
“Kenapa bos ngaret ya ? biasanya bos selalu tepat waktu” kata Naya bingung sambil memandang jam tangannya
Ketika Naya sedang fokus melihat jam tangannya bayangan hitam yang tepat berada dibelakang mendorongnya ke jurang.
“Aaaaaaaa…” teriak seseorang yang berusaha mencari pegangan agar dirinya tidak jatuh lebih jauh
_
Sementara itu, ditempat rombongan berkumpul seorang laki-laki gelisah mencari sosok yang ingin dia lihat. Derya mencari-cari keberadaan Naya, sampai dirinya tidak tahan lagi jika hanya mencari sendiri karena tidak kunjung menemukan Naya. Deryapun menanyakan keberadaan Naya pada teman-temannya
“Apa kamu melihat Naya ?” Tanya Derya pada salah satu mahasiswi yang Derya pernah lihat berbicara dengan Naya
“Saya tidak tau Pak, coba Bapak tanyakan dengan teman satu tendanya. Nah itu si Indah Pak, dia teman satu tenda Naya” kata Mahasiswi tersebut memberi saran
“Baik, terimakah” ucap Derya lalu segera menghampiri Indah
“Kamu indahkan ?” Tanya Derya
“I,, iya pak.” Jawab Indah kaget karena Drya tiba-tiba berbicara padanya
“Apa kamu melihat Naya ?” Tanya Derya langsung pada intinya
“Bukannya tadi Bapak memanggil Naya untuk berbicara didekat tebing ya pak ?” Tanya balik Indah yang terlihat bingung
“Siapa yang memanggil dia untuk bertemu disana ! darimana kamu dapat informasi itu ?” Tanya Derya dengan cepat
“Anu, tadi saya diberitahu Ajeng Pak untuk menyampaikan hal ini kepada Naya. Terus Nayanya pergi deh ke tebing” kata Ajeng apa adanya
“Ajeng ?” Tanya Derya memastikan
“Iya Pak” jawab Indah bingung dengan ekspresi Derya saat ini
“Gawat… Naya dalam bahaya” batin Derya langsung berlari menyusul Naya
“Pak tunggu,,, ini…” kata Ajeng terpotong karena Derya sudah jauh
“Haaah, sudahlah nanti mereka balik juga. Apa sangat penting ya sehingga handphone Naya terus berdering ? Naya juga kenapa hanphone sendiri ditinggal sih… Aduh kok aku ngomel sendiri ya ? au ah,,,” kata Indah yang bergumam sendiri
Dengan sekuat tenaga Derya terus berlari, dia ingin secepatnya menemukan Naya dengan keadaan baik-baik saja. Jangan sampai terlambat pikirnya.
“TOLOOOOONG !!!” suara seseorang terdengar ditelinga Derya
“Jleeb. Naya ? itu suara Naya “ batin Derya seketika lemas karena mendengar terikan Naya meminta tolong, itu artinya Naya sedang tidak baik-baik saja.
“NAYAAA, kamu dimana ?” teriak Derya dengan sekuat tenaga. Kakinya terus berlari tak menghiraukan semak-semak berduri melukai kakinya.
“Boooosss, disini” teriak Naya agar posisinya diketahui Derya
“Naya kamu kenapa ?” Tanya Derya langsung ingin memeluk Naya karena bersyukur Naya tidak apa-apa
__ADS_1
“STOOOP ! bos jangan main peluk-peluk aja. Lihat situasinya…” kata Naya sambil menunjuk seseorang yang tengkurap menahan badannya agar tidak jatuh sambil berpegangan di tangan Naya
“Kenapa ? Oh ini, lepasin saja itu orang Nay” kata Derya kesal karena orang yang ada di mulut jurang itu adalah Ajeng
“Bos, saya manggil bos kesini biar bantuin. Tolong bantu tarik tangannya bos, tenaga bos lebih kuat” Pinta Naya masih berusaha menahan berat badan Ajeng agar tidak jatuh
“Hiks,,, hiks,,, tolong…Pak…” suara Ajeng lemah karena ketakutan
“Ciiih, buat apa bantu orang yang punya niat buruk ke kamu Nay” kata Derya enggan membantu
“Bos, kalau kamu tidak ikut membantu menarik Ajeng segera bisa-bisa aku juga ikut ketarik kebawah nih” kata Naya mengancam
“Aku tarik kamu aja ! gak sudi aku nyentuh tangan dia, bukan muhrim” kata Derya kemudian ingin mencoba menarik tangan Naya
“Bos ih, gak bisa kalo begini. Gengaman tangan ku gak kuat bos ! lagian kita juga masih bukan muhrim” kata Naya kesal
“iya deh, iya… sini kamu lepas aja dulu tangan kamu biar Ajeng jatuh, habis itu baru aku bantuin manggil ambulance” kata Derya yang masih kesal dengan Ajeng
“Bos, jangan jadi seorang yang pendendam. Itu bukanlah hal yang baik, jangan membalas niat jahat dengan kejahatan balaslah air tuba dengan air susu. Itu lebih menenangkan hati” ungkap Naya mencoba memberi pengertian pada Derya
“Haaah, susah ya kalau ngomong sama bidadari. Hatinya terlalu baik sampai-sampai orang mau mencelaki malah ditolong” kata Derya sambil terpaksa membantu memegang tangan Ajeng dan menariknya
“Te,,,terimakasih,,, hiks,,,hiks,,,” kata Ajeng yang masih shock
“Hanya makasih ?” tanya Derya dengan dingin
“Ma,,,maaf Nay” kata Ajeng pelan
“Hiks,,hiks,,, Maaf Naya, Maafkan aku…hiks,,,” kata Ajeng yang masih terduduk lemah
“Iya tidak apa-apa kok Jeng. Aku bukannya tidak marah atau kesal dengan kamu, tapi menolong kamu adalah hal yang lebih utama daripada mengungkapkan kekesalan saat ini” kata Naya mencoba menenangkan Ajeng
“Pak, Pak Derya ada apa ?” Tanya rombongan mahasiswa yang ternyata menyusul mereka, mereka semua menyusul karena mereka harus segera turun gunung
“Ajeng hampir jatuh ke jurang. Kalian bawalah dia, jauhkan dari pandangan saya” pinta Derya dengan kesal
“Kamu Naya, tetap disini ! saya mau ngomong” Kata Derya
“Iya bos ada apa ?” Tanya Naya sambil menunduk
“Tok, kamu itu kenapa bodoh sekali sih ! dengan mudahnya mempercai perkataan orang lain sebelum memeriksa kebenarannya !“ kata Derya kembali mengetok dahi Naya berharap kepolosannya itu segera pergi
“Iya, maaf maaf bos…”kata Naya sambil mengusap dahinya
“Hm, jangan lakukan lagi !” ancam Derya dengan tatapan tajamnya
“Baik Bos” ucap Naya
“Ya sudah, ayo pulang !” ajak Derya sambil tanpa sadar menggapai tangan Naya dna menggandengnya
__ADS_1
“Bos tangannya” kata Naya sambil mentap tangannya yang di gandeng
“Ah, maaf tidak sengaja Nay” kata Derya langusung melepas gengamannya, dia menghormati keputasan Naya
“Hm,,,” kata Naya sambil menunduk
Merekapun akhirnya berkumpul dan bersiap untuk mulai turun gunung… Naya juga sudah siap dengan tas camping dipundaknya dan kemudian ikut berkumpul dengan rombongan.
"Naya tadi handphone kamu terus berbunyi, sepertinya hal yang penting" Kata Indah memberitahu
"Terimakasih ndah" Kata Naya langsung memeriksa ponselnya
"Ibu ? kenapa ya ?" Nayapun segera menghubungi balik namun kondisi sinyal tidak baik sehingga akhirnya Naya menundanya. Dia akan menelpone kembali ketika sudah di kaki bukit.
“Semuanya sudah lengkap ?” Tanya Derya dengan nyaring
"Sudah Pak" sahut mereka serentak
“Baik, karena sudah lengkap sekarang mari kita berdo’a untuk meminta keselamatan saat turun gunung nanti” pimpin Dery dan mereka semuapun berdo’a sesuai kepercayaan masing-masing
Setelah berdo’a dan memeriksa barang-barang mereka lagi, kini mereka semua mulai menuruni gunung. Derya tetap pada prinsipnya, selalu berada didepan Naya sebagai imam.
Perjalanan tidak terlalu melelahkan karena cuaca juga mendukung, sedikit berawan sehingga mentari disiang ini tertutupi. Setelah 1 setengah jam perjalanan mereka tiba dikaki bukit, merekapun berisitirahat sejenak untuk meluruskan kaki yang sejak tadi terus bekerja.
“Huumfff …” Naya yang berteduh dibawah pohon smabil memijat kakinya yang kelelahan
“Nih minum” ucap Derya yang datang menghampiri untuk memberikan air minum
“Makasih Bos” Nayapun langsung membuka botol tersebut dan meminumnya
“Surprise…..” kata seseorang mengageti Naya
“Kejutaan….” Kata orang lainnya dengan membawa banyak kantong kresek berisi cemilan
“Uhuukkk,, uhukkkk….” Naya tersedak karena kaget
“Kamu tidak apa Nay ?” Tanya Derya yang khawatir
“Kalian, kalian kenapa ada disini ?” Tanya Naya keheranan
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode ya 😉~~~