
Tidak terasa empat puluh hari sudah terlewat, dan pada pagi hari di hari keempat puluh satu, Leino terlihat sedang berada di dalam sebuah ruangan kecil sambil berdiri di hadapan seorang pria.
“Yang Mulia, empat puluh hari berkabung semesta atas meninggalnya Yang Mulia Permaisuri Keira, sudah selesai,” ucapnya.
Pria itu, Higarashi, yang sedang menatap keluar jendela yang terletak di samping ruangan tersebut, dengan wajah sendu, lantas menjawab, “Istana akan dibuka kembali, seperti biasanya. Aku juga akan menerima surat kosmik dan tamu-tamu dari planet lainnya.”
“Baik, Yang Mulia. aku akan segera melaksanakannya,” balas Leino, namun tiba-tiba, Higarashi menoleh dan menatapnya dengan wajah yang serius, lalu berkata, “Aku akan pergi menuju ke Planet Bumi, Leino. Kau akan mengurus istana untuk sementara.
“Baiklah, Yang Mulia,” jawab Leino sambil menundukkan kepalanya sebentar, kemudian kembali menatap lurus sang Raja.
Higarashi lalu berjalan keluar, menuju ke halaman belakang istana. Begitu tiba di sana, ia lantas mengubah dirinya menjadi sebuah bintang kecil yang berwarna merah dan melesat ke luar angkasa. Setelah berhasil menembus atmosfer Planet Bumi, ia lalu mendarat di depan rumah Keira.
Pagi itu terlihat sepi. Higarashi kemudian mengangkat tangan kanannya. Star Baton berwarna merah tiba-tiba muncul dan ia langsung menggenggam benda tersebut, lalu mengayunkannya ke depan. Sebuah pintu ajaib mendadak muncul, setelah itu, Star Baton tadi menghilang.
“Pantai itu,” gumamnya.
Ia lantas membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam, kemudian menutup kembali pintu tadi. Setelah pintu itu menghilang, Higarashi kini sudah berada di sebuah pantai, yang pernah dikunjunginya bersama dengan Keira. Ia lalu duduk di atas pasir-pasir putih sambil menatap sekelilingnya, dengan wajah yang sendu.
Tidak ada orang di sana, sepertinya karena hari masih sangat pagi. Ia kemudian menatap laut yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong, bahkan tidak sedikit pun kedua kelopak matanya berkedip.
"Kehilangan seorang istri yang sudah lama kau tunggu selama bertahun-tahun, memang bukan hal mudah, Higarashi. Aku sangat mengerti hal itu," ujar seorang wanita berambut hitam, yang tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
Namun, wajah Higarashi sama sekali tidak tampak terkejut. Ia hanya menoleh sebentar ke samping untuk melihat wanita itu, lalu kembali menatap laut yang luas di hadapannya.
"Mengapa kau berada di sini, Viora? Bukankah Planet Silverian sudah kembali seperti semula?" tanya Higarashi, dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Dengan senyum kecil di wajahnya, wanita yang rupanya adalah Viora itu menjawab, "Ya, aku sangat senang akhirnya bisa bebas darinya. Aerim bahkan melepaskan tawanan-tawanan Planet Silverian dan menawarkan kepada mereka untuk menjadi penduduk planet tersebut atau tidak. Namun, Higarashi, kedua orang tuaku sudah lama meninggal dan aku kini sendirian. Planet asalku tidak mungkin akan mau menerimaku jika mereka tahu bahwa aku pernah dekat dengan Aerim dan … energi gelapnya."
Higarashi hanya terdiam, tidak membalas apapun.
Viora kemudian melanjutkan, "Aku sangat mengerti rasanya kehilangan orang yang kita cintai, Higarashi. Namun kau tidak bisa terus begini. Ada sebuah planet yang membutuhkan dirimu sebagai pemimpinnya. Kau harus menjadi lebih kuat, sayang.”
Wajah Higarashi tiba-tiba berubah menjadi serius, lalu ia menjawab, "Jika Planet Halida membutuhkan seorang pemimpin, maka aku bisa saja meminta Leino untuk menjadi Perdana Menteri, seperti yang dilakukan oleh mendiang Yang Mulia Ratu Anexta dari Palladina kepada Jenderal Senior Xyon. Aku rasa, aku tidak akan pernah menjadi raja, jika tidak memiliki seorang permaisuri seperti Keira …."
"Higarashi, aku yakin Keira tidak ingin kau bersedih terlalu lama. Bagaimana jika kita masuk ke dalam restoranku dan minum teh bersama? Hilangkan kesedihanmu. Ingat bahwa kau adalah seorang raja, dan Planet Halida membutuhkan dirimu lebih daripada seorang permaisuri,” balas Viora, kemudian ia berdiri sambil menatap Raja dari Halida tersebut dengan wajah yang ceria.
Viora hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia lalu menggandeng Higarashi dan mengajaknya berlari menuju ke sebuah restoran yang memang hanya satu-satunya pantai itu. Setelah tiba di depan restoran tersebut, Viora lalu membuka pintunya dengan tergesa-gesa. Ia dan Higarashi lantas masuk ke dalam dan berjalan ke salah satu meja makan dan duduk di atas kursi masing-masing sambil berhadap-hadapan.
“Ah, tunggu di sini, aku akan membuatkan minuman hangat untukmu,” ucap Viora.
Ia kemudian berlari ke dapur dan membuatkan teh hangat yang lalu ia tuang ke dalam dua buah cangkir, dengan terburu-buru, setelah itu, ia membawa dua buah cangkir berisi teh hangat itu dan berjalan mendekati Higarashi, lalu meletakkannya di atas meja.
“Minumlah,” ujarnya, kemudian ia duduk di atas kursi yang berhadapan dengan pria muda itu.
__ADS_1
Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain, namun, suasananya justru terasa aneh bagi Viora, karena wajah Higarashi tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Ada apa, Higarashi? Apakah kau butuh sesuatu?" tanya Viora dengan senyum di wajahnya.
"Apakah kau mau menjadi permaisuriku?" tanya Higarashi dengan wajah yang datar.
Viora langsung terdiam. Senyumnya menghilang dan kedua matanya melotot, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia menatap Higarashi dengan wajah yang tampak kebingungan, sambil menghela nafasnya sekali.
Sepertinya Higarashi menyadari sesuatu setelah melihat sikap Viora.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun kepadamu, namun pemerintahan harus terus berjalan. Tugas seorang permaisuri hanya untuk menjadi simbol kerajaan. Ia juga adalah kepala pelayan tertinggi. Tanpa dirinya, para pelayan akan sedikit kesulitan mengerjakan tugas, dan tidak akan ada yang mengendalikan istana dalam," ucap Higarashi sambil meraih cangkir teh miliknya, lalu meminum isinya sampai habis.
Viora berusaha untuk tetap tenang walaupun sebenarnya ia merasa terkejut.
Ia kemudian menghela nafas panjang, lalu tersenyum kecil dan bertanya, "Namun … Perdana Menteri Xyon mampu melakukan semua tanpa seorang wanita di sampingnya. Apakah kau tidak bisa juga seperti itu, Higarashi?"
"Tugas dari Perdana Menteri Xyon sangat terbatas karena jabatan yang dipegangnya sekarang, jauh di bawah raja dan permaisuri. Para pelayan di sana diatur oleh jenderal-jenderal seniornya, Nordian, Arex, dan Weim," jawab Higarashi sambil mengernyitkan dahinya.
Viora tertawa kecil, lalu ia berkata, "Tidak mungkin aku akan menjadi permaisurimu menggantikan Yang Mulia Keira dari Halida. Aku tidak tertarik, bahkan jika kau menawariku sekali lagi posisi itu, aku akan menjawab tidak. Menjadi permaisuri sebuah planet yang besar, tidaklah mudah, sayang. Aku bahkan sama sekali tidak pernah masuk ke dalam istana yang benar-benar adalah tempat bagi para raja dan permaisuri bekerja. Mendiang istrimu juga belum lama meninggal, Higarashi.”
Higarashi kemudian menatap Viora dengan wajah yang serius, lalu bertanya, "Bukankah semua wanita memang ingin menjadi permaisuriku? Mengapa kau tidak menginginkan jabatan itu? Mereka dulu selalu merebut posisi itu, termasuk Chexy.”
__ADS_1
Viora hanya menelan ludahnya sambil menatap Higarashi dengan wajah yang tampak gusar.