
Xyon menghela nafas panjang, lalu berkata, “Aku … tidak berpikiran sampai ke sana. Astaga, perang antar planet bisa dimulai kembali jika mereka tahu keberadaan Keira.”
Ia kemudian menatap Keira dengan wajah yang serius dan melanjutkan, “Kalau begitu, kami akan mengunjungimu lebih sering secara bergantian. Kau tidak perlu takut, Yang Mulia. Kekuatanmu itu tidak terbatas.”
Keira hanya terdiam. Ia lalu berdiri, dan kini, mereka bertiga saling menatap satu sama lain.
"Kami akan bergantian mengunjungimu mulai sekarang. Aku, Nordian, Arex, Sey, dan Weim akan menjagamu dari jarak dekat, mulai sekarang juga," ucap Xyon pelan.
“Sey? Weim?” tanya Keira.
“Ah, mereka juga adalah bagian dari kami. Kebetulan Xyon adalah perdana menteri dan kami berempat adalah jenderal seniornya,” jawab Nordian.
“Ah, begitu rupanya. Aku minta maaf sudah hampir melukaimu, Perdana Menteri Xyon,” ujar Keira.
"Panggil saja aku Xyon, tanpa gelar," balas Xyon.
"Aku juga, Yang Mulia. Jangan memanggil kami dengan gelar, anggap saja kami sebagai paman-pamanmu," canda Nordian dengan senyum lebar di wajahnya.
Xyon langsung menatap Nordian dengan tatapan tajam setelah mendengar candaan itu, lalu berkata, “"Paman? Kau sudah gila! Aku sudah berusia sembilan puluh tahun!"
Nordian tertawa, namun, Keira justru melotot kepada sang Perdana Menteri dari Palladina itu karena terkejut.
"Sembilan puluh tahun? Kau adalah seorang kakek tua!" seru Keira.
"Astaga. Kami ini immortal, berbeda dengan manusia, pertumbuhan kami berhenti di usia tiga puluh tahun, dan kami tidak bisa meninggal kecuali kehilangan energi kosmik, atau dibunuh tepat pada jantung ini," ujar Xyon.
Keira sungguh kaget mendengar fakta tersebut. Ia hanya bisa tertawa kecil namun masih dengan wajah yang terkejut. Xyon tiba-tiba tersenyum sedikit ketika ia melihat Keira yang sudah bisa tertawa lagi.
Tiba-tiba saja Nordian memecah tawa itu dengan berkata, "Xyon, kita tidak bisa kembali sekarang, hari mulai sore, dan manusia pasti sudah mulai ramai di luar.”
__ADS_1
Xyon hanya terdiam. Ia lalu melihat ke arah jendela dan memperhatikan situasi di luar.
"Kalian bisa tinggal di sini untuk sementara waktu. Lagi pula aku juga sekarang tinggal sendiri di sini. Kalau begitu, kalian bisa memakai kamar tamu yang ada di lantai bawah jika kalian berkunjung. Aku akan tidur di atas, lantai dua, kamar pribadiku sendiri. Aku akan membuatkan sarapan untuk kalian esok pagi. Mungkin juga, aku akan bersekolah lagi," ucap Keira.
Nordian sebenarnya ingin menjawab, namun, ia harus menunggu keputusan Xyon terlebih dahulu setelah mendengar tawaran tersebut.
“Tawaran yang menarik, Yang Mulia,” jawab Xyon, namun, Keira langsung memotongnya, “Aku tidak begitu menyukai panggilan itu.”
“Ah, baiklah. Terima kasih atas tawarannya, Keira, namun, kami harus segera kembali ke Planet Palladina malam ini setelah manusia-manusia itu tidur,” lanjut Xyon.
Keira menggangguk. Suasana di dalam rumah tampak sedikit lebih ramai dari biasanya. Gadis itu mulai membuka diri kepada Xyon dan Nordian, bahkan mereka tampak saling bertukar cerita, dan sang perdana menteri yang kini berani untuk menceritakan semua kejadian yang memang seharusnya Keira tahu sejak awal.
Malam pun tiba, dan lingkungan tersebut sudah mulai sepi. Xyon dan Nordian kemudian berpamitan kepada Keira, lalu berjalan menuju ke sebuah rumah kosong yang tidak berpenghuni dan langsung berubah menjadi dua buah bintang kecil yang langsung melesat ke atas langit.
Sesampainya di dalam Planet Palladina, mereka berdua kemudian mendarat di halaman depan istana, lalu mengubah fisiknya kembali seperti semula. Mereka berjalan dengan cepat masuk ke dalam istana, menuju ke ruang kerja pribadi milik sang Perdana Menteri.
“Baiklah,” balas Nordian.
Ia lalu berjalan ke arah yang berbeda untuk mencari keberadaan ketiga jenderal senior lainnya. Ketika sudah tiba di depan ruangan tersebut, Xyon langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam.
Sambil menghela nafas panjang, ia lantas menutup kembali pintu tersebut, lalu berjalan menuju ke sebuah kursi yang ada di balik meja kerjanya. Xyon kemudian duduk dengan wajah yang terlihat serius, sambil kedua tangannya ia letakkan di atas meja.
Setelah beberapa saat, seseorang mengetuk pintu ruangan itu.
“Masuklah,” serunya.
Seorang pria kemudian membuka pintunya dan masuk ke dalam bersama dengan tiga orang pria lainnya. Pintu itu tertutup dengan sendirinya, dan kini, ada lima orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
“Nordian, Arex, Weim, Sey. Ini adalah rapat darurat. Yang Mulia Putri Keira kini sudah tidak memiliki siapa pun lagi di sana,” ucap Xyon.
__ADS_1
“Bukankah ia tinggal bersama dengan bibi angkatnya?” tanya Weim.
“Seseorang sudah membunuh wanita itu, sama seperti yang ia lakukan kepada kedua orang tua angkatnya,” jawab Nordian.
Weim, Sey, dan Arex langsung terkejut setelah mendengarkan hal itu.
“Siapa yang sudah membunuh orang-orang terdekatnya? Astaga, apa tujuan mereka?” tanya Arex sambil melotot ke arah Xyon.
Sang Perdana Menteri itu menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba saja, Nordian berkata, “Kami sudah mengunjunginya dan berada di sana untuk beberapa jam. Kami bahkan bercerita banyak tentang Galaksi Metal dan planet ini, serta kenyataan bahwa ia adalah seorang Crossbreed.”
Sey yang masih terkejut, kemudian menatap Nordian dan bertanya, “Bagaimana jika para Silverian itu datang kepada Keira secara langsung, mengingat ia sekarang tinggal sendirian dan kita hanya bisa berpatroli dan mengunjunginya secara bergantian satu minggu sekali?”
"Aku memang sengaja mengunjunginya, agar aku bisa menceritakan semua yang seharusnya ia ketahui, namun, aku juga ingin mengingatkan para Silverian itu jika memang mereka sedang mengawasinya, bahwa Keira kini sudah bersama dengan kita, dan mereka tidak mungkin bisa menyentuhnya jika kita melindunginya dari dekat, mulai sekarang," jawab Xyon.
"Namun, Xyon, kau tidak menceritakan seluruhnya kepada Keira, bukan?" tanya Weim.
"Kau tidak mengatakan pada Keira bahwa kau hanya menjadikan anak itu sebagai alat untuk membalaskan dendam kepada para Silverian, secara diam-diam, bukan?" tanya Sey dengan wajah yang serius.
Xyon hanya menghela nafas panjang, hingga Arex terlihat kesal melihatnya.
"Xyon, kau bahkan selama ini, sangat jarang sekali memperhatikannya, kau justru meminta kami berempat yang melakukannya. Namun, mengapa kau sekarang memutuskan untuk muncul di hadapannya? Apa lagi alasannya jika bukan kau memang sengaja menabuh genderang perang dengan para Silverian? Tidak mungkin kau tidak mengetahui bahwa mereka sudah mengawasi anak itu di sana dari jarak yang dekat," ujar Arex.
Xyon masih terdiam, ia sama sekali tidak menjawab.
"Sebentar, terlepas dari itu semua, apakah Yang Mulia Putri tahu bahwa dirinya memiliki kekuatan seorang Crossbreed?" tanya Weim lagi.
“Kalian memang penuh dengan pertanyaan. Tentu saja ia sudah tahu,” jawab Xyon dengan wajah yang terlihat kesal, “ia bahkan menunjukkan senjata kosmiknya kepadaku, Lightning Double Cross, dua buah pedang kosmik berwarna biru tua yang kini menjadi senjatanya. Nah, kini sudah waktunya membawa Keira kembali ke sini dan menjadikannya … sebagai seorang putri dari Palladina.”
__ADS_1