I Want Bunda

I Want Bunda
Episode 114


__ADS_3

Setelah mengelilingi kampung dan Aydin menaiki kerbau, merekapun pulang. Di perjalanan pulang mereka bertemu beberapa warga yang menyapanya dengan ramah.


“Waaah, calon manten lagi jalan-jalan ya…” sapa ibu-ibu yang berpapasan dengan mereka


“Hehehe, Iya Bu” sahut Naya lembut


“Nanti kawinanya disini kan ya ?” Tanya ibu yang lain, mereka sangat senang karena hadir Derya membuat mereka menjadi terlepas dari kekangan Tuan Takur yang mengusai kampung ini


“Nanti kami akan melangsungkan pernikahannya di kota bu, ibu tenang saja nanti saya akan menyiapkan kendaraan untuk warga kampung sini datang kepernikahan kami” ucap Derya dengan lembut dan menebar senyum ramah


“Nih, si Bos mulai bisa centil ya sama ibu-ibu” batin Naya menatap tajam Derya


“Waaaah, terimakasih banyak lo… Nak Derya ini ternyata sangat baik ya, gak pelit…” kata ibu satu sambil mengusap lengan Derya


“Ekheeeem. Kita lanjut ya bu. Soalnya ini mau langsung pulang ke kota” kata Naya masih dengan nada sopan


“Oh, iya… silahkan, kalian mau pindahan kan ya ? itu didepan rumah kalian sudah ada dua mobil box yang ngangkut barang-barang” kata ibu yang lain, ternyata mereka tadi melalui rumah Naya


“Iya bu, kami permisi ya Bu. Terimakasih dan mohon maaf jika keluarga saya selama dikampung ada membuat hati ibu sekalian tidak nyaman” ucap Naya membungkuk hormat


“Iya Neng Naya, seharusnya kami yang minta maaf sama kalian karena percaya dengan kabar burung tentang Neng Naya. Maafin kami ya” kata bu ibu mewakili temannya yang lain


“Iya Bu tidak apa, kami pamit bu” ucap Naya sambil menyalimi ibu-ibu yang ada disana, begitu pula dengan Sarah mereka berpisah dengan para warga kampung yang selama ini mereka temui


Setelah berpamitan dengan bu ibu, merkapun melanjutkan jalan kaki, ketika sudah tiba didepan rumah semuanya sudah Nampak rapi. Ada ibu dan juga Indah yang menunggu kepulangan mereka. Ada juga beberapa tetangga yang ingin mengantarkan kepergian mereka.


“Ton kamu nyetir ya ! “ kata Derya


“Siap laksanakan baginda raja” ucap Anton


Merekapun berpamitan dengan para tetangga lalu mulai menacapkan gas untuk melaju ke kota, didalam mobil Derya yang bisa memuat 6 orang merkapun melaju.


Ada Anton dan Sarah didepan, sarah bertugas sebagai navigator membantu Anton menyetir. Sedangkah di kursi kedua ada Naya dan Derya serta Aydin yang tertidur di pangkuan Derya, Derya tidak ingin membuat sang calon istri kelelahan memangku Aydin. Dan dikursi belakang ada Ibu Naya dan Indah yang memperhatikan kedekatan calon keluarga baru ini


“Bun, ini bantal lehernya dipakai ! nanti leher kamu sakit” kata Derya menyerahkan bantal leher yang menjadi alas Aydin tidur


“Tidak usah Mas, ini untuk Aydin saja. Tidak nyaman jika tidur tidak memakai alas” ucap Naya


“Ini paha saya nyaman kok Bun. Ini buat kamu saja, nih lihat Aydinnya saja nyenyak sekali tidurnya” kata Derya bersikeras


“Ya sudah, terimakasih Bos” kata Naya yang mengantuk tidak sadar kembali ke kebiasannya awal


“Tok, udah dibilangin biasaain manggil Mas, jangan Bos Bundaaaaa” kata Derya yang tidak terima Naya memanggilnya bos


“Yakan Mas masih atasan Naya, gak salah dong kalau Naya manggil Bos” kata Naya yang mulai memejamkan mata kembali setelah menatap Derya dengan kesal


“Mulai sekarang kamu bukan bawahan saya lagi. Kamu saya pecat “ kata Derya

__ADS_1


“Laaaah, jangan begitu dong Maaas. Nanti aku gak bisa kasih uang lagi ke Ibu” kata Naya tidak jadi mengantuk


“Ya, Tapi kamu akan menjadi makmum ku nanti. Kamu tetap dapat tunjangan dan aku yang akan menanggung kebutuhan Ibu mertua dan adik ipar nanti” kata Derya


“Beneran nih mas ?” Tanya Naya tidak percaya


“Iya Bunda…” kata Derya gemas ingin mencubit pipi Naya


“Mas apaan sih, ada ibu tau !” kata Naya menahan tangan Derya


“Hehe, maaf kirain cuma ada Anton” kata Derya malu


“Nah begini nih Bu, kalau si Bos lagi kasmaran sama anak ibu. Gak kenal tempat, gak peduli ada jomblo yang lihat ! Umbaaar semuanya bos” kata Anton yang melihat semuanya drai spion depan


“Hehe, maaaf bu” kata Derya merasa tidak enak


“Tidak apa Nak Derya, tapi sentuhannya di batasi dulu ya. Kan belum sah,,,” kata Ibu Naya mengerti bagaimana mereka yang lagi kasmaran ini


“Hehe, iya bu maaf…” ucap Derya langsung kikuk karena kena tegur calon mertua


Heningpun tercipta, mereka semua sepertinya larut dalam kelelahan dan tertidur, masuk kedalam mimpi masing-masing, sedangkan pengemudi dan asitent pengemudi di depan malah berdebat.


“Sarah, ini belok mana ?” Tanya Anton yang masih tidak terlalu hapal jalan


“Eeeem,, anu om. Itu,,, nah itu belok kiri” ucap Sarah masih loading belum terlalu mengerti membaca maps


“Ya kenapa om baru nanya pas udah mau belok sih ? kan bisa aja nanyanya pas masih jauhan” kata Sarah tidak mau disalahkan


“Nah terus itu didepan belok mana ?” Tanya Anton lagi


“Mana om, di maps gak ada belokan” jawab Sarah sambil memperhatikan handphone yang menunjukkan maps


“Itu sarah, yang didepan itu” tunjuk Anton pada ponselnya


“Nah ini kenapa nih, kok ilang gambar mapsnya. Gara-gara om niiih, ilang kan” kata sarah kaget karena tiba-tiba layar handphone tidak menunjukkan maps lagi


“Ini sarah, nih klik yang ini” kata Anton sambil menyetir


“Oooh, yang ini. Kan sarah tidak pernah megang handphone yang beginian om” kata Sarah


“Hm, ya nanti kalau kamu udah dikota pasti dibeliin bos ! jadi nanti harus belajar yang bener ya biar si Bos bangga sama kamu” kata Anton menasehati Sarah


“Baik om” kata Sarah dengan tersenyum, dia sangat senang mendengar bahwa dirinya akan dibelikan handphone


“Kenapa senyumnya manis banget sih” batin Anton yang terpesona akan senyum sarah


“Sadar ton, dia masih bocil !” batin Anton lagi segera menyadarkan diri

__ADS_1


“Dukkkkkh…” mobil terhunjal karena melalui polisi tidur dengan kecepatan yang sedang


“Aduuh…” ucap Sarah yang terjungkal kedepan


“Bundaaa,,, hiks,,, hiks,,,” kata Aydin yang terkejut dan bangun dari tidurnya


“Haaaah, iya kenapa ? ada apa sayang ?” kata Naya yang langsung terbangun mendengar teriakan Aydin


“Aydin mau tidur peluk Bunda, hiks,,,hiks,,,” kata Aydin yang melebarkan kedua tangannya ingin dipeluk Naya


“Jangan ya, Aydin tidur dipangkuan Ayah saja. Nanti Bunda lelah jika memangku Aydin terlalu lama” kata Derya yang menahan Adyin


“Sudahlah mas, tidak apa. Naya juga sudah terbiasa kok” ucap Naya mengamil alih Aydin


“Tapi Bun…” kata Derya ingin menahan


Begitulah perdebatan di kursi keuda, berdebat mengenai anak. Beda lagi perdebatan yang terjadi dikursi depan.


“Om iiih, kalau nyetir itu lihat jalan om. Bukan liat Sarah” kata Sarah yang kesal karena kepalanya terhantup dashboard mobil cukup keras


“Itu salah kamu sendiri kenapa tidak duduk dengan benar” kata Anton


“Kan sarah lagi liat maps om, om yang salah masa gak lihat itu dijalan ada polisi tidur “ kata Sarah kesal


“Ya mana saya tau ada polisi tidur disitu. Harusnya kamu kasih tau saya kalau ada polisi tidur disitu” ucap Anton


“Mana Sarah lihat, kan mata Sarah gak lihat depan” kata sarah tidak terima


“Ya makanya lihat ke masa depan kita. Eh maksudnya lihat depan” kata Anton


“Masa depan ?” Tanya Sarah bingung dengan ucapan Anton yang itu


“Maksud saya lihat kedepan itu ada belokan, sekarang belok mana ?” Tanya Anton mengalihkan pembicaraan


“Ooooh, tunggu… em,,, anu,,, belok kiri lagi om” ucap sarah sambil memperhatikan maps.


“Okey….” Sahut Anton


“Huuumf, kenapa aku ngomongnya gitu ya tadi ?” batin Anton yang bingung dengan ucapannya


.


.


.


See you next episode ya 😉~~~

__ADS_1


Naaah kan si Anton 🤭🤭🤭


__ADS_2