
Keesokan paginya, Higarashi terlihat sedang menunggu Keira di halte bus yang biasa, dengan memakai seragam sekolah lengkap dengan jas sekolahnya. Bus yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba dan berhenti di depan halte tersebut.
Seorang gadis kemudian turun dari atas bus, dan Higarashi langsung berjalan mendekatinya. Gadis itu tersenyum kepadanya, begitu pula dirinya yang langsung membalas senyuman hangat itu. Mereka berdua lalu berdiri bersama di halte tersebut, sambil menunggu bus selanjutnya.
"Bukankah kau sudah tidak bersekolah lagi?" tanya gadis itu.
"Oh, ehm, iya. Begini, Keira, aku akan mengundurkan diri dari sekolah setelah ini, jadi biarkan aku memakai seragam sekolah untuk hari ini saja, karena penampilanku justru lebih keren ketika menggunakan jas sekolah ini. Lagi pula hari ini pengumuman kelulusan, bukan? Aku sudah yakin kau pasti akan lulus tahun ini, Keira!" jawab Higarashi dengan wajah yang memerah.
Gadis itu, Keira langsung tertawa kecil mendengar candaan dari pria itu. Bus yang ditunggu akhirnya tiba. Mereka berdua lalu naik ke atas bus, lalu berdiri di bagian belakang bus tersebut. Ia berdiri di sebelah kiri Higarashi, dan setellah bus itu berjalan, namun tampaknya supir bus yang menyetir pada pagi ini agak sedikit mengantuk sehingga beberapa kali ia mengerem bus dengan kasar.
Tangan Keira lantas terlepas dari pegangan bus, lalu tubuhnya terayun dan menyenggol lengan kiri Higarashi dengan agak keras.
“Aduh!” seru Higarashi sambil berusaha menahan sakit, kemudian dengan spontan, ia memegang lengan kirinya, tepat di bagian luka yang sudah ia perban tipis.
Keira langsung memperhatikan Higarashi yang terlihat kesakitan pada lengan kirinya akibat tertimpa tubuhnya barusan.
"Higarashi, maafkan aku! Astaga, apa kau sedang terluka? Apakah kau sedang sakit?" tanya Keira.
Higarashi langsung menurunkan kedua lengannya dan memegang salah satu pegangan bus dengan tangan kanannya, seolah tidak merasakan apapun.
"Ah, tidak, aku hanya sedikit pegal saja," jawab Higarashi, namun tanpa ia sadari, lukanya itu mulai mengeluarkan darah.
Keira melihat darah yang mendadak membasahi seragam pria tersebut pada bagian lengan kirinya, dan mulai menaruh curiga. Ketika mereka sampai di halte tujuan, mereka kemudian turun dari bus, namun gadis itu langsung menggandeng tangan kanan Higarashi, kemudian mengajaknya berlari hingga mereka berdua masuk ke dalam pepohonan yang berada di samping jalan yang menuju ke sekolah.
“Hei, hei! Bukankah kau berkata kau akan ke sekolah?” seru Higarashi.
Setelah dirasa aman dan tidak ada orang lain di sana, Keira baru menghentikan langkahnya. Mereka berdua kini berdiri di samping pohon besar yang tidak terlalu tinggi, namun cukup untuk menghalangi sinar matahari.
__ADS_1
Keira lalu menatap Higarashi dengan sorot mata tajam dan wajah yang serius dan bertanya, "Apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Paman Xyon kemarin malam kepadamu, sehingga membuatmu terluka seperti ini?!"
Higarashi kemudian melihat lengan kirinya, dan baru tersadar bahwa darah terlihat jelas menembus dari balik jas sekolahnya. Ia lalu menatap Keira dengan senyum yang dibuat-buat.
"Ini bukan karena Perdana Menteri Xyon, lagi pula, aku masih baik-baik saja. Ini hanya .. aduh, kecelakaan kecil di rumahku kemarin malam,” jawabnya.
Keira langsung kesal mendengar perkataan tersebut.
Wajahnya memerah, dan dengan malu-malu, ia meminta kepada Higarashi, "Buka saja jas sekolahmu, biarkan aku melihat luka itu."
"Tapi, aku benar-benar masih baik-baik saja," balas Higarashi.
"Pokoknya buka saja!" seru Keira sambil mengernyitkan dahinya.
Higarashi akhirnya membuka jas sekolahnya sesuai permintaan Keira, dan memang, setelah ia membuka jas tersebut, perban yang melilit luka pada lengan kirinya ternyata sangat tipis hingga darah yang belum kering sepenuhnya, mulai mengalir lagi dari dalam luka tersebut.
Kini tampak jelas luka sayatan tersebut, dan gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala sebanyak dua kali. Ia langsung merasa lemas setelah berpikir untuk beberapa saat setelah memperhatikannya.
"Mereka mulai mengincarmu, bukan?" tanya Keira dengan wajah yang sendu.
Higarashi tahu bahwa Keira pasti akan menyalahkan dirinya sendiri, maka itu, ia berusaha untuk berbohong dengan berkata, "Oh, tidak. Ini kecelakaan, Keira. Aku di rumah selalu sendirian, jadi ini memang hanya kecelakaan saja. Aku … aduh, bagaimana, ya?”
Keira terdiam, namun ia mengangkat tangan kanannya dan mulai menyentuh luka sayatan itu.
“Aduh, sakit,” ucap Higarashi.
"Diam," balas Keira.
__ADS_1
Seberkas cahaya terang berwarna biru kemudian muncul dari balik telapak tangan Keira yang sedang menyentuh luka sayatan itu. Perlahan-lahan, luka itu mulai membaik, bahkan setelah beberapa detik, luka tersebut menghilang seluruhnya.
Kini lengan kiri Higarashi sudah kembali seperti semula, tanpa luka dan darah, walaupun jas miliknya masih berbekas merah. Tentu saja Higarashi tidak terkejut akan hal ini.
"Ah, terima kasih. Aku sampai lupa bahwa kau adalah perempuan dari Palladina. Namun, Healing Renovatio bisa membuat energi cahaya yang berada dalam tubuhmu berkurang, Keira," ucap Higarashi.
Keira menundukkan kepalanya dan menurunkan tangannya, kemudian ia berkata, "Sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini. Paman Xyon benar, para Silverian itu akan mengincarmu … tidak, mereka sudah menjadikan dirimu sebagai target selanjutnya. Sebaiknya aku menyerahkan diri saja kepada mereka. Tidak perlu membohongiku, karena aku sudah melihat luka sayatan yang sama pada kedua orang tua dan bibi angkatku.”
Gadis itu kemudian berjalan menuju ke arah yang berlawanan, hendak meninggalkan Higarashi, namun dengan cepat, pria itu meraih tangan Keira dan memeluknya dengan erat hingga gadis tersebut terpaksa berhenti melangkah.
"Aku tidak takut dengan apapun itu kecuali kehilangan dirimu. Jangan pergi lagi. Kau sudah cukup menyakiti hatiku bertahun-tahun, dan kau harus bertanggung jawab atas hal itu," bisik Higarashi.
“Lupakan saja. Kau kini sudah tahu bahayanya. Mereka bahkan melukaimu secara terang-terangan," balas Keira yang kedua bola matanya kini berkaca-kaca.
"Aku sangat memercayaimu, Keira. Kau adalah seorang Crossbreed, dan aku akan memberikan energi yang kumiliki sehingga kau bisa menjadi lebih kuat daripada sekarang jika kau mau bersama denganku. Mengapa harus takut pada seorang Silverian sementara kau bisa dengan mudah mendapatkan energi dari seluruh isi Galaksi Metal?" tanya Higarashi.
Keira terdiam.
Higarashi memeluknya semakin erat, lalu berbisik lagi, "Keira, bebanmu terlalu berat. Biarkan aku membantumu. Seluruh Galaksi Metal bersandar kepada dirimu, namun, kau bisa bersandar di bahuku untuk meringankan bebanmu, walaupun sedikit."
Keira langsung melepaskan pelukan itu setelah mendengarkan perkataan dari Higarashi barusan.
"Biar kupikirkan terlebih dahulu," balasnya.
Higarashi tersenyum, kemudian ia menggandeng gadis itu, dan berjalan bersama menuju ke sekolah. Namun, wajah Keira tidak terlihat bahagia, walaupun pangeran mahkota dari Halida itu justru tersenyum sambil menatap lurus ke depan.
“Aku harus mencari cara untuk tidak terlalu jauh jatuh ke dalam perasaan mortal ini,” gumam Keira di dalam hatinya.
__ADS_1