Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Ketakutan yang Tidak Berakhir


__ADS_3

Higarashi kemudian membantu Keira untuk berjalan agak jauh dari bibir pantai, diikuti oleh ketiga pamannnya, dan juga Aerim. Gadis itu lalu duduk di atas sebuah kursi santai, lalu menoleh  ke arah pria penjaga pantai yang sudah menolongnya tadi.


"Terima kasih atas pertolonganmu, Tuan … Penjaga Pantai?" ucap Keira sambil mengernyitkan dahinya, dengan nada yang lemah.


"Ah, Keira, pria ini adalah Aerim, teman sekelasku. Aerim, ini Keira, tunanganku," jawab Higarashi kepada Keira, namun kedua matanya justru fokus menatap pria penjaga pantai itu dengan sorot mata yang tajam.


“Kalian saling mengenal?” tanya Keira.


"Nona. Higarashi adalah teman sekelasku, dan setelah upacara kelulusan, aku lantas melamar pekerjaan di sini, sebagai seorang penjaga pantai," jawab Aerim dengan senyum, sambil menatap Keira.


Sementara, Higarashi langsung fokus memperhatikan luka sayatan yang ada di bagian lengan kiri Aerim.


"Terima kasih sudah menolong tunanganku, Aerim, namun, mengapa kau memiliki bekas luka sayatan pada lengan kirimu? Apakah kau … terluka ketika menyelamatkan Keira?" tanyanya.


Aerim langsung melihat bekas luka di lengan kirinya, kemudian tersenyum kecil, dan menjawab, "Ah, ini kudapatkan ketika aku mengikuti latihan sebagai penjaga pantai. Di sini banyak koral-koral kasar dan keras. Lantas, kau sendiri mengapa berada di sini?"


Walaupun masih merasa curiga, Higarashi lalu membalas, "Aku sedang menikmati pantai ini, bersama tunanganku, dan paman-pamannya."


"Ah, begitu. Baiklah, aku akan kembali melanjutkan tugasku," ucap Aerim, kemudian ia berdiri, dan berkata lagi, "Semoga cepat pulih! Lain kali berhati-hatilah!”


Aerim lalu berjalan meninggalkan mereka, namun, Higarashi masih terus menatap punggung pria itu dengan sorot mata yang tajam. Xyon memperhatikan wajah sang Pangeran Mahkota dari Halida itu, lalu berjalan mendekati Higarashi dan berdiri sangat dekat di sebelahnya.


"Sepertinya kau sangat mencurigainya. Ada apa? Bukankah seharusnya kau senang karena ia sudah menyelamatkan Keira? Apakah kau cemburu kepadanya?" bisik Xyon.


"Aku pernah bertarung dengan seorang Silverian. Ia muncul secara tiba-tiba ketika aku sedang berada di dalam rumahku, pada malam hari. Aku berhasil melukai lengan kirinya dengan Divine Sword, dan luka sayatan itu berbentuk persis sama dengan bekas luka yang dimiliki oleh Aerim pada lengan kirinya," jawab Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.


Keira tidak terlalu mendengarkan mereka, karena ia sendiri masih lemah, dan hanya bisa berbaring sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


“Tampaknya kita harus segera kembali,” ucapnya pelan.


Ketika hari sudah semakin sore dan Keira sudah lebih membaik, Xyon, Weim, dan Sey kemudian berpamitan, sementara gadsi itu dan Higarashi, mereka berdua masih ingin menikmati malam terakhir mereka di sana sebelum bertunangan pada esok lusa.


Setelah Xyon, Weim, dan Sey sudah pergi, Keira dan Higarashi lalu memutuskan untuk kembali menuju ke rumah gadis itu terlebih dahulu. Namun, karena Keira tampaknya masih kelelahan, Higarashi lantas mengajaknya berjalan hingga ke ujung pantai, tepat di sebelah bangunan yang adalah toilet umum di sana. Mereka lalu bersembunyi di balik toilet umum tersebut.


“Higarashi, apa yang ingin kau lakukan di sini?!” tanya Keira.


Pangeran Mahkota dari Halida itu kemudian mengangkat tangan kanannya dan Star Baton miliknya tiba-tiba muncul. Ia lalu mengayunkan benda itu ke depan. Titik-titik cahaya yang muncul dan melayang ke arah Keira, membuat seluruh pakaian gadis itu kering seketika.


Setelah itu, titik-titik cahaya lain yang keluar dari ujung Star Baton itu, kemudian melayang dan berkumpul di depannya.


“Apa itu, Higarashi?” tanya Keira lagi, dengan mata yang melotot ke depan karena terkagum-kagum.


Sebuah terowongan lantas muncul di hadapan mereka, dan Star Baton milik Higarashi kemudian menghilang setelahnya.


“Ayo, cepat! Sebelum terowongan ini menghilang!” serunya.


“Astaga!! Benda apa ini sebenarnya?!” seru Keira karena terkejut, ia bahkan terus menerus menggenggam lengan Higarashi dengan kuat, karena ia pikir mereka akan terjatuh.


Higarashi justru tertawa kecil melihat sikap gadis tersebut.


“Terowongan ajaib ini akan membawa kita dengan cepat tiba di depan rumahmu, dan tidak akan ada manusia satu pun yang bisa melihat keberadaannya, ataupun kita di dalam sini! Kau tenang saja, karena terowongan ini akan langsung menghilang begitu kita tiba di tempat tujuan, Keira!” seru Higarashi.


Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya mendarat di depan pintu rumah gadis itu, dan terowongan ajaib tadi menghilang begitu saja. Keira terkejut, ia bahkan melihat ke kanan dan ke kiri, mencari-cari di mana terowongan tersebut.


“Aku hanya bisa membuat terowongan ajaib itu satu kali, karena membutuhkan energi bintang yang lumayan besar. Star Batonku tidak akan bisa digunakan lagi setelah ini. Aku tidak bisa mencari tempat yang agak tinggi di sekitar sini untuk mengumpulkan energi bintang lagi,” ucap Higarashi.

__ADS_1


Keira lalu menoleh ke arahnya dan bertanya, “Astaga, kita bisa menggunakan bus!”


Higarashi tersenyum, namun, suara perutnya mendadak terdengar kencang.


"Ah, aku akan segera memasak," ujar Keira pelan.


"Aduh, tidak, kau masih lemah, dan hari sudah malam. Begini saja, tunggu aku sebentar. Aku akan pergi membeli makanan untuk kita dan dengan cepat, aku akan kembali lagi ke sini. Tunggulah di dalam, bagaimana?" tanya Higarashi.


Keira mengangguk sekali, walaupun wajahnya terlihat tidak mengizinkan Higarashi untuk hal itu.


“Baiklah, tunggu aku, ya?” ucap Higarashi.


Ia kemudian berlari dengan cepat, meninggalkan Keira sendiri. Gadis itu kemudian membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam, lalu menutup kembali pintu tersebut rapat-rapat. Ia lantas berjalan ke arah sofa yang ada di ruang tamu dan duduk di atasnya.


Namun, setelah lima belas menit, seseorang mengetuk pintu dengan agak keras.


“Higarashi sudah kembali? Cepat sekali!” gumamnya.


Ia langsung berdiri dan berlari ke arah pintu, kemudian membukanya. Wajahnya terlihat terkejut begitu ia melihat seorang gadis berambut pirang yang kini berdiri di hadapannya.


"Chexy … apa ada yang bisa kubantu?" tanya Keira dengan wajah yang terlihat ketakutan.


Ternyata … Chexy datang sendirian untuk menemui Keira, namun wajahnya terlihat sangat tidak senang. Ia bahkan menatap tajam ke arah Keira.


"Aku ingin berbicara berdua saja denganmu," ucap Chexy.


Tanpa ada izin dari Keira, ia langsung saja masuk dan membuat gadis berambut biru tua itu berjalan mundur karena rasa takutnya. Chexy lalu menutup pintu rapat-rapat dan kembali menatap tajam ke arah Keira. Karena terpojok oleh dinding, Keira lantas menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian terdiam, namun saling bertatapan. Wajah Keira terlihat diliputi ketakutan, sementara wajah Chexy justru diselimuti oleh kekesalan.


“Chexy, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku tinggal di sini?” tanya Keira dengan bibir yang gemetar.


__ADS_2