Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Luka-Luka yang Menyakitkan


__ADS_3

Keira tersenyum sinis, lalu membalas, "Kau tidak mungkin akan membunuhku, karena kau sangat menginginkanku, bukan?"


"Sialan! Berani-beraninya kau menantangku!" seru pria itu lagi, dan kali ini, ia langsung menendang perut bagian kiri Keira hingga perempuan berambut biru tua itu terguling di atas tanah.


“Ahhh!” teriak Keira.


Darah mulai mengalir keluar dari mulutnya, namun, ia masih menggenggam erat kedua pedang kosmiknya. Keira bahkan melotot ke arah pria misterius tersebut dengan wajah yang terlihat kesal sambil menahan seluruh rasa sakitnya.


“Perempuan kurang ajar!” teriak pria misterius itu, kemudian ia berlari mendekati Keira dan mulai menyerang perempuan itu secara brutal.


Keira berusaha untuk menghindar dari serangan-serangan tersebut dan menjauh dengan berguling di atas rerumputan, namun pria misterius itu berkali-kali berhasil melukai bagian tubuhnya yang lain.


“Matilah kau sekarang, dasar Crossbreed!” seru pria misterius itu sambil masih terus menyerang Keira, hingga pada satu titik, perempuan berambut biru tua tersebut berusaha untuk berdiri, bangkit, dan melindungi diri menggunakan kedua pedang kosmiknya.


Pria misterius itu mendadak berhenti menyerangnya. Mereka kini berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh, sambil saling menatap satu sama lain dengan wajah yang serius.


“Pedang kosmik kembar yang indah, namun sayang, aku sama sekali tidak menyukainya!!” teriak pria misterius itu, dan ia mulai berlari ke arah Keira untuk menyerang perempuan itu kembali.


“Sialan!” seru Keira.


Mereka kini saling menyerang satu sama lain dengan brutal, namun, rupanya luka-luka yang dideritanya tidak membuat Keira menyerah. Amarah yang ada di dalam hatinya justru menjadi semakin meledak, hingga semua serangan yang dilancarkannya adalah serangan yang mematikan.


Pria misterius itu mulai kewalahan, dan pada satu titik, ia akhirnya lengah sehingga Keira berhasil merobek baju lawannya tersebut dan melukainya beberapa kali. Sayangnya, karena energi cahaya yang ada di dalam tubuh Keira sudah melemah, ia langsung terjatuh di atas rerumputan setelah berhasil membuat lawannya tersungkur.


Setelah terbaring beberapa saat di atas rerumputan hijau, pria misterius itu kemudian bangkit sambil menahan rasa sakit karena luka-lukanya, lalu menatap Keira dengan sorot mata yang tajam dan berkata, "Aku akan melanjutkan perang di antara kita, nanti. Lihat saja siapa yang akan menang, gadis bodoh!"

__ADS_1


Kabut-kabut hitam kemudian menyelimuti tubuh pria misterius itu, dan ia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Kedua bola mata Keira kini berubah kembali menjadi warna biru muda seperti semula, dan kedua senjata kosmiknya lantas menghilang dari genggaman kedua tangannya. Ia lalu membaringkan dirinya di atas rerumputan hijau sambil menahan sakit karena luka-lukanya, sambil menatap langit biru yang indah.


“Aku … sudah gagal, bukan?” gumamnya, “Kutukan ini … apakah memang benar-benar sedang terjadi kepadaku?”


Sementara itu di halaman depan istana, tiba-tiba saja seluruh pasukan Silverian berhenti menyerang, lalu berlari masuk ke dalam pesawat luar angkasa mereka, Silvir, yang pintunya mendadak terbuka. Xyon dan ketiga jenderal seniornya beserta seluruh prajurit Palladina dan Halida, tentu saja terkejut dengan hal itu. Mereka semua bahkan melotot dan hanya terdiam di tempat.


Setelah semua pasukan Silverian sudah masuk ke dalam Silvir, pintu pesawat luar angkasa tersebut lalu menutup perlahan, dan dengan cepat, Silvir melesat ke atas langit, kemudian menghilang begitu saja.


Weim kemudian menoleh ke arah Xyon dan berseru, "Xyon, apa yang sudah terjadi?! Mereka tiba-tiba pergi begitu saja!"


Xyon tiba-tiba menyadari sesuatu, kemudian ia melotot ke arah Weim dan berteriak, "Keira! Astaga! Kalian cepat cari anak itu!”


“Baik, Xyon!” seru Weim, lalu ia, Arex, dan Nordian berlari masuk ke dalam istana untuk mencari keberadaan Keira.


“Prajurit, baik itu Palladina atau Halida, kalian harus berjaga di seluruh bagian istana, sampai situasi di sini sudah kunyatakan aman!" teriak Xyon.


Mereka semua langsung berlarian ke segala arah untuk mengawasi situasi, sementara Xyon, ia kemudian berlari menuju ke halaman belakang istana.


“Aku sama sekali tidak melihat Keira pada pertarungan tadi!” gumamnya di dalam hati.


Di dalam planet Bumi, Higarashi terlihat masih bersama dengan Demira. Ia mencengkram erat kedua bahu perempuan itu karena kesal dengan ucapan tadi.


"Tidak perlu mencengkram bahuku erat-erat, Pangeran," bisik Demira dengan senyum sinis.


Higarashi langsung melepaskan cengkramannya dari kedua bahu perempuan itu, lalu menatapnya dengan wajah yang kesal.

__ADS_1


"Apa maksudmu dengan memata-matai Keira?!" tanya Higarashi dengan nada tinggi.


"Aduh, kau ini bodoh sekali rupanya. Gadis tersebut adalah target kami sejak awal. Aku masuk ke dalam sekolah hanya untuk menggodamu karena kau adalah pangeran bodoh yang tidak pernah kami harapkan, namun tiba-tiba, kau datang ke sini dengan tujuan untuk mencari gadis Crossbreed itu juga! Kau sangat menghalangi sekali! Nah, apakah sekarang kau sudah paham, sayang?" jawab Demira dengan wajah yang penuh kekesalan.


Higarashi mendadak mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah. Ia kemudian melotot tajam ke arah Demira dengan wajah yang terlihat gusar.


"Sialan!" gumamnya dalam hati, kemudian ia berlari untuk mencari tempat yang sepi, dan meninggalkan Demira di sana.


Demira lalu tertawa lebar, setelah itu, ia berkata, "Aerim benar, Higarashi memang pangeran terbodoh yang pernah kutemui. Tapi baiklah, demi status untuk anakku ini, aku akan melakukan apapun.”


“Sialan! Keira benar, ini adalah jebakan!” seru Higarashi sambil berlari.


Begitu ia berhasil menemukan tempat yang sepi tanpa ada seorang pun di sana, Higarashi langsung berubah menjadi sebuah bintang kecil berwarna merah dan dengan cepat melesat ke luar angkasa, kembali menuju ke istana kerajaan Halida.


Setelah berada di luar angkasa untuk beberapa waktu, ia akhirnya masuk ke dalam lubang cacing dan terus melesat menuju ke Planet Halida. Ia kemudian menembus atmosfer planet itu dan mendarat di halaman depan istana, lalu mengubah fisiknya kembali seperti semula.


Namun, ketika ia melihat sekelilingnya, yang ia temukan adalah kekacauan dan prajurit-prajurit Palladina yang sedang berjaga-jaga di sekitar istananya. Wajahnya langsung terlihat panik dan matanya melotot tajam.


"Sialan! Silverian itu! Ayah, Ibunda, Keira!" serunya.


Higarashi kemudian berlari masuk ke dalam istana, namun, di sepanjang lorong dan di setiap ruangan, yang ia temukan hanyalah para prajurit Palladina dan beberapa prajurit Halida yang sedang berjaga-jaga di sana.


"Ke mana seluruh pelayan dan pengawal dari Halida?! Mengapa ada prajurit Palladina yang berjaga di sini?" tanyanya dalam hati.


Ia kemudian tiba di ruang utama dan berhenti berlari, kemudian memperhatikan sekelilingnya. Seluruh kekacauan yang sudah terjadi di dalam istana itu semakin terlihat jelas. Benda-benda berserakan di atas lantai dan tidak ada satu orang pun di sana.

__ADS_1


“Para Silverian itu, apakah mereka …,” gumam Higarashi, dan tiba-tiba, seorang pria keluar dari sebuah ruangan yang berada di paling pojok belakang ruang utama itu, dengan wajah yang penuh ketakutan.


Higarashi langsung menoleh ke arah pria itu dan berteriak, "Leino!"


__ADS_2