
Pagi hari menyapa, setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Begitupula keluarga Naya, ibu pergi kepasar, Dinda sedang memasak didapur dan Sarah menjadi babysitter sementara karena anak mochi sedang di asingkan oleh induknya.
“Aunty, Aydin ingin ke Bunda” rengek Aydin dipagi hari
“Nanti setelah Aydin pulang sekolah ya, Aydin sekolah dulu ditemani om Anton hari ini” kata Sarah sambil memakaikan baju seragam Aydin. Walau lemot dan paling muda, namun jiwa keibuan Sarah sudah tertanam dalam dirinya.
“Hm, Aydin tidak mau sekolah” kata Aydin cemberut dan pergi duduk diatas kasur
“Ponakan aunty yang paling ganteng, nanti Aydin tertinggal pelajaran jika tidak sekolah, terus hm… Aydin nilainya jadi jelek deh” kata Sarah membujuk anak mochi
Aydin masih cemberut saja, tidak menghiraukan perkataan Sarah. Anak mochi benar-benar sudah rindu dengan Bundanya bahkan ketika baru membuka mata kata pertama yang terucap adalah Bunda
“Aydin kita sekolah ya, biar Aydin jadi anak yang pintar” bujuk Sarah lagi, namun masih belum berhasil
“Tok,tok,tok,,,” seseorang mengetuk pintu
“Masuk aja kak” kata Sarah yang mengira itu adalah Dinda
“Hai” ucap orang yang membuka pintu
“Om !” kata Sarah langsung kalang kabut mencari kerudung, sebab dirinya belum memakai kerudung karena masih di dalam kamar
“Bukh,,, aduhh…” kata Sarah yang terjatuh karena terinjak handuk dilantai
“Siput kalo jatoh bunyi juga ya ternyata, hahaha…” kata Anton malah menertawakan Sarah yang jatuh
“Om, balik badan sekarang !” teriak Sarah
“Siap” kata Anton yang refleks berbalik karena terbiasa diperintah oleh bosnya
“Hm, sudah…” kata Sarah yang akhirnya menemukan kerudung
“Eh, kenapa ku nurut ya ?” kata Anton yang baru sadar bahwa yang memerintahnya tadi bukan bos melainkan siput lemot
“Ngapain om kesini ?” Tanya Sarah cuek
“Mau periksa bos kecil, jadi apa kalau dijaga sama siput lemot kayak kamu” jawab Anton langsung menghampiri Aydin yang masih duduk dikasur
“Kamu apain Rah nih anak bos ? kok jadi muka hulk gini, banyak tekukannya”Kata Anton memperhatikan wajah Aydin
“Dia gak mau sekolah, bujuk atu om. Jangan ngata-ngatain gitu !” kata Sarah
“Benar Aydin tidak mau pergi ke sekolah ?” Tanya Anton berjongkok mensejajarkan tinggi dengan Aydin
“Hm” kata Aydin smabil mengangguk pelan
“Kalau tidak sekolah nanti Bunda Naya tau, terus Bunda Naya jadi sedih. Aydin mau buat Bunda Naya sedih ?” Tanya Anton yang sudah mengerti seluk beluk Aydin
“Tidak om” kata Aydin sambil menggelengkan kepalanya
“Nah kalau begitu, Aydin harus pergi sekolah ya” kata Anton
__ADS_1
“Baik om” kata Aydin langsung bangkit dari duduknya
“Ayo Rah ! lama banget dah itu ngerapiin kerudung doang” kata Anton menatap Sarah yang masih di depan cermin
“Ini lo om, kenapa lancip banget ya kerudung Sarah” kata Sarah yang kesulitan membuat kerudungnya tidak lancip
“Ck, sini !” kata Anton berjalan mendekati Sarah
“Plaaakk !” Anton menyentil kerudung Sraah dan itu malah membuat kerudungnya semakin lancip
“Ooom !” kata Sarah kesal
“Hahaha, udah kaya puncak piramida ini mah” kata Anton menertawakan Sarah
“Ish, udah ah sana om turun aja sama Aydin !” kata Sarah membelakangi Anton untuk kembali merapikan kerudungnya dari awal
“Gitu aja marah, sini ! gini nih biar kerudungnya gak lancip lagi” kata Anton sambil melipat bagian samping kerudung di wajah Sarah
“Nah kan lebih bundar kalo gini. Itu aja gak bisa, masa lebih pro aku yang cowo sih” kata Anton kembali mengejek
“Ya, kan Sarah biasanya pakai kerudung yang langsung om bukan yang perlu dilipat-lipat gini” kata Sarah
“Ye, terserah kau lah. Ayo berangkat udah jam berapa ini !” kata Anton sambil kembali menghampiri Aydin yang hanya memperhatikan keributan mereka dipagi hari
Mereka bertiga pun akhirnya menuju dapur untuk sarapan, Anton setiap pagi selalu mendapat sarapan gratis walau hanya roti tapi itu sudah sangat menguntungkan untuk berhemat dan pagi ini dia disuguhkan ayam kecap kesukaannya mana mungkin dia menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Wenak ini Din, kamu harus masak ini tiap pagi ya ! aku pasti mampir makan disini tiap pagi, gak akan kesebelah tu yang cuma disuguhin roti doang” kata Anton sambil sibuk melahap makanannya
“Eh, kasih makan orang itu berpahala tau gak bocah ?” kata Anton mendebat Sarah
“Ya, kalau yang dikasih makan orang yang membutuhkan. Lah ini om “ kata Sarah menatap Anton dari atas sampai bawah yang terlihat berkelas dan elegan
“Ya aku juga membutuhkan Rah, makan itu kebutuhan setiap orang kali…” kata Anton tidak mau kalah
“Haaah ? em, tapiiii… iya juga ya” gumam Sarah yang bingung membalas perkataan Anton
“Sudah ?” Tanya Dinda
“Hehehe, maaf ka. Tidak akan ngomong lagi kok kalau lagi makan” kata Sarah yang takut dengan ekspresi Dinda
Setelah sesi makan yang penuh berdebatan, akhirnya kusir Anton menjalankan tugasnya mengantarkan tiga keluarga kerajaan menuju sekolah masing-masing. Dimulai dari sekolah Dinda yang lebih dekat, lalu Sarah dan terakhir Aydin.
Ketika tiba diparkiran sekolah Aydin empat pasang mata sedang mengamati Anton dan anak mochi yang turun dari mobil.
“Nah itu si Aydin” kata seseorang
“Iya, benerkan itu Aydin” kata yang lainnya
“Ayo serbu !!!” kata seseorang memimpin untuk semakin dekat dengan mobil Anton
“Aydin, gimana Bunda kamu ?” Tanya Jeng Ayu yang lebih dulu tiba didekat mereka
__ADS_1
“Assalamu’alaikum tante. Alhamdulillah Bunda Aydin sudah sehat kok” jawab Aydin
“Eh iya, lupa ucap salan tante, hehehe… Assalamu’alaikum anak manis” kata Ayu baru sadar jika dia tadi terlalu buru-buru bertanya
“Wa’alaikumsalam” sahut Aydin dan Anton
“Gimana jeng Naya? Apa sudah ketemu ?” Tanya Jeng Lidya dengan nomer urutan dua yang mendekat
“Alhamdulillah bu, Ibu Bos Naya sudah ketemu dan saat ini sudah baik-baik saja tapi masih perlu istirahat dulu” jawab Anton
“Waaah, siapa ini ? ganteng juga jeng !” kata Jeng Putri yang dari tadi mendengarkan
“Saya Anton bu, asistennya pak Derya” kata Anton mencoba ramah
“Owalaaaah, ganteng-ganteng ya ternyata orang yang dekat sama Jeng Naya ini. bikin iri deh jeng...” kata Jeng Nia
“Hehehe…” Anton hanya tersenyum kikuk dipuji ibu-ibu. Ini membuatnya sedikit risih karena ibu-ibu bukan tipe dia
“Terus jeng Naya kapan pulang Ton ?” Tanya Jeng Nia
“Em, sepertinya hari ini sudah pulang bu” jawab Anton
“Kita jenguk yu Jeng !” ajak Nia pada yang lainnya
“Iya setuju tuh, eh tapi kita bawa apaan ya ?” Tanya Jeng Lidya menatap Anton, kemudian yang lain juga ikut menatap Anton
“Lah kenapa jadi malah nanya ke saya ? kan situ yang mau berunjung” batin Anton merasa tertekan
“Hehe, Mungkin ibu-ibu bisa bawa parsel buah biar lebih sehat. Soalnya Naya lagi hamil bu” kata Anton
“Waaah, hamiil ?!?!?!” teriak Jeng Lidya
“Hamil ? yang bener ?” kata Jeng Putri tak kalah kaget
“Beneran hamil kan kali ini ?” Tanya Jeng Ayu
“Waduuh, akhirnya tips dari aku mempan juga !” kata Jeng Nia bahagia
“Iii,,, iiya Bu. Ibu Bos Naya beneran hamil” kata Anton kikuk dengan respon mereka yang heboh
“Ting,ting,,ting,,,” Bel masuk menyelamatkan Anton dari kerumbunan bu ibu komplek.
“Humf, akhirnya bisa pergi juga” Batin Anton kemudian pergi beralasan harus membawa Aydin segera masuk kelas karena bel berbunyi.
Namun Anton anda salah besar, karena di depan kelas Aydin adalah markas geng bu ibu rempong ini. Selamat bergosip ria seharian Anton.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode ya 😉~~~