
“Ahaaa… Ipan ada ide…” batin Kivanc tersenyum licik penuh rencana
Anak itupun berjalan perlahan mendekati ranjang kakaknya.
“Kak Ay” bisik Kivanc dengan mulut itiknya yang maju dan telunjuk berada didepan bibirnya
“Kenapa ?” balas Aydin sambil berbisik
“Kak ay, ingin menjenguk Undakan ?” ucap Kivanc
“Ya, sangat ingin. Apa Kak Ay bisa keluar dari kamar ?” Tanya Aydin penuh harap
“Bica, Ipan ada calanya. Kak Ay hanya pelu angguk-angguk cepelti ini caja ya !” ucap Kivanc sambil mencontohkan
“Memangnya kamu ingin apa ?” Tanya Aydin penasaran
“Abang lihat saja nanti” ucap Kivanc kemudian berjalan menghampiri Nisa yang sedang menelpon
“Nini, Kak Ay ingin makan cekalang !” ucap Kivanc sambil menarik-narik baju nininya
“Tunggu sebentar ya cucu Nini” jawab Nisa kemudian kembali menelpone
“Hm…Ipan akan coba ke aunty Dinda juga” Kivanc cemberut karena rencananya gagal
“Aunty,,, Kak Ay ingin makan” ucap Kivanc beralih target
“Tunggu sebentar ya” ucap Dinda dengan jawaban yang sama
“Hm,,, cemuanya cibuk ! Kalau begini, bagaimana Ipan bica Kabul belcama kak Ay ?” ucap Kivanc semakin memajukan mulut itiknya
Kivancpun berjalan dengan lunglai karena rencananya tidak berhasil sedikitpun.
“Bagaimana ? Kapan kakak harus mengangguknya ?” Tanya Aydin saat Kivanc mulai dekat
“Tidak jadi Ka Ay, Nini dan Aunty ceding cibuk cekalang. Campai-campai tidak mempelhatikan kita beldua lagi” ucap Kivanc masih sedih
“Hm,,, justru bagus dong, kita bisa kabur sekarang. Yuk !” ucap anak mochi tersenyum senang dan membuat pipi mochinya yang mulai mengempes itu mengembang
“Benalkah ?” Tanya Kivanc tidak percaya
“Ya, lihat bahkan Kak Ay sudah mengambil infus ini Nini dan aunty juga belum menyadarinya. Ayo kita jalan pelan-pelan dan jangan berisik agar berhasil kabur” ucap Aydin yang derak cepat
__ADS_1
“Syuut, pelan-pelaaan…” ucap Kivanc berbisik sambil mengikuti langkah kaki Aydin
“Cekalang bagaimana ?” bisik Kivanc karena kini mereka sudah didepan pintu yang tertutup
“Kamu pegang infus ini, biar Kak Ay yang membukanya…” ucap Aydin sambil menyerahkan infus
“Em ! Abang ini cailan apa ?” Tanya Kivanc sambil memencet infus itu
“Kivanc ! jangan melakukan itu. Lihat darah kak Ay jadi naik !” ucap Aydin segera mengambil alih infus
“Hah ? kenapa infusnya ingin makan dalah abang ? apa ini vampil ? ” Tanya Kivanc ikut kaget
“Nanti kak Ay jelaskan. Sekarang tugas kamu buka pintunya sepelan mungkin” ucap Aydin mundur sedikit memberi ruang pada Kivanc
“Ciii…aaap… kaak Ay…” ucap Kivanc tiba-tiba menjadi slowmotion
“Haihhh…” Aydin yang melihat hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat tingkah adiknya yang satu itu
“Yee,,,eey… bel… ha…cil…” ucap Kivanc masih pelan
“Sudah terbuka ayo keluar dan berhenti seperti ini. Itu akan membuang waktu dan kesempatan kita” ucap Aydin segera menarik Kivanc untuk segera keluar ruangan itu
“Ciap kak Ay !” ucap Kivanc memberi hormat
“Hm !” angguk Kivanc kemudian melangkah
“Sekarang kita belok mana ?” Tanya Aydin kebingungan karena baru pertama kali keluar kamar
“Tunggu cebental Ipan mengelualkan peta Ipan dulu” ucap Kivanc sambil mencari-cari keberadaan peta doranya
“Kamu mengambilnya dari mana ?” Tanya Aydin segera mendekat untuk ikut melihat peta yang dikeluarkan Kivanc dari sakunya
“Ipan bikin cendili” ucap Kivanc bangga
“Ini peta ?” Tanya Aydin
“Hm, ini luangan om Ton, ini luangan Unda, ini luangan adik ayi, dan ini luangan kak Ay” ucap Kivanc menjelaskan
“Bagaimana membacanya ? disini hanya ada garis dan lingkaran tak beraturan” ucap Aydin bingung
“Abang tidak celdas telnyata ! cini biar Ipan caja yang jalan didepan, Nah cekalang ikuti Ipan !” ucap Kivanc berjalan lebih dulu
__ADS_1
“Hm… orang cerdas seduniapun tidak akan bisa membaca peta itu” batin Aydin namun tetap mengikuti Kivanc
Merekapun mulai melangkah menjauhi ruangan tanpa diketahui oleh siapapun, dua orang anak yang begitu manis dan menggemaskan menjadi pusat perhatian disana. Ada beberapa orang yang menyapa namun Kivanc hanya menanggapinya dengan senyum dan lambaian tangannya, sedangkan Aydin masih belum bisa lepas sepenuhnya dengan wajah dingin itu.
“Kapan sampainya de ?” Tanya Aydin yang sejak tadi patuh
“He,,, cepeltinya kita calah belok deh ka Ay” ucap Kivanc menunjukkan senyum pepsodentnya
“Katanya cerdas, bisa membaca peta buatan sendiri, kenapa malah tersesat ?” Tanya Aydin
“Ipan cedikit lupa-lupa ingat ka Ay. Tunggu cebental Ipan belpikil dulu !” ucap Kivanc mulai meletakkan jarinya dikepala dan berpikir keras
“Kivanc ingat apa nama ruangan Bunda ?” Tanya Aydin ikut membantu
“Hm, Ipan ingat dicana ada banyak balon-balon kak Ay, telus kamal adik bayu juga dekat cana” ucap Kivanc memberitahu
“Ruangan adik bayu ? adik kita namanya bayu ?” Tanya Aydin
“Bukan, tapi adik bayu lahil, bayu kelual dali pelut Unda. Kalena belum ada nama makanya dipanggil adik bayu !” ucap Kivanc menjelaskan sekuat tenaga agar jelas
“Ooh, maksud kamu baru… Mari tanyakan pada suster itu” ucap Aydin menunjuk seorang perawat yang berjalan kearah mereka
“Kak Ay yang Tanya ?” Tanya Kivanc
“Ya, tapi kamu yang memanggilnya” ucap Aydin
“Baiklah…” ucap Kivanc segera berlari mendekati suster tersebut
“Custel, custeeel…” panggil Kivanc padahal jarak mereka sudah hampir dekat
“Bukh ! aduh…” Kivanc kesakitan karena menabrak stroller yang didorong perawat itu
“Adek tidak apa-apa ?” Tanya sang suster tersebut kaget dan segera membantu Kivanc
“Haaah, nih adik satu hobinya nambah kerjaan orang mulu” batin Aydin kemudian segera mendekat untuk membantu Kivanc
.
.
.
__ADS_1
See you next episode ya 😉
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣