
"Benda apa ini?" tanya Ryena.
Flerix langsung menjawab, "Ini adalah pil hitam. Pil yang berisi energi gelap tidak murni. Jika kau ingin ikut denganku, kau harus menelannya, karena kami tidak bisa menerima energi cahaya. Energi cahaya akan membunuh kami, seperti yang kau lihat sendiri, pasukan-pasukanmu dapat melukai kami dengan mudahnya. Hanya ini satu-satunya cara jika kau benar-benar ingin ikut denganku, tapi aku tidak akan memaksa…."
Sebelum Flerix menyelesaikan kalimatnya, Ryena dengan cepat mengambil pil hitam kecil itu dari telapak tangan pria tersebut, namun, wajahnya mendadak dipenuhi dengan keraguan. Hal ini membuat Flerix sedikit kesal, namun, ia berusaha untuk tidak menunjukkan emosinya di depan Ryena.
"Jika kau meragukan keputusanmu sendiri, aku harap kau tidak menelan pil hitam itu. Aku tidak akan memaksamu, tidak juga akan membawamu bersamaku, aku tidak bisa melakukannya tanpa kehendakmu," ucap Flerix.
Tiba-tiba saja Xyon muncul di hadapan mereka berdua dari semak-semak yang berada di samping, sambil mengarahkan pedang kosmiknya kepada Flerix. Ryena dan raja dari Planet Silverian itu langsung menoleh ke arah Xyon, dengan mata yang melotot tajam dan wajah yang terkejut.
“Jenderal Senior Xyon!” seru Ryena.
Sambil masih mengancam Flerix dengan pedang kosmiknya, Xyon berseru dengan wajah yang dipenuhi amarah, "Kau, Raja Flerix dari Silverian! Kau sudah gila! Putri Ryena adalah Yang Mulia Putri dari Palladina yang dipenuhi oleh energi cahaya! Jika ia menelan pil hitam itu, maka seluruh gelarnya akan dicabut, dan ia bukan lagi penduduk dari Planet Palladina! Bahkan energi cahaya yang ada di dalam dirinya, akan digantikan oleh energi gelap! Kau sudah gila, Flerix! Kau ingin memisahkan Yang Mulia Ratu dengan adiknya sendiri?!"
Ryena tiba-tiba mengepalkan telapak tangan kanannya dan menggenggam pil hitam itu erat-erat, lalu berjalan cepat ke arah Flerix dan berdiri di depannya.
Ia justru memasang badan untuk pria itu sambil menatap Xyon dengan sorot mata tajam dan wajah yang dipenuhi emosi.
“Kau sendiri tidak jujur pada hatimu, Jenderal Senior Xyon! Bukankah kau menyukai kakakku sudah sejak lama? Kau selalu membantunya, juga selalu terlihat bersama dengannya. Namun, lihat betapa sedihnya dirimu, kau hanyalah orang biasa, walaupun statusmu adalah jenderal senior, kau bahkan tidak pernah bisa menyentuhnya, apalagi bermimpi untuk mendapatkan gelar sebagai raja, ataupun kau bisa menikahinya!” seru Ryena.
Xyon hanya terdiam.
__ADS_1
“Sementara aku, setidaknya perasaanku pada Flerix tidak bertepuk sebelah tangan seperti perasaanmu kepada kakakku! Sadarlah, wahai orang tua! Usiamu sendiri terpaut sangat jauh dengan kakakku, bisa-bisanya kau mendekatinya dan berusaha untuk menggodanya! Baiklah, kakak berkata bahwa cintaku ini kepada Flerix adalah hal yang terlarang, lantas bagaimana dengan perasaanmu kepada kakakku? Hah!"
Mendengar balasan dari Ryena barusan, Xyon hanya bisa menghela nafas panjang sambil perlahan menurunkan pedang kosmiknya. Ia menggelengkan kepalanya sekali, sambil menatap Ryena dengan wajah yang serius.
"Aku … tidak pernah memiliki perasaan apapun kepada Yang Mulia Ratu. Selama aku berada di sampingnya, kami selalu mendiskusikan hal mengenai Planet Palladina serta Galaksi Metal. Yang Mulia Putri, ada baiknya anda tidak menyebarkan fitnah kepada Yang Mulia Ratu, walaupun anda tidak begitu menyukainya. Anda harus menyadari status anda di sini, Yang Mulia. Kembalilah, karena Yang Mulia Ratu sedang bersedih memikirkan anda!" seru Xyon.
Ryena menjadi semakin kesal setelah mendengarkan perkataan tersebut.
"Ah, begitu rupanya. Kau bahkan masih membelanya hingga saat ini. Kalian memang tidak pernah percaya akan kemampuanku. Baiklah, lihat saja, aku akan membuat kalian mengakui diriku, bahwa aku juga pantas dan bisa untuk menjadi seorang permaisuri! Aku mencintai Flerix dan akan kulindungi pria ini dari ancaman yang kalian tujukan kepadanya. Bukankah memang begitulah cinta, Jenderal Senior Xyon?"
Ya, Xyon memang memiliki masa lalu yang kelam dengan kisah cintanya sendiri, dan perkataan dari Ryena barusan, hanya bisa membuatnya kembali terdiam.
Tiba-tiba, dengan cepat dan tanpa ragu, Ryena membuka kepalan telapak tangan kanannya dan memperlihatkan pil hitam itu kepada Xyon. Wajah sang Jenderal Senior mendadak terlihat panik, sementara Ryena justru tersenyum sinis kepadanya.
Ryena mendadak dengan cepat memasukkan pil hitam itu ke dalam mulutnya. Xyon langsung menjulurkan tangannya, hendak mengambil pil hitam itu dari tangan sang putri, namun ia kalah cepat.
Melihat Ryena sudah terlanjur menelan pil hitam itu, wajah Xyon menjadi semakin terlihat panik. Flerix hanya tersenyum sinis melihat sikap mereka.
Untuk beberapa saat, mereka semua terdiam.
Namun, tiba-tiba, Ryena terjatuh di atas tanah. Kedua matanya melotot tajam, sambil ia mulai memeluk dirinya sendiri.
__ADS_1
“Arghhhh!!!” teriaknya.
“Yang Mulia!” seru Xyon yang terlihat sangat terkejut dengan hal itu.
Flerix masih tersenyum sinis, sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ryena berkali-kali mengerang kesakitan. Tubuhnya mendadak diselimuti oleh kabut-kabut gelap. Kali ini, Flerix bersikap seolah-olah ia sangat mengkhawatirkan kondisi sang putri. Ia kemudian berlutut sambil berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada Ryena dengan wajah yang terlihat panik.
"Ryena!!" teriak Flerix.
"Yang Mulia! Tidak! Tidak!!" teriak Xyon dengan keringat dingin yang terlihat semakin membasahi wajahnya.
Rambut putih Ryena mendadak berubah warna, menjadi abu-abu. Bola mata emasnya juga berubah warna menjadi hitam. Setelah beberapa saat, seluruh proses menyakitkan itu akhirnya berhenti. Ryena lalu membuka kedua matanya, kemudian berusaha untuk bangkit dengan dibantu oleh Flerix.
Setelah ia sudah kembali berdiri tegak, ia langsung menatap Xyon dengan sorot mata yang tajam. Kedua bola mata Ryena langsung membuat Xyon semakin terkejut. Ia seolah tidak bisa memercayai aksi nekat dari sang putri barusan. Ia hanya bisa melotot dengan wajah yang panik begitu ia melihat perubahan pada fisik Ryena.
"Jenderal Senior Xyon. Aku akan ikut dengan Flerix mulai dari sekarang. Tolong, katakan pada kakakku, selamat tinggal. Aku harap kakakku dan dirimu, dan kalian semua, akan menemukan kebahagiaan masing-masing. Aku … sudah bahagia bersama dengan Flerix dan para Silverian ini!"ucap Ryena dengan senyum sinis di wajahnya.
"Putri Ryena, anda akan dianggap sebagai pengkhianat. Apakah hal itu akan membuatmu baik-baik saja? Apakah kau yakin akan keputusanmu ini? Apakah kau tidak memikirkan Yang Mulia Ratu atau Planet Palladina sama sekali?" tanya Xyon dengan tubuh yang tegang.
Ryena tertawa kecil, lalu berseru, "Untuk apa? Apa kakakku memikirkan diriku?! Pergilah sekarang juga dari hadapanku! Aku tidak membutuhkanmu! Kembalilah kepada kakakku yang lemah itu! Kalian selalu menganggapnya kuat, padahal tanpa kalian sadari, ia bukanlah apa-apa jika tidak ada dirimu di sampingnya, Jenderal Senior Xyon! Ia adalah ratu yang lemah!”
__ADS_1
Xyon langsung terdiam. Ia sama sekali tidak bisa berkata apapun setelah mendengar pernyataan tersebut. Suasana amat tegang di antara ketiganya, hingga Xyon hanya mampu untuk mengepalkan tangan kanannya karena geram dengan keputusan Ryena itu.