harusnyakan kamu yang mengandung, suami kamu yang harus lebih perhatian ngurus kamu Jeng !” komentar Jeng Ayu juga tidak terima
“Iya setuju. Perlu dikasih pelajaran tuh suami kamu Jeng !” ucap Jeng Nia yang sepertinya baru datang karena terdengar dari Jeng Putri yang menyapa Nia
”Bener banget. Setuju ! dimana suami kamu sekarang Jeng ?” Tanya Jeng Ayu
“Em, tapi waktu Naya ngidam lele goreng itu waktu tengah malam bu, jadi wajar saja jika Mas Derya menolak. Selain itu, permintaan Naya juga mau lele nya yang diambil dari tambaknya langsung” ucap Naya mencoba mengurangi kadar kompor yang ada
“Hm, ya tetap saja Nay. Yang namanya suami kalau istri ngidam minta sesuatu mesti berusaha harus diturutin. Itu buktinya kamu sampai mual tidak bisa dekat-dekat dengan suami kamu artinya dia sama sekali tidak menuruti permintaan mengidam kamu, yakan Jeng !” ucap Jeng Lidya menyimpulkan
“Hehe, iya sih. Kemaren itu Naya pergi dan beli sendiri tanpa Mas Derya. Mungkin karena Mas Derya lelah bu karena bekerja jadi dia tidak bisa mengingat permintaan Naya waktu tengah malam itu” ucap Naya masih berusaha membela sang suami agar bisa kembali dengan utuh nanti.
Naya benar-benar yakin bahwa kekuatan empat wanita super ini bisa mendobrak pintu hati Derya yang gengsian itu
“Ya tetap saja Jeng ! diamana suami kamu sekarang ?!” Tanya Jeng Ayu kembali menanyakan keberadaan Derya
“Em, Mas Derya sedang menuju sekolah. Karena hari ini dia yang akan menjaga Aydin disekolah bu” ucap Naya
“Okey, Siiip Nay. Kamu tunggu saja ketika pulang nanti suami kamu akan bersujud meminta maaf kepada Allah karena sudah mengabaikan istri yang sedang ngidam” ucap jeng Lidya
“Iya Nay, kamu tenang saja ! kami akan membuat suami kamu segera kembali kejalannya” ucap Jeng Ayu
“Bener Nay, kamu tenang saja !” sahut Jeng Putri
“Betul Nay, kami adalah geng ibu-ibu titisan mamah dedeh. Kami pasti akan membuat suami kamu jera untuk mengabaikan kamu” ucap Jeng Nia
“Terimakasih bu-ibu sudah mau membantu saya untuk mengingatkan mas Derya” ucap Naya merasa bahagia karena dikelilingi oleh orang-orang baik dan mau membantu dirinya tanpa pamrih
__ADS_1
“Amaan Nay. Kan kamu juga bagian dari geng kami. Ini adalah benefit yang didapat ketika kamu bergabung” ucap Jeng ayu
“Hah ? sejak kapan aku gabung dengan geng bu-ibu ?” batin Naya bertanya-tanya
“Terimakasih bu” ucap Naya masih bingung
“Siip Nay, udah dulu ya. Kami sekarang menyusun strategi untuk membuat suami kamu itu sadar” ucap Jeng Ayu
“Iya Bu, sekali lagi terimakasih” ucap Naya
“Oke Nay, daaah. Assalamu’alaikum” ucap Jeng Ayu
“Wa’alaikumsalam” jawab Naya
“Tuuut” telphonepun terputus
“Hmmm, semoga kompornya pas supaya mateng dengan sempurna” ucap Naya mengibaratkan bu ibu adalah kompor dan suaminya adalah makanan yang perlu distreilkan dengan suhu panas
***
Sebuah sedan mewah berhenti didepan pagar sekolah, seorang pria tampan turun dari mobil dengan anak kecil yang lucu berjalan disampingnya. Karena sekolah tersebut satu atap dengan SMP dan SMA maka banyak anak-anak remaja yang menatap Derya dengan tatapan kagum
“Oom, culik aku om” teriak salah satu siswi berseragam putih abu-abu
“Waaah, gantengnya” kata yang lain
“Aduh tingginya, putih, mancung, cool lagi. Tipe gua bangeeeet” ucap siswi yang lainnya
Derya yang mendengar ocehan nyamuk-nyamuk nakal itu tidak peduli sedikitpun. Dia terus fokus berjalan menuju ruang kelas Aydin, sedangkan kusir kerajaan memarkir mobil sembari menghindar dari ceramah mamah dedeh yang akan didapat Derya
“Hm, Ayah juga akan menunggu disana. Jika Aydin ada apa-apa panggil saya Ayah” ucap Derya dengan gaya khasnya
“Iya Yah, Aydin masuk kelas dulu ya. Assalamu’alaikum” ucap anak mocha berpamitan sambil menyium punggung tangan Derya
“Ya, wa’alaikumsalam” ucap Derya
Deryapun berjalan dan duduk ditempat yang Aydin tunjuk.
Mata para ibu-ibu memperhatikan Derya, mereka berbisik-bisik yang sebagian bisa didengar oleh Derya dimana mereka memuji ketampanan Derya. Derya tida peduli, dirinya mengeluarkan ponselnya dan bermain dengan itu.
“Ekheeem” ucap seorang ibu-ibu mendekat
“EKKHHHEEEEEM !” ucap ibu-ibu tadi lagi lebih nyaring karena tidak mendapat jawaban dari Derya
“Aish... Deryakan ? suaminya Jeng Naya !” ucap ibu-ibu tersebut yang ternyata adalah Jeng Lidya
“Oh, iya saya Derya suaminya Naya. Ada apa ya ?” Tanya Derya yang kaget karena ada orang yang mengetahui identitasnya
“Kami temannya jeng Naya, saya Jeng Lidya, itu Jeng Ayu, Jeng Putri dan Jeng Nia. Kami perlu bicara dengan anda” ucap Jeng Lidya memperkenalkan semuanya
“Boleh, dimana bu ?” Tanya Derya merasa harus menuruti keinginan teman istrinya ini sebagai bentuk sopan santunnya
“Di sana” tunjunk Jeng Lidya di salah satu pojok koridor yang nampak sepi
“Baiklah” ucap Derya sambil berdiri dari duduknya
__ADS_1
Mereka semua berjalan dengan Derya berada ditengah-tengah mereka. Derya merasa seperti tahanan yang sedang digiring dan dijaga ketat.
“Hm, perasaan apa ini ?” batin Derya yang merasa tidak nyaman dengan gerak-gerik ibu-ibu ini
“Oke silahkan duduk” ucap Jeng Lidya meminta Derya untuk duduk dikursi yang sudah ada
“Terimakasih” ucap Derya tetap berusaha menahan mimic wajahnya
“Anda tau apa alasan kami meminta anda untuk mengobrol disini ?” tanya Jeng Ayu memulai
“Tidak” jawab Derya mulai dingin
“Heh, memang semua laki-laki sama saja. Tidak pekaan !” ucap jeng Ayu lagi
“Ketahuilah wahai suaminya Naya bahwasanya anda memiliki kesalahan yang besar dengan istri anda. Tau apa itu ?” Tanya Jeng ayu lagi
“Apa ?” tanya Derya yang tidak suka main tebak-tebakan
“Ck, sepertinya perlu kita keroyok jeng !” ucap Jeng Ayu meminta bantu yang lain
“Apa maksudnya ini ?” Tanya Derya sambil berdiri
“DUDUK !” Ucap geng bu ibu ini secara serentak
Derya kaget dengan kekompakkan ibu-ibu ini sehingga dirinya duduk kembali
“Anda tau apa hal yang paling di ingin seorang wanita ketika sedang hamil ?” Tanya Jeng Ayu
“Muung…” Derya ingin menjawab namun terpotong oleh omongan ibu-ibu yang lain
“Keinginan terbesar wanita hamil adalah perhatian, perhatian seorang suami akan apa yang diinginkannya !” ucap Jeng Lidya
“Turuti setiap ngidamnya ! anda pikir hamil itu gampang ? jangan asal bikin saja yang bersemangat, mengandungnya, melahirkannya, dan membersarkannya itu harus dilakukan bersama-sama ! ditanggung bersama..” ucap Jeng Putri
“Mual setiap paginya, belum lagi mengurus anda dan anak pertama, terus membuatkan sarapan ! anda pikir itu gampang dilakukan ketika sedang hamil” ucap Jeng Nia
“Bayangkan saja. Seandainya isela-sela rutinitas Naya itu, dia mengalami keguguran karena kelelahan itu semua salah anda karena tidak memberikan perhatian” ucap Jeng Ayu
“Ya, itu salah anda. Wanita hami jika mengalami lelah fisik maupun mental salah satu cara menghiburnya adalah ebntuk perhatian” sambung Jeng Putri
“Menuruti ngidamnya juga adalah bentuk perhatian yang sangat diingat istri” ucap Jeng Nia
“Dan anda malah mengabaikan ngidam istri anda. Itu adalah kesalahan besar dan anda harus meminta maaf untuk itu !” ucap Jeng Lidya
Derya yang mendengar semua ocehan ibu-ibu ini sedikit pusing karena suara mereka yang menggelegar, syukur ditempat mereka saat ini tidak banyak orang sehingga mereka tidak menjadi pusat perhatian. Derya sambil berpikir seraya diceramahi oleh bu-ibu ini. Dia merasa mulai mengetahui dimana letak kesalahannya…
Dilain tempat, dibalik semak-semak seseorang dengan topi dan kacamata hitam ala mata-mata sedang merekan kejadian tersbeut. Sebagai bukti kepada kanjeng ratu bahwa rencana mulai berjalan. Semoga hasil yang mereka inginkan berhasil dicapai.
.
.
.
See you next episode ya 😉~~~
__ADS_1
Gimana metode ceramah geng bu-ibu apakah mempan jika itu dilakukan pada anda ? 🤭🤭🤭