
"Astagfirullah, Aaaaaa…..” teriak Naya terpeleset. Dirinya sedang berada di ujung tebing saat ini, karena terlalu fokus memotret sehingga dia tidak menyadari posisinya berada di daerah rawan.
“Nayaaaa” teriak Derya sigap menggapai tangan Naya
“Humfff… Bruk…” Derya menarik nafas lega dan segera menarik Naya kepelukkannya
“Kamu baik-baik saja ?” Tanya Derya pada Naya
“Deg,,,deg,,,deg,,,” suara jantung keduanya saling beradu, Naya dapat dengan jelas mendengar degupan jantung milik Derya saat ini.
“Segitu takutnya kah dia saat melihatku ingin jatuh ?” Batin Naya sambil mendengarkan birama jantung Derya dalam pelukan yang nyaman
“Nay, Naya… kamu baik-baik saja kan ?” Tanya Derya lagi
“Em,,, anu iyaa bos. Saya baik-baik saja bos” ucap Naya langsung menjauh dari dekapan Naya, dia merasa malu karena dia menjadi pusat perhatian saat ini. Namun rasa kaget dan takut itu masih membekas dihatinya.
“Alhamdulillah kalau kamu baik-baik saja” kata Derya lega
“Beristirahatlah !” perintah Derya agar Naya segera masuk kedalam tenda dan beristirahat
“Ayo Nay aku Bantu” ucap Aldo ingin membantu memapah Naya kedalam tenda
“Ada teman satu tendanya, biarkan dia saja yang memapah Naya. Kan ada larangan untuk mahasiswa laki-laki memasuki tenda perempuan” ucap Derya melarang Aldo untuk dekat-dekat dengan Naya
“Baik pak” ucap Aldo tidak jadi menolong Naya
“Terimakasih do atas niat baiknya” kata Naya menjadi tidak enak karena selalu menolak bantuan Aldo
“Iya Nay, tidak apa-apa kok” jawab aldo sambil tersenyum
“Kamu ! kamu kan yang mengageti Naya !!!” Kata Derya langsung menunjuk Ajeng dengan sangat emosi
“Anu, anu pak… mak, maksud saya hanya ingin bercanda dengan Naya” ucap Ajeng gugup
“Kamu tidak melihat dimana dia berdiri saat itu ? dia sedang ada diujung tebing dan kamu malah membuat dia kaget” kata Derya langsung memarahi Ajeng
“Sebelum kamu berniat melakukannya apa kamu tidak berpikir panjang untuk itu ? jika ingin berbuat pikir akibatnya ! lihat situasinya ! saya tidak suka dengan seseorang yang tidak menggunakan otaknya saat bertindak ! kamu sudah membahayakan nyawa teman kamu, sebagai hukumannya kamu akan tidur diluar tenda malam ini dan jaga api unggun jangan sampai padam !” kata Derya dengan tegas menasehati Ajeng
__ADS_1
“Ta,,,tapi Pak saya benar-benar tidak berniat untuk mencelakai Naya.” Kata Ajeng masih mengelak
“Dan bahkan setelah kejadian pelaku akan selalu berusaha menutupi keburukannya, itu adalah ciri-ciri penjahat yang sangat buruk “ kata Derya menghina Ajeng
“Pak, saya minta maaf. Saya tidak ingin tidur diluar, disini sangat banyak nyamuk dan serangga lainnya saya membenci itu” kata Ajeng dengan nada minta dikasihani
“Saya lebih benci mendapat maaf tidak pada tempatnya. Harusnya yang kamu minta maafnya bukan saya tapi Naya !” kata Derya kesal sekali
“Sudahlah, tidak ada keringanan untuk kamu. Untuk kalian semua yang membantunya saya akan dengan hati memberikan hukuman yang sama dengan dirinya kepada kalian” kata Derya smabil menatap semua orang yang mengerumuni mereka
“Ba,,,baik pak” sahut mereka dengan gugup karena baru pertama kali ini mereka melihat seorang Derya marah
“Bubar !” kata Derya pada semuanya.
Merekapun segera bubar dan kembali dengan kesibukan masing-masing. Acara malam berjalan dengan lancar, setelah makan malam bersama mereka melakukan api unggun untuk membuat suasana malam lebih hangat. Selalu ada yang mengabadikan moment disetiap kegiatan, mereka akan mengenang apa yang dilakukan dimasa mudanya saat ini.
Malampun berlalu, dinginnya udara dipagi hari membuat mereka enggap untuk keluar dari tenda. Berbeda dengan Naya yang sangat menyukai udara pagi, dirinya sudah keluar dari tenda dan menikmati segarnya udara dipegunangan saat pagi hari.
Derya yang terpaksa bangun karena harus menyuruh Ajeng untuk bisa masuk ke tenda pun juga keluar dari tendanya, dia tidak ingin gara-gara hukumannya anak orang menjadi sakit dan dia harus berurusan dengan keluarganya, satu orang itu saja sudah sangat menyebalkan apalagi jika berurusan dengan hukum atau keluarganya. Namun, saat Derya keluar dari tenda sudah tidak ada sosok ajeng disana dan kemungkinan orang itu sudah masuk lebih dulu kedalam tenda tanpa diminta.
“Pagi bos” sapa Naya dengan senyuman yang langsung menghangatkan
“Hanya sedang menikmati pemandangan pagi yang jarang saya jumpai bos, udara disini juga snagat bersih dan nyaman sayang untuk dilewatkan” kata Naya kembali memandang lurus kedepan melihat pemandangan yang indah
“Ya pemandangan disini sangat indah” kata Derya sambil menatap Naya dengan hangat
“ada kamu disini yang membuatnya lebih indah Nay” batin Derya saat menatap Naya
“Bos mau saya foto ? biar saya kirimkan dengan Aydin” kata Naya mengeluarkan ponselnya
“Baiklah” kata Derya kemudian tersenyum bersiap untuk difoto
“Senyumnya kaku amat bos, haha” tawa Naya yang melihat Derya canggung untuk tersenyum
“Hehehe, bagaimana jika kita berfoto berdua saja. Itu pasti akan membuat Aydin lebih senang” bujuk Derya
“Hm, baiklah… tapi bos sendiri dulu. Satu, dua, tiga, cekrek…” nayapun mengabadikan foto Derya
__ADS_1
“Sudah, sekarang kita berdua” kata Derya sambil berjalan mendekati Naya
“Okey,,, satu, dua, tiga.” Kata Naya membimbing untuk difoto, kemudian jadilah hasil foto yang luar biasa indahnya. Wajah mereka berdua mewakili keindanhan pemandangan disekitar mereka.
“Pakai gaya lucu dong bos, pasti Aydin akan tertawa melihatnya… ayo !” ajak Naya pada Derya
“Baiklah” kata Derya pasrah mengikuti keinginan kanjeng ratu
“Haha… wajah bos juga bisa lucu ya ternyata” kata Naya saat memonitori hasil foto mereka
“Wajah kamu bahkan lebih lucu dari saya” kata Derya tidak terima dikatai lucu
Mereka terus mengabadikan moment untuk dikirimkan ke anak mochi nantinya, suara tawa menghiasai disekitar mereka. Namun disetiap moment bahagia orang lain pasti ada orang yang tidak menyukai hal itu, ada orang yang iri dan dengki dengan kebahagian orang lain dan saat ini orang tersebut sedang megamati mereka dengan tatapan sangat membenci.
“Awas saja kamu Nay, gara-gara kamu wajah aku yang mulus penuh bentol karena digigit nyamuk. Karena kamu aku menderita menahan dinginya udara. Kamu sudah membuat aku menyedihkan seperti ini, tunggu saya nanti !!!” gumam Ajeng menatap Naya dengan tatapan mematikan
“Sssht,,, kok berasa dingin ya bos ?” kata Naya yang tiba-tiba merasakan hembusan angin
“Makanya kalau keluar pakai jaket atau hoddie biar lebih hangat. Sudah tau udaranya dingin kenapa hanya memakai baju lengan panjang seperti ini sih “ omel Derya sambil meletakkan jaketnya dipundak Naya
“Bos, pakai saja bos. Nanti anda kedinginan, saya sudah terbiasa kok dengan udara disini” ucap Naya ingin menolak
“Sudah pakai saja ! jika sudah puas memandangi pemandangan masuklah dan siapkan sarapan. Saya tau kamu bertugas menyiapkan sarapan pagi ini” kata Derya kemudian pergi masuk kedalam tenda
Naya tersenyum, merasakan hangat didalam hatinya karena dipedulikan.
“Terimakasih bos” ucap Naya tulus, walau Derya sudah pergi namun dia tetap mengucapkan kata tersebut
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode ya 😉~~~