Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Kekuatan yang Lainnya


__ADS_3

"Hei, Keira! Kau sudah menghancurkan istanaku dan melukai diriku, padahal yang kuinginkan hanyalah energi kosmik yang kau miliki! Apakah begitu susah untuk merelakan dirimu sendiri demi planet ini? Perdana Menteri bodoh itu adalah penyebab dari semua kekacauan ini, mengapa tidak bertanya kepadanya mengapa ia membuat kami menjadi sengsara dan harus tertindas?! Lihatlah, kau memiliki senjata kosmik yang lain, sementara aku, hanya memiliki satu buah, dan satu cinta untukmu!!" seru Aerim dengan wajah yang memerah, karena ia benar-benar sangat marah.


Keira tersenyum sinis, lalu membalas, "Aku adalah seorang Crossbreed, Aerim, jangan lupakan itu. Dendamku kepadamu, akan kubalaskan nanti, setelah aku memutuskan apa yang akan kulakukan kepadamu dan planet ini. Untuk sekarang … tampaknya aku sudah tidak punya banyak energi cahaya untuk bertarung melawanmu. Nikmati saja rerumputan hitam yang ada di sini, sebagai ganti istanamu.”


Busur silang kosmik milik Keira kemudian menghilang, lalu, ia berlari ke arah Xyon, menggandeng tangannya, dan mengajaknya berjalan mendekati Higarashi. Permaisuri dari Halida tersebut lantas berdiri di sebelah suaminya dan meraih tangan pria muda itu.


Keira menoleh ke arah Aerim lagi dan menatapnya dengan wajah yang serius, lalu berkata. “Aerim, maaf, energi cahayaku yang tersisa di dalam diriku, hanya cukup untuk membawa kami kembali ke Planet Palladina. Ah, tentu saja, planet ini amat gelap, sehingga butuh energi kosmik yang sangat besar hanya untuk pergi dari sini. Kalau begitu, selamat tinggal!”


Tiba-tiba, Starlet yang ada di dalam tubuhnya, bersinar, dan sinar itu semakin lama semakin terang, lalu membesar dengan cepat, menyelimuti Keira, Xyon, dan Higarashi, bahkan hingga menyilaukan mata Aerim.


“Sialan!! Keira!!” teriak Aerim sambil mengangkat tangan kanan untuk menghalangi pandangannya dari sinar tersebut.


Setelah beberapa saat, sinar yang menyilaukan mata itu mendadak hilang, bersama dengan ketiga orang tadi. Aerim kemudian membuka kedua matanya, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah yang tampak terkejut


"Sialan, sialan, sialan! Lihat saja, Keira! Kau akan menjadi milikku suatu saat nanti! Kau … kau akan kuhancurkan, bersama dengan planet-planet menyedihkan itu!" teriak Aerim dengan penuh amarah dan wajah yang memerah, kemudian, ia menoleh ke samping dan kembali berseru, "Dovrix! Dovrix!!!"


Kabut-kabut hitam lantas muncul di belakang Aerim, dan tiba-tiba seorang pria muncul dari baliknya. Ia kemudian menundukkan kepalanya kepada sang Raja dari Silverian tersebut.


"Yang Mulia," ucap pria itu, Dovrix.


"Ke mana saja kau?! Cepat, bantu aku!" seru Aerim sambil menunjuk ke arah istananya yang sudah hancur.

__ADS_1


Dovrix kemudian berdiri tegak, lalu berjalan ke arah Aerim dan berdiri di sebelah kirinya, tanpa menjawab pertanyaan tersebut.


"Aku ingin semua tawanan yang kita penjarakan di sekitar sini untuk membangun kembali istana kerajaan Silverian kembali, secepatnya!" seru Aerim dengan wajah yang dipenuhi amarah sambil menatap sekelilingnya.


Namun, kedua mata Dovrix justru menatap ke arah luka tusuk yang masih mengalirkan darah dari dalamnya.


“Yang Mulia, apa yang sudah terjadi kepada Anda?” tanyanya dengan wajah yang tampak kebingungan.


Aerim langsung melotot ke arah Dovrix dan berkata pelan, “Makhluk Crossbreed sialan itu ternyata memiliki dua jenis senjata kosmik yang berbeda!”


Dovrix tiba-tiba kembali menunduk kepada Aerim dengan wajah yang tampak panik sambil berseru, “Maafkan aku yang terlambat menyelamatkan Anda, Yang Mulia! Aku baru saja kembali dari planet lain untuk memastikan sumber daya yang mereka miliki di sana! Maafkan aku!”


Aerim hanya menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya sekali, lalu ia menatap ke depan dan mengernyitkan dahi. Dovrix lantas berdiri tegak, kemudian memperhatikan sekelilingnya.


Kedua mata sang Raja dari Silverian itu tiba-tiba melotot tajam ke arah Dovrix, lalu ia bertanya, “Istana ini sudah hancur, namun, ke mana wanita yang sedang hamil itu?! Apakah kau melihatnya?”


“Ah,” desah Dovrix, kemudian ia menjawab, “jika yang kau maksud dengan wanita yang sedang hamil itu adalah Demira, ia sudah melesat keluar dari planet ini, Yang Mulia.”


Aerim mengernyitkan dahinya, lalu kembali bertanya, “Demira sudah pergi?”


Dovrix mengangguk, kemudian membalas, “Aku tidak sengaja melihatnya melesat dari kejauhan, ketika aku hendak menembus atmosfer planet ini, Yang Mulia.”

__ADS_1


"Hah?! Bisa-bisanya! Dasar wanita tidak tahu diri! Aku berjuang mati-matian demi planet ini dan anak yang ada di dalam kandungannya, namun yang bisa dilakukannya hanyalah melarikan diri! Aduh!!” seru Aerim sambil menahan rasa sakit pada luka tusuknya.


Ia lantas menghela nafas panjang dan melanjutkan, “Lupakan saja! Tidak ada waktu untuk memikirkannya, karena energi gelap milikku sudah hampir habis! Aku akan kembali ke rumah kecil milik ayahku terlebih dahulu, dan kau, jangan lupa dengan perintahku barusan, lalu, cepat buat lagi pil-pil hitam itu!" balas Aerim dengan wajah kesal, kemudian ia melanjutkan langkahnya dengan tertatih-tatih sambil masih memegang luka yang ada di bahu kirinya.


“Baik, Yang Mulia,” balas Dovrix, dan setelah itu, ia berjalan mengikuti rajanya tersebut, di belakangnya.


Sementara itu, di dalam Planet Palladina, Xyon dan Higarashi terlihat sedang berada di dalam Light Chamber, sambil berbaring di atas ranjang masing-masing. Mereka sedang mengisi ulang energi cahaya milik keduanya, namun, tidak dengan Keira. Ia justru sudah lama duduk di depan pintu ruangan tersebut, sambil menatap ke arah langit biru tanpa awan dengan dua bola matanya yang berwarna biru muda.


Arex tiba-tiba datang dan mendekatinya, lalu duduk di sebelah Keira, kemudian ikut menatap ke arah langit planet penjaga galaksi tersebut.


“Mengapa kau tidak mengisi ulang energi cahayamu bersama dengan mereka, namun justru duduk di luar Light Chamber ini, Keira?”


"Hmm, Paman Arex. Aku hanya merasa bahwa Planet Silverian itu sejatinya, tidak terlalu gelap. Ia hanya tidak mendapatkan … cahaya yang seharusnya ia terima sejak lama, bukankah begitu?” tanya Keira.


Arex lantas menoleh ke arah Keira, lalu menjawab dengan wajah sendu, “Maafkan aku, Keira. Aku tidak bisa memberitahukan kepadamu lebih banyak tentang Planet Silverian.”


Keira lalu menurunkan kepalanya dan menatap Arex dengan senyum kecil.


“Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi pada planet itu, namun, aku bisa merasakan setitik cahaya kecil yang ada di dalam hati Aerim. Aku tidak ingin menghancurkan planet tersebut, maka dari itu, aku memutuskan untuk hanya melukainya dan pergi dari sana,” ucap Keira.


Arex mengangguk sekali, kemudian ia berkata, "Keira, Xyon adalah orang yang baik, ia bahkan menjadikan kami berempat sebagai teman dekatnya walaupun kami hanyalah seorang prajurit biasa pada waktu itu. Namun, ia memiliki banyak rahasia dan tidak akan pernah mau membagikannya kepada orang lain. Mulutnya sangat rapat mengunci, serta wajahnya sangat menyebalkan! Lihatlah, tidak ada perempuan yang mau mendekatinya!”

__ADS_1


Keira tertawa kecil setelah mendengarkan perkataan Arex barusan, begitu juga dengan Jenderal Senior tersebut.


__ADS_2