
Sementara itu kekacauan didapur masih berlangsung, setelah sesi rebus merebus. Saatnya Anton berperang dengan ayam goreng.
“Rah ini beneran dimasukin kesini ?” Tanya Anton pada Sarah
“Iya om masukin ke wajan itu lah, kalau gak dimasukin kapan matengnya ?” ucap Sarah
“Ini kayak yang di tv-tv itukan pasti bakalan meletik kemana-mana itu minyaknya” ucap Anton was-was
“Masukinnya pelan-pelan om biar gak meletik” ucap Sarah memberi saran
“Beneren ya, aku masukin nih !” ucap Anton mulai memasukkan ayamnya namun dengan posisi tubuh yang menjauh
“Ciiiiiissssss…..” Ayam gorengpun masuk kedalam minyak panas
“Au Rah, sakit-sakit !” ucap Anton langsung kabur
“Tuhkan kecipratan minyak” ucap Anton sambil meniup bekas kena minyak tersebut
“Sarah ambilin salep ya om” ucap Sarah menjadi tidak enak
“Iya, tolong ambilin Rah” ucap Anton masih meniup-niup
“Ahha ! lebih baik aku mengambil pengaman sebelum membalik ayam lagi nanti !” gumam Anton menemukan ide berlian
“Lah kemana sih om Antonnya ?” Tanya Sarah bingung
“Katanya mau diobatin” gumamnya lagi sambil menengok kesekeliling
“Ish mana sih ! om… Om Anton !” panggil Sarah sambil berjalan mencari keberadaan si Anton
“ Om Anton !!!” panggil Sarah sambil menuju keluar rumah
“Puk !” seseorang menepuk pundak Sarah
“Om Anton ! Kemaaa…” ucap Sarah sambil berbalik
“Astagfirullah ! Ayam goreng enak sekali !!!” ucap Sarah kaget
“Hai Rah, ini aku” ucap Anton membuka penutup helmnya
“Om mau kemana ?” Tanya Sarah bingung melihat seragam Anton yang mengenakan jas hujan dan helm
“Mau berperang Rah, do’ain ya” ucap Anton serius
“Hah ? dimana ada perang om ? ” Tanya Sarah lagi menganggap omongan Anton serius
“Pokoknya ada Rah, ini perang yang dahsyat” ucap Anton penuh penghayatan
“Kemana om ?” Tanya Sarah yang penasaran
“Ke…. Huummm,,, kamu cium sesuatu gak rah ?” Tanya Anton yang mempertajam indra penciumannya
“Huuum… iya om kayak bau gosong gitu” ucap Sarah yang juga ikut mengendus
__ADS_1
“ASTAGA Rah ! Ayamkuuuuuu….” Ucap Anton langsung berlari kedapur
“Hah ? memangnya om Anton ada punya ayam ?” gumam Sarah bingung dan ikut berjalan menuju dapur
“Alamaaaak ! gimana ini ? Ayamnya gosong ! wajannya juga ikut gosong karena kepanasan” ucap Anton langsung mematikan kompor dan mengangkat ayam gosongnya
“Haaaaahh, maafkan aku ayam sudah membuat kamu gosong” ucap Anton sambil menghela nafas
“Rah, apa masih ada stok ayam dikulkas ?” Tanya Anton
“Bentar Om Sarah periksa dulu” ucap Sarah kemudian membuka kulkas dan tidak menemukan keberadaan ayam disana
“Gak ada om !” ucap Sarah melapor
“Yaaah, terus gimana dong Rah ? gak mungkin ayam gososng kita sajikan kepada keluarga kerajaan” ucap Anton lesu
“Bukannya om mau berperang ? kenapa memikirkan masakan ?” Tanya Sarah masih bingung
“Haaaah, belum paham juga ternyata ini bocah ! maksud aku berperang didapur rah, melawan cipratan minyak yang menyakitkan itu” ucap Anton sambil montong menunjuk wajan gosong
“Ooooh…” respon Sarah mengerti
“Au ah gerah” ucap Anton mulai melepas helm dan jas hujan yang dia kenakan
“Nih om minum dulu” ucap Sarah menyerahkan segelas air putih
“Thanks Rah” ucap Anton mengambil gelas dan meminumnya
“Entahlah, tapi ketika mau kesini Sarah ingat sepertinya kita ada melalui restoran om” ucap sarah
“Restoran ? Ahhaaa, cakep Rah. Mantap ! ternyata otak kamu juga ada fungsinya. Cup !” Anton mencium pucuk kepala Sarah saking bahagianya, dia tidak membayangkan gajinya akan hangus seperti ayam goreng jika masakan tidak bisa disajikan tepat waktu.
“Om ! jangan cium-cium atuh !” ucap Sarah langsung menjaga jarak dengan Anton
“Ops, hehehe… sorry Rah kelepasan” ucap Anton malu sendiri
“Hm…” ucap Sarah merajuk
“Ning nang ning nang eeey… jangan merajuk atuh” Anton menggoda Sarah
“Apaan sih om, Sarah bukan anak kecil tau” ucap Sarah berusaha menahan tawanya
“Hehehe, iya tau kok. Sarah udah besar, puk,,puk,,” Derya menepuk pelan kepala Sarah
“Udah yuk, kita berangkat sekarang. Bentar lagi adzan, biar pas kita balik kesini kita shalat dulu baru menata makanannya” ucap Anton kemudian menggandeng tangan Sarah
Sarah hanya menatap Anton didepannya, mendapat perlakuan lembut seperti itu membuat hatinya menghangat.
***
Beberapa menit berlalu, adan magrib mulai berkumandang. Keluarga kerajaan didalam kamar sudah siap dengan mukena dan sajadah mereka.
“Mas pimpin shalatnya ya” pinta Naya dengan lembut
__ADS_1
“Baik sayang” ucap Derya mantap, dirinya sudah lebih memahami agama semenjak menikah dengan Naya. Dia belajar dengan membaca buku-buku islami dan menghafal do’a-do’a agar bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya
“Aydin sayang, Aydin sudah hafalkan bacaan shalat yang Bunda ajarkan ?” Tanya naya
“Hm, Aydin sedikit lupa Bunda” ucap Aydin menunduk
“Tidak apa sayang, nanti kita bealajar lagi ya. Kali ini Aydin baca sebisa Aydin saja” ucap Naya menghibur anak mochi
“Baik Bunda” kata anak mochi langsung mengangkat kepalanya kembali karena Naya tidak marah
“Pintarnya anak Bunda” ucap Naya sambil mengelus lembut pipi mochinya
“Anak ayah juga Bun” protes Derya
“Iya, Aydin anak Ayah dan Bunda” ucap Naya tersenyum
Merekapun shalat dengan khusyuk, setelah shalat mereka saling mencium tangan sebagai bentuk hormat kepada yang lebih tua. Naya dan Aydin mencium tangan imam keluarga mereka, Derya membalas dengan mengecup sayang keduanya. Sebuah gambaran keluarga yang harmonis, setelah melalui berbahai rintangan dan perhara rumah tangga pada umumnya lebih awal membuat mereka menjadi lebih memahami sekarang.
Mengerjakan salah satu kewajiban sebagai umat muslim sudah mereka lakukan, kini saatnya mereka memenuhi keinginan tubuh untuk mengisi tenaga. Mereka bertigapun turun kebawah menuju dapur.
“Hati-hati sayang” ucap Derya menuntun Naya dengan hati-hati
“Pelan-pelan Bunda” ucap anak mochi tidak mau kalah, dia menggandeng tangan Bundanya dan memimpin jalan di depan
“Baik sayang-sayangku” ucap Naya merasa seperti tuan putri yang dijaga dua pengawalnya
“Kita kedapur dulu yu Mas, Naya mau melihat gimana mereka masak” ucap Naya
“Jangan sayang, kita langsung ke meja makan saja ya !” ucap Derya langsung mencegah
“Naya mau bikin susu buat kehamilan Naya sekalian mas” ucap Naya memberi alasan
“Biar mas saja ya, kamu dan Aydin ke meja makan saja” ucap Derya kekeh
“Hm,,, Apa yang disembunyikan mas ?” larangan Derya justru membuat Naya semakin penasaran dan membuat dirinya langsung berjalan menuju dapur
“Astagfirullah, ada apa dengan dapurnya Mas ? apakah kemalingan ?” Tanya Naya kaget dengan kondisi dapur
“Huuumff,,, makanya mas suruh kamu langsung ke meja makan saja sayang. Anton itu gak bisa masak, Mas pikir ada kemajuan ternyata masih sama saja. Nanti kita makan diluar saja ya” ucap Derya langsung menuntun Naya menuju meja makan
“Hem, kemana makhluk yang menghancurkan dapurku. Apa kabur ?” batin Derya geram
“Bulan ini gaji kamu akan aku gunakan biaya perawatan dapur yang kacau balau itu” lanjut Derya dalam hatinya
.
.
.
See you next episode ya 😉~~~
Hayoloh Ton !!! Ayah bear ngamuk tuh 🤣🤣🤣
__ADS_1