Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Perasaan yang Indah


__ADS_3

“Aku belum pernah melakukan ini,” ucap Keira dengan senyum di wajahnya.


Higarashi lalu menoleh ke arah gadis tersebut dan menatapnya dengan wajah yang serius.


"Aku, sudah tahu bahwa dirimu adalah seorang putri dari Palladina. Aku juga sudah tahu bahwa kau adalah seorang Crossbreed,” bisiknya pelan.


Keira langsung melihat ke arah pria itu dengan wajah yang terlihat terkejut. Kembang api milik mereka kini sudah padam, dan gadis itu kemudian meletakkannya di atas tanah, begitu juga Higarashi.


Mereka kini saling menatap satu sama lain dengan wajah yang sendu.


“Aku … sejak pertama kali bertemu denganmu, aku bisa merasakan aura dari energi kosmik yang ada di dalam dirimu,” bisik Higarashi lagi, “perkenalkan, aku adalah Yang Mulia Pangeran Mahkota Higarashi dari Halida.”


Keira terdiam sesaat, kemudian dengan suara yang pelan, ia membalas, “Paman Xyon pasti sudah meminta dirimu agar menjauh dariku. Sebaiknya begitu.”


Ia lantas memalingkan wajahnya ke depan hingga Higarashi menjadi tampak kecewa dengan ucapannya barusan.


“Ada apa sebenarnya, Keira? Mengapa kau seperti menjauhkan diri dari orang-orang?” tanya pria itu.


"Maafkan aku, namun, aku tidak bisa bersamamu, Higarashi. Kau adalah seorang pangeran mahkota, yang tentunya adalah penerus dari kerajaan Halida. Aku sendiri, kedua orang tuaku sudah tidak ada, bahkan mendiang ibuku sendiri, Ratu Anexta dari Palladina, tidak memberikanku gelar putri mahkota. Aku bukanlah gadis yang tepat untukmu,” jawab Keira.


"Ya, terlebih lagi, kau adalah seorang Crossbreed yang sedang diincar oleh para Silverian," balas Higarashi.


"Maka itu kita tidak boleh bersama. Aku sangat kagum pada dirimu atas kesetiaanmu selama dua belas tahun ini kepadaku, namun, aku tidak bisa bersama denganmumu. Kau bisa saja menjadi target mereka selanjutnya. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka kejar dari diriku, namun aku tidak ingin membuatmu terjerumus ke dalam kutukan ini. Walaupun status Palladina dan Halida adalah sekutu, tidak mungkin kedua orang tuamu akan mengambil resiko sebesar itu demi dirimu," ujar Keira.


Higarashi menghela nafas panjang, hendak berbicara, namun, gadis berambut biru tua itu langsung berkata lagi, "Aku tidak mau membuat orang lain dalam masalah. Ini semua adalah murni permasalahanku dengan para Silverian. Aku … aku tidak mau kau menjadi korban selanjutnya, karena itu menyakitkan untukku!"

__ADS_1


Keira kemudian berdiri. Air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya. Higarashi lantas ikut berdiri dan berusaha untuk meraih tangannya, namun, Keira justru berjalan satu langkah mundur, membuat dirinya kini berdiri agak berjarak dengan pria itu.


"Kau adalah pangeran yang baik hati. Seharusnya kau menerima pasangan yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuamu, untukmu. Tidak mungkin ada gadis yang akan menolakmu. Kau adalah pangeran yang tampan, dan aku yakin bukanlah perkara susah untuk mendapatkan pasangan,” ucap gadis berambut tua itu.


"Tidak mau! Keira! Untuk apa aku menunggumu dua belas tahun lamanya hanya untuk menyerah, begitu mengetahui semua kenyataan ini? Lalu untuk apa juga aku melawan kedua orang tuaku? Mereka bahkan memberikan izin kepadaku, dan aku datang ke sini hanya demi mencari dirimu! Aku bahkan berpura-pura menjadi murid sekolah tingkat tinggi di sekolah itu, hanya demi menemukanmu! Aku …,“ seru Higarashi, namun ia justru dipotong oleh Keira yang mendadak berkata, “Aku sudah menyukaimu, dan itu adalah masalah bagiku!”


Mereka berdua kini terdiam, dengan wajah yang memerah.


“Keira, kedua orang tuaku memang memberikanku waktu seratus hari untuk berada di sini, untuk mencarimu, dan aku … sudah tidak punya waktu lebih lama lagi di sini,” bisik Higarashi, “aku tidak akan memaksamu, jika memang itu yang kau inginkan. Maka dari itu, pada hari ini, aku membawamu ke sini, hanya untuk membuat kenangan indah terakhir bagiku, bersama denganmu. Kalau begitu, aku … akan kembali. Terima kasih untuk segalanya.”


Ia kemudian berjalan meninggalkan gadis itu, namun baru beberapa langkah, ia mendadak berhenti ketika Keira berseru, “Tunggu!”


Higarashi menoleh ke arah gadis itu, dan Keira langsung menatapnya dengan wajah yang serius.


"Apakah kau masih ada waktu di sini? Berapa hari?" tanya Keira.


Keira kemudian berjalan mendekati pria itu, dan berdiri di dekatnya, menatapnya dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.


"Jangan pergi terlebih dahulu," bisiknya.


Higarashi menjadi sedikit kebingungan dengan permintaan itu.


"Apa ada lagi yang bisa kukerjakan untukmu di sini?" tanyanya.


Keira menghela nafas panjang, dan dengan wajah yang memerah, ia menjawab, "Aku tidak bisa berbohong bahwa aku menyukaimu, jadi kau harus tetap berada di sini untuk mempertanggung jawabkan perasaan itu sebelum kau kembali!"

__ADS_1


Higarashi terkejut mendengar pengakuan tersebut, namun hatinya menjad sangat senang.


Ia kemudian memeluk Keira dengan erat, lalu berbisik, "Walaupun hanya rasa suka, tapi, terima kasih! Aku … pasti akan membuatmu jatuh cinta kepadaku!"


Keira membalas pelukan itu, kemudian berucap, “Apakah boleh seperti ini? Hanya sebentar saja bersama denganmu. Aku tidak ingin membuatmu menjadi milikku, tetapi, aku hanya ingin … bisa merasakan perasaan aneh ini, walaupun hanya sebentar saja. Maafkan aku, namun, hati ini tidak bisa berbohong lebih lama.”


Higarashi kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Keira dengan senyum di wajahnya, lalu ia bertanya, "Jadi, apakah hari ini kita resmi sebagai pasangan kekasih?"


Keira langsung menjadi salah tingkah begitu ia mendengar pertanyaan tersebut.


"Kekasih? Ah, aduh … aku belum pernah berkencan sama sekali …," jawabnya sambil tersipu malu.


"Ah, aku juga belum pernah berkencan. Aku menolak seluruh gadis yang ditawarkan kepadaku. Uh, kalau begitu, bagaimana jika kita belajar untuk berkencan mulai dari sekarang?!" seru Higarashi.


“Hah?!” balas Keira karena kebingungan dengan ucapan dari pria tersebut.


Lalu dengan semangat, Higarashi meraih tangan kanan Keira, dan mengajak gadis itu untuk kembali ke pasar dan menikmati festival musim panas di sana, sampai malam tiba.


Setelah kira-kira jam sepuluh malam, Higarashi kemudian mengantar Keira untuk kembali pulang ke rumah gadis itu. Walaupun masih sedikit malu-malu, namun beberapa kali di sepanjang perjalanan, mereka berdua saling berpegangan tangan. Begitu tiba di depan rumah Keira, Higarashi kemudian melepaskan tangan gadis berambut biru tua tersebut.


Mereka kini berdiri di depan pintu masuk rumah Keira, sambil saling menatap satu sama lain dengan penuh kasih sayang.


"Uh, Keira, maafkan aku, sudah semalam ini," ucap Higarashi.


"Hmm, aku tinggal sendirian di sini, namun terkadang memang Paman Xyon dan paman-paman lainnya akan datang hanya untuk sekadar melihat keadaanku," jawab Keira.

__ADS_1


"Ah, begitu, bahkan ia juga mengajak jenderal-jenderal seniornya. Baiklah. Aku akan kembali pulang ke rumahku di sini, dan besok bukankah kau masih harus ke sekolah?" tanya Higarashi.


Keira mengangguk, lalu menjawab, "Ya, aku masih harus membereskan barang-barangku dari dalam loker sekolah. Uh, hati-hati di perjalanan, Higarashi.”


__ADS_2