Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Jebakan Liburan


__ADS_3

“Aku hanya akan memperingatkanmu sekali lagi. Bersiaplah dengan rencana lain yang mungkin sudah mereka siapkan untuk kalian setelah ini,” ujar Xyon, kemudian ia kembali berjalan, meninggalkan mereka yang masih berdiri di sana.


Setelah sang Perdana Menteri dari Palladina itu sudah pergi, Higarashi kemudian meraih tangan kanan Keira dan menggandengnya.


“Sebaiknya kita masuk ke dalam,” ucapnya.


Keira mengangguk. Mereka lantas berjalan masuk ke dalam istana bersama-sama.


“Aku merindukan rumahku …,” bisik Keira dengan wajah sendu.


Higarashi tersenyum kemudian bertanya, “Baiklah, bagaimana jika besok lusa kita ke sana?”


“Namun, seperti yang Paman Xyon katakan …,” balas Keira, dan Higarashi langsung memotongnya, “Leino akan mengurus semua dokumen yang tidak membutuhkan perhatian khusus dari seorang raja. Ia bisa mengurusnya sendiri. Anggap saja liburan, bukan?”


Keira kemudian tersenyum, dan mereka terus berjalan menuju ke ruang utama. Untuk satu hari penuh, Planet Halida merayakan penobatan atas pemimpin baru mereka, dengan … tidak mengundang siapa pun dari Planet Silverian.


Di dalam istana kerajaan Silverian, tepatnya di dalam sebuah ruangan yang terletak di pojok kanan istana, Aerim terlihat sedang duduk di atas sebuah sofa sambil membaca sebuah buku kosmik dengan wajah yang serius, sementara Demira duduk di sebelahnya sambil menatap pria itu dengan tatapan yang tajam.


“Rencana apalagi yang sedang kau pikirkan?” tanya Demira.


Sambil masih membaca buku kosmik yang berada di dalam genggamannya, Aerim bertanya, “Rencana? Hmm … apakah kau bisa memikirkan sesuatu, Demira?”


“Memikirkan? Hei, perempuan itu adalah urusanmu, mengapa kau memintaku untuk memikirkannya?!” seru Demira dengan nada kesal.

__ADS_1


Aerim langsung menutup buku kosmik yang sedang dibacanya, lalu meletakkan benda itu di samping, kemudian ia menatap Demira dengan wajah yang serius.


“Ah, aku sampai lupa bahwa kau sedang mengandung. Sebentar, biar kupikirkan siapa yang bisa menggantikanmu,” ucap Aerim, lalu ia berdiri dan melanjutkan, “Lihatlah para perempuan immortal bodoh yang mau mengandung benih dari seorang pria, dengan cara mortal! Itu berarti, kau sudah tidak bisa melakukan apapun lagi selain tidur dan makan, bukan?! Kau sudah tidak berguna untukku, Demira!”


Demira langsung berdiri dan menatap Aerim dengan wajah yang penuh kekesalan.


“Planet ini tidak memiliki Wormbye, dan aku tidak pernah bertemu seorang dokter pun di sini untuk membicarakan tentang diriku! Hanya ada perawat dan pelayan, mengapa kau bisa-bisanya menyalahkanku atas kehamilan ini?! Lagi pula, aku selalu membantumu, Aerim, dan anak yang ada di dalam perutku ini adalah anakmu” teriaknya.


Aerim langsung meraih dan menggenggam dagu wanita itu dengan kasar, lalu berbisik, “Kau … hanyalah pelampiasanku saja, dan bukankah kau sudah tahu akan hal itu? Kau juga tahu bahwa aku menyukai Keira, bahkan sejak awal, kau sendiri yang menawarkan diri untuk membantuku. Namun, mengapa sekarang kau terlihat marah, Demira?”


Wajah Demira semakin memerah, lalu ia membalas, “Aku hanya pelampiasan? Apakah kau sama sekali tidak pernah menyukaiku, sedikit saja, Aerim?!”


Aerim kemudian melepaskan dagu Demira, lalu tertawa sebentar setelah mendengarkan ucapan itu. Ia lantas kembali menatap wanita tersebut dengan senyum sinis di wajahnya.


“Menyukaimu? Demira, kau hanyalah pelampiasanku, sejak awal kau tahu hal itu, namun, mengapa kau memaksaku untuk menjadikanmu sebagai istriku?” tanya Aerim.


Wajah Aerim tiba-tiba berubah kesal, lalu ia berseru, “Demira, sudah cukup. Kau sedang mengandung, dan amarah itu tidak baik bagi anak yang ada di dalam kandunganmu. Fokus saja kepada anak itu!”


Ia kemudian membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan itu, membiarkan Demira sendiri di dalamnya.


Setelah Aerim menutup kembali pintunya, Demira kemudian bergumam sambil mengepalkan kedua telapak tangannya, “Lihat saja, Aerim! Kau … harus menjadikanku sebagai istrimu! Jika tidak, maka lihatlah apa yang akan kuperbuat nanti!”


Dua hari berlalu setelah Keira secara resmi telah dinobatkan sebagai permaisuri dari Halida. Pagi itu, ia dan suaminya, Higarashi akan pergi ke Planet Bumi, untuk berlibur. Mereka memutuskan tidak membawa satu orang pelayan pun, dan menikmati pantai yang indah, karena musim semi sedang berlangsung sehingga orang-orang tidak begitu banyak berpergian menuju ke pantai karena sibuk bekerja setelah liburan panjang usai.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, mereka kemudian bergegas menuju ke halaman belakang istana dan berubah menjadi dua buah bintang kecil yang berwarna merah serta biru yang langsung melesat ke luar angkasa dengan kecepatan tinggi.


Begitu mereka memasuki atmosfer Planet Bumi dan mendarat di sebuah taman yang dipenuhi dengan pepohonan yang rindang di ujung kota besar itu, mereka kemudian mengubah fisiknya seperti semula, dan Higarashi langsung menggandeng Keira, berlari menuju ke halte bus terdekat untuk menuju ke pantai.


Namun, sepertinya Keira tampak sedikit tidak menyukai hari yang cerah ini. Begitu bus telah tiba dan mereka kemudian naik ke dalamnya, wajah Keira semakin terlihat kesal. Mereka berdiri di bagian belakang bus yang tidak begitu penuh dengan penumpang tersebut, sambil masih bergandengan tangan.


“Hei, Higarashi,” bisik Keira pelan kepada suaminya.


“Ya, istriku, ada apa?” tanya Higarashi dengan senyum kecil di wajahnya.


“Mengapa kau tidak menggunakan Star Baton saja untuk membuat terowongan ajaib? Kita bisa lebih cepat tiba di pantai dengan cara itu daripada harus menggunakan bus,” balas Keira.


Higarashi kemudian menghela nafas pendek.


“Keira, aku rasa kau belum pernah menggunakan tongkat bintang itu, bukan?” tanyanya.


“Uh? Memangnya ada apa dengan Star Baton milikkku?” tanya Keira.


Suaminya itu hanya tersenyum kecil, lalu menjawab, “Star Baton itu menampung seluruh energi bintang yang di dalamnya, sayang. Masalahnya adalah, jika kau kehabisan energi bintang, maka kau tidak akan bisa menggunakannya. Kau harus mengisi ulang Star Baton itu dengan cara mengangkatnya tinggi-tinggi sekali dan mengarahkan ujungnya ke atas langit, agar para bintang bisa memberikan energi mereka ke dalam benda tersebut.”


Keira tampaknya masih belum memahami, maka dari itu, Higarashi melanjutkan, “Jika energi bintang milikmu habis, maka apa yang bisa kau lakukan di sini? Akankah kau memanjat pohon yang sangat tinggi hanya untuk meminta kepada bintang-bintang di atas langit? Karena tidak mungkin kau akan meminta kekuatan mereka … dari bawah tanah seperti ini.”


Keira lalu terdiam, namun, Higarashi kembali tertawa kecil.

__ADS_1


“Ah, aku belum pernah menggunakannya,” balas Keira dengan wajah yang memerah setelah beberapa saat ia terdiam.


“Ya, ada baiknya kita menghemat saja energi bintang itu untuk hal-hal lain. Kau akan langsung kehabisan energi itu hanya untuk membuat satu terowongan ajaib yang bisa membuatmu melayang ke sana dan ke sini, tanpa terlihat oleh manusia, hanya demi agar kau bisa cepat tiba di pantai itu,” ucap Higarashi sambil mengelus kepala istrinya.


__ADS_2