
“Bunda ayo kita ke bagian kandungan buat periksa Derya junior” kata Derya yang baru tiba dengan membawa kursi roda dan seorang suster di belakangnya
“Ayo Bunda” kata Aydin langsung turun dari ranjang
“Hehe, iya sayang. Tunggu sebentar ya” kata Naya yang juga merasa senang dengan antusias Aydin
“Sini biar Sarah yang bawain infusnya” kata Sarah sambil berjalan ingin menggapai infus, namun kakinya tersandung sehingga dia terjatuh hampir menyenggol tiang infus
“Aunty tidak apa-apa ?” Tanya Aydin langsung ikut membantu membangunkan Sarah
“Hati-hati” kata Dinda datar sambil membantu Sarah bangun
“Hehehe, iya kak Dinda sayang… Eh, tapi Aydin jangan dicerita in sama om Anton ya kalau aunty jatuh. Nanti aunty kena ejek sama si om-om itu lagi” kata Sarah manyun
“Katanya aunty tidak kesal jika om Anton mengejek, kan cuma bercanda ?” kata Aydin
“Hm, tapi aunty tidak suka jika bercandanya dengan om Anton. Hm,,, ayo kita lihat adik Aydin” kata Sarah ingin mengambil alih tiang infus dari Dinda
“Biar kakak saja !”kata Dinda
“Oh, baiklah kak. Terimakasih…” jawab Sarah kemudian berjalan mendahului semuanya
“Aunty tau ya dimana tempat Aydin bisa lihat adik Aydin ? ayo Aunty kita duluan kesana !” kata Aydin menyusul Sarah di depan
“Hm, Aunty juga gak tau. Hehhee…” kata Sarah dengan senyum nyengir khasnya
“Yaaah, Aydin kira aunty tau. Ya sudah kalau begitu kita tunggu suster dan Ayah saja” kata Aydin menoleh ke belakang dan melihat Ayahnya dengan sigap membantu Naya berpindah ke kursi roda yang dipegang oleh suster
“Aydin,,, Aydin juga ingin bantu Bunda” kata Adyin bersemangat kembali kebelakang menghampiri mereka semua
“Aydin yang dorong, boleh ?” Tanya Aydin menatap suster dan Ayahnya
“Iya, Aydin dorong didepan. Ayah bantu Aydin ya” kata Derya tidak ingin berebut dengan anaknya
“Baik Ayah, terimakasih” ucap Adyin senang
“Bunda siap ?” Tanya Aydin dan mendapat anggukan dari Naya
“Let’s go !!! Adik, kakak Aydin datang” kata Adyin bersemangat sambil mulai mendorong kursi roda bersama ayahnya
Rombonganpun menuju bagian obygn, kebetulan tidak ada antrian sehingga mereka dapat langsung masuk keruangan tersebut sembari diarahkan oleh suster.
“Selamat malam ibu Naya dan Bapak Derya, serta keluarganya” sapa dokter tersebut sambil tersenyum
“Malam dok” sahut mereka
“Kalian tidak salah ruangan lagi kan ?” Tanya dokter menato ke arah Naya dan Derya tersebut yang masih ingat kejadian dulu
__ADS_1
“Hehehe, tidak kok dok. Alhamdulillah kali ini kami masuk ruangan yang tepat” jawab Naya
“Hehehe, ternyata kalian juga masih mengingatnya. Silahkan bu Naya, di rebahkan di ranjang sana dulu ya” kata sang dokter dengan ramah
“Hati-hati Bunda” kata Derya yang selalu siap siaga mengenggam tangan Naya
“Suaminya perhatian sekali ya bu, saya jadi iri” goda sang dokter, Naya hanya menanggapinya dnegan tersenyum
“Dokter Aydin mau nanya boleh ?” kata Adyin yang berada disamping Derya
“Boleh dong, Aydin mau Tanya apa ?” Tanya dokter tersebut yang langsung terpikat dengan keimutan Aydin
“Hm, Apa adik Aydin beneran ada diperut Bunda ? tapi, bagaimana bisa ada adik didalam perut Bunda ?” Tanya Aydin
“Ayo kita USG dulu biar bisa melihat apakah benar di perut Bunda Aydin ada adiknya ya ?” kata sang dokter sambil mengoleskan jel ke atas perut Naya
Dokterpun memeriksa dengan seksama tak berapa lama diapun tersenyum cerah
“Selamat ya, bapak dan ibu akan memliki anak lagi dan juga selamat untuk Aydin akan menjadi kakak nantinya” kata dokter Friska tersenyum hangat
“Waaaah, benarkah ada adik Aydin disitu ? yang mana adik Aydinnya ?” Tanya Aydin tidak bisa menemukan adik bayi di layar USG yang ditampilkan
“Nah ini dia adik Aydin” jawab dokter sambil memfokuskan pada sebuah titik
“Mas…” kata Naya terharu ketika melihat ada kehidupan lain didalam tubuhnya
“Iya sayang, itu anak kita” jawab Derya yang juga sangat senang sambil mengusap tangan Naya dan menciumnya mencurahkan kasih sayang dan kebahagiaan
“Itu sayang, Nah titik itu nantinya yang akan membesar dan terus membesar sampai jadi bentuk yang sempurna menjadi adik bayi nantinya” jelas Naya
“Waah, jadi itu adik Aydin Bunda ?” Tanya Aydin memastikan
“Iya sayang” jawab Naya
“Yeeeaaay ! Aydin punya adik sekarang !!!” kata Aydin heboh sambil berjoget asal karena senang
“Hahaha, Aktif sekali ya bu anak pertamanya” kata Dokter firska merasa sangat terhibur dengan tingkah Aydin
“Iya Dok, Alhamdulillah dia sekarang sangat aktif dan ekspresif” kata Naya menatap Aydin dengan pandangan hangat
“Assalamu’alaikum” kata anton sopan, dia ternyata sangat penasaran bagaimana janin yang ada dikandungan Naya
“Yeeaaay, yeyeyeeee…” Aydin masih merayakan kesenangannya karena punya adik
“Itu bos kecil kenapa ?” Tanya Anton bingung
“Kamu jangan mendekat kesini ya ton ! tuh lihat dilayar aja !” kata Derya langsung mewanti-wanti Anton
__ADS_1
“Baik bos, siap !” kata Anton, dialun menatap ke arah monitor di tv besar yg ada
“Ngapain kamu Sarah ?” Tanya Anton mendekati Sarah yang sedang berjongkok dihadapan Aydin
“Lagi rukyah Aydin om, takut ketempelan nih… kok heboh banget ya” kata Sasarah bingung dengan Aydin
“Ckckck, aunty macam apa kamu ini yang negative thingking sama ponakan sendiri” kata Anton menggelengkan kepala sambil mengejek Sarah
“Ih om, kan Sarah cuma mau mencoba untuk membuat Aydin diam” kata Sarah berusaha memeluk Adyin
“Gini caranya kalau mau buat Aydin diam” kata Anton sambil mengeluarkan bungkusan di kantong kresek yang dibawanya
“Plak…” sesuatu menempel di jidat Aydin
“Terimakasih om” kata Aydin kemudian langsung mecari tempat duduk dan diam
“Mochi ” kata Sarah
“Yaps betul !” kata Anton membanggakan dirinya
“Mana om ? Sarah juga mau” kata Sarah yang menadahkan tangannya untuk diberikan mochi
“Hah ?” Anton bingung
“Nah, tadi om ngambilnya dari kantong kresek ini kan ?” Tanya Sarah sambil mengambil paksa plastik yang dijenteng Anton
“Wah ada, makasih om. Nih sarah kembali-in" Kata Sarah mengembalikan plastik belanjaan setelah apa yang dia cari ditemukan
“Memang masih bocah ni orang” gumam Anton yang melihat Sarah menghampiri AYdin dan makan mocha bersama
“Tapi kok gemesin ya !” komentar Anton lagi
“Ya jelaslah ! kan bibit unggul dari kecebong terbaik Ton !” kata Derya menghampiri Anton, dia mengira pujian itu ditujukan pada anaknya
“Eeeh Ayam” kata Anton kaget
“Mana ada Ayam dirumah sakit Ton ! Sini mana cendolnya ?” kata Derya
“Ini bos” kata Anton menyerahkan kantong kresek lainnya ke Derya
“Hm” gumam Derya saat meneri pesanannya kemudian pergi menjauh
“Biasalah…” gumam Anton sambil mengelus dada
.
.
__ADS_1
.
See you next episode ya 😉~~~