
"Hahaha, sini biar Mas Naya yang peluk. Kacian pelukannya dianggurin” ucap Naya mendekat dan tertawa karena hubungan anak dan Ayah yang tidak biasa itu
“Beruntungnya aku… dimiliki kamu….” Ucap Derya memeluk Naya dengan nyaman sambil bernyanyi
“Kamu adalah bukti, dari cantiknya paras dan hati, kau jadi harmoni saat ku bernyanyi, tentang terang dan gelapnya hidup ini” sambungan cepreng terdengar tak jauh dari mereka
“Kalian sudah tiba ?” tanya Derya segera mengenali pemilik suara
“Hehe, iya bos. Akhirnya aku juga bisa manja-manjaan sama istri sekarang” ucap Anton bahagia
“De Saraah,,, assalamu’alaikum, udah lama gak ketemu ih…” ucap Naya segera melepas pelukan dan menghampiri adiknya
“Eh,,,eh,,, Bun… aku belum puas loh meluknya” ucap Derya ingin menahan namun tidak bisa
“Haha, ternyata bos kalah sama istri aku” ucap Anton menertawakan
“Kau ya…” ucap Derya menahan kesal sambil menunjuk
“Bos tuh anak-anaknya lagi cosplay jadi monyetkah ?” tanya Anton menunjuk anak-anak yang melompat didalam
“Hei, anakku cuma ada tiga disana. Siapa yang kau katakan monyet ?” tanya Derya sambil mengamati
“Bos, orang tua mereka sedang tidak ada disini. Andalah penanggung jawab mereka disini, sehingga bisa dikatakan mereka semua anak anda” ucap Anton menjelaskan dengan serius
“Hm…” ucap Derya mengangguk pelan karena merasa setuju dengan ucapan Anton
“Nah dan mereka semua sedang melompat seperti anak money berarti ada bapak monyet juga disini” ucap Anton sambil melirik kearah orang yang dimaksud Ayah monyet
“Jika melompat berarti monyet, berarti atlet lomapat jauh juga seekor hewan dong ?” ucap Derya berfikir jauh
“Bukan itu intinya bos, lihat dari gerakan mereka. Mereka seperti monyet lepas yang berbahagia tanpa kekangan orang tuanya” ucap Anton
“Hm, jadi orang tua itu pasti memiliki rasa khawatir dan tidak bisa membiarkan anak-anaknya terlalu bebas. Rasa khawatir dan panik saat melepas anak sendirian itu perasaan yang normal kata istriku tinggal diri kitanya saja yang bagaimana mengontrolnya” ucap Derya sambil menatap anak-anaknya bermain dengan girang
“Ya, nanti saya juga akan merasakannya bos. Tapi sekarang kami ingin pacaran dulu tanpa gangguan makhluk mungil yang menggemaskan namun merepotkan itu” Ucap Anton
“Hehe, kau sudah menghadapi betapa meropatkannya anak kecil itu dari para ponakanmu. Tunggu apa lagi ? jangan beralasan ingin pacaran segala” ucap Derya terkekeh mendengar ucapan Anton
“Hehe, do’akan saja ya bos” ucap Anton dengan sedikit kesedihan disana, dalam lubuk hatinya pasangan ini sangat ingin memiliki momongan, namun sang pencipta belum menitipkan amanah itu pada mereka.
“Kau melamun ?” tanya Derya menyadari Anton terdiam
“Tidak, mana ada saya melamun” ucap Anton segera menyanggak dan kembali seperti biasa
“Ayaaang, ayo kita masuk kedalam” ajak Anton
“Masuk kemana yang ?” tanya Sarah sambil memahami maksud Anton
“Itu,,,” tunjuk Anton
__ADS_1
“Hah, apa ponakan-ponakan Sarah terkurung disana ? aduh bagaimana ini ?” ucap Sarah panik saat melihat anak-anak ada dibalik jaring
“Tidak ayang, mereka tidak terkurung. Ayo ikuti yang beb kemari, kita akan menyusul mereka” ucap Anton segera menggapai tangan Sarah yang sulit dikasih paham jika tidak menjalaninya langsung
“Ah, iya, iya… Ayang mah kebiasaan maksa, tiap malam Sarah juga selalu didorong-dorong buat olahraga, Sarahkan gak paham maksud Ayang kalau ma...” ucap Sarah polos
“Syuuut, itu rahasia kita ayang. Nanti Kakak ipar protes kalau kita olahraga tiap malam” bisik Anton segera meletakkan leunjuknya didepan bibir Sarah
“Aku sudah mendengarnya Ton, jangan berlebihan saat melakukannya Sarah masih muda kalian masih punya banyak waktu untuk itu” ucap Naya menasihati
“Baik kakak Ipar” ucap Anton menunduk karena sudah diperingati
“Hehe, kau seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan asin saja Ton. Itu urusan rumah tanggamu aku tidak akan ikut campur lebih dalam, aku hanya menasihati saja. Sudah sana temani ponakan-ponakanmu” ucap Naya tertawa renyah melihat ekspresi Anton
“Terimakasih kakak ipar, Ayo ayang kita kesana” ucap Anton kembali gembira karena Naya tidak benar-benar melarangnya
Sementara itu didalam arena bermain Aydin yang baru saja datang segera menghampiri Kila, adik kesayangannya.
“Dik, siapa dia ?” tanya Aydin sambil melompat-lompat pelan
“Namanya Nia kak, dia teman kami” ucap Kila
“Salam kenal, aku Aydin kakaknya Kila” ucap Aydin tersenyum ramah
“Kak Ay, juga kakak Ipan tau. Cenapa hanya menyebutkan cebagai kakaknya de Ila” protes Kivanc yang ternyata ada didekat sana
“Ipan cudah becal bukan bocah lagi kak Ay” protes Kivanc lagi
“Tapi lebih besar aku bukan kawan ? kalau kau tidak ingin dipanggil bocah berarti kau bestfreindku” ucap Aydin segera memeluk leher Kivanc
“Aduuh,,, ka Ay Ipan idak bica belnapas” ucap Kivanc kembali protes
“Kau sangat berisik” ucap Aydin segera melepas Kivanc dan menatap datar
“Kak Ay cepelti Ayah yang cedang malah, Ipan idak cuka muka kak Ay cepelti itu” ucap Kivanc berkomentar
“Huuuf,,, baiklah. Aku akan memperkenalkan diri lagi. Hai, salam kenal aku Aydin, kakak Kila dan Kivanc” ucap Aydin mengalah dan mengikuti scenario Kivanc agar dia tidak protes lagi
“Hai, aku Nia” ucap Nia dengan bahasa isyarat
“Dia tidak bisa berbicara ?” tanya Aydin meminta penjelasan pada Nia
“Iya, Nia itu istmewa loh kak. Dia bisa membaca gerak bibir kita tanpa mendengarnya, kerenkan ?” ucap Kila menceritakan
“Waah, dia hebat” puji Aydin menatap Nia dengan selidik, dirinya tidak menyangka ketika melihat fisiknya seperti baik-baik saja ternyata dia tidak dapat berbicara
“Tuhkan, Nia itu keren. Kakak Kila saja mengakuinya, jadi Nia jangan malu lagi jika tampil didepan orang lain” ucap Kila menyemangati, dirinya tau jika Nia akan mengikuti lomba menari disekolah
“Terimakasih Kila, Nia pasti akan semangat” ucap Nia tersenyum
__ADS_1
“Hei, ayo kita buktikan siapa yang paling kuat. Ayo kita naik kesana !” tantang Aydin pada kedua anak laki-laki disana
“Oke,,, com kita belomba !” ucap Kivanc segera berlari kearena panjat tebing
Para guiad dengan sigap membantu memasangkan tali pengaman dan mengarahkan anak-anak memanjat tebing sesuai tinggi usia mereka.
“Ipan ingin dicana juga cepelti kak Ay” ucap Aydin tidak ingin kalah dengan kakaknya
“Tidak bisa dek, kakak kamu tubuhnya lebih tinggi dan usianya juga sudah besar. Tunggu kamu berusia sama dengan kakaknya ya baru panjat disana” bujuk Guaid
“Idak mau !” protes Kivanc kekeh
“Hei bos kecil, walaupun dindingnya berbeda tapi itu tidak mengurangi kehebatan siapapun yang menang !” ucap Anton tiba-tiba menyusul
“Om Ton ?” ucap Kivanc segera menoleh
“Hai bos kecil” Sapa Anton pada ketiganya
“Yang om Ton katakan tadi benalkah ?” tanya Kivanc
“Iya, dinding ini khusus dibuat untuk anak-anak seusia Kivanc. Jika Kivanc bisa mengalahkan kakak Aydin itu karena kemampuan Kivanc, jadi Kivanc hebat” ucap Anton membujuk
“Hm,,, kalau Ipan ingin lebih hebat agi. Belalti Ipan halus mengalahkan Om Ton dong” ucap Kivanc menyimpulkan sesuatu
“Ya, bisa dibilang begitu bos” ucap Anton ragu, sementara Sarah sudah menghampiri anak-anak perempuan yang sedang menepel balok ke dinding
“Kalau begitu Om Ton uga halus naik, dicitu, om Ton dididing yang paling inggi itu !” tunjuk Kivanc pada sebuah dinding yang sangat tinggi
“Ah, tidak bos,,, tanpa kita berlombapun Bos Kivanc lebih hebat dari Om Anton. Gak usah ya” ucap Anton
“Idak mau, om Ton uga halus naik kecana” ucap Kivanc kekeh
“Ini keras kepala turunan Bapaknya kali ya” batin Anton terpaksa memakai peralatan panjat tebing, karena tatapan laser sang Bos besar sudah tepat sasaran mengenai pandangannya
“Baiklah kita akan berlomba” ucap Anton dengan lemas
“Yeeaay, aciiik… de Ila, Nia dan onty Calah jadi julinya ya. Yang menang anti dibelikan om Anton esclem !” ucap Kivanc bersemangat
.
.
.
See you next episode ya 😉
Jalangan lupa like dan koment~~~
Thanks all ✨
__ADS_1