
“Disini nek ?” Tanya Naya saat mobil berhenti didepan rumah Derya
“Iya nak, nenek tinggal disini. Ini rumah cucu nenek” kata nenek tersebut yang ternyata adalah Alara
“Ini rumah Derya Erhan Murat kan nek ? nenek, neneknya Mas Derya ?” Tanya Naya kaget
“Iya, saya Alara nenek sambungnya Derya. Kenapa ya ?” Tanya sang Alara bingung
“Ini Aydin nek, anaknya Pak Derya dan saya Naya” ucap Naya kemudian mencium tangan sang nenek
“Waaaaah, jadi Aydin ini cicit nenek ? dan kamu pasti tunangannya Derya kan ?” Tanya sang nenek menatap keduanya
“Iya nek” ucap Naya tersenyum malu
“Waaah, ternyata pilihan cucu nenek tidak salah. Kamu sangat baik hati nak Naya, Adyin juga sangat menyayangi kamu. Sangat jarang lo anak kecil sangat menyukai calon ibu sambungnya” ucap Alara sambil mengelus punggung Naya
“Ini juga karena sikap Aydin yang ceria dan periang nek, jadi saya mudah mendekati Aydin” ucap Naya
“Jadi Nenek adalah nenek Aydin ?” Tanya aydin
“Bukan sayang, nenek adalah nenek buyutnya kamu atau buyukanne kamu” ucap Alara menjelaskan
“Oooh, nenek buyutnya Aydin ?” Tanya Aydin memastikan
“Iya, pintar sekali cicit buyuk” ucap Alara mengusap lembut kepala Aydin
“Nenek kapan datang kesini ? apa Mas Derya sudah tau nek ?” Tanya Naya mulai menurunkan belanjaan
“Hm, kakek buyut tadi sudah pergi keperusahaan mungkin sekarang nak Derya sudah tau kalau kami datang” jelas sang nenek sambil menggandeng Aydin
“Oh, syukurlah kalau mas Derya sudah tau. Nenek kenapa belanja banyak sekali ? mau bikin apa nek ?” kata Naya sambil berjalan masuk kedalam rumah
“Nenek hanya ingin membuatkan makan malam nanti untuk merayakan kedatangan kami ke mari” ucap sang nenek sambil membantu Naya membongkar belanjaan
“Nyonya besar dan Neng Naya dari mana ? kenapa belanja banyak sekali ?” sapa bi Lastri yang kebetulan datang ke dapur
“Ini bi, nenek mau masak makan malam katanya, nanti Naya bantu ya Nek” kata Naya tersenyum ramah
“Iya Nyonya biar kami semua bantu, ada si Ira juga itu yang jadi kaum rebahan di kamar. Hehehe” kata bi Lastri becanda
“Alhamdulillah, ternyata orang rumah disini baik-baik semua ya. Jadinya saya tidak merasa kesepian dan merasa asing karena baru datang kesini” ucap Alara tersenyum menatap mereka semua
“Bunda, Aydin ingin makan buah” ucap Aydin yang duduk di kursi makan dan masih mengenakan seragamnya
“Astagfirullah, maafin Bunda ya sayang Bunda kelupaan. Aydin kan harus ganti pakaian dulu setelah itu baru makan buah” ucap Naya langsung menghampiri Adyin yang sejak tadi hanya menjadi pengamat mereka yang membongkar belanjaan
__ADS_1
“Hm, Bunda bisa siapkan buahnya saja. Kan Aydin sudah besar sebentar lagi akan jadi kakak, jadi Aydin sudah harus bisa berganti pakaian sendiri” kata Aydin bersikap dewasa
“Hm,,,darimana sih anak Bunda mengerti hal ini ? kata siapa Aydin akan menjadi kakak ?” Tanya Naya
“Kata om Anton, kan sebentar lagi Ayah dan Bunda akan menikah. Jadi Aydin tidak boleh tidur terus bersama Bunda jika ingin punya adik manusia. Aydin ingin adik manusia Bunda bukan adik kucing seperti Gley” ucap Aydin cemberut
“Sayang, kan Gley itu sebagai latihan Aydin untuk terbiasa jika mempunyai adik nanti” kata Naya
“Em, tapi Gley bukan adik Adyin. Gley tidak bisa ngomong Bunda, cuma meong,,,meong,,, saja. Kan Aydin tidak mengerti” ucap anak mochi dengan cemberut
“Hehehe, iyadeh iya… nanti Aydin akan punya adik beneran. Jadi benar nih Aydin mau ganti baju sendiri tidak dibantu Bunda ?” Tanya Naya
“Iya Bunda, Aydin ke atas dulu ya. Dahah buyut dan bibi lastri… dadah Bunda, muach..” kata Aydin langsung turun dari kursi setelah mencium pipi Naya
“Hehehe, jangan terlalu cepat besar sayang. Bi Lastri Naya bisa minta tolong tidak untuk mengawasi Aydin berganti pakaian” Tanya Naya pada bi Lastri
“Siap neng. Mari nyonya besar saya permisi dulu” kata Lastri langsung pergi setelah mendapat anggukan dari nyonya besar
“Kapan kalian akan menikah nak ?” Tanya Alara
“Rencananya sekitar seminggu lagi nek” jawab Naya sambil memotong buah apel untuk Aydin
“Berarti nenek masih bisa menghadiri acara pernikahan kalian nanti, karena rencannaya nenek dan kakek akan ada disini sekitar setengah bulan” ucap Alara tersenyum senang karena dapat mendampingi cucu sambungnya menikah
Nenek sedikit merenggangkan tubuhnya karena pegal mungkin karena berbelanja barang yang banyak tadi ditambah sebelumnya juga melakukan perjalanan yang panjang
“Nenek kenapa ? apa nenek kelelahan ? seharusnya nenek istirahat saja nek” ucap Naya sambil meuntun Alara untuk kedalam kamar tamu
“Terimakasih Naya, kamu sungguh perhatian” kata Alara sambil tersenyum lembut
“Kembali kasih Nek, apa badan nenek pegal-pegal. Sini nek biar Naya pijat” kata Naya mulai memijat kaki Alara yang berbaring di kasur
“Waaah nyamannya. Terimakasih nak Naya…” kata Alara sambil mengusap lembut wajah Naya
“Iya nek, nenek istirahat saja. Nenek pasti belum makan siang kan ? nanti setelah makan siang siap Naya akan membangunkan nenek” kata Naya yang masih memijat kaki Alara
“Nenek sudah makan siang kok nak. Nanti jika kakek datang saja ya kamu bangunkan nenek” ucap Alara sambil sedikit terhanyut untuk tidur
“Baik Nek” jawab Naya terus memijat
Beberapa menit berlalu, Nenek Alara juga sudah tertidur dan Naya terpikirkan anak mochi yang tumben tidak berteriak memanggil dirinya ?
Ceklek… pintu kamar terbuka
“Kamu siapa ?” Tanya seorang pira tua didepan pintu
__ADS_1
“Oooh, kamu tukang pijit yang dipanggil Ala ya ?” Tanya pria tersebut yang sempat melihat Naya yang memijat Alara
“Anu kek bukan” ucap Naya mencoba menjelaskan
“Saya suaminya Alara, nenek yang kamu pijat itu. Kamu juga pijatlah kaki saya. Saya sangat lelah” ucap Metin sambil duduk bersandar di sisi kasur lainnya
“Tapi kek, saya bukan…” ucap Naya lagi
“Sudahlah, jangan membuat saya menunggu. Ayo lakukan !” kata Metin yang sudah menyandarkan dirinya di tempat tidur
Nayapun melakukan apa yang si kakek minta, dirinya ingin menjelaskan namun nampak jelas tersurat gores kelelahan diwajah sang kakek sehingga Naya iba dan memijat kakek yang tidak dikenalnya ini.
“Hm kakek ini mengaku suaminya Nenek Alara, berarti ini kakeknya mas Derya dong ?” batin Naya sambil memijat kakek yang tidak diketahui namanya ini
“Tapi dari sikap beliau memang sangat mirip dengan Mas Derya sih…” kata Naya sambil menatap kakek yang menutup matanya ini
“Hm, pijatan kamu enak” puji Metin setengah sadar karena kini dirinya malah ingin tertidur
“Terimakasih kek” jawab Naya sungkan karena dia sedikit terkejut dengan pujian yang dilontarkan si kakek
“Hm, andai bocah itu punya istri yang pandai memijat seperti ini pasti dia tidak akan mudah emosi” kata sang kakek yang berbicara mulai melantur
“Hah ? bocah siapa yang kakek maksud ?” Tanya Naya bingung
“Itu cucu kakek yang bodoh itu. Malah meninggalkan kakek disaat terpuruknya dan sekarang mudah emosi bahkan hanya dengan melihat wajah kakek. Apa yang yang salah dengan semua yang ku lakukan ! Akh. dasar bocah bodoh ! tidak pernah berpikir untuk kebaikannya sendiri di masa depan. Lihat betapa menyedihkannya hidupnya sekarang, membesarkan anaknya sendirian tanpa adanya pendamping dan sekarang malah bertunangan dengan orang yang pastinya hanya mengincar harta kekayaan keluarga kami saja ! “ kata sang kakek dengan suara yang semakin melemah karena mulai terhanyut dalam tidur
“Deg, jadi kakek tidak merstui hubungan kami ? tapi aku tidak pernah mengincar harta kekayaan mas Derya “ batin Naya
“Tapi kek mungkin saja tunangan Mas Derya tidak pernah mengincar harta cucu Kakek” ucap Naya mencoba menjelaskan
Namun tidak ada jawaban yang didapat, hanya nasfas teratur dari kedua orang yang sudah tertidur lelap karena kelelahan.
“Humf,,, semoga kakek bisa menerima aku saat kami sudah berkenalan nanti” kata Naya menghentikan pijatannya lalu keluar kamar membiarkan kedua paruh baya itu untuk merehatakan tubuh mereka.
.
.
.
See you next episode ya 😉~~~
Jangan lupa like 👍 komen 💬 dan vote 🎫
Thanks All ❤️❤️❤️
__ADS_1