Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian

Kutukan sang Xbreed: Silverian & Blackerian
Masa Lalu - Bagian XXXIII


__ADS_3

"Tidak, jangan, Xyon! Jangan lakukan itu!" seru Wyona dengan suara pelan, karena udara beracun yang terasa semakin menghalangi nafasnya.


"Kau sungguh berisik, Nyonya! Matilah kau!!" teriak Darkerio dengan wajah yang penuh amarah, dan dengan cepat, ia menancapkan belati hitam itu ke dalam dada Wyona dan langsung menusuk jantungnya.


"Ibu!! Tidak!!" seru Xyon sambil melotot tajam, namun masih sambil menghalangi hidung dengan tangan kirinya.


Kedua bola matanya berkaca-kaca begitu ia melihat darah yang mengalir dari dalam luka tusuk yang diderita oleh ibunya akibat tusukan benda tajam tersebut. Tubuh Wyona kemudian terjatuh, lalu berubah menjadi debu-debu halus yang langsung menghilang di udara. Ia tewas seketika, dan Derix yang masih tersungkur di atas lantai, langsung meneteskan air mata begitu ia melihat istrinya sudah tidak lagi bersama dengannya.


Xyon lantas menatap Darkerio dengan wajah yang memerah karena menahan amarah yang besar di dalam hatinya. Ia bahkan menggeram dan mengepalkan tangan kanannya sampai merah.


"Berlututlah di hadapanku, Jenderal Xyon," ucap Darkerio sambil tersenyum sinis.


Pria muda itu tampaknya ragu untuk mengambil keputusan, namun karena ibunya sudah terbunuh, ia mulai berpikir untuk menyerah. Seluruh tubuhnya mulai gemetar, karena ia sendiri merasa ketakutan, kemarahan, dan kebingungan yang besar.


"Jangan, Xyon. Jangan lakukan itu! Kau harus tetap menjadi seorang Palladina! Jangan mudah menyerah dengan lawan yang ada di hadapanmu! Ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk menyerah!" seru Derix pelan, karena udara beracun yang mulai menyiksa tenggorokannya.


Darkerio langsung menoleh ke arah Derix dan berteriak dengan nada tinggi, "Kau juga, pria tua sialan!!"


Dengan sangat cepat, ia membungkukkan badan dan menusuk jantung Derix menggunakan belati hitam yang sama.


"Ayah!!!!!" teriak Xyon histeris.


Wajahnya mulai diselimuti oleh kepanikan besar dan kesedihan yang dahsyat, bahkan air matanya kini membasahi wajahnya.

__ADS_1


Darah yang mulai mengalir keluar dari dalam luka tusuk yang diderita Derix, langsung membuatnya tewas tanpa bisa berkata apapun lagi kepada Xyon. Tubuhnya lantas berubah menjadi debu-debu halus, yang lalu menghilang di udara.


"Jadi, apakah kau akan berubah pikiran, Jenderal Xyon?!" tanya Darkerio dengan senyum sinis di wajahnya sambil kembali berdiri tegak dan menatap pria muda itu.


Kedua bola mata Xyon yang tadinya berkaca-kaca, kini mulai terlihat penuh dengan amarah ketika ia melotot ke arah Darkerio.


"Ah, kau masih ragu rupanya, baiklah. Perhatikan belati hitam ini baik-baik. Belati hitam ini adalah satu-satunya belati yang ada di alam semesta, yang mampu menyerap energi kosmik dari korbannya dengan cepat. Sama halnya seperti lubang hitam yang menyedot apapun di dekatnya, bahkan cahaya tidak bisa lolos darinya. Apakah kau tahu terbuat dari apa belati hitam ini?” tanya Darkerio dengan senyum lebar di wajahnya.


Xyon terdiam, ia hanya menatap Darkerio dengan sorot mata tajam sambil menahan emosi besar.


“Oh, rupanya kau tidak mempelajarinya. Belati hitam bernama Hellix Dagger ini terbuat dari materi gelap, tentu. Nah, sekarang, jika kau masih tidak ingin menyerah, akan kuberikan sedikit permainan lagi,” ucap Darkerio, “jika aku tidak bisa memilikimu sebagai tangan kananku, maka aku akan mengacaukan seluruh hidupmu!”


Kabut-kabut hitam kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya dan ia langsung menghilang begitu saja tanpa jejak. Xyon yang masih dipenuhi dengan amarah dan kesedihan karena Darkerio sudah membunuh kedua orang tuanya, kini hanya bisa menangis sambil masih menutup hidung dengan lengan kirinya.


“Temukan saja aku, dan jika kau berhasil melukaiku atau membunuhku, maka aku akan membebaskan istana ini dari gas beracun! Waktumu tinggal sedikit, Nak!” seru Darkerio yang entah dari mana asal suaranya.


Mendadak seluruh ruangan di sekelilingnya kembali berubah menjadi labirin. Lorong-lorong sempit yang mendadak muncul, membuat dirinya harus sekali lagi menemukan Darkerio. Sambil masih bersedih akibat kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang bersamaan, Xyon masih harus melawan pria berbadan besar itu.


Ia berusaha untuk tetap kuat, walaupun hatinya mulai terasa sangat sakit, sesuai dengan ajaran ayah dan ibunya ketika masih hidup, sebagai seorang prajurit.


"Ayolah, Jenderal Xyon. Bukankah kau sendiri yang sudah menantang alam semesta dengan memiliki seorang Crossbreed? Mengapa sekarang kau ragu?" seru Darkerio tanpa fisik yang terlihat.


Xyon mulai berlari, mencari pintu keluar dari labirin tersebut. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti begitu ia melihat sebuah layar besar muncul sekali lagi di hadapannya. Kali ini, ia melihat Treya dan Veina yang sedang tersungkur di atas lantai di dalam ruang utama, hingga ia menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Ia langsung melotot tajam begitu melihat kedua pemimpinnya yang tampak lemas, dengan beberapa pelayan dan pengawal di sekeliling mereka yang sudah pingsan terlebih dahulu. Bahkan, terlihat beberapa orang pejabat dan bangsawan yang sudah berlumuran darah di atas lantai. Mereka ternyata sudah tewas. Tubuh mereka lantas berubah perlahan menjadi debu-debu halus yang menghilang di udara.


"Apakah kau tahu, Jenderal Xyon? Apa yang paling ditakuti oleh makhluk immortal seperti kita?" tanya Darkerio dengan sedikit tawa kecil.


"Sialan, katakan saja apa yang sedang kau inginkan sekarang juga!" seru Xyon, yang memutuskan untuk kembali berlari di dalam labirin yang semakin membuatnya pusing.


Di satu titik, ia kemudian berhenti berlari dan mulai fokus mendengarkan dari mana Darkerio sedang berbicara.


"Jantung yang berhenti berdetak. Hanya itu saja kelemahan makhluk immortal. Mereka bangga bahwa mereka adalah immortal, namun sejatinya, tanpa jantung, mereka tetap saja akan tewas!" seru Darkerio lagi.


Xyon terdiam sambil berusaha untuk menahan amarah dan kesedihannya, lalu ia memutuskan untuk memejamkan kedua mata sambil fokus kepada suara lawannya itu.


"Hei, apakah kau akan menyerah sekarang, Jenderal Xyon?" tanya Darkerio.


"Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Hyerin, namun, setelah kupikir-pikir, ini semua salahku. Ayah dan ibuku tewas di tanganmu, tentu saja, mereka adalah kesalahanku. Namun, orang tuaku selalu berkata agar aku menjadi seorang jenderal yang kuat, untuk bisa menjaga kedamaian di dalam galaksi ini," ucap Xyon, masih sambil memejamkan kedua matanya.


"Apa maksudmu?! Menyerah saja sekarang, Nak!" balas Darkerio yang masih belum menunjukkan dirinya.


Xyon menghela nafas panjang, kemudian bertanya, "Kau adalah seorang pengacau. Ya, pengacau. Kau menyalahkan perasaanku kepada Hyerin, namun sama sekali tidak memberitahukan kepadaku siapa dirimu. Sungguh tidak adil, jika kau berbicara tentang keseimbangan alam semesta terus menerus, ketika kau menggunakan kekuatan kosmik untuk menyerangku, sementara aku hanya memiliki sebuah pedang kosmik. Apakah itu seimbang, Darkerio?"


"Apa maksudmu?!!!!" seru Darkerio dengan nada tinggi.


Tiba-tiba saja dinding palsu di sekeliling Xyon runtuh dan menghilang. Ia  lantas membuka kedua matanya, namun baru beberapa saat ia berdiri, mendadak sebuah belati hitam mengancam lehernya dari samping. Ruangan di sekitarnya langsung berubah menjadi ruang utama istana.

__ADS_1


__ADS_2