I Want Bunda

I Want Bunda
S2_ Jeritan Hati


__ADS_3

"Lewat sini bu” ucap Sarah sambil menarik lengan Nisa


“Pelan-pelan saja Nak, Antonnya juga tidak akan kabur” ucap Nisa


“Ibu tidak tau aja, Om Anton itu suka kabur kalau dirumah ! contohnya ya nih bu, pas malem-malem Sarah lagi kepikiran seblak dikampus terus Sarah cerita sama om. Lalu Sarah tinggal tidur bentar sudah gak ada lagi Om Antonnya bu, ternyata pas Sarah tungguin om kabur beli seblak” ucap Sarah


“Haha, ada-ada saja kamu ini nak. Itu bukan kabur namanya tapi perhatian sama keinginan istri” ucap Nisa tertawa renyah


“Ooh gitu ya bu, terus Om Anton juga aneh” ucap Nisa lagi


“Aneh seperti apa ?” tanya Nisa


“Om Anton beberapa hari ini setiap pagi selalu suruh Sarah buat tamping pipis Sarah. Untuk apa nampung pipis digelas, kan juga tidak bisa minum ya bu ? Sarah bingung deh” ucap Sarah dengan polos


“Astagfirullah, anakku terlalu polos atau gak tau apa-apa sih ini ?!!!” batin Nisa beristigfar


“Nak, kamu harus banyak belajar dan membaca buku tentang pernikahan dan seputar rumah tangga ya. Nanti ibu belikan” ucap Nisa


“Hm, baik bu. Eeem, tapi Sarah masih bingung untuk apa pipis Sarah ?” tanya Sarah lagi


“Itu untuk tespack nak, Anton mau tau apakah kamu sudah isi atau belum” ucap Nisa menjelaskan


“Isi apa bu ?” tanya Sarah


“Isi di perut kamu” jawab Nisa


“Isinya ada nasi goreng pete dan telor tadi pagi terus mereka mengapung karena Sarah isi dengan orange jus” ucap Sarah menceritakan sarapannya tadi pagi bersama Anton


“Isi bayi diperut kamu Sarah, adik bayi seperti diperut Naya !” jelas Nisa agak esmosi karena anaknya yang satu ini


“Oooh,,, pantesan om Anton sering elus perut Sarah lalu mengajaknya mengobrol. Katanya biar makanannya cepet turun” ucap Sarah lagi


“Ya, nanti besok kita daftar les ya nak” ucap nisa tersenyum paksa melihat kepolosan anaknya yang tidak pernah berubah ini


“Bu lihat itu !” ucap Sarah sambil menunjuk seseorang, nampak punggung lebarnya itu kelelahan


“Derya ? apa yang dia lakukan disini” ucap Nisa segera mendekat


“Nak Derya” sapa Nisa


“Ibu…” ucap Derya mencoba tersenyum


“Kenapa disini ?” tanya Nisa lagi

__ADS_1


“Itu anak Derya bu, lihat dia yang masih kecil terpaksa keluar lebih cepat karena Derya tidak bisa menjaga Naya, karena Derya tidak bisa merawat keluarga Derya” ucap Derya menyalahkan diri sendiri


“Tidak, itu tidak benar Nak. Kamu sudah berusaha yang terbaik, mengenai masalah yang menimpa keluargamu anggap ini adalah ujian agar kalian menjadi lebih erat lagi” ucap Nisa mengelus pelan punggung Derya


“Derya merasa gagal menjadi Ayah bu, Aydin sakit karena Derya yang tidak bisa membereskan sampai akar masalah dimasa lalu, Naya pendarahan karena terlalu banyak pikiran dan syok double K kecelakaan” ucap Derya tersandar pada dinding kaca merasa kecewa pada dirinya sendiri


“Tidak, ini bukan salah kamu Nak. Ini semua memang sudah takdir dari yang Maha Kuasa pada keluargamu. Ini hanya segelintir ujian untuk mengangkat derajat kalian” ucap Nisa


“Terimakasih bu, maaf cucu ketiga anda lahir dengan premature” ucap Derya kembali melihat kedalam ruangan bayi tersebut


“Cucu saya ada empat sekarang ! Jangan lupkaan Aydin, dia juga cucu saya Nak Derya. Kita juga tidak tau takdir apa yang Allah siapkan untuk cucu ke-4 Nini, bagaimana dia dilahirkan itu juga salah satu takdir yang sudah disiapkan Allah” ucap Nisa dengan tenang dan lembut


“Oh ya, Siapa namanya nak ? dia yang memakai selimut biru itu bukan ?” ucap Nisa juga ikut melihat kedalam diiringi oelh Sarah yang menempelkan wajahnya didinding kaca


“Adli Arhan Murat…” ucap Derya sambil menatap dalam pada sang anak yang tertidur didalam tabung


“Nama yang bagus, semoga kelak menjadi anak yang Shaleh dan berabakti pada orang tuanya” ucap Nisa mendo’akan


“Aamiin” ucap Derya


“Oh iya, kami mau keruangan Anton sebentar. Apa kamu mau ikut ?” ajak Nisa


“Derya mau mengjenguk Naya dan anak-anak dulu bu, nanti setelah ibu Derya akan kesana” ucap Derya


“Unda, tangan Unda belgelak de Ila. Lihat ini !” ucap Kivanc terdengar dari luar


“Abang, jangan menggoyangkan tangan Bunda seperti itu. Nanti Bunda kesakitan !” ucap Kila menjawab


“Ceklek !” Deryapun masuk


“Ayaah, lihat tangan Unda. Belgelak ! jadi cebental lagi Unda akan bangun bukan ?” ucap Kivanc sambil melampaikan tangan Naya


“Boy, jangan digerakkan seperti itu” ucap Derya tegas


“Hm, Ipan idak belbohong tadi tangan Unda belenelan belgelat tau !” ucap Kivanc melepas tangan Naya sambil merajuk


“Aaah,,, apa kalian terluka ? bagaimana bisa terjadi kecelakaan ?” tanya Derya berjalan mendekat setelah mengembuskan nafas dengan kasar


“Tidak tau” ucap Kivanc dengan mulut itik menggembungnya


“Haah, baiklah. Apa mau melihat adik bayi ?” tanya Derya mengalah


“Mau, mau, Ipan ingin lihat adik bayu Yah” ucap Kivanc segera menghampiri Derya dan menggoyang-goyangkan tangan Derya

__ADS_1


“Hah, cepat sekali perubahannya” ucap Derya melihat sikap Kivanc berubah seperti bunglon dalam sekejap


“Kila juga ingin melihat yah” ucap Kila turun dari kursi dan ikut mendekati Derya


“Baiklah, kaliam pamit dulu dengan Bunda dan aunty Dinda” ucap Derya


“Unda, aunty. Ipan dan de Ila kelual cebental ya. Mau jenguk adik bayu” ucap Kivanc dan Kila hanya ikut mengangguk


“Ya” ucap Dinda singkat


“Dadah…” ucap Kivanc kemudian merekapun keluar ruangan dan menuju tempat bayi tadi


“Ayah apakah adik bayu belenang dipelut Unda, lalu kalena lelah jadiya kelual deh dali pelut Unda” tanya Kivanc


“Ya, bisa diilustrasikan seperti itu” ucap Derya hanya bisa membenarkan karena bingung harus merangkai kata seperti apa untuk menjelaskan pada anaknya yang satu ini


“Bukan abang, adek baru tidak berenang diperut Bunda. Kata Kak Aydin adik baru tinggal diperut Bunda untuk makan dan tumbuh besar, nah kalau sudah besar adik bayi baru keluar dibantu oleh dokter” ucap Kila menjelaskan


“Bukan cepelti itu de Ila. Adik bayi benelan belenang dipelut Unda cepelti kaltun yang Ipan toton, ada adik bayi belenang dipelut ibu-ibu itu” ucap Kivanc tidak mau kalah


“Hm…” Derya hanya memejamkan matanya menangkan diri sendiri, tidak berniat sedikitpun melerai sikembar


“Kita sudah sampai” ucap Derya akhirnya membuka suaranya


“Waah, mana yah ? mana adik bayunya ?” tanya Kivanc sambil berjinjit karena tidak bisa menjangkau dinding kaca dengan baik


“Ipan idak melihat adik bayunya yah” protes Kivanc


“Sini ayah gendong” ucap Derya menggendong keduanya agar adil


“Waaaaah,,, lual biaca !!!” ucap Kivanc dengan kagum sambil membuka mata dan mulutnya dengan lebar


“Apanya yang luar biasa ?” tanya Derya bingung dengan kekaguman Kivanc


.


.


.


see you next episode ya 😉~~~


Jangan lupa like dan komen ✨

__ADS_1


Terimakasih 💞


__ADS_2