Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Tragedi yang Pahit


__ADS_3

“Perdana Menteri Xyon dari Palladina, Kau berkata bahwa kau mencintainya seperti anakmu sendiri, namun, kau tidak pernah mengetahui apa yang sedang direncanakannya. Mengherankan sekali. Apakah dulu kau benar-benar membencinya sebesar itu?” tanya Viora sambil tersenyum.


Wajah Xyon sangat dipenuhi oleh kecurigaan begitu Viora memanggil namanya.


"Dari mana kau tahu namaku?" tanyanya.


Viora langsung melotot tajam dan terdiam sebentar, lalu, ia kembali tersenyum dan menjawab, “Astaga. Siapa yang mengenalmu, Perdana Menteri Xyon? Kau adalah Perdana Menteri pertama yang pernah menjabat di dalam Galaksi Metal ini!"


"Sudah, cukup! Lalu, di mana Keira sekarang?!" tanya Higarashi dengan wajah serius.


"Ini pasti jebakan! Tidak mungkin semua pasukan Silverian itu menghilang dari atmosfer ini!" seru Xyon dengan wajah yang benar-benar gusar.


“Aku pernah masuk ke dalam atmosfernya saja dan tidak bisa bertahan lama karena diserang oleh mereka. Sekarang, ke mana semua serangan itu? Aneh sekali!” seru Higarashi.


Viora tertawa kecil mendengar hal itu, kemudian, ia berkata, "Astaga! Bukankah Aerim sendiri yang sudah mengundang kalian kemari? Lalu, mengapa ia harus merepotkan kalian dengan pasukan-pasukannya di sini?"


Mereka langsung terkejut mendengar hal itu, namun tetap saja, Xyon dan Higarashi yang pernah masuk ke dalam Planet Silverian, justru menjadi sangat waspada, karena mereka pikir ini semua adalah jebakan.


"Lalu mengapa kalian terdiam? Masuklah! Pesta akan segera dimulai!" balas Viora dengan senyum kecil, lalu ia melesat turun, masuk ke dalam planet gelap itu dengan cepat.


"Kita coba saja dulu, Xyon," ucap Nordian dengan wajah yang serius.


"Tidak mencoba maka kita tidak akan pernah tahu," balas Arex.

__ADS_1


“Kau tidak perlu khawatir, Xyon. Kita beramai-ramai datang ke sini,” ujar Weim.


Xyon kemudian menghela nafas panjang, lalu melesat turun terlebih dahulu, diikuti oleh Higarashi, Arex, Nordian, dan Weim.


Sementara itu, di dalam istana kerajaan Silverian, Aerim yang masih berdiri di depan pintu sambil menunggu keputusan Keira, tiba-tiba tersenyum begitu melihat seorang wanita berambut hitam dengan kedua bola mata yang berwarna sama, yang mendadak muncul dan berdiri di hadapannya. Wanita itu kini menatapnya dengan sorot mata yang tajam serta senyum sinis.


“Apakah kedatanganmu ke sini, karena kau ingin menjadi saksi dalam pernikahanku, Meteorix?" tanya Aerim kepada wanita tersebut, yang rupanya adalah Meteorix.


"Ah, untuk apa? Aku hanya ingin memberitahukan sesuatu kepadamu," jawab Meteorix pelan.


"Apa itu?" tanya Aerim dengan wajah yang dipenuhi rasa penasaran.


"Tampaknya kau sudah kedatangan lima orang tamu di sini. Apakah kau yang mengundang mereka?" tanya Meteorix balik kepada Aerim.


"Lima? Maksudmu, mereka sudah masuk ke dalam planet ini? Mengherankan, ke mana seluruh pasukan-pasukanku? Mereka itu seharusnya menyerang orang asing tersebut dan membuatnya lemah terlebih dahulu! Astaga!” seru Aerim.


Ia menggelengkan kepala sekali, lalu kembali berkata, “Aneh sekali, tidak pernah satu hari pun atmosfer planet ini tidak ada penjagaan sama sekali. Namun, karena mereka sudah berada di sini, sebaiknya aku mulai saja acaranya."


"Ah, begitu. Tampaknya … kau akan sulit untuk melawan lima orang yang terlihat dipenuhi oleh amarah itu. Baiklah, aku tidak akan ikut campur dalam masalahmu, bisa-bisa, planetku juga akan diserang jika mereka tahu bahwa aku adalah mata-mata untukmu," balas Meteorix dengan senyum sinis.


Ia lantas memutar badannya ke belakang dan berjalan meninggalkan Aerim, namun, baru beberapa langkah, Meteorix tiba-tiba berhenti, lalu tanpa menoleh, ia berkata, "Ah satu lagi, sebelum aku lupa. Selamat untukmu, Aerim. Demira sudah melahirkan seorang bayi laki-laki dengan cara mortal, yang adalah darah dagingmu sendiri, bukan?"


Aerim langsung tersenyum begitu ia mendengar kabar tersebut walaupun ia selalu bersikap tidak peduli kepada Demira, namun mendadak, senyuman itu hilang dan berubah menjadi … kegusaran.

__ADS_1


"Sebentar, bagaimana kau tahu bahwa Demira sudah melahirkan? Setahuku, ia tadi terburu-buru meminta izin kepadaku untuk mengunjungi Planet Bumi karena aku di sini akan mengadakan pesta pernikahan dengan Keira. Demira berkata bahwa ia tidak ingin melihatnya," ucap Aerim sambil mengernyitkan dahinya.


“Demira yang memerintahkan seluruh pasukan-pasukanmu untuk pergi dari atmosfer planet ini agar mereka bisa masuk dengan mudah. Wanita itu bodoh sekali. Ia bahkan datang ke Planet Palladina hanya untuk memberitahukan rencanamu kepada Xyon. Lebih parahnya lagi, ia justru melahirkan di sana, dan sayangnya, nyawanya tidak terselamatkan, Aerim. Ia meninggal begitu berhasil melahirkan anakmu dengan cara mortal seperti itu. Ah, jika kau bertanya-tanya mengapa aku mengetahuinya, tentu saja, aku memiliki seseorang di sana. Aerim, aku sedang membantumu. Kita memiliki perjanjian bersama, bukan?" tanya Meteorix, dengan senyum sinisnya.


“Apa katamu?! Di dalam Planet Palladina?! Ia melahirkan di sana? Sialan! Wanita itu benar-benar tidak tahu diuntung!! Lihat saja, setelah ini, aku akan ke sana dan mengacaukan mereka, lalu membawa bayi itu kembali ke sini!” seru Aerim dengan mata yang melotot tajam sambil mengepalkan telapak tangan kanannya, tanpa mencurigai satu pun ucapan yang aneh dari wanita itu.


Meteorix menghela nafas panjang.


“Ah, sebuah kejadian yang terulang, ketika Xyon sudah membunuh ibumu dan hendak membawamu kembali ke Planet Palladina. Baiklah, Aerim, kau harus mengalahkan Xyon terlebih dahulu, lalu kau bisa mengambil bayi itu setelahnya,” balas wanita tersebut.


Ia kemudian kembali berjalan, namun, setelah beberapa langkah, Meteorix tiba-tiba berhenti dan berkata lagi, "Kau, sebaiknya berhati-hati dengan Dovrix, Aerim."


"Dovrix? Ah, untuk apa khawatir dengan pria itu? Ia adalah tangan kanan yang dipilih langsung oleh ayahku. Ia juga sudah membantuku selama ini secara diam-diam, menyerang planet-planet kecil yang ada di luar Tata Surya Goldinian," ucap Aerim sambil mengernyitkan dahinya.


"Ah, baiklah kalau begitu, selamat tinggal," ucap Meteorix, lalu, ia kembali melanjutkan langkahnya dengan berlari, meninggalkan Aerim sendiri di sana.


Setelah Meteorix tidak terlihat lagi, Aerim kemudian menggeram sambil mengepalkan telapak tangan kiri. Wajahnya terlihat penuh dengan amarah, ia bahkan mengernyitkan dahinya karena menahan emosi.


"Demira! Astaga! Sialan! Untung saja wanita itu sudah mati!" gumamnya.


Namun yang tidak disadari oleh Aerim adalah, Keira yang masih berada di dalam kamar, rupanya sudah mendengar dengan jelas percakapan mereka sejak tadi, sambil berdiri di balik pintu. Permaisuri dari Halida tersebut sebenarnya hendak berjalan keluar, namun, begitu ia mendengar suara seorang wanita, ia langsung mengurungkan niatnya, dan menguping pembicaraan mereka.


"Tidak mungkin! Demira! Apa yang sudah kau lakukan?! Kau seharusnya tidak perlu pergi ke sana dan berbuat seperti itu!" tangis Keira sambil menahan air matanya, dan berusaha untuk tetap tenang, namun, matanya melotot tajam ke depan karena rasa takut yang kini menyelimuti hatinya mendadak semakin membesar.

__ADS_1


“Tidak, aku harus … aku harus memperbaiki semua ini!” gumamnya di dalam hati.


__ADS_2