
Keira kemudian berjalan menuju ke arah sofa tersebut, lalu duduk di sebelah paman angkatnya itu. Xyon lalu mengambil buku kecil yang ada di dalam saku bajunya, dan menyerahkannya kepada Keira.
"Kejadian yang sudah puluhan tahun kurahasiakan. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu,” ujar Xyon pelan.
Ia menghela nafas panjang dan berusaha untuk berkata-kata, namun, bibirnya seolah terkunci. Kedua matanya melotot tajam ke depan, dan sikapnya itu membuat Keira kebingungan.
"Paman?" ucap Keira sambil mengedipkan matanya dua kali.
"Keira, aku …," balas Xyon, namun entah mengapa mulutnya seperti tidak mau melanjutkan kata-katanya.
Permaisuri dari Halida itu tersenyum. Ia lalu menghela nafas pendek, dan menatap Xyon dengan wajah yang terlihat ceria.
"Aku akan menyingkirkan wanita dari Blackerian itu jika memang ia sedang merencanakan sesuatu kepada kita, Paman. Lagi pula, ia bukanlah masalah besar. Mungkin, ada sesuatu di masa lalu yang membuatnya seperti itu," bisik Keira.
Mendadak, Xyon meraih lengan Keira dan mencengkramnya erat-erat, hingga perempuan itu menjadi sangat terkejut akibat sikapnya.
"Paman!" seru Keira.
"Keira! Tidak! Kita tidak tahu banyak informasi tentang Planet Blackerian! Kau tidak boleh lagi menghabiskan energi antimateri milikmu!" seru Xyon dengan nada tinggi.
Keira langsung melotot kepada Xyon, lalu menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Paman, apakah kau sedang merasa ketakutan?" tanyanya pelan.
Keringat dingin Perdana Menteri dari Palladina itu mulai mengalir membasahi wajahnya begitu ia mendengar pertanyaan itu. Xyon terdiam, sambil melepaskan cengkramannya dari lengan Keira.
"Aku … hanya tidak ingin kehilangan dirimu. Ya, pada awalnya, aku menganggapmu sebagai alat untuk membalaskan dendamku kepada para Silverian itu, namun, kini aku baru menyadari betapa menyedihkannya hidup sebagai seorang Crossbreed," ucap Xyon pelan.
"Jika Paman menyukaiku hanya karena merasa hidupku menyedihkan, maka sebaiknya kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku lagi," balas Keira.
__ADS_1
"Keira! Bahkan di sini, kami masih belum bisa membuat antimateri murni, dan jika energi antimateri milikmu habis, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan gantinya! Cukup sudah! Kau sebaiknya diam dan tidak perlu lagi melakukan apapun! Masa lalu adalah masa lalu!" seru Xyon dengan wajah yang memerah.
Tiba-tiba, Kedua bola mata Keira mendadak berubah warna dari biru terang menjadi biru gelap. Xyon juga tiba-tiba terdiam dan kini fokus menatap Keira dalam-dalam.
"Maafkan aku, Paman. Televatia ini tidak menyakitkan," bisik Keira pelan.
Keira lalu menutup kedua matanya, dan seluruh peristiwa masa lalu yang dialami oleh Xyon, kini terlihat jelas di dalam pikirannya. Ia terlihat sedang berdiri di dalam kotak empat dimensi, seolah ruang dan waktu bisa berjalan mundur ke belakang.
Seluruh dinding pada kotak tersebut menampilkan Xyon yang sedang bermain dengan seorang anak laki-laki dengan seorang wanita berambut hitam yang terlihat memakai cincin dengan ukiran nama pria tua itu pada jari manisnya.
Perdana Menteri dari Palladina itu kemudian menggendong anak laki-laki itu sambil menggandeng tangan wanita tersebut. Keira langsung melotot tajam begitu ia melihat sikap Xyon kepada keduanya.
"Apakah Paman memiliki seorang anak? Apakah wanita itu adalah kekasihnya? Namun, Paman tidak pernah membicarakan hal ini, atau apapun tentang dirinya sendiri!" seru Keira dalam pikirannya.
Tiba-tiba ruang dan waktu berjalan maju. Keira kali ini berdiri di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang berada di dalam sebuah gedung penginapan. Ia lalu melihat ke dalam sebuah kamar, wanita berambut hitam tadi tersungkur di atas lantai sambil mengeluarkan darah dari dalam luka tusuk di bagian perutnya.
"Siapakah wanita itu? Apakah ia terbunuh? Siapa yang sudah membunuhnya?" tanya Keira kepada dirinya sendiri.
Lalu mendadak, ruang dan waktu berjalan kembali berjalan maju. Kali ini, Keira bisa melihat seorang pria yang bertubuh besar, sedang berhadapan dengan Xyon di dalam sebuah lorong istana kerajaan Palladina. Keira melotot begitu ia melihat pria yang tampak mengerikan tersebut.
"Darkerio," ucap Xyon, dan Permaisuri dari Halida itu bisa mendengarnya dengan baik.
"Siapa pria itu? Darkerio?" tanya Keira lagi di dalam hatinya.
Kemudian, ruang dan waktu kembali maju agak jauh. Sekarang, Keira melayang-layang di ruang hampa udara. Ia bisa menyaksikan dari dekat, semua orang sepertinya sedang berusaha dengan kekuatan kosmik mereka masing-masing untuk mendorong Planet Silverian dan memindahkannya ke urutan paling belakang dari Tata Surya Goldinian.
Keira langsung terkejut begitu ia melihat kejadian itu. Ia bahkan bisa melihat Xyon, Arnea, dan Klara di sana.
__ADS_1
"Apakah itu Kakek dan Nenek? Aku pernah melihat mereka di salah satu buku kosmik keluarga kerajaan. Ah, apakah di sana ada Paman Xyon juga? Mengapa mereka memindahkan Planet Silverian ke belakang?" gumam Keira.
Kali ini, ruang dan waktu mendadak mundur. Keira sekarang sedang berdiri di tengah-tengah halaman depan istana kerajaan Palladina. Banyak sekali orang yang berkumpul di sana, sedang memperhatikan ke arah barisan para pemberontak yang sedang berlutut sambil terikat oleh sebuah tali berwarna abu-abu. Keira lalu melihat ke arah Arnea, lalu ia menoleh kepada Xyon.
“Sekarang!” teriak Xyon dengan wajah yang serius.
“Baiklah, Tuan!” balas sepuluh orang pengawal bertubuh besar yang menggenggam pedang kosmik panjang di masing-masing tangan mereka.
Eksekusi mati dilakukan satu per satu oleh para pengawal tersebut kepada pemberontak-pemberontak itu, dan kejadian ini membuat Keira menjadi ketakutan. Ia lalu menutup mulut dengan kedua tangannya sambil melotot.
"Kakek dan Paman! Apa yang sudah mereka lakukan hingga harus dijatuhi hukuman mati seperti ini?!" gumamnya lagi.
Karena tidak kuat melihat seluruh kejadian mengerikan itu, Keira langsung membuang wajahnya ke samping hingga Xyon mendadak tersadar dari apa yang sudah dilakukan oleh Permaisuri dari Halida tersebut kepadanya barusan.
"Keira! Apa yang baru saja kau lakukan kepadaku?" tanya pria tua itu dengan nada tinggi.
"Paman!" seru Keira yang masih terkejut.
"Kau! Apakah kau baru saja melakukan Televatia kepadaku?!" balas Xyon dengan kedua mata yang melotot tajam.
Keira terdiam, ia bahkan mulai merasa ketakutan. Xyon menghela nafas panjang, lalu kembali menatap ke depan.
"Paman, sebenarnya anak itu …," ucap Keira, namun Xyon langsung memotongnya dengan berkata, "Masa lalu diriku."
Keira terdiam. Ia lalu mengedipkan kedua matanya sebanyak dua kali karena sedikit penasaran dengan ucapan dari pamannya tersebut.
"Ia adalah anak kandungku. Anak laki-laki itu adalah seorang Crossbreed, sama sepertimu, Keira," ujar Xyon melanjutkan perkataannya tadi.
“Paman, lalu, mengapa kalian mendorong Planet Silverian hingga ke belakang Tata Surya Goldinian?” tanya Keira.
__ADS_1
Pria tua itu lantas menatapnya dengan wajah yang serius, kemudian menjawab, “Kau tidak bisa bermain dengan ruang dan waktu menggunakan Televatia terus menerus, Keira. Kau melawan alam semesta jika melakukan hal itu, dan … ya, itulah kutukan sang Crossbreed.”